
Udara dingin menerobos masuk melalui setiap celah yang ada di ruangan tersebut, Kendati waktu masih menggantung di pukul tiga sore, cuaca yang buruk membuat cahaya sang Surya sama sekali enggan untuk sekedar mengintip. Awan hitam tebal menyelimuti seluruh langit, Hujan lebat bercampur guntur dan petir saling bersahutan, menampilkan pemandangan basah sejauh mata memandang.
Di atas ranjang besar itu seorang wanita yang baru saja mengalami hal terburuk dalam hidupnya tengah menangis terisak. Ruangan besar itu tampak gelap karena memang tidak ada pendar lampu yang menerangi.
Ara masih meringkuk di atas kasurnya, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, berusaha menyembunyikan dirinya dari sang suami yang baru saja mengambil haknya secara paksa. Ini merupakan hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidup Ara. Dirinya merasa jijik dengan tubuhnya saat ini, ia kotor dan rusak, sebentar lagi Hansel pasti akan membuangnya. Ia merasakan seluruh tubuhnya remuk, sepanjang hari Hansel seperti tidak pernah merasa cukup dengannya, bahkan saat dirinya kehilangan kesadaran di sela aktivitas panas mereka, tidak juga membuat Hansel menghentikan aksinya. Pria itu sungguh memiliki stamina seperti kesatria Troya, entah sudah berapa ronde yang mereka lakukan dari pagi hingga sore hari, tanpa henti.
Gemericik air terdengar dari arah kamar mandi. Setelah menumpahkan hasratnya ke tubuh sang istri, Hansel mulai mengguyur tubuhnya dibawah pancuran air bangat, berusaha meluruhkan semua amarahnya. Kini setelah semuanya terjadi, Hansel mulai menyesali apa yang telah dilakukannya. Hansel memejamkan mata berusaha mengusir bayangan Ara yang menangis dibawah tubuhnya, teriakan kesakitan Ara saat ia memasukinya dengan kasar, air mata juga tangisan Ara yang memohon padanya. Semua hal itu kini menghantuinya seperti penyakit lama, rasa bersalahnya menggerogoti jiwa Hansel. Saat ia menatap pantulan wajahnya di cermin, Hansel merasa sedang melihat binatang buas yang tidak mempunyai hati, ia membenci dirinya sendiri. Dengan sekuat tenaga Hansel memukul bayangan dirinya di cermin, membuat kaca itu pecah hingga tangannya terluka dan berdarah. Teriakan frustasi Hansel bergema di seluruh ruangan.
Ara kembali memikirkan semua yang terjadi padanya, membuat air matanya tidak ada habisnya mengalir, kini matanya sudah membengkak, wajahnya sembab, karena terlalu banyak menangis.
Mungkin dengan begini, dia juga akan bosan denganku, sebentar lagi aku bisa lepas dari jeratan Hansel. Dia pasti akan segera meninggalkanku di sudut dan pergi dengan wanita lain.
Bayangan itu seharusnya membuat Ara bahagia, seperti yang nyonya Margaret katakan, setelah mereka bercerai semua akan kembali ke jalurnya, Ara bisa menikah kembali dengan orang yang benar-benar mencintai dan dicintainya. Namun sayangnya bukan rasa lega dan bahagia yang dirasakan Ara saat ia memikirkan hal tersebut, tetapi rasa sesak dan sakit di dadanya seperti tertusuk sembilu saat ia memikirkan bahwa Hansel sebentar lagi akan menceraikannya dan mendapatkan wanita lain yang lebih cantik dan tentu saja muda dari dirinya, seorang gadis cantik yang sekelas dengan keluarga Anderson seperti halnya Vanessa. Sementara dirinya hanya akan menjadi mainan rusak yang terbuang.
Terdengar bunyi kenop pintu kamar mandi terbuka menampakan hansel yang keluar dari sana hanya mengenakan handuk yang menggantung rendah di pinggangnya, sementara dada bidang itu di biarkan begitu saja, terlihat bekas cakaran hampir di seluruh tubuh Hansel akibat ulah Ara. Namun semua itu akan pulih tak berbekas, berbeda dengan apa yang telah ia lakukan pada istrinya. Hansel yakin apa yang sudah diperbuatnya akan meninggalkan trauma emosional untuk wanita yang paling dicintainya itu.
Akan tetapi Hansel juga tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuh tubuh istrinya, apalagi setelah ia merasakan betapa nikmatnya surga dunia itu, Hansel juga tidak yakin jika ia akan sanggup untuk tidak lagi memaksakan kehendaknya. Hansel adalah pria normal dengan hormon yang sedang tinggi-tingginya, dia butuh untuk menyalurkan hasratnya, dan hanya dengan berada di satu ruangan dengan Ara selalu bisa membuat hasrat Hansel melambung tinggi.
__ADS_1
Kaos oblong berwarna putih dengan celana training panjang dikenakan hansel. Setelah menyalakan saklar lampu,kini Hansel berjalan menghampiri Ara yang masih terdengar terisak dibalik selimut, hati Hansel juga merasakan nyeri yang menyiksa nuraninya.
Hansel berusaha menyingkap sedikit selimut Ara,namun justru terlihat Ara semakin kuat mencengkeram selimut tersebut , seolah itu merupakan pertahanan terakhir yang dimiliknya.
"Ara, Maaf,"ucap Hansel lembut.
Tidak ada sahutan dari bibir Ara yang terkatup rapat, bahkan gadis itu enggan untuk sekedar menunjukkan wajahnya dihadapan suaminya. Tubuh Ara masih gemetar ketakutan saat Hansel mendekatinya.
"Baiklah, aku akan keluar kota selama tiga hari besok. Kuharap kau akan baik-baik saja. Aku benar-benar minta maaf, kita akan membicarakan hal ini lagi setelah aku kembali dari luar kota. Jaga dirimu!" Hansel sedikit mengecup puncak kepala Ara yang menyembul dari balik selimut sebelum dirinya berlalu pergi meninggalkan ruangan yang menjadi saksi kebuasan seorang Hansel Nathanael Anderson.
Ara mengintip dari balik selimutnya, setelah yakin bahwa Hansel sudah tidak lagi berada di kamar tersebut, barulah Ara berani menurunkan selimut dari tubuhnya. Perlahan Ara mulai mencoba untuk mendudukkan tubuhnya yang terasa remuk. Ia terkesiap saat ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat di bagian bawah tubuhnya.
Tatapan mata Ara melebar tatkala dirinya mendapati noda merah di seprei berwarna biru muda yang menjadi tempat pergumulan mereka,
Bukankah kami sudah pernah melakukannya kala itu? Kenapa masih ada noda darah disana? Atau apakah memang karena perlakuan Hansel yang terlalu kasar? Apa mungkin memang akan tetap berdarah meskipun sudah pernah melakukannya? Berbagai spekulasi mulai menghantui pikiran Ara.
Pada akhirnya Ara menganggap semua itu tidaklah penting,dengan tertatih ia mulai memaksa kakinya untuk melangkah menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air hangat sebelum berendam dalam bathtub untuk menghilangkan rasa sakitnya.
__ADS_1
Bulir bening itu kembali mengalir menganak sungai. Semua perasaan yang sebelumnya sudah hampir bersemi untuk Hansel kini semakin berkobar menjadi kebencian dan amarah. Lama Ara merendam seluruh tubuhnya dalam air hangat dengan aroma vanilli disekitarnya yang ditemani lilin aroma yang menenangkan pikiran, namun tidak peduli seberapa lamanya ia berendam atau seberapa banyaknya lilin-lilin itu dinyalakan tidak ada kata tenang dalam pikirannya.
Ara keluar dari kamar mandi dan mendapati bahwa seluruh ruangannya telah kembali rapi dan bersih. pakaian dan barang-barang yang berserakan sebelumnya akibat ulah Ara yang berusaha kabur dari Hansel kini kembali tertata di tempatnya semula, bahkan seprei dan bedcover itu kini telah diganti dengan yang baru, benar-benar pegawai yang cekatan, tidak ada kata malas dalam pekerjaan mereka.
Ara berdiri di depan cermin, melihat bayangan tubuhnya yang dipenuhi dengan tanda merah yang dibuat oleh Hansel, membuatnya mendesis kesal. Segera ia mengambil pakaian yang bisa menutupi seluruh tubuhnya, toh udara juga sedang sangat dingin saat ini.
Setelah berkutat dengan rambut panjangnya, ia mengambil ponselnya dan mendapati bahwa benda pipih itu tidak bisa dihidupkan, sepertinya baterainya habis, segera Ara mencolokkan kabel untuk mengisinya kembali. Selang beberapa menit ponsel itu sudah bisa dinyalakan kembali meski masih menempel dengan charger.
Pesan dan panggilan datang beruntun memenuhi ponsel Ara, banyak sekali panggilan dan pesan yang dikirimkan oleh Johan dan juga sahabatnya Gisel.
Ara menghela nafas, memikirkan betapa khawatirnya Gisel padanya. Gisel adalah satu-satunya sahabat yang dimiliki Ara.
*Tapi kenapa mas Johan juga ikut-ikutan panik begini, sampai ada 50 panggilan tidak terjawab darinya. Apa dia setakut itu, jika aku kabur dan tidak memenuhi tanggungjawab untuk mencarikannya sekretaris baru?
Heh, konyol jika aku berpikir dia masih peduli padaku* .
Kini hati Ara semakin mengeras untuk semua orang, mulai sekarang ia akan berjuang untuk dirinya sendiri, ia tidak mau lagi merendahkan diri hanya untuk diinjak-injak oleh orang lain, yang bahkan tidak tahu caranya berterimakasih. Mulai sekarang ia akan setegar kaktus di gurun Sahara, ia akan menjadi padang pasir yang tenang namun juga mematikan.
__ADS_1
TBC 🥰🙏❤️