Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 37


__ADS_3

Hari demi hari berganti, masih di musim yang sama, jalanan nampak basah oleh air hujan meskipun jam masih menunjuk pukul 10 pagi, rasanya langit belum bosan mencurahkan airnya.


Sudah dua Minggu berlalu semenjak Hansel dan Ara menghabiskan malam di kota Xxx, kali ini Ara kembali ke sana untuk penyerahan kunci serta dokumen Galeri seni kepada pemiliknya tuan Jay Orion, bersama Johan tentunya.


Sepanjang malam Ara harus membujuk Hansel untuk mendapatkan izin, dan pagi ini bersamaan dengan keberangkatan Ara ke kota ini, Hansel juga melakukan penerbangan keluar negeri untuk urusan bisnis bersama sang ayah, rencananya Hansel akan memerlukan waktu satu Minggu di negara tersebut.


Ara tidak bisa mengatakan jika ia menyukai pertemuannya dengan Jay Orion sebelumnya tapi ia juga berterimakasih karena berkat dia, setidaknya Ara bisa menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama Hansel, dan kini saat ia harus berhadapan dengan pria tampan dihadapannya itu lagi, Ara merasa canggung karena kini Jay mengetahui hubungannya dengan Hansel.


"Saya puas dengan hasilnya Pak Johan, terimakasih," ucap Jay seraya mengulurkan tangan ke arah Johan.


"Terimakasih telah bersedia bekerjasama dengan perusahaan kami Tuan, semoga hubungan ini bisa terus berjalan dengan baik kedepannya," jawab Johan dengan sopan menjabat tangan Jay.


"Terimakasih juga untukmu nona Ara, semoga kedepannya saya masih bisa sering bertemu denganmu lagi," Goda Jay mengerlingkan mata.


"Sama-sama Tuan," jawab Ara singkat dengan senyuman canggung.


Pertemuan bisnis antara mereka berakhir dengan baik sesuai rencana, dan lebih cepat dari pada yang Ara duga, bahkan semua urusan selesai sebelum matahari terbenam.


Sore ini nampaknya cuaca sedikit bersahabat, awan-awan kelabu nampak tersingkap menampakkan warna jingga sang mentari yang indah menggantung di ufuk barat, Ara bisa mengamatinya di sepanjang jalan ia menuju bandara, Johan yang duduk di sampingnya nampak memejamkan mata dengan tenang.


"Kau tidak ingin tinggal lebih lama disini? Pemandangan di kota ini sangat indah, apa kau tidak ingin menghabiskan sedikit waktu bersamaku disini?" tanya Johan tiba-tiba, meski dengan mata tertutup tapi Johan serius ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Ara, karena setelah proyek ini selesai maka Ara akan benar-benar berhenti dari perusahaan miliknya, padahal pekerjaan adalah satu-satunya alasan untuk bertemu dengan Ara.


"Tidak Mas, aku senang pekerjaan kita berjalan dengan lancar dan aku ingin segera pulang beristirahat," jawab Ara.


Senyuman manis yang tertoreh di bibir Cherry Ara membuat Johan semakin enggan melepaskannya.


Ucapan apapun yang hendak Johan katakan terhenti oleh dering telepon, dengan cepat Johan menjawab panggilan tersebut.


"Ya? Ada apa?" Johan nampak kesal, mendengarkan apapun yang diucapkan oleh seseorang diseberang panggilan.


"Baiklah, aku mengerti," panggilan diakhiri.


Tampak beberapa kali Johan menghembuskan nafas panjang, raut wajahnya nampak kebingungan.


"Apa ada masalah?" tanya Ara cemas.


"Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Johan dengan gugup.


Perjalanan setelahnya berlangsung hening, Johan tampak diam dengan wajah seriusnya yang tampak dingin, sementara Ara hanya menatap langit sore yang kini tampak menggelap.


"Minumlah Ara ! Kau tampak dehidrasi," ujar Johan menyerahkan sebotol air mineral.

__ADS_1


Tanpa curiga Ara menerimanya dan meminum air tersebut.


Selang beberapa menit Ara mulai mengantuk, pandangannya mulai terasa berat, ia mencoba menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuk disertai pusing yang berputar di kepalanya.


"Apa yang kau berikan padaku?" tanya Ara terbata, semakin sulit untuk mengendalikan dirinya.


"Maaf Ara."


Satu kata dari Johan mengakhiri kesadaran Ara, kini kegelapan menelan Ara.


Johan menyandarkan kepala Ara dalam pelukannya, meminta sopir untuk mengubah arah. Ia tidak peduli apakah yang dilakukannya benar atau salah, karena baginya kini ia hanya ingin mengambil apa yang telah direnggut darinya oleh Hansel, sekalipun Ara akan membencinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hansel mulai berjalan mondar-mandir menipiskan karpet mahal yang melapisi lantai rumahnya yang berada di Inggris, ia dengan kesal menekan panggilan ke nomor istrinya untuk yang kesekian kali. Namun, nihil. Panggilan tersebut tidak mendapatkan jawaban.


Dengan gusar ia menghubungi nomor Jay, karena dia tahu jika Ara akan melakukan pertemuan dengan Jay bersama dengan Johan.


"Ada masalah apa lagi?" jawab Jay malas, ia tahu jika Hansel hanya akan menghubunginya jika ada masalah saja.


"Dimana istriku?" ucap Hansel tanpa basa-basi.


"Aku saat ini berada di Inggris, dan nomer Ara tidak bisa di hubungi, bukankah hari ini kau bertemu dengannya?" jelas Hansel kesal.


"Ya, kami memang bertemu tadi siang, tapi hanya sebentar, kemudian dia kembali bersama dengan atasannya," jawab Jay jujur.


"Lalu kenapa ponselnya tidak aktif," bentak Hansel dengan marah, emosinya benar-benar mudah sekali meledak jika berurusan tentang Ara.


"Hei, mana aku tahu tentang itu, mungkin dia masih di pesawat, kau tunggu saja! dia pasti akan menghubungimu saat tiba di rumah," Jay juga mulai kesal dengan Hansel yang kekanak-kanakan, "Jika tidak ada hal lain lagi aku tutup dulu," ucap Jay mengakhiri panggilan.


Hansel melemparkan ponselnya dengan kesal ke ranjang dan menjatuhkan tubuh kekarnya disana, ia lelah setelah melakukan penerbangan yang cukup jauh, dan kini dia kesal karena tidak bisa mendengar suara manis Ara.


Hansel dikejutkan oleh ketukan di pintu kamarnya.


"Masuk!" perintah Hansel yang masih enggan berdiri dari ranjang.


"Tuan muda, Tuan besar memanggil anda untuk makan bersama sekarang," ucap salah seorang pelayan dengan sopan.


"Hmmm, aku mengerti," jawab Hansel malas.


Dengan langkah gontai Hansel menuju ruang makan dimana sang Daddy sudah menunggu.

__ADS_1


Langkah kaki Hansel terhenti kala netranya menangkap sosok yang sangat ia hindari di muka bumi ini, siapa lagi jika bukan Vanessa si hama menyebalkan.


" Hei kau, apa yang kau lakukan disini?" tanya Hansel kesal.


"Kak Hansel," dengan manja Vanessa berlari kearah Hansel dan memeluknya tanpa permisi.


"Hei lepaskan ! Kau hama menjijikkan ! menjauh dariku!" teriak Hansel berusaha mendorong Vanessa yang justru semakin kuat memeluknya.


"Daddy lihatlah, kak Hansel begitu jahat padaku," rengek Vanesha kepada Tuan Robert.


"Tidak apa-apa sayang, lelaki memang seperti itu pada awalnya, tapi Daddy yakin setelah kalian menikah Hansel akan mencintai dan memperlakukanmu seperti seorang ratu," jawab tuan Robert dengan tersenyum.


"Apa? Menikah?" Hansel terkejut dengan pernyataan sang Daddy.


"Ya, kita datang ke Inggris untuk melangsungkan pernikahan kalian dihadapan keluarga besar kita," ucap Tuan Robert serius.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ara terbangun dengan rasa pusing, yang terasa seperti ingin memecahkan kepalanya, perlahan ia membuka mata, berusaha menyesuaikan pandangannya dengan pendar lampu yang seakan menyengat matanya.


"Kau sudah bangun?" Suara berat Johan mengejutkan Ara, ternyata laki-laki itu tengah duduk di sofa yang tak jauh dari tempat Ara berbaring.


"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Ara dengan marah.


Johan berjalan perlahan menghampiri Ara, menuangkan air ke dalam gelas, kemudian menyerahkannya kepada Ara, " Minumlah!"


Dengan kasar Ara menampik gelas tersebut hingga terburai di lantai, membasahi karpet beludru yang melapisinya.


"Aku tidak ingin apapun darimu lagi, apa yang kau inginkan dariku? Kenapa mas Johan tega melakukan ini padaku?" suara Ara dipenuhi dengan kekecewaan.


"Kau ingin tahu apa yang ku inginkan? Aku ingin dirimu, aku ingin Ara ku kembali," ujar Johan serius.


Detik berikutnya sama sekali tidak pernah Ara sangka akan terjadi, lebih tepatnya ia tidak percaya jika Johan tega melakukan hal tersebut kepadanya. Tanpa aba-aba Johan mendorong tubuh Ara dan menciumnya dengan brutal, sekuat tenaga ia berusaha mendorong tubuh besar Johan, namun sia-sia, tenaga Johan jauh lebih kuat jika di bandingkan dengan dirinya.


Ara terus memberontak ditengah tubuh Johan yang terus menghimpitnya, tangan besar Johan menahan kedua tangan Ara agar ia lebih leluasa menikmati bibir Ara, bahkan dengan berani kini Johan mulai mencium leher jenjang Ara, tangisan Ara sama sekali tidak menghentikan kegilaan Johan.


"Aku mohon hentikan Mas! Lepaskan aku! jangan seperti ini!" teriak Ara di sela tangisannya.


To be continued 🤗


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2