
Pagi-pagi buta Hansel sudah berangkat sesuai jadwal, jika tidak ada kendala ia bisa langsung pulang tanpa perlu menginap, pasalnya Ara tak hentinya menangis layaknya anak kecil melihat keberangkatan Hansel.
"Aku sudah merindukannya," Ara menghela nafas panjang, ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, menghirup aroma Hansel yang masih tertinggal di sana, "Kenapa kau membuat ibu menjadi cengeng begini?" Ara mengelus perutnya yang membuncit.
Menjelang tengah hari, Ara baru beranjak untuk membersihkan dirinya, rasanya malas sekali untuk melakukan apapun.
"Ini terasa lebih baik," ucapnya di depan cermin seraya mengusapkan krim pelembab di wajahnya.
Perhatian Ara teralihkan oleh dering ponsel, segera ia mengangkat panggilan dari orang yang telah banyak berjasa untuknya.
"Hai Jay? Ada apa?" sapa Ara riang.
"Bagaimana kabarmu Ara? Sudah cukup lama kita tidak bertemu," suara lembut Jay mengalun di ujung sana.
"Aku baik, semuanya berjalan sangat baik akhir-akhir ini, sampai rasanya seperti mimpi saja."
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Aku hanya ingin berpamitan padamu, besok aku akan kembali ke Negara xxx, aku akan mengajar kelas seni di sana," ucap Jay.
"Besok? Mendadak sekali."
"Tidak, sebenarnya ini rencana lama, tapi memang baru bisa terlaksana sekarang."
"Oh, kau harus menjaga kesehatanmu disama Jay, jangan terlalu lelah. Berapa lama kau di sana?" tanya Ara.
"Entahlah, kurasa akan lama, aku belum memiliki rencana untuk segera kembali kesini," jawab Jay jujur.
"Kenapa? Apa kau tidak akan datang ketika bayiku lahir?" suara Ara tampak kecewa.
"Aku tidak janji Ara, tapi kau pasti tahu jika aku adalah salah satu orang yang akan sangat bahagia mendengar kabar itu nantinya."
"Yah, aku tahu. Akan menyenangkan jika kau berada disini saat hari itu tiba."
"Akan aku usahakan. Jaga dirimu Ara, jangan terlalu banyak berfikir yang tidak-tidak, aku akan mendoakan mu selalu dari sana," tulus Jay.
"Terimakasih, Kau juga harus menjaga kesehatanmu."
"Aku akan merindukanmu. Baiklah, sepertinya aku harus segera bersiap-siap."
"Hmmm, Hati-hati Jay, aku juga akan merindukanmu," Ara mengakhiri panggilan mereka.
"Hari yang menyebalkan," gerutu Ara melemparkan ponselnya.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" bermonolog pada dirinya.
__ADS_1
Setelah cukup lama Ara berfikir ia memutuskan untuk menemui sahabatnya Gisel di sebuah cafe yang telah mereka sepakati.
Ara hanya meminta izin dengan mengirim chat kepada Hansel, karena tidak ingin mengganggu suaminya itu. Sementara Hansel hanya memberi pesan agar membawa bodyguard bersamanya.
Sekitar lima belas menit perjalanan dengan mobil Ara sampai di sebuah cafemilik Anderson company yang memang sudah sering ia kunjungi, terlihat Gisel melambai bahagia menyambut Ara yang baru memasuki area cafe, segera Ara menghampiri sahabatnya itu.
"Aku merindukanmu," ucap Gisel memberikan pelukan pada Ara. Terakhir mereka bertemu ketika acara tujuh bulanan sekitar satu bulan yang lalu.
"Aku juga, Kau tidak bekerja hari ini?" tanya Ara.
"Aku libur, pekerjaanku yang baru lebih fleksibel dan aku menyukainya," jawab Gisel senang, semenjak tahu kejadian buruk yang menimpa Ara, ia keluar dari perusahaan milik Johan, Gisel tak Sudi bekerja lagi untuk pria yang sudah berani melecehkan sahabatnya.
"Maafkan aku, karena aku kau harus mencari pekerjaan yang baru."
"Sudah berapa kali ku katakan, ini tidak ada hubungannya denganmu, aku hanya tidak mau melihat wajah pria brengs*k itu lagi."
Keduanya berbincang cukup lama seraya menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan. Sementara si bodyguard duduk di kursi sebelah, menolak dengan lembut untuk berada satu meja dengan Ara, sepertinya dia takut mendapat hukuman dari Hansel.
"Nyonya?" ucap si bodyguard bernama Dani.
"Ya, ada apa Pak?"
"Bisakah anda tetap disini sebentar, saya ingin izin ke belakang sebentar," ucap Dani dengan wajah yang pucat, sepertinya dia sudah menahan hajat nya sejak tadi.
"Terimakasih, saya tidak akan lama. Nona Gisel, tolong jaga Nyonya Ara sebentar!" segera Dani berlari untuk menyelesaikan urusannya yang datang di saat tidak tepat.
"Oh Kasian sekali pengawalmu itu," ujar Gisel dengan tertawa.
"Kau benar, kadang aku merasa Hansel berlebihan dalam menjagaku," Ara menggeleng pelan.
"Tidak ada yang berlebihan Ara untuk orang yang di cintai," Gisel mengerlingkan matanya.
Saat keduanya asyik mengobrol, entah muncul dari mana mahkluk yang paling Ara benci itu tiba-tiba saja sudah berada tepat di belakan Ara.
"Ara?"
Ara tersentak mendengar suara yang sangat membekas di hatinya sebagai trauma terbesarnya, sontak ia menengok ke arah sumber suara tersebut, "Johan?" mata Ara membulat.
Segara Ara bangkit dari kursinya dan menjauh dari pria yang kini tengah menatapnya penuh dengan penyesalan, "Untuk apa kau menemui ku?" suara Ara penuh dengan ketakutan, bayangan buruk itu terlintas kembali dalam pikirannya.
"Menjauh dari Ara Pak Johan!" tegas Gisel mengambil tempat di antara keduanya, melindungi tubuh Ara yang mulai gemetar.
"Aku hanya ingin minta maaf Ara, dengarkan aku!" ketulusan jelas terukir dalam ucapannya, tapi sayangnya trauma yang di dapatkan Ara tidak akan bisa hilang hanya dengan kata maaf.
__ADS_1
"Pergi sekarang Pak Johan atau sesuatu yang buruk akan benar-benar terjadi," dengan berani Gisel mendorong tubuh Johan yang melangkah mendekati Ara.
"Dengarkan aku sebentar saja! Biar aku jelaskan semuanya Ara, aku minta maaf," Johan mengiba.
"Apa anak dalam kandungan mu itu adalah anakku?" Johan dengan kebodohannya bertanya.
"Tidak," singkal Ara cepat, "Ini anakku," tegas Ara, yang mulai mengeluarkan air mata.
Seorang pelayan mendekat dan meminta Johan untuk pergi karena sudah berani mengganggu Nyonya pemilik cafe. Sehingga suasana semakin memanas karena Johan yang teramat keras kepala.
Dani sang bodyguard baru saja kembali dan mendapati kekacauan di sana segera mendorong Johan menjauh hingga pria itu tersungkur ke lantai.
"Astaga," Ara semakin panik melihat kekacauan di hadapannya.
"Akh, perutku," rintihan Ara menghentikan kegaduhan yang terjadi.
Segera Dani menggendong Ara menuju mobil, diikuti oleh Gisel, "Kita ke rumah sakit sekarang Nyonya bertahanlah!" ujar Dani cemas, melihat wajah Ara yang menahan sakit.
"Bertahanlah Ara! Gisel menggenggam tangan Ara yang kini tengah berada di kursi belakang bersama dirinya sementara Dani mengemudi dengan cepat.
"Lebih cepat lagi Pak, Ara kesakitan," ucap Gisel penuh kekhawatiran.
"Tolong hubungi Tuan Hansel Nona Gisel!" pinta Dani.
"Baik," segera Gisel menghubungi nomor Hansel.
Tak lama kemudian sampailah mereka di rumah sakit terdekat, segera para medis melakukan tugasnya.
Gisel dan Dani menunggu di depan ruangan dengan cemas, ternyata Johan juga mengikuti mereka sampai di rumah sakit, kini ia juga tengah menunggu kabar dari dokter yang memeriksa kondisi Ara.
Disisi lain Hansel segera meninggalkan ruang rapat begitu mendengar berita tentang Ara, "Siapkan penerbangan sekarang, Ara ku di rumah sakit," tegasnya pada Alex sekretarisnya.
"Baik," tanpa bantahan Alex bergerak cepat sehingga Hansel bisa langsung kembali saat itu juga, sementara Alex tinggal untuk menyelesaikan rapat yang telah mereka jadwalkan sebelumnya.
Amarah Hansel memuncak kala netranya menatap sosok pria yang hampir ia bunuh beberapa bulan yang lalu tengah tertunduk di depan ruang rawat sang istri.
BUGh... Satu pukulan mendarat indah di wajah Johan, "Beraninya kau menampakkan wajah sialan mu di hadapan istriku, aku akan membunuhmu!" satu pukulan kembali Hansel layangkan ke wajah Johan.
"Dia mengandung anakku brengs*k," Johan tak kalah sengit menjawab.
To be continued 🤗
Thanks 🥰
__ADS_1