
Hidup ini terlalu singkat untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu kita pikirkan, karena bukan porsi kita untuk menentukan hal tersebut. Jadi akan lebih baik jika kita mengambil sebanyak yang kita mampu apa yang di tawarkan oleh takdir di hadapan kita sebelum semuanya berubah. Itulah yang ku lakukan sekarang, mengambil bagian dari kebahagiaanku bersamamu sebanyak yang kiu bisa.
...****************...
"Hansel? Kau tidak ke kantor hari ini?" dengan lembut Ara mengelus rambut Hansel yang masih berbaring di ranjang.
"Hmmmm, tidak sayang, hari ini aku akan beristirahat, karena besok aku harus pergi ke luar kota," jawab Hansel dengan mata tertutup.
"Kau jadi ke kota x?"
"Iya, ada hal penting yang tidak bisa di wakilkan, tenang saja aku akan mengusahakan pulang begitu pekerjaan selesai, jaraknya tidak terlalu jauh, kurasa tidak perlu sampai menginap," jelasnya lembut,menyadari sorot sedih di mata Ara.
"Aku mengerti," ucap Ara lesu.
"Kemari lah!" mengulurkan tangannya kepada Ara, meminta Ara untuk datang ke pelukannya.
"Ini sudah siang sayang, dan kau belum sarapan, bangunlah dulu!" Ara menghindari pelukan Hansel karena ia sudah hampir menangis.
Akhir-akhir ini Ara menjadi lebih cengeng dan manja, bahkan terkadang ia akan menangis saat Hansel berangkat ke kantor, apalagi sekarang Hansel tengah berpamitan untuk pergi ke luar kota, Ara sensitif jika sudah menyangkut Hansel.
"Aku tidak perlu sarapan sayang, aku hanya ingin memelukmu lebih lama. Kemari lah!" ulang Hansel lembut.
Ara menghambur dalam pelukan Hansel, menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang suami kecilnya, dan benar saja kini air matanya tidak bisa terbendung.
"Aku merindukanmu," ucap Ara di sela Isak tangisnya.
"Aku bahkan belum berangkat sayang," tawa geli menggema di kamar mereka.
"Bagaimana jika aku ikut?"
"Tidak bisa, kau sedang hamil besar, tidak baik jika terlalu lama berkendara, jadi lebih baik kau di rumah dan menjaga Junior dengan baik-baik," memberikan tepukan di punggung Ara.
"Sudahlah jangan menangis lagi, istriku terlihat jelek saat menangis," kini Hansel dengan lembut mengusap air mata Ara.
Ara hanya mengangguk, mempererat pelukannya, "Aku akan merindukan aroma ini?"
"Hmm?"
__ADS_1
"Aroma tubuhmu menenangkan Hansel, rasanya aku ingin berada dalam pelukanmu setiap saat," ucap Ara sembari menghirup dalam aroma tubuh suaminya.
"Padahal baru beberapa Minggu yang lalu kau bahkan tidak mengizinkanku masuk kamar karena mual saat mencium aroma ku," ledek Hansel membicarakan tingkah Ara yang menolak di dekati olehnya tak lama ini.
"Hehe, sekarang aku tidak bisa jauh darimu."
"Aku senang mendengarnya. Apa kau sudah sarapan?"
"Tentu saja sudah, aku mencoba membangunkan mu tadi, tapi kau bilang kau tidak ingin sarapan, dan sekarang giliranmu bangun dan sarapan Hansel, kau bisa sakit."
"Yah, kurasa kau benar aku akan mandi terlebih dahulu," Hansel mengecup kening Ara sekali lagi dan berlalu menuju kamar mandi.
Selesai dengan sarapannya yang terlambat kini Hansel tengah memeriksa berkas dan barang-barang yang perlu ia bawa besok di ruang kerja.
Tanpa ia sadari Ara tengah memperhatikan Hansel dari ambang pintu, Kepala Ara menyender pada kusen dengan satu mangkok buah segar di tangannya, mulutnya mengunyah buah-buahan hingga penuh, membuat bibir Ara mengerucut dan terlihat begitu menggemaskan.
"Sayang?" panggil Ara karena tidak kunjung mendapat perhatian dari Hansel.
Hansel menoleh dan tersenyum, beranjak dari kursinya dan meraih tangan Ara, menuntun istri tercinta untuk duduk di pangkuannya.
"Kenapa kau menggunakan bajuku sayang?" tanya Hansel memperhatikan penampilan Ara.
"Bukankah, aku sudah membelikan mu banyak baju hamil sayang? Apa semua sudah tidak pas untukmu? Perlukah aku membelikan yang baru?"
"Tidak," jawab Ara cepat, karena Hansel sudah meraih ponselnya, jelas jika suaminya akan memerintahkan seseorang untuk memborong baju hamil untuknya.
"Aku memakai baju milikmu, karena aku ingin merasa lebih dekat denganmu," jujur Ara.
"Kau manis sekali," kekeh Hansel.
Tangan Hansel merengkuh tubuh dalam pangkuannya tersebut dan mendekatkan wajah mereka untuk mengambil satu ciuman dari sang istri, ia menahan tengkuk Ara untuk memperdalam ciumannya.
"Benar-benar Manis," ucapnya setelah selesai menyesap habis bibir Ara.
"Issshhh, makan ni manis!" Ara menyuapkan anggur ke mulut suaminya yang sangat pandai menggoda itu.
Tingkah Ara di sambut tawa oleh Hansel. Hari ini keduanya menghabiskan waktu bersama di rumah, banyak permainan yang mereka lakukan, tawa Hansel dan Ara hari ini memenuhi seluruh rumah, membuat para pelayan berharap keduanya akan bersama selamanya. Para pelayan adalah salah satu saksi bagaimana seorang Hansel Nathanael Anderson sangat hancur ketika harus berpisah dari Ara.
__ADS_1
Malam harinya, selesai dengan makan malam. Kini mereka tengah duduk bersantai di teras balkon kamar mereka , suasana sejuk angin musim panas juga cahaya rembulan yang terlihat indah menggantung di langit malam. Keduanya saling bersandar dengan tangan yang saling bertaut.
"Hansel?" panggil Ara lembut dengan kepala yang berada di bahu sang suami.
"Hmmm? Ada apa?"
"Menurutmu siapa yang akan mati lebih dulu antara kita?" tanya Ara tiba-tiba.
"Jangan bertanya hal-hal yang tidak perlu!"
"Menurutku akulah yang akan pergi lebih dulu kelak," ucap Ara sendu.
"Kenapa tiba-tiba bertanya hal seperti ini? Apa kau ada masalah?"
"Tidak ada, hanya ingin tahu saja."
"Berhenti menanyakan hal semacam ini, aku tidak suka," ucap Hansel mengecup kening Ara.
"Jika suatu saat aku pergi lebih dulu, apakah kau akan menikah lagi?" pertanyaan yang sangat Ara takutkan.
"Hei, sudah ku bilang hentikan! Ini tidak lucu."
Ara menahan tangan Hansel yang hendak berdiri karena tidak nyaman dengan arah pembicaraan Ara, "Kau tau sayang? Aku sangat bahagia sekarang, semuanya berjalan dengan sangat baik dan sempurna, sampai-sampai rasanya aku takut," ujar Ara dengan wajah tertunduk.
Hansel menghela nafas, "Maaf Sayang, kau pasti mendapat banyak masalah karena aku selama ini," satu ciuman ia berikan di kening seng istri.
"Tidak, kau juga banyak menderita Hansel, dan terimakasih karena sudah banyak memberikanku cinta, aku sangat bahagia sekarang."
"Terimakasih juga untukmu Ara, karena telah bertahan dengan ku," ucap Hansel tulus.
Keduanya tersenyum dan menyelami perasaan mereka masing-masing, semua akan baik-baik saja selama mereka bersama. Jalan kedepannya mungkin akan berliku dan terjal, tapi semua akan baik-baik saja, mereka yakin akan hal itu. Selama genggaman tangan itu tidak terlepas, selama hati mereka saling terhubung, mereka pasti bisa melewati jalan tersebut bersama-sama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi lain wanita itu tengah merencanakan sesuatu yang sangat jahat, ia telah memutuskan jika ia tidak bisa memiliki Hansel maka tidak seorang pun yang bisa.
"Siapkan obatnya! Aku ingin menyingkirkan wanita sialan itu segera," senyum licik mengembang di bibirnya.
__ADS_1
To be continued 🤗
Thank you 🥰.