Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 06


__ADS_3

Ara yang melihat arah pandangan mata Hansel langsung menyilang kan kedua tangannya di depan tubuh bagian depan, melindungi benda berharga miliknya, " jangan macam-macam kamu!" peringatan dari mulut Ara


Hansel menghela nafas panjang, " Ih, mbak Ara nggak seru banget sih," gerutunya kesal. Masak iya , dia harus bermain solo lagi, kemarin saat Hansel mengangkat tubuh ara untuk memindahkannya ke ranjang sudah membuat juniornya terbangun hanya dengan menghirup aroma tubuh Ara, membuatnya harus menuntaskan hasratnya sendirian dikamar mandi, dan sekarang, lagi?


Hah, punya istri tidak semudah yang ku bayangkan.


Hansel mendekat ke arah Ara yang masih duduk di sofa dengan posisi tangan menutupi kedua gunungnya, "Sedikit saja, ya istriku?" pinta Hansel manja.


"Hansel !" teriak Ara saat Hansel tiba-tiba saja sudah mendorong tubuhnya hingga tubuh Ara kini bertumpu pada punggungnya yang berbaring di sofa,


"Berhenti..."


Ucapan Ara terpotong oleh bibir Hansel yang sudah menyatu dengan bibirnya, Ara berusaha mendorong tubuh Hansel menjauh, namun sejurus kemudian tangan Ara sudah terangkat keatas kepalanya dengan tangan besar Hansel sebagai penguncinya agar tangan itu tidak menghalangi niatan Hansel.


Hansel menyesap lembut bibir Semerah buah ceri tersebut, merasai manisnya bibir Ara, "Namamu sangat cocok dengan rasa mu, benar-benar semanis buah Ara," suara Hansel sudah diselimuti dengan hasrat.


Kembali Hansel melanjutkan aksinya, harus diakui jika Hansel merupakan seorang yang sudah handal dalam hal ini, dia tahu kapan harus menahan dan memperdalam ciumannya, membuat Ara semakin terbuai dan pada akhirnya turut menikmati semuanya.


Hansel jauh lebih hebat daripada Johan dalam hal berciuman, Johan??


Satu nama itu menghancurkan hasrat Ara yang sudah memanas, kembali Ara berusaha untuk memberontak, membuat cengkeraman tangan Hansel semakin kuat menahannya, karena merasa kalah tenaga dari suaminya itu, akhirnya Ara menggigit bibir yang sedang mengeksplorasi bibirnya, Ara menggigit cukup kuat hingga bibir Hansel berdarah.


"S*it , Apa yang kau lakukan?" Hansel berteriak marah.


"Aku sudah menyuruhmu berhenti!" ucap Ara tak kalah emosi, masih berusaha mengatur nafasnya yang memburu.


"Kau sekarang adalah istriku, jadi kapanpun aku menginginkannya kau harus mau menurutinya," kini Hansel semakin murka, tangannya mengapit dagu Ara hingga gadis itu tertengadah memandangnya.


Hansel kembali menyatukan bibir mereka ,kini dengan hasrat yang semakin besar dan buas, Hansel sudah seperti binatang liar yang kelaparan, bersiap untuk menyantap Ara bulat-bulat.

__ADS_1


Mulut Hansel beralih menciumi leher jenjang Ara, tangannya mulai bergerilya di tubuh indah Ara, pikirannya sudah semakin menggila saking mendambakan Ara untuk menjadi miliknya seutuhnya.


"Jika kau melanjutkannya,maka aku akan membencimu seumur hidupku," satu kalimat dari Ara menghentikan segalanya, tangan Ara terkepal erat menahan rasa sesak di dadanya, sudut matanya mulai memanas dan berkaca-kaca, namun Ara tidak membiarkan buliran bening itu sampai membasahi pipinya, Ara ingin menjadi seseorang yang kuat.


Hansel bangun dengan bersungut-sungut , kakinya menendang vas bunga yang ada di sana saat ia berjalan menuju kamar mandi, membanting pintu tersebut dengan kuat hingga membuat kaca jendela berderak. Ara hanya bisa terduduk diam berusaha menahan tangis.


Selesai menuntaskan kegiatannya di kamar mandi, Hansel langsung keluar dari ruangan tersebut dengan setelan santai, menyambar kacamata dan dompetnya yang ada di nakas dan berlalu pergi begitu saja, mengabaikan Ara yang masih belum beranjak dari tempatnya semula.


Hansel pergi dengan amarah, membanting pintu kamarnya untuk menegaskan kemarahannya, Ara sudah benar-benar membuatnya gila, di satu sisi ia ingin bersikap lembut dan baik padanya namun disaat bersamaan juga ingin membuat Ara tunduk padanya.


Hansel mengendarai mobil sport mewah miliknya menuju rumah seorang teman, Hansel ingin meluapkan semua emosinya, dan mungkin dengan menceritakan masalah ini kepada Morgan, sahabat karibnya, akan bisa sedikit mengurangi kegelisahan yang sedang menggerogoti pikiran Hansel.


Sementara Ara yang saat ini tidak tahu apa yang harus ia lakukan, hanya bisa merendam tubuhnya dengan air hangat di dalam bathtub.


Hansel dengan emosi yang masih tersisa melesat membelah jalanan menuju ke rumah Morgan, sesampainya disana , Morgan langsung keluar untuk menghampirinya, mempersilahkan Hansel untuk masuk.


Wajah Morgan yang memiliki darah Chinese ini terlihat elok dipandang dengan kulit putih dan mata sipitnya, perawakannya yang proporsional membuat Morgan termasuk dalam kategori 'pria tampan yang menjadi idaman' .


"Mbak Ara, mbak Ara. Dia itu istriku dodol, jangan seenaknya manggil-manggil dia , apalagi pake tambahan mbak didepannya, cuma aku yang boleh manggil dia seperti itu, ngerti?" protes Hansel.


Morgan sedikit tergelak melihat betapa posesif kelakuan temannya ini.


"Tapi aku benar-benar tidak menyangka, ternyata kau sungguh menjadikan dia istrimu. Kupikir dulu ucapan mu saat masih kecil itu cuma gurauan loh ,nggak nyangka sekarang benar-benar jadi kenyataan," kembali Morgan membeo


"Ya jelaslah, dengerin ya! Yang namanya cowok itu harus bisa memegang janjinya, kalau cuma modal omdo alias omong doang lebih baik nggak usah ngomong sama sekali dari pada nggak guna," ceramah Hansel.


"Ya, deh iya, trus ngapain kamu kemari? " Morgan menuangkan minuman untuk mereka berdua, Morgan memang tinggal seorang diri.


" Aku bingung, bagaimana caranya aku untuk menghadapi mbak Ara, dia sudah seperti tembok besar China yang sulit untuk ditaklukkan," Hansel menceritakan masalah ini kepada Morgan.

__ADS_1


Mengenai kebencian Ara terhadapnya, juga penolakannya, dan lagi tentang Ara yang masih mencintai mantan tunangannya, Johan.


Morgan mendengarkannya dengan baik, sesekali menimpali ucapan Hansel dengan candaan tapi selalu memberi nasehat yang baik pada Hansel.


"Wajar saja jika istrimu itu masih mencintai Johan, pernikahan kalian terjadi bukan karena keinginannya, pasti sulit bagi Ara untuk menerima dirimu," tutur Morgan .


"Menurutmu apa yang harus kulakukan?"


Morgan nampak berpikir sejenak, "Jika diamati dari semua ceritamu barusan, aku menebak kalau Ara sepertinya menyukai tipe cowok romantis dan dewasa," kata Morgan kemudian, dia tidak menyebutkan 'seperti Johan' bisa-bisa Hansel ngamuk lagi


"Lantas?"


"Saran dariku, akan lebih baik jika kau bersikap lebih dewasa dan lembut padanya, jangan memaksanya, seperti ABG yang sedang kasmaran. Lakukan pendekatan dengan pelan, sampai dia jatuh hati padamu, "


"Tapi aku sering hilang kendali jika sudah menyangkut tentang mbak Ara, penolakannya selalu menyulut emosiku, aku selalu merasa dia sedang menghinaku dengan penolakannya, apalagi saat ia mulai membandingkan ku dengan Johan dan menyebutku bocah," Hansel menghela nafas.


"Kurasa, Ara sangat mengidolakan Johan karena sifatnya yang dewasa dan terkesan bisa melindungi. Bukankah kau bilang saat kecil Ara tidak memiliki ayah?" Morgan semakin tertarik untuk memecahkan masalah temannya.


"Hmm, benar ! entah muncul dari mana pak Burhan ini, aku kesal sekali pada pak tua itu, gara-gara dia aku tidak bisa menemukan Ara pada saat aku kembali untuk mencarinya kala itu. Jika saja pak Burhan tidak membawa Ara dan ibunya pindah, aku pasti sudah bisa menaklukkan hati Ara sebelum Johan," jelas Hansel merujuk pada apa yang dilakukannya saat ia berusia tujuh belas tahun dan kembali ke kampung halaman Ara untuk menjemput pengasuh kesayangannya itu, tetapi justru kehilangan jejak keberadaannya.


"Karena itulah aku katakan kalau sebenarnya istrimu itu merasa nyaman dengan Johan, karena kedewasaan dan sifat penyayang dari Johan, sebagai ganti sosok ayah Ara semasa kecil, membuat Ara sulit untuk berpaling dari Johan," penjelasan Morgan mulai meresap kedalam pemikiran Hansel.


Mereka berbincang-bincang cukup lama, bahkan tanpa Hansel sadari hari sudah mulai gelap, ia pun berpamitan pada sahabatnya itu kemudian memilih untuk kembali ke rumah.


Sesaat setelah mobil Hansel memasuki halaman depan, Ibu Sari bersama seorang pelayan pria tampak datang menyambutnya, pelayan itu bergegas memarkirkan mobil milik Hansel, sementara Bu Sari, mengikuti langkah Hansel memasuki rumah.


Hansel melihat wajah Bu Sari tampak sedikit gelisah, seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu, "Dimana istriku?" tanya Hansel


TBC 🥰🥰

__ADS_1


Terimakasih banyak atas dukungannya, tekan like dan tinggalkan komen kalian di bawah ya! Kalau senggang mungkin juga berkenan membaca karya lain dari author receh ini. Tap profil aku untuk lihat kakak😘🙏🙏


__ADS_2