Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 16


__ADS_3

"Ara!" seru Hansel dengan marah ia bahkan meletakkan sendok yang dipegangnya dengan kuat hingga menimbulkan dentingan keras di meja, "Kau anggap pernikahan ini hanya sekedar permainan?" tambah Hansel lantang.


Ara tersentak sejenak mendapati kemarahan Hansel, berusaha mengambil nafas dalam untuk menenangkan keterkejutannya, "Apa bukan?" Ara menatap Hansel dingin.


"Aku peringatkan kamu Ara, jangan sampai aku mendengar satu kalimat seperti itu lagi keluar dari mulutmu, atau aku pastikan kau akan menyesalinya," Geram Hansel semakin murka.


"Kenapa? Kau akan membuat perusahaan ayahku bangkrut? Menyandera keluargaku? Atau kau akan langsung membunuhku saja?" Ara sudah bangkit dari kursinya, tak kalah emosi menanggapi kemarahan Hansel, "Katakan!" teriak Ara keras.


"Hebat kamu ya? Berani melawan," cibir Hansel, wajahnya terlihat bringas, "Kurasa aku terlalu lembut padamu, sehingga membuat mu merasa berada di atas awan. Dengar Sahara Puri suci Anggara! Aku adalah Hansel, aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan. Jika hal tersebut tidak bisa kudapatkan maka jangan harap orang lain akan mendapatkannya. Aku pastikan akan menghancurkannya dengan tanganku sendiri," bola mata sebiru langit itu kini dipenuhi dengan amarah.


"Lakukan! Lakukan saja apa yang kau mau, aku sudah tidak peduli lagi. Jika kau sudah bosan dengan permainan ini segera saja kau akhiri semuanya!" Ara menyambar tas kerjanya dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut.


"Berhenti disana Ara! Jika kau melangkah satu langkah saja keluar dari rumah ini, aku akan benar-benar kehilangan kesabaran ku," ancamnya tegas.


Namun Ara sudah tidak mau lagi mendengarkan Hansel, semua ucapan Hansel sudah benar-benar menyakiti hatinya, semua yang dilakukan oleh Hansel seakan membenarkan apa yang telah ia dengar dari mulut Nyonya Margaret, jika dirinya hanyalah mainan yang diinginkan sesaat oleh Hansel .


Sesaat sebelum Ara masuk dalam mobilnya, ia merasakan tangannya ditarik dengan sangat kuat oleh tangan besar Hansel. Tubuh mungilnya kini diseret dengan kasar oleh suaminya itu. Ara berusaha memberontak, tangannya memukul-mukul lengan Hansel yang menyeretnya, namun sepertinya semua teriakan dan pukulan Ara tidak membuahkan hasil.


"Lepas Hansel ! Sakit," Teriakan Ara membuat para pelayan menyingkir dari jalan mereka, beberapa pelayan yang berpapasan memilih untuk menundukkan kepala, tidak ada yang berani menghalangi jalan Hansel.


Karena tidak dapat melepaskan diri akhirnya Ara menggigit tangan Hansel yang masih terus berusaha menyeretnya hingga ke dalam rumah.


"Akh," teriak Hansel kesakitan , melepaskan cengkramannya di lengan Ara, "Beraninya kau!" seru Hansel.

__ADS_1


Terlihat bahu Ara yang naik turun seirama dengan nafasnya yang memburu. Matanya sudah mulai memanas,memaksa beberapa bulir bening terjatuh membasahi pipinya.


Hansel tidak peduli dengan semua pelayan yang tertunduk di sekitar mereka,bahkan dia tidak peduli dengan wanita dihadapannya yang mulai meneteskan air mata. Amarah dan emosi Hansel sudah menutup seluruh akal sehatnya, yang ia rasakan hanya kecemburuan yang membuat darahnya mendidih. Dalam pikirannya, saat ini istrinya sedang berusaha untuk menjauh darinya agar bisa kembali bersama mantan tunangannya. Saat ini hati Hansel sudah dipenuhi dengan hasrat untuk menundukkan wanita yang dicintainya itu saat ini juga.


Tanpa berpikir lagi Hansel langsung membawa tubuh Ara di bahunya selayaknya tak lebih dari sekantong kapas, dengan mudah lelaki itu menaiki tangga diiringi pukulan tangan dan teriakan dari sang istri, ia tidak peduli.


"Hansel turunkan aku! Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku! Kau binatang tak punya hati. Lepaskan aku!" Ara terus memberontak, memukul punggung Hansel dengan kepalan tangannya.


Sepertinya pukulan tangan mungil Ara, tidak lebih dari gigitan serangga baginya, langkah panjang Hansel tidak terhentikan. Dengan tangannya yang bebas Hansel membuka pintu kamar mereka, berbalik sesaat untuk menguncinya dan terus melangkah semakin kedalam, sampai pada akhirnya melemparkan tubuh Ara ke atas ranjang. Hansel sudah lepas kendali.


"Hansel aku mohon, tolong hentikan!" Tangisan Ara semakin menjadi, kini tubuhnya mulai meringsut menjauhi tubuh Hansel yang mengamatinya dengan begitu liar. Segera ia ingin turun dari ranjang tersebut, namun sedetik kemudian kakinya sudah ditarik kembali oleh tangan besar Hansel. bahkan membuat rok sepanjang lutut itu semakin tertarik ke atas, menampakkan paha mulus Ara.


Dengan kasar Hansel mulai melepaskan sepatu yang dikenakan Ara, melemparkannya ke segala arah, dan mulai menarik lepas kancing baju kemeja Ara, hingga beberapa diantaranya terburai di atas kasur. Tatapan mata Hansel sudah selayaknya binatang kelaparan yang tidak memiliki perasaan dan hati nurani. Kini telinganya sudah tertutup dari segala ucapan dan tangisan Ara.


Sementara Hansel semakin liar. Setelah selesai melucuti kemeja Ara, kini tubuh kekarnya sudah menindih Ara, mengunci tangan mungil itu diatas kepala Ara agar tidak lagi melawan. Hansel memulai segalanya dengan cepat dan kasar. Menautkan bibirnya dengan bibir Ara, menyusupkan lidahnya dengan kasar. Kini lidah itu beralih menyusuri garis rahang Ara menikmati setiap inci wajah Ara yang dipenuhi air mata, menyeret bibirnya turun ke leher jenjang Ara hingga ke tulang selangka wanita itu.


Membiarkan tangannya yang bebas mengeksplorasi setiap jengkal tubuh Ara, sementara tangan yang lain tetap mengunci tangan Ara, menghentikan perlawanan sia-sia sang istri . Dengan rakus bibir Hansel menikmati tubuh Ara. Sementara tangannya mulai menyusup diarea paling sensitif. Satu jari Hansel menusuk cukup dalam hingga mengirimkan getaran ke seluruh tubuh Ara. Jemari Hansel dengan handal mulai melakukan tugasnya di bawah sana, membuat Ara menggelinjang hebat saat ******* menerjangnya.


Kini giliran Hansel yang membuka seluruh pakaiannya, menampilkan miliknya yang siap untuk bertempur. Dengan satu hentakan keras mereka menyatu. Dan pagi yang panas penuh dengan air mata menoreh luka baru di hati Ara.


***


"Apa Ara belum datang? Aku tidak bisa menghubungi ponselnya?" Johan bertanya pada Gisel yang sedang memeriksa berkas di meja kerjanya.

__ADS_1


"Pak Johan? " Gisel terkejut karena tiba-tiba saja presdirnya itu sudah berada di depan meja kerjanya, membuatnya sedikit kelabakan, "Ara ya? Sepertinya belum Pak." jawab Gisel sopan.


"Coba kau hubungi dia! Kemarin dia setuju untuk tidak mengundurkan diri ,tetapi sudah hampir jam makan siang dia belum muncul juga, ponselnya juga tidak bisa di hubungi, aku khawatir terjadi sesuatu padanya," ucap Johan tidak bisa menutupi kekhawatirannya.


"Baik, akan saya coba pak,"


"Kabari saya saat kau sudah mendapatkan kabar dari Ara!" Perintah Hansel kemudian berlalu kembali ke ruangannya.


Selepas kepergian Johan, Gisel langsung menekan benda pipih itu dan menghubungi nomer Ara, benar saja nomer ponsel Ara tidak bisa dihubungi. Membuat Gisel mendesis kesal. Kemudian Gisel teringat dengan nomor yang menghubunginya kala itu, ia yakin jika orang itu bisa membantunya.


'Halo. Disini kediaman Anderson, ada yang bisa saya bantu?' terdengar suara wanita di seberang panggilan.


'Maaf, apa Ara ada di rumah ? soalnya nomernya tidak aktif," tutur Gisel kemudian.


' Anda Nina Gisel ya? begini nona, Nyonya Ara sedang ada sedikit urusan penting yang tidak bisa ditunda, sehingga hari ini nyonya Ara tidak bisa ke kantor untuk bekerja. Karena urusannya begitu mendadak mungkin nyonya Ara lupa untuk meminta izin. Mungkin nona Gisel bersedia menyampaikan hal ini kepada atasan nyonya Ara.'


'Oh, baiklah. Tapi Ara baik-baik saja bukan?'


'Tentu saja , Nyonya Ara baik-baik saja.'


Panggilan telepon berakhir. Segera Gisel melaporkan apa yang diketahuinya kepada Johan.


TBC 🥰🥰🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2