
Dengan lembut Hansel membelai wajah sang istri, merasai kulit halus di bawah tangannya, pikiran Hansel terus meneriakkan betapa Ara telah menjadi candu baginya. Kini ia sangat bahagia, bagaimana tidak, Ara yang merupakan satu-satunya wanita yang diinginkan oleh Hansel sedari kecil kini sudah berhasil ia dapatkan. Hansel yakin sedikit lagi Ara akan membuka hati untuknya, ia percaya kekuatan cintanya akan berhasil membuat Ara bersedia memberikan cinta dan hatinya untuk Hansel, bukan sekedar tubuh Ara yang Hansel inginkan melainkan cinta dan hati Ara adalah yang utama.
Lamunan Hansel menguap di udara kala dengan keras Ara mendorong tubuh Hansel menjauh, "Aku capek banget hari ini, besok saja ya?" permintaan Ara yang seperti ini selalu membuat Hansel geram dan gemas disaat yang bersamaan.
Tanpa merasa bersalah Ara justru berjalan menuju meja riasnya, dan mulai memakaikan krim malam pada wajah yang terlalu cantik itu.
"Lantas bagaimana denganku? Junior sudah terlanjur On ini mbak Ara," protes Hansel kesal.
Ara mengikuti arah pandangan Hansel, yang sukses membuat wajah Ara merah padam saat melihat bagian bawah tubuh Hansel yang berada di balik handuk, "Ih, mesum banget sih," teriak Ara, memalingkan pandangannya.
"Ini karena kau tahu, malah ngatain suami mesum pula, emang salah ya mesum sama istri sendiri," gerutu Hansel.
"Sudah-sudah, sana pakai pakaianmu!" perintah Ara.
"Iya-iya, nyonya Anderson galak banget sekarang," goda Hansel seraya mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh Ara sebelumnya.
Ara mengambil ponsel dari tas kerjanya, setelah menghubungkan dengan charger, kini Ara kembali mengobrak-abrik isi tas miliknya itu, ia sampai menuangkan isi tas tersebut di atas meja, karena tidak kunjung menemukan apa yang dicarinya.
"Sepertinya aku meletakkannya di dalam sini, kemana ya?" gumam Ara yang masih sibuk memilah-milah barang-barang miliknya.
"Apa yang kau cari?" tanya Hansel yang melihat Ara menumpahkan isi tasnya.
"Aku lagi nyariin memory card, apa kau melihatnya?" jawab Ara sekenanya.
"Memang penting banget ya? sampai panik gitu?" tanyanya lagi.
"Iya sebenarnya itu pemberian mas Johan," jujur Ara.
"Johan?" nada Hansel naik satu oktaf.
__ADS_1
"Iya, nggak usah sok terkejut, aku tahu kok, kamu kan masih memata-matai setiap kegiatan ku, jadi kamu pasti juga tahu kalau tadi siang aku dan mas Johan pergi makan siang bersama, dan dia memberikanku memory card," Jawab Ara enteng.
Hansel berdeham canggung, " Memang apa isinya?" katanya kemudian, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Nggak tau juga, soalnya aku masih belum mengecek apa isinya, tapi sepertinya penting gitu," ujar Ara yang masih meneliti barang-barangnya.
"Ya sudah sih kalau emang nggak ada, nggak usah dicari lagi, minta saja salinannya pada mas Johan mu itu," sindir Hansel.
Seketika tangan Ara berhenti dari kegiatannya, kemudian dengan tajam mata Ara memicing menatap sang suami, " Kamu yang sembunyikan ya?" tuduh Ara.
Hansel mengalihkan pandangannya, ia selalu tidak bisa berbohong kepada Ara, "Nggak," jawab Hansel singkat lantas berlalu pergi.
"Hansel, mau kemana? Hansel, jawab dulu dong!" lekas Ara mencekal tangan suaminya yang sudah hampir memegang kenop pintu.
"Nggak tahu, mau bagaimanapun aku jelasinnya, kau juga nggak akan percaya padaku, karena itu dari Johan bukan? makanya sangat penting bagimu? ya sudah, cari saja terus sana!" dengan bersungut-sungut Hansel melepaskan tangan Ara dan berlalu meninggalkan sang istri yang masih diam mematung.
Andai Hansel tahu, Ara menganggap memory card itu penting bukan karena pemberian Johan, melainkan karena hal itu berhubungan denan Hansel Ara hanya bisa menghela nafas.
Hansel memacu mobilnya menuju kediaman sahabatnya, Morgan. Sekarang dia butuh tempat untuk kabur dari Ara, karena pada kenyataannya memang dialah yang mengambil memory card itu dari dalam tas Ara.
Sesampainya di rumah Morgan, Hansel dengan kesal menyunggar rambut, karena mendapati Morgan sedang tidak ada di rumah. Saat ini ia hanya menggunakan piyama bermotif kotak-kotak berwarna merah muda, sepasang dengan milik Ara. Rasanya tidak mungkin dia berkeliaran hanya dengan piyama seperti ini, bisa-bisa dia menjadi bahan tertawaan orang.
"Kau dimana?" ucap Hansel menghubungi nomor Morgan.
"Aku di tempat biasa, kenapa?" jawab Morgan dengan lantang di seberang sana, terdengar pula suara berisik dan dentuman musik khas klub malam.
"Sekarang aku ada di depan rumahmu, cepat balik! Aku tunggu," tanpa menunggu jawaban Morgan, ia mengakhiri panggilan begitu saja.
Setelah menunggu hingga rasa kesal sampai ke ubun-ubun, akhirnya sang empu rumah datang juga. Dahi Hansel mengernyit kala netra birunya menangkap sosok yang ia kenali. Wanita yang merupakan hama bagi Hansel, siapa lagi kalau bukan Vanessa.
__ADS_1
Aku datang kemari untuk mencari solusi dari masalahku, bukan untuk menambah masalah.
Hansel berdecak kesal, ia masih anteng di dalam mobilnya, enggan untuk sekedar keluar setelah melihat Morgan membawa pulang Vanessa. Hingga sebuah ketukan di kaca mobil menyadarkan Hansel dari pikirannya yang sudah ingin pergi dari sana.
"Woi, turun!" seru Morgan sedikit kesal.
Berbeda dari Hansel yang bekerja di kantoran, meneruskan usaha keluarga. Morgan merupakan seorang musisi, Morgan masih merintis karirnya di industri hiburan, terkadang ada beberapa job sebagai model majalah dan beberapa endors produk-produk lokal, tapi cita-cita utama Morgan ingin menjadi pemusik yang handal, tak heran jika ia mengenal Vanessa.
Dengan enggan Hansel menapakkan kakinya, yang langsung disambut suara manja Vanessa, sukses membuat mood Hansel semakin memburuk.
"Kak Hansel, Vanessa kangen," teriak Vanessa girang, seraya menghambur ke arah Hansel.
Morgan dengan sengaja berdiri menghadang Vanessa, memaksa gadis itu untuk berhenti, "Ingat Van, sekarang Hansel ini sudah punya istri, nggak baik main peluk-peluk kayak gini," jelas Morgan dengan seringaian jahil.
"Apaan sih, biasanya juga nggak masalah, bahkan Mbak Ara juga nggak keberatan kok," kilah Vanessa, bibirnya mengerucut kesal.
Mbak Ara?
"Tapi aku keberatan, jadi mulai sekarang jauh-jauh deh dari aku, risih liatnya," ucap Hansel sebelum berlalu menuju pintu dengan Morgan mengekor di belakangnya.
Kini ketiganya tengah berada di dalam rumah Morgan yang cukup besar, mengingat Morgan tinggal seorang diri, bahkan ia tidak punya ART.
"Ngapain kamu malam-malam begini kemari? masih pakai piyama pula." Morgan tergelak menatap temannya.
"Kak Hansel lagi berantem sama mbak Ara ya?" tanya Vanessa yang ikut nimbrung.
"Bukan urusanmu, sana balik! perempuan nggak baik keluar malam-malam," jawab Hansel kesal.
"Ih, kak Hansel kuno banget sih," Vanessa ngedumel.
__ADS_1
"Emang ada apa lagi sih sama istrimu itu?" tanya Morgan menghela nafas panjang, karena ia tahu tidak mungkin Hansel akan berkunjung selarut ini jika bukan karena ada masalah, terutama masalah Ara.
TBC 🙏🙏🙏🙏.