
"Ara...?" Johan menahan lengan Ara ketika wanita itu hendak berlalu pergi.
Ara mengangkat pandangannya dan mendapati Johan sedang berdiri dihadapannya dengan tatapan khawatir, "Mas Johan?" Ara sedikit terkejut.
"Kau menangis? Ada apa? Apa yang terjadi?" Johan memegang kedua bahu Ara, mengamati wajah sembab Ara yang dipenuhi dengan air mata. Sama halnya seperti Ara, meskipun hubungan diantara mereka kini sudah berakhir akan tetapi mengubah isi hati bukanlah hal yang mudah, Johan dan Ara sudah menjalin hubungan lebih dari delapan tahun, tidak mungkin melupakan rasa cintanya hanya dalam hitungan hari, bahkan Johan masih sangat mencintai Ara.
"Tidak ada, saya permisi," Ara memalingkan pandangannya, berusaha melepaskan dirinya dari Johan.
"Katakan dulu ! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau menangis? Apa Hansel memperlakukanmu dengan kasar?" kekhawatiran memenuhi suara Johan yang menolak untuk melepaskan tangannya di bahu Ara.
Ara mendengus, Johan tidak berpikir bahwa ibunya adalah penyebab utama dari semua ini, Johan justru menyalahkan Hansel yang sama sekali tidak ada hubungannya, "Terimakasih, karena mas Johan sudah peduli dengan hubungan ku dengan suamiku, hubungan kami baik-baik saja," Ara mengambil nafas dalam berusaha menguasai emosinya,
"Tapi sebaiknya mulai sekarang, lebih baik jika kita menjaga jarak, supaya tidak ada pihak lain yang salah sangka dengan kedekatan kita," Lanjut Ara.
"Besok aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku, aku tidak akan mengganggu hidup mu lagi mas," suara serak Ara semakin terisak,
"Aku benar-benar mint maaf, aku tidak pernah bermaksud untuk menjadikanmu batu pijakan atau semacamnya, mas Johan pasti juga tahu kalau Ara benar-benar mencintai mas Johan tulus, tapi sepertinya cintaku salah. Jadi mulai sekarang aku yang akan menjauh. Terimakasih untuk semuanya dan sekali lagi Ara minta maaf!" Ara melepaskan diri dari Johan dan kembali berlari keluar dari perusahaan, mengabaikan suara Johan yang memanggilnya.
Ara berlari ke jalanan yang ramai lalu lalang kendaraan dan para pejalan kaki yang terburu-buru karena cuaca yang semakin mendung, tidak sedikit orang yang melihatnya heran.
Ara tidak tahu harus kemana, dia tidak punya tujuan, dia terus melangkahkan kakinya tak tentu arah. Langit sepertinya juga merasakan kepahitan di hati Ara, sehingga rintik airnya juga mulai membasahi bumi, meleburkan air mata Ara menjadi satu dengan air hujan.
Ara hanya terus berjalan dan berjalan. Menangis dan terisak, ia tidak membawa uang sepeserpun, dompet dan juga ponselnya tertinggal di dalam tas kerjanya di kantor. Sekarang ia tidak tahu harus kemana, rasanya di dunia yang luas ini, untuk pertama kalinya ia tidak tahu tempat untuk pulang.
__ADS_1
Ara berhenti dibawah pohon yang cukup rindang di sebuah taman, Ara duduk dibawah naungan bayangan pohon tersebut. Duduk diam dan menangis sendirian berteman air hujan.
>>>>>>>>>>>
Sementara itu ditempat lain, pria itu tidak kekurangan apapun, semua yang ia butuhkan ada dalam jangkauan tangan, semua yang ia inginkan segera tersaji dihadapannya, tapi suasana hatinya bahkan lebih gelap dari langit mendung yang mulai menitihkan airnya di luar sana.
Hansel berdiri di ambang jendela, menyaksikan awan hitam yang mulai menangis, Hatinya gusar dan marah. Suami mana yang tidak kesal, saat ia sudah mengalah dan tidur di ruang kerjanya semalam, berharap hubungannya dengan istrinya akan lebih membaik, namun justru mendapati bahwa istrinya sudah kembali bekerja dan tidak berpamitan padanya sama sekali ketika ia terbangun, dan lagi Ara bekerja kembali di perusahaan milik mantan tunangannya Johan, membayangkan Ara dan Johan akan bertemu dan bekerja bersama saja sudah membuat darah Hansel mendidih penuh amarah.
"Prang,..." suara barang kesekian yang telah dipecahkan oleh Hansel sepanjang hari ini, membuat Bu Sari dan beberapa orang hanya bisa tertunduk diam.
"Si*lan," umpatnya, "Apa dia belum juga mengangkat teleponnya?" bentak Hansel kepada seorang pelayan yang diberi tugas untuk menghubungi nomor Ara.
"Maaf, belum tuan," pelayan itu tampak gemetar ketakutan, terus berusaha menghubungi nomor Ara.
"Apa sebaiknya kita menyusul nyonya saja tuan?" tanya Bu Sari sopan, ia ingin memberi solusi agar semua orang bisa selamat dari amukan Hansel.
"Belum ada kabar darinya tuan, dan nomornya juga tidak bisa dihubungi," jelas Bu Sari kemudian.
"Semakin tua, kau semakin pikun ya, bagaimana orang yang tidak becus seperti itu bisa kau tempatkan untuk mengawasi Ara!" bentak Hansel.
"Maaf Tuan," pokoknya minta maaf saja, begitu pikir Bu Sari.
Tak lama kemudian , ponsel Bu Sari berdering. Bu Sari tampak berbicara dengan serius dengan seseorang di seberang panggilan tersebut, setelah panggilan terputus, terdengar kembali bunyi berdenting menandakan adanya pesan yang masuk.
__ADS_1
Bu Sari dengan gemetar menyerahkan ponselnya kepada Hansel, ia sudah siap jika ponsel itu akan hancur di tangan tuannya yang sedang berada di puncak kegalauan, "Silahkan tuan! ini adalah laporan dari mata-mata yang bekerja bersama Nyonya,"
Hansel menerima ponsel dari Bu Sari, mengernyit saat menyadari bahwa itu merupakan pesan video. Hansel menekannya dengan penasaran, dan seketika amarah yang sedari tadi sudah mendidih kini meletus bagai gunung berapi, tatkala netra Hansel menangkap gambar di dalam ponsel tersebut, ia melihat dan mendengar bagaimana istrinya dihina dan dipermalukan didepan semua orang, melihat bagaimana wajah ketakutan dan ketidakberdayaan dari Ara, membuat Hansel ingin mencekik seseorang. Saat melihat ara menyeka air matanya lengkap sudah penderitaan Hansel. Dengan sekali lemparan, ponsel dengan logo apel digigit itu hancur menghantam tembok dengan suara keras.
"Temukan dimana istriku sekarang, jika dalam waktu sepuluh menit kalian tidak bisa mengatakan padaku dimana istriku berada maka bersiaplah untuk menanggung akibatnya," Teriak Hansel.
Sontak seluruh pelayan menjadi kalang kabut, Bu Sari dengan sigap menghubungi nomor mata-mata dengan ponsel yang lain, menanyakan keberadaan Ara. Bukannya mendapat jawaban justru Bu Sari mendapatkan kiriman video baru yang berisikan saat Ara dan Johan bertemu.
Bu Sari tampak berpikir dan mengurungkan niatnya untuk memberitahukan hal itu kepada tuannya, bisa-bisa dia dipecat sekarang juga jika sampai Hansel melihat rekaman video tersebut.
Sesaat kemudian Bu Sari mendapatkan nomor telepon Gisel yang merupakan teman terdekat Ara, segera ia menghubungi nomor tersebut, dan mengetahui bahwa Ara meninggalkan tas dan ponselnya di kantor, jadi kemungkinan besar Ara tidak akan berjalan terlalu jauh dari perusahaan.
Bu Sari menjelaskan hal tersebut kepada Hansel dengan tenang, berharap tuannya juga bisa sedikit mengurangi emosinya.
"Aku tidak peduli dengan ponsel dan dompetnya, yang aku tanyakan dimana istriku sekarang?" teriak Hansel semakin murka.
"Tuan, nyonya saat ini sedang berada di taman tak jauh dari perusahaannya, kami sudah meretas semua cctv yang ada di jalan di sekitar perusahaan, dan dari gambar ini nyonya masih berada di sana ," jelas seseorang yang berada di depan laptop, seorang hecker.
"Lalu apa yang kalian lakukan disini, cepat ambil mobil dan bawa aku kepada istriku ," teriak Hansel seraya keluar menuju mobilnya.
Hansel dan sopirnya, melesat dengan cepat membelah jalanan yang berair karena air hujan.
Tunggu aku Ara , aku akan segera datang.
__ADS_1
TBC, 🥰🥰🥰
Terimakasih banyak atas dukungannya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen, rate dan Vote setiap Senin ya, dukungan kalian sangat berarti untuk ku🙏🙏🙏.