
Roda pesawat Hansel mendarat dengan selamat, suasana bandara yang ramai serta warna kemerahan di batas langit tidak berpengaruh terhadap suasana hati hansel yang sedang kelabu. Rasa khawatir saat harus berjauhan dengan sang istri yang berjuang melawan maut, juga ketakutan terbesarnya akan kehilangan Ara semakin memperkeruh suasana hatinya sore itu.
"Hubungi tuan Shaka! Katakan padanya jika aku sudah tiba!" perintah Hansel pada Alex, sekretarisnya.
"Baik Tuan."
Hansel menunggu waktu yang di tentukan oleh tuan Shaka dengan gelisah, ia bahkan belum tidur sama sekali selama perjalanannya, ia selalu bermimpi akan kehilangan istri tercintanya begitu ia memejamkan mata, yang membuatnya enggan tidur.
Setelah dua jam yang terasa begitu lama, waktu untuk menemui bos mafia terkejam pun tiba. Private room yang berada di sebuah club papan atas di kota xxx menjadi tempat pertemuan keduanya.
"Selamat malam tuan Hansel? Silahkan masuk, tuan Shaka ada di dalam," ujar salah seorang anak buah tuan Shaka.
Hansel hanya mengangguk dan memasuki pintu dihadapannya. Sosok tuan Shaka yang begitu misterius kini berada di hadapan Hansel, berbeda dari bayangan Hansel, ternyata tuan Shaka tidak berpenampilan seperti seorang mafia yang menyeramkan, wajahnya memang tanpa senyuman dan tatapan matanya sangat tajam, akan tetapi tuan Shaka terlihat sangat berkelas dan rupawan, bukan sosok penuh tatto atau codet seperti bayangan Hansel.
"Hansel Nathanael Anderson," sambut tuan Shaka dengan suara beratnya, "Duduklah!"
"Terimakasih." Hansel mengambil tempat duduk di hadapan Shaka, terlihat seorang pelayan yang membawakan minuman untuknya dengan sopan.
"Silahkan di minum Tuan Hansel!" ucap Tuan Shaka mempersilahkan.
"Langsung saja pada intinya Tuan Shaka, saya tidak memiliki banyak waktu," ucap Hansel dingin.
"Jangan terlalu tegang Tuan Hansel! Jangan terburu-buru!" Tuan Shaka menyesap minumannya dengan santai.
"Istriku sedang sekarat," Hansel mengatupkan giginya rapat menahan amarah, pria dihadapannya sangat menyebalkan.
"Yah, begitulah kabar yang ku terima," jawab Shaka enteng, "Bahkan Jay yang sangat sombong itu rela berlutut beberapa hari yang lalu untuk mendapatkan penawarnya," Shaka menyeringai bangga, menjatuhkan harga diri orang lain sepertinya menyenangkan bagi tuan Shaka.
"Jadi saya mohon dengan sangat agar anda berkenan untuk memberikan penawarnya kepada saya sekarang, saya akan memberikan apapun yang anda minta," tawar Hansel dengan tenang. Ia sudah sangat muak berhadapan dengan pria angkuh di hadapannya.
"Apapun? Menarik."
Setelah melakukan negosiasi dengan sengit, Hansel kembali dengan sebuah koper kecil di tangannya yang berisi obat penawar bagi Ara, tanpa beristirahat ia langsung melakukan penerbangan kembali yang harus ia tempuh berjam-jam lamanya.
Tunggu sebentar lagi sayang! Aku pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi lain, selepas kepergian Hansel guna menemui tuan Shaka, Ara baru saja terbangun mendapati Jay yang sudah ada di sebelahnya.
"Halo sweetie, bagaimana perasaanmu?" sapa Jay lembut.
__ADS_1
Ara hanya tersenyum lemah.
"Jangan khawatir, suami tercintamu sedang berjuang untuk kesembuhan mu, semuanya akan baik-baik saja," ucap Jay meyakinkan sahabatnya.
"Anakku?" tanya Ara lirih.
"Oh, Ara kecil sangat cantik, aku baru saja mengunjunginya, dia mirip sepertimu sweet heart," senyuman tulus mengembang di bibir Jay.
"Hanna," ucap Ara dengan senyum lemah. Mata Ara perlahan terpejam sepertinya ia masih belum mampu untuk terjaga lebih lama.
"Hanna? Nama yang indah. Sekarang tidurlah! Aku akan membangunkan mu saat Hansel tiba," dengan lembut Jay memberikan satu kecupan di kening Ara, sebelum berlalu keluar dari ruangan.
Air mata Jay luruh bersamaan dengan kakinya yang tertekuk di depan pintu kamar Ara, ia tidak menyangka jika wanita yang ia cintai kini terlihat begitu lemah di dalam sana, sementara ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata.
*
*
*
Perjalanan Hansel berlangsung tanpa hambatan, ia segera melesat menuju RS dimana sang istri berada.
Segera setelah sampai, ia dengan cepat memberikan penawar yang ia peroleh kepada pihak dokter yang merawat sang istri, dengan cekatan para petugas medis melakukan tugasnya. Kini mereka hanya perlu menunggu bagaimana hasil reaksi dari obat penawar tersebut.
"Makanlah Hansel!" ucap Jay.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku mengikuti mu kemari karena kau bilang jika ada hal penting yang ingin kau bicarakan, aku tidak datang untuk makan," jawab Hansel malas.
"Kau perlu menjaga kondisi kesehatan tubuhmu juga Hansel, aku tahu kau sedang kacau, tapi Ara membutuhkan mu dalam kondisi terkuat, jika kau sampai ambruk siapa yang akan melindungi Ara dan putri kalian," nasehat tulus Jay sampaikan.
"Aku baik-baik saja, aku masih kuat melindungi Ara dan anakku," jawab Hansel sengit.
"Hanna. Ara mengatakan jika putri kalian bernama Hanna."
"Benarkah Ara mengatakannya?" Suara Hansel dipenuhi rasa bahagia.
Jay hanya mengangguk dengan senyum lembut, "Sekarang makanlah, Ara tidak akan senang jika melihat kondisimu kacau seperti ini," menyodorkan makanan.
Dengan menahan tangis Hansel mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya, terlihat beberapa kali ia harus menyeka air matanya yang memaksa keluar.
Sementara Jay hanya bisa memberikan tepukan di bahu Hansel, sedikit memberikan semangat untuk sahabatnya yang sedang kacau.
__ADS_1
Waktu demi waktu berlalu dengan lambat, beberapa kali Ara mengalami kejang yang di akibatkan oleh reaksi obat penawar, membuat semua orang semakin khawatir dan panik.
"Obat penawarnya memang bekerja tuan Hansel, tapi kondisi tubuh nyonya Ara yang sangat lemah pasca melahirkan, membuatnya sulit untuk menerima penawar tersebut," jelas dokter spesialis yang menangani Ara.
"Lantas apa yang bisa saya lakukan? Lakukanlah sesuatu untuk menyelamatkannya!" pinta Hansel tulus.
Dokter tersebut berlalu pergi dan melanjutkan tugasnya setelah mengatakan jika pihak RS akan melakukan yang terbaik.
Hansel hanya bisa menatap tubuh sang istri yang terbaring lemah di dalam ruangan yang terpisah oleh dinding kaca tersebut, selang-selang yang menggantung dan tertusuk di tubuh Ara semakin membuat hati Hansel teriris karenanya.
Keesokan harinya kondisi Ara semakin membaik, meskipun masih dalam kondisi yang lemah tapi pagi ini Ara sudah siuman. Hansel sangat bahagia bisa melihat bola mata indah Ara menatap dirinya saat ini.
"Aku mencintaimu," Hansel terus mengatakannya berkali-kali seraya mengecup punggung tangan Ara dalam genggamannya.
"Aku tahu, aku juga mencintaimu Hansel," suara lemah Ara terdengar bagai musim semi bagi Hansel.
"Bagaimana kondisi Hanna?"
"Dia baik sayang, cepatlah sembuh agar bisa segera melihat Hanna secara langsung," jelas Hansel.
Ara tersenyum, "Terimakasih untuk semuanya."
"Aku yang seharusnya berterimakasih. Terimakasih sudah bertahan dan berjuang untuk ku dan Hanna," Hansel mengecup kening Ara.
Seminggu berlalu, kondisi Ara berangsur-angsur pulih, kini Ara sudah diizinkan meninggalkan ruangan dan berkeliling menggunakan kursi roda. Ia juga sudah diizinkan untuk menemui Hanna, karena setelah melakukan tes darah beberapa kali sudah dipastikan jika virus dalam tubuh Ara telah hilang sepenuhnya. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan Hansel melebihi berita tersebut, Sekarang Ara hanya perlu memulihkan kondisi fisiknya secara perlahan hingga kembali seperti sediakala.
"Jadi Vanessa dalang dari semua ini?" tanya Ara yang tengah duduk di kursi roda dengan Hansel di belakangnya.
"Hem, ingin rasanya aku melenyapkan hama menyebalkan itu," geram Hansel seraya mendorong kursi roda Ara perlahan.
"Aku tidak menyangka jika dia bisa sekejam ini."
"Banyak orang-orang yang rela melakukan hal-hal yang membahayakan orang lain hanya untuk kesenangannya sendiri Ara, dunia ini kejam, sangat kejam. Terkadang kita juga perlu bersikap kejam agar tidak selalu ditindas oleh orang-orang semacam itu," jelas Hansel dengan serius.
"Yah, meskipun aku tidak setuju tapi kau benar," ucap Ara dengan senyum sedih, "Jadi bagaimana kau mendapatkan penawarnya?" tanya Ara kemudian.
Langkah Hansel terhenti, ia tidak tahu bagaimana ia harus menjelaskan persyaratan yang telah ia setujui dari Tuan Shaka.
To be continued 🙇♀️🙇♀️🙏🙏.
Thanks 💜.
__ADS_1
Update tidak menentu. Mohon maaf 🙇♀️🙇♀️.