Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 39.


__ADS_3

"Tahan dia!" perintah tuan Robert tegas.


Para bodyguard langsung berusaha untuk menahan Hansel, Tetu saja Hansel tidak tinggal diam, ia melawan para bodyguard dengan sekuat tenaga, tidak sedikit dari mereka yang mengalami luka akibat pukulan dan tendangan Hansel. Namun, apa hendak dikata, Hansel hanya seorang diri kalah dari para bodyguard yang berjumlah sepuluh orang.


Dirinya kini diseret paksa oleh mereka kembali menuju kamar.


"Lepaskan ! Dad tolong lepasin Hansel, Ara diculik, aku harus segera menolongnya, Hansel mohon!" teriak Hansel yang tidak di gubris oleh sang Daddy.


"Ini semua demi kebaikanmu dan Anderson grup," ujar Tuan Robert datar, memalingkan pandangannya dari tubuh putranya yang kini diseret paksa oleh para bodyguard, Ia tidak ingin putra sematawayangnya terjerat dengan wanita dengan kasta yang lebih rendah, terlebih keluarga Ara tidak akan bisa membantu Hansel untuk memenangkan saham Anderson grup.


Teriakan Hansel menggema di penjuru kamar, suara barang-barang pecah memekakkan telinga begitu pintu kamarnya terkunci. Serentetan makin dan cacian keluar dari bibir pria itu, berkali-kali ia menendang pintu kamarnya berharap pintu dihadapannya akan terbuka, tapi sayang semua itu tidak terjadi.


Tubuh Hansel yang mulai kelelahan, merosot di balik pintu, ia hanya bisa menundukkan kepala dan membiarkan air matanya terjatuh.


Disinilah Hansel berada, jauh dari sang istri yang kini entah bagaimana keadaannya. Bahkan kini ia tidak bisa menghubungi Jay ataupun Morgan karena tas berisi ponsel miliknya berada di tangan Daddy-nya.


"Maafkan Hansel mbak Ara," Isak Hansel yang terduduk di lantai.


...****************...


Disisi lain, Ara nampak tak sadarkan diri berbaring di tengah ranjang, tubuhnya terlihat memprihatikan, banyak sekali luka memar yang tertinggal disana, sepanjang malam Johan tiada puas menikmati dirinya, sekalipun Ara sudah beberapa kali kehilangan kesadaran, tidak membuat Johan berhenti menggempur wanita malang tersebut.


Sementara Johan tengah menyegarkan dirinya di kamar mandi, perasaannya campur aduk. Ia menyesal karena sudah menyakiti Ara, tapi ia tidak memiliki jalan lain lagi, karena semakin lama ia menunggu, Ara akan semakin jatuh cinta kepada Hansel, setelah ini ia hanya perlu meminta maaf kepada Ara, dan membujuk wanita itu agar tetap bersamanya. Ara adalah wanita berhati lembut, Johan yakin dia bisa memenangkan hati Ara kembali.


Johan kembali ke kamar dan mendapati Ara tengah duduk bersandar di kepala ranjang, membungkus tubuh polosnya dengan selimut, air matanya tidak henti keluar.


"Kau sudah bangun?" Johan mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Ara.


"Jangan menyentuhku, Aku membencimu," ucap Ara tajam.


Johan menghela nafas, "Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu, bersihkan tubuhmu! Aku akan menyiapkan makanan untuk kita," ujar Johan, kemudian berlalu meninggalkan Ara.


Terdengar pintu terkunci, menandakan jika Ara tidak akan bisa keluar dari ruangan ini, dengan kesal Ara melempar bantal ke arah pintu, "Aku membencimu," teriak Ara, air matanya kembali mengalir.


Setelah merasa sedikit tenang ia beranjak menuju kamar mandi, dengan tertatih ia perlahan mengguyur tubuhnya dengan air hangat, berusaha menghilangkan aroma Johan dari tubuhnya, ia merasa sangat kotor dan menjijikan, belum pernah ia merasa begitu kotor seperti ini, isak tangis dan air mata melebur bersamaan dengan deras air yang mengguyur tubuhnya.


"Hansel maafkan aku," ucapnya penuh penyesalan dan rasa sakit. Ia menyesal mempercayai Johan dan mengabaikan peringatan Hansel untuk selalu berhati-hati pada pria brengsek yang sudah berani melecehkannya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan?"


Selesai membersihkan diri, kini pikiran Ara menjadi lebih tenang, ia masih enggan keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang melilit tubuhnya ia memutuskan untuk melihat keadaan diluar dari ventilasi yang ada di sana. Ternyata mereka berada di tepi laut, dan dari ketinggiannya kemungkinan kamar ini terletak di lantai tiga. Ara hanya bisa menghela nafas.


Tok...Tok...


Suara ketukan di pintu mengejutkan Ara.


"Apa kau baik-baik saja?" suara Johan terdengar dari balik pintu. Sepertinya ia takut Ara akan mencoba melukai dirinya sendiri.


Tanpa menjawab ucapan Johan Ara membuka pintu dan mendapati Johan membawa sebuah paper bag.


"Ini untukmu, Pakailah!" menyerahkan paper bag ditangannya kepada Ara.


Tidak ada pilihan lain Ara menerimanya dan kembali masuk ke kamar mandi.


Kini Ara sudah mengenakan gaun berwarna putih sepanjang lutut, ia membiarkan rambut panjangnya tergerai, ia enggan untuk sekedar menyisirnya.


"Makanlah!" perintah Johan menunjuk meja yang sudah tertata beberapa makanan.


"Aku tidak lapar," tolak Ara ketus, " Aku hanya ingin pulang, biarkan aku pergi," ucap Ara datar.


"Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan jadi sekarang biarkan aku pergi dari sini, aku sudah muak dengan permainanmu," teriak Ara frustasi.


"Aku akan meninggalkan makanannya disini, makanlah selagi hangat! Aku akan kembali lagi nanti," ucap Johan dan berlalu meninggalkan Ara.


Ara berusaha membuka pintu kamar itu, tentu saja pintunya terkunci, dengan kesal ia menendang pintu dihadapannya.


Dengan cepat Ara berusaha mencari jalan keluar, ia mencoba membuka jendela kamar, dan benar dugaannya, ia berada di lantai tiga. Ara bisa melihat pagar tinggi yang mengelilingi rumah tersebut dari balkon, serta halaman luas di sekelilingnya, nampak juga beberapa penjaga yang terlihat bersiaga di sekeliling rumah.


Siapa sebenarnya orang-orang ini?


Ara menghela nafas panjang, karena tidak menemukan cara untuk melarikan diri, "Aku hanya perlu menunggu Hansel datang mencari ku. Dia pasti akan datang. Kau harus datang Hansel," gumam Ara.


*


*

__ADS_1


*


*


Di sisi lain, Kondisi Hansel tak kalah memprihatinkan, tangan, tubuh, bahkan wajahnya dipenuhi oleh luka, sebagian akibat perkelahiannya dengan para bodyguard, tapi sebagian besar disebabkan oleh ulahnya sendiri yang mengamuk dan hilang kendali. Kamar yang luas itu kini sungguh berantakan, tidak ada satu benda pun yang masih utuh, semua hancur oleh amukan Hansel. Serpihan kaca berserakan dimana-mana. Ia terduduk di lantai, membenci ketidakberdayaannya.


Tok...Tok...


Suara ketukan membuat Hansel mengangkat pandangannya.


"Hansel sayang? Kau baik-baik saja kan?" ternyata suara nyonya Margaret sang mommy yang terdengar.


Hansel sama sekali tidak tertarik untuk sekedar menjawab panggilan ibunya.


"Hansel jangan seperti ini Nak ! jangan melawan ayahmu lagi!" ucap sang Mommy dari balik pintu.


"Buka pintunya!" Nyonya Margaret memberi perintah kepada bodyguard yang berjaga.


"Maaf Nyonya, tapi tuan besar melarang kami membuka pintu ini!" jawab pria berkepala plontos itu dengan sopan.


"Buka saja! Ini perintah!" bentak nyonya Margaret kesal.


"Sekali lagi tidak bisa Nyonya," tolaknya lagi.


"Kalian menyebalkan," ketus nyonya Margaret


Mengambil ponselnya dan menghubungi Tuan Robert, "Sayang, biarkan aku melihat putraku!" ucapnya begitu panggilan tersambung, "Katakan pada mereka untuk membuka pintunya!"


"Biarkan Hansel menenangkan diri dulu," jawab tuan Robert yang saat ini sedang mengurus pernikahan antara Hansel dan Vanesha, ia ingin menyatukan kedua keluarga besar mereka agar memiliki kekuasaan yang lebih kuat.


"Biarkan aku melihatnya, bagaimana jika putraku melukai dirinya sendiri," balas nyonya Margaret masih berusaha meyakinkan suaminya.


Setelah cukup lama berdebat akhirnya tuan Robert mengizinkan para bodyguard untuk membuka pintu.


" Astaga Hansel, bagaimana bisa kau terluka seperti ini?" teriak nyonya Margaret panik melihat luka di tubuh putranya.


"Biarkan aku pergi Mom!" pinta Hansel dengan sisa tenaganya.

__ADS_1


To be continued 🤗.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2