
"Nyonya Ara apa akhir-akhir ini anda sering merasa pusing?" tanya dokter yang baru selesai mengecek kondisi Ara.
"Iya, saya sering pusing dan lemas Dok. Kenapa ya? Padahal saya sudah mengkonsumsi makanan bergizi dok, apakah ini hal yang wajar?" Ara sedikit khawatir dengan kondisi tubuhnya yang semakin menurun belakangan ini.
"Tidak Apa-apa Nyonya, saya akan memberikan vitamin tambahan untuk anda," sahut dokter cantik itu dengan senyuman.
"Bisa kita bicara berdua di ruangan saya Tuan Hansel?" sang dokter memberikan kode agar Hansel mengikutinya.
"Aku akan segera kembali," ujar Hansel memberikan satu kecupan di kening Ara sebelum berlalu mengikuti langkah sang dokter yang kini tengah menghilang di balik pintu.
Sesampainya di ruangan dokter, Hansel begitu terkejut tatkala dokter tersebut menjelaskan jika ada yang tidak beres dengan hasil lap kesehatan Ara Minggu lalu.
"Saya rasa ada virus yang membuat kondisi tubuh istri anda menurun Tuan Hansel?"
Hansel kehabisan kata-kata, ia tidak tahu bagaimana harus menanggapi situasi ini.
"Tuan? Apa anda baik-baik saja?" sang dokter tampak khawatir melihat wajah Hansel yang memucat.
"Kau masih berani bertanya apakah aku baik-baik saja setelah omong kosong mu tentang istriku?" Hansel mulai murka.
"Mohon tenang Tuan, untuk hasil yang lebih valid, kami sudah mengirim sampel darah nyonya Ara ke laboratorium pusat, kami berharap diagnosis kami salah, tapi jika hal itu benar saya harap tuan bisa mempersiapkan diri," ucap dokter tersebut dengan raut ketakutan.
"Mempersiapkan diri? Kau menyuruhku untuk bersiap kehilangan istri dan anakku yang belum sempat kulihat itu? Jangan harap! lakukan tugasmu dengan baik, jika sampai istri dan anakku,..." kata-kata Hansel tercekat, ia tidak bisa membayangkan jika ia harus kehilangan Ara. Kini ia hanya bisa tertunduk menahan air matanya, "Selamatkan Ara ku! Aku mohon!" Hansel dengan tulus berucap.
"Kami akan melakukan yang terbaik Tuan."
"Rahasiakan hal ini dari istriku!" titahnya.
Hansel berulang kali menarik nafas dalam sebelum akhirnya membuka pintu ruangan dimana Ara di rawat. Selang infus nampak menggantung di lengannya.
"Bagaimana? Apa yang dokter itu katakan?" dengan antusias Ara bertanya.
"Tidak apa-apa, kau hanya perlu banyak istirahat."
"Kau yakin? Wajah mu tampak pucat Hansel, Apa kau baik-baik saja?" Ara menempelkan telapak tangan di dahi suaminya.
"Aku baik-baik saja sayang," Hansel mengambil tangan mungil Ara dan mengecupnya lembut, "Aku mencintaimu."
Kening Ara hanya mengerut heran.
__ADS_1
Setelah menunggu selama dua hari akhirnya hasil lab Ara keluar dan ternyata kekhawatiran mereka menjadi kenyataan, dalam tubuh Ara telah berkembang jenis virus baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Virus tersebut sangat ganas, hanya dalam waktu singkat virus tersebut mulai menggerogoti tubuh Ara yang kini bahkan sudah tidak sanggup untuk berjalan, kaki Ara tidak bisa digerakkan lagi, ia mengalami kelumpuhan.
Hansel telah memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk segera mendapatkan penawarnya, ia juga telah berhasil menangkap Vanessa yang merupakan dalang dibalik ini semua.
Siksaan demi siksaan kini tengah dialami Vanessa agar gadis ular itu mau memberikan obat yang bisa menghentikan penyebaran virus di tubuh Ara, namun sejauh ini Vanessa masih belum menyerah dan memilih bungkam, meskipun siksaan yang diterimanya tidak manusiawi.
"Katakan! Dimana obat penawarnya?" ulang Hansel seraya memberikan satu tamparan keras di wajah Vanessa yang sudah babak belur.
Vanessa meludahi wajah Hansel dengan berani, "Sudah kukatakan sejak awal, jika aku tidak bisa memilikimu maka tidak akan ada yang bisa memilikimu, dan jika aku harus mati hari ini maka aku akan membawa istri tercintamu itu bersamaku ke liang lahat," ancam Vanesha dengan terengah.
Sudah dari kemarin ia tidak diberikan makanan atau minuman setetes pun. Wajah cantiknya kini tidak berbentuk, penuh lebam dan darah.
"Jika sampai aku kehilangan Ara ku, maka aku akan pastikan kau dan seluruh keluarga mu hancur tak tersisa," ancam Hansel geram.
"Lakukan apapun yang kau inginkan, sekalipun seluruh keluargaku hancur bersamaku, setidaknya kau akan jauh lebih hancur, haha. Tidak akan ada happy ending untukmu ataupun untukku," kewarasan sudah hilang dari otak Vanessa.
"Kurang ajar," satu pukulan keras membuat Vanessa kehilangan kesadarannya.
"Bangunkan dia dan siksa dia lagi, tangkap keluarganya, lakukan apapun agar wanita gila ini mau bicara!" teriak Hansel murka, dengan frustasi ia berlalu dari gudang tempat Vanessa di sekap.
Begitu memasuki mobil, Hansel mulai menghubungi Jay, ia telah memberikan kabar pada Jay dua hari yang lalu, dan meminta sahabatnya itu untuk mencari penawarnya di pasar gelap. Dunia para mafia terkadang lebih banyak memiliki informasi yang dibutuhkan, meskipun dengan imbalan yang besar.
"Aku sudah bertemu Tuan Sakha, dia bilang akan memberikannya jika kau sendiri yang datang padanya," jawab Jay kesal karena belum berhasil mendapatkan penawar untuk Ara.
"Keparat,".umpat Hansel.
"Kau akan kemari?"
"Tentu saja, pilihan apa lagi yang ku punya sekarang?"
"Kau pulanglah kesini, jaga Ara untukku!" tanpa menunggu jawaban Jay, Hansel mengakhiri panggilan.
Tuan Shaka adalah bos mafia yang terkenal kejam dan tidak berhati, ia tidak pernah menempatkan perasaan di atas logika, usianya tidak jauh berbeda dari Hansel, tapi memiliki kekejaman yang luar biasa.
Pikiran Hansel melayang jauh, ia berusaha meyakinkan dirinya jika semuanya akan baik-baik saja, tapi kenyataannya ia sangat takut, ia takut kehilangan Ara.
Dering ponsel membuyarkan lamunannya.
"Katakan!"
__ADS_1
"Tuan Hansel anda harus ke rumah sakit sekarang!" suara dokter yang merawat Ara terdengar khawatir.
"Alex ke RS, sekarang!" Titah Hansel pada sekretaris sekaligus supirnya hari ini.
Mobil itupun melaju kencang, membelah jalanan.
'Kau harus baik-baik saja Ara'
Sesampainya di RS, langkah panjangnya membawa hansel menghampiri ruangan Ara dengan tergesa. Ia terkejut mendapati ruangan Ara kosong.
Setelah mendapat informasi, ternyata Ara tengah berada di ruang operasi, karena bayi dalam kandungan Ara harus segera di keluarkan, karena kondisi bayi dan ibunya sangat kritis.
"Maaf nak Hansel, Ibu yang mengambil keputusan untuk mengoperasi Ara, tanpa menunggu persetujuan mu, Ibu takut jika kita terlambat melakukan operasi pada Ara, akan terjadi hal yang lebih buruk," Jelas Ibu Ara dengan cemas.
Kini semua orang tengah menunggu di depan ruang operasi, hanya lantunan doa yang dapat mereka suarakan dalam hati, berharap semuanya akan baik-baik saja.
Setelah waktu yang terasa selamanya, akhirnya proses operasi selesai.
"Bagaimana kondisi Ara ku?" tanya Hansel cepat.
"Selamat tuan Hansel, bayi perempuan anda lahir dengan selamat, meskipun masih memerlukan perawatan khusus tapi kondisinya sangat stabil."
"Ara? Bagaimana Ara-ku?" suara Hansel dipenuhi rasa cemas.
"Nyonya Ara masih belum sadar, kondisinya masih lemah Tuan. Kami sudah melakukan semampu kami, akan tetapi tanpa obat penawar, virus yang ada di tubuh Nyonya Ara semakin memperburuk kondisi nyonya Ara," jelas sang dokter penuh penyesalan.
Seketika Hansel kehilangan kekuatannya, kakinya kini terlalu lemah untuk sekedar menopang tubuhnya yang kini ambruk bersimpuh di lantai.
Kesedihan menyebar di sudut ruang rawat Ara, yang kini telah dipindahkan ke ruangan khusus. Ada sekat kaca yang menghalangi ruangan Ara dari keluarganya, Ibu dan Ayah bergantian antara menjaga Ara dan cucu mereka yang ditempatkan di ruang lain.
Sementara Hansel kini berada di samping Ara, menggenggam erat tangan sang istri.
"Aku akan segera kembali, tolong bersabarlah sebentar lagi! Aku akan membawa penawarnya dan kau akan sembuh seperti semula. Bertahanlah untukku dan anak kita, aku mohon!" lirih Hansel.
Dengan berat hati Hansel meninggalkan Ara untuk menemui Tuan Shaka yang merupakan bos mafia yang berada jauh di negeri sebrang. Hansel hanya berharap jika ia tidak akan terlambat untuk menyelamatkan Ara.
Bertahanlah Sayang!.
To be continued 🙇♀️🙇♀️🙇♀️🙇♀️🙏.
__ADS_1