Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 45.


__ADS_3

Lama Ara hanya mematung, ia tidak mengerti situasi yang dialaminya saat ini. Apakah Hansel mencampakkannya?


Dengan linglung Ara mencoba berbaring, ia mengelus pelan perutnya yang mulai membuncit, "Tidak apa-apa nak, ayahmu hanya lelah dan sedang sibuk, dia akan menyapamu setelah pekerjaannya selesai," ucap Ara getir.


.


.


.


Lewat tengah malam Hansel baru kembali, perlahan ia mendekati tubuh Ara yang tengah tertidur pulas, seperti biasa Ara membiarkan semua lampu menyala, membuat Hansel dengan mudah menangkap wajah ayu istrinya yang terlihat lelah.


"Apa aku menyakitimu? Apa aku membuatmu menderita?" lirih Hansel seraya menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah cantik Ara.


"Maaf sayang, aku sangat mencintaimu," dengan lembut Hansel mengecup kening Ara.


Ara menggeliat sesaat karena kecupan Hansel.


Lama Hansel hanya menatap wajah Ara, berbaring di sebelah istri nya yang tertidur, melahap kecantikan Ara yang begitu ia rindukan selama ini. Tangannya terulur mengelus perut Ara, ia merasa bersalah dengan pikirannya sendiri.


"Hai Baby, ini ayah. Maaf karena ayah tidak menjagamu dengan baik, tapi mulai sekarang ayah berjanji akan melakukan segalanya untukmu dan ibumu," bisik Hansel di dekat perut Ara.


Ara yang merasakan beberapa kali sentuhan di atas perutnya mencoba membuka matanya meskipun masih mengantuk. Ia begitu terkejut mendapati Hansel yang tengah berbicara dengan anak dalam kandungannya, kalimat-kalimat penuh kasih sayang yang keluar dari mulut Hansel membuat Ara menangis.


Hansel mendongak, mendengar suara isakan Ara, " Kau menangis?" ucap Hansel panik, "Maaf aku pasti membangunkan mu," Hansel menyeka bulir basah di pipi Ara, mendekatkan wajah mereka dan memberikan satu kecupan hangat di kening Ara, "Maaf."


"Kenapa lama sekali?" tangis Ara pecah.


"Maaf, seharusnya aku datang lebih cepat, maafkan aku sayang!" dengan lembut Hansel merengkuh tubuh Ara, membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya.


Malam itu keduanya menyadari bahwa kebahagian mereka telah terikat satu sama lain, mereka tidak akan bahagia jika salah satu dari mereka tidak bahagia, sekeras apapun mereka mencoba untuk menjauh, hati mereka selalu menemukan cara untuk kembali.


...****************...


Usia kandungan Ara kini memasuki bulan ketujuh, kebahagiaan terpancar di setiap sudut rumah, pasalnya Hansel dan Ara tengah menggelar acara tujuh bulanan untuk Ara dan bayi dalam kandungannya, doa-doa dipanjatkan untuk kesehatan dan keselamatan ibu dan si bayi.


Tidak banyak tamu undangan yang datang, karena Hansel sangat membatasi orang-orang yang dapat bertemu dengan Ara, semenjak Ara kembali, Hansel teramat protektif terhadap dirinya.


Hanya ada keluarga Ara dan beberapa teman, sementara orang tua Hansel sedang berada di luar negeri, mereka sepertinya sengaja menghindari acara ini.

__ADS_1


"Bukankah itu Vanessa?" ujar Morgan terkejut, karena gadis ular itu tidak berada dalam daftar undangan.


"Untuk apa dia kemari?" imbuh Jay.


"Beraninya hama itu menginjakkan kaki di rumahku, aku akan mematahkan kedua kakinya," geram Hansel, mengeratkan pelukannya di pinggang Ara yang berada di sebelahnya.


"Tenanglah Hansel! Jangan membuat keributan, ibu dan ayah masih ada disini." Ara mengingatkan suaminya dengan lembut.


Vanessa dengan muka temboknya menghampiri Ara dan Hansel tanpa rasa malu sedikitpun, "Selamat atas kehamilan mu Ara, semoga hari kelahirannya akan lancar," doa yang jelas tidak benar-benar dari dalam hati itu meluncur dari bibir gadis ular tersebut.


"Terimakasih," jawab Ara singkat.


"Aku tidak ingin ada keributan disini, jadi pergilah sekarang selagi aku masih mengatakannya secara baik-baik," ucap Hansel dingin.


"Oh Kak Hansel kejam sekali, biar bagaimana pun aku ini pernah menjadi calon istrimu, kita bahkan sudah melakukan malam pertama. Ups, sepertinya aku keceplosan," senyum licik Vanessa melebar.


"Oh, benarkah?" kalimat tanya yang terkesan mencemooh keluar dari bibir Ara, ia tidak ingin suaminya yang memiliki kesabaran setipis tisu itu terprovokasi oleh gadis licik dihadapannya, "Jika dilihat dari kejadiannya, sepertinya kau tidak bisa memuaskan suami ku terbukti jika dia meninggalkanmu di aula pernikahan dan memilih kembali bersamaku, sepertinya ranjang ku lebih hangat dan nyaman dari milikmu," bisik Ara pelan di dekat telinga Vanesha.


Muka Vanessa memerah menahan amarah, ia tidak menduga jika Ara akan berani menjawabnya demikian, ia pikir Ara hanya akan bersembunyi di balik tubuh suaminya.


"Jika kau sudah selesai lebih baik kau pergi Vanessa, sepertinya akan buruk bagimu jika ada berita yang muncul kalau seorang Vanessa ternyata masih belum move on dari lelaki yang meninggalkannya," ujar Ara dingin, rasa simpatinya untuk wanita di hadapannya benar-benar telah lenyap.


Ara tampak diam, wajahnya tersirat luka dan kesedihan mendengar ucapan Vanessa.


"Jangan dengarkan dia sayang! Aku mencintaimu," Hansel menenangkan sang istri dan mengelus perut Ara dengan penuh kasih.


Setelah insiden tersebut acara berjalan tanpa ada hambatan. Kedua orang tua Ara berpamitan paling akhir. Sang ibu, Dewi Halimah memberikan banyak sekali nasehat dan wejangan kepada Hansel dan Ara, ia sangat bahagia dan tidak sabar untuk melihat cucunya lahir ke dunia.


Udara terasa lebih panas dari biasanya karena cuaca musim kemarau yang sedang berlangsung. Terlihat Ara hanya mengenakan lingerie tipis yang dengan jelas memperlihatkan tubuhnya yang kini lebih berisi.


"Apa kau sedang menggodaku sayang?" tanya Hansel yang melihat istrinya tengah melenggang kesana kemari.


"Kenapa panas sekali? Apa AC nya bekerja dengan benar?" gerutu Ara. Ia menjadi lebih mudah gerah saat cuaca seperti ini.


"Aku akan menyuruh seseorang untuk mengeceknya besok."


"Besok?"


"Tentu saja besok sayang, sekarang sudah malam, kemari dan tidur!" pinta Hansel menepuk ranjang kosong disebelahnya.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa tidur kalau panas begini Hansel," tolak Ara.


"Mau aku bantu biar lebih dingin?"


"Bagaimana?"


"Kemari Lah!"


"Jangan macam-macam," ancam Ara seraya mendekat ke arah Hansel.


"Sini berbaring!" dengan lembut Hansel membantu Ara berbaring.


Hansel mengelus perut Ara, "Sepertinya Junior sedang kangen Ayahnya, jadi dia merengek kepanasan," goda Hansel yang kini tangannya mulai bergerilya kemana-mana.


"Kau hanya membuat alasan tuan Hansel Nathanael Anderson," kesal Ara memukul dada suaminya.


"Ah, sakit sayang, kenapa kau memukulku? Aku hanya ingin mengunjungi junior," ucapnya belum menyerah.


"Tidak," tolak Ara, memilih berbaring miring memunggungi sang suami.


Dengan mudah kini Hansel justru menyusupkan tangannya ke pinggang Ara, memeluk tubuh istrinya dengan mesra. belaian demi belaian Hansel berikan dengan penuh kasih.


"Boleh ya sayang, aku akan pelan-pelan," rengek Hansel lagi.


"Kau selalu seperti ini," gerutu Ara.


"Iya deh iya, maaf sayang. Bagaimana jika kau yang di atas?"


"Entahlah aku tidak tahu," Ara menutup seluruh tubuhnya dengan selimut meskipun dia kepanasan.


Hansel yang pantang menyerah kini justru masuk ke dalam selimut dan melakukan hal-hal yang lebih nikmat dan berbahaya menggunakan tangan dan bibirnya.


Suara lenguhan mulai keluar dari bibir Ara bagai alunan musik.


Malam yang panjang masih akan berlangsung lama bagi kedua pasangan tersebut.


To be continued 🤗.


Thanks 🥰.

__ADS_1


__ADS_2