Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 28


__ADS_3

*Selayaknya gelas kaca yang terjatuh dan pecah, mungkin kau bisa menyatukannya kembali. Namun, kau tidak akan bisa membuatnya sama seperti sedia kala. Sekali kepercayaan ternodai maka selamanya rasa itu tidak akan pernah lagi sama.*


***


Senja kala itu menjadi saksi akan hancurnya kepercayaan seorang istri kepada suaminya. Ara dengan seksama menyaksikan gambaran acara pertunangan dirinya dan Johan yang gagal kala itu, awalnya Ara enggan untuk melihat dan ingin beranjak dari ruangan Johan. Namun, dengan tenang Johan meyakinkan dirinya bahwa semua ini berhubungan dengan Hansel, maka dengan berat hati Ara mulai mengamati video yang ditunjukkan oleh mantan tunangannya itu.


Gambar tersebut tidak dilengkapi dengan suara, sepertinya video tersebut diambil dari rekaman cctv dari rumah Ara, tempat dimana pertunangan itu berlangsung. Yah, cctv di rumah Ara memang belum secanggih itu.


Frame demi frame gambar berganti, Ara bisa dengan mudah menemukan sosok Hansel dalam gambar tersebut, Hansel terlihat mencolok dan berbeda dalam pandangan Ara. Kini ia mulai mengamati setiap gerak-gerik Hansel. Tertangkap dengan jelas dalam gambar kala Ara dan Johan bergandengan menyapa Hansel, kemudian ia melihat dirinya yang berpamitan meninggalkan Hansel dan Johan untuk minum.


Terlihat kini Hansel berjalan menjauh dari Johan dan berjalan kearah Ara, namun ada seorang wanita yang menyapanya, Ara tidak mengenali wajah wanita tersebut, tapi sepertinya ia menyodorkan gelas minuman kepada hansel, yang diterima oleh suaminya itu. Terlihat kini Hansel mulai mendekat kearah Ara yang sedang makan, ketika jarak antara keduanya hanya tinggal beberapa langkah, terlihat Hansel merogoh sakunya dan memasukkan sesuatu dalam gelas minuman tersebut, dan menyerahkannya kepada Ara, yang tanpa curiga meminumnya hingga tetes terakhir.


"Kau lihat, inilah wajah Hansel yang sebenarnya," ucap Johan berusaha meyakinkan Ara.


"Tidak, ini tidak mungkin," Ara menggeleng pelan, menolak untuk mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Ara tahu Hansel adalah orang yang keras kepala dan egois, tapi ia juga tidak ingin mempercayai jika Hansel akan dengan tega menghancurkan hidupnya seperti ini.


"Kau melihatnya sendiri Ara, apanya yang tidak mungkin? Hansel memasukkan sesuatu dalam minuman mu, aku yakin itu adalah obat yang membuatmu tidak sadarkan diri sepanjang malam, kemudian dimanfaatkan oleh bocah brengsek itu untuk menghancurkan pertunangan kita, dia yang sudah menjebakmu, dan membuat kita berpisah," tutur Johan.


"Kau lihat! dialah yang menuntunmu menjauhi kerumunan dan membawamu pergi, lihatlah!" Johan kembali memaksa Ara menatap layar yang tengah menampilkan hal yang diucapkannya.


"Tidak!" teriak Ara, bangkit dari duduknya dan dengan frustasi mulai menangis, ia merasa telah ditipu, dijebak dan dikhianati oleh sang suami. "Katakan padaku, jika semua ini bohong, pasti ada seseorang yang merekayasa semua ini. Katakan padaku jika video ini palsu!" seru Ara pada Johan, bahkan dengan keras Ara mulai mencengkeram lengan Johan dan mengguncangkannya, Ara tidak ingin mempercayai semua ini.


"Tananglah Ara, semua ini nyata. Aku mencari informasi ini dengan sangat sulit, karena Hansel sempat merusak rekaman ini. Namun untungnya aku berhasil mendapatkannya kembali," jelas Johan.


"Bagaimana dia bisa setega ini padaku," tangis Ara tumpah, ia merasa dibodohi dan hanya menjadi bahan lelucon.

__ADS_1


"Maafkan aku Ara, seharusnya aku bisa mengetahui hal ini lebih awal, sehingga kau tidak perlu begitu terluka dan menderita, maafkan aku," kata Johan tulus, membawa Ara dalam dekapan, membiarkan wanita itu menangis dan menumpahkan rasa sakit dan kekecewaannya.


Sementara Ara hanya bisa menangis dan menangis, apa gunanya mengetahui kebenaran ini, setelah ia telah menyerahkan segalanya kepada Hansel, dan bahkan mungkin juga dengan hatinya.


***


Ara kembali ke rumahnya dengan tenang, semua tangis dan rasa sakitnya telah ia tumpahkan sebelumnya. Kini ia tidak akan terlihat lemah di hadapan Hansel.


Seperti biasa ia disambut oleh Bu Sari dan beberapa pelayan, "Selamat datang Nyonya Ara?"


Ara hanya mengangguk sedikit, enggan rasanya berbasa-basi seperti biasanya, "Apa Hansel sudah kembali?" tanyanya dingin.


"Iya," Jawab Bu Sari berhati-hati, "Tuan, kembali tadi pagi, sesaat setelah nyonya keluar, dan setelahnya tuan berada di dalam kamar sepanjang hari, tuan bahkan tidak mau makan apapun Nyonya," jelas Bu Sari cemas.


Ara menghela nafas, "Siapkan makan malam untuk kami berdua dan bawa ke kamar, aku akan mandi lebih dulu," titahnya kemudian.


Ara menengok jam yang melingkar di pergelangan tangannya kala menaiki tangga, sudah lebih dari jam sembilan malam, sepertinya ia terlalu lama menangis, hingga tidak menyadari waktu berlalu dengan cepat. Tangan mungilnya terulur membuka pintu, dan gelap gulita, Kamar mereka tampak gelap tanpa pencahayaan, dengan gemetar Ara meraba dinding berusaha mencari saklar lampu, ia tidak akan berteriak dengan trik kecil semacam ini, ia yakin jika Hansel pasti sengaja menakuti dirinya, dengan tidak menyalakan lampu. Butuh beberapa saat sampai ia berhasil menekan saklar lampu dan membuat ruangan tersebut disirami dengan cahaya, tampak tubuh Hansel yang meringkuk di tengah ranjang. Ara mengambil nafas berulang, berusaha menenangkan diri. Kemudian ia hanya menatap sekilas pada sang suami dan berlalu menuju kamar mandi, membiarkan air hangat meluruhkan rasa lelahnya.


Setelah selesai mandi, terdengar ketukan di pintu dengan suara Bu Sari mengikutinya, "Makan malam sudah siap nyonya," ucap kepala pelayan tersebut.


Segera Ara membukakan pintu dan membiarkan para pelayan menata setiap makanan di atas meja. Setelah selesai merekapun berlalu dengan sopan.


Pandangan Ara kembali menatap tubuh suaminya yang masih meringkuk tak bergerak di tengah ranjang. Pikiran Ara mulai sedikit khawatir. Perlahan, Ara mulai mendekati tubuh Hansel dan melihat wajah tampan Hansel yang terlihat pucat, dengan tubuh yang menggigil, seketika amarah Ara menguap secepat embun pagi, dengan cemas ia mulai naik keatas ranjang dan meletakkan telapak tangannya di dahi Hansel.


"Astaga, Hansel. Badanmu panas sekali," kekhawatiran memenuhi suara Ara.

__ADS_1


Bulir keringat terlihat menghiasi dahi Hansel, mulutnya terlihat kering dan bergerak-gerak seperti hendak mengatakan sesuatu, mata suaminya masih terpejam bahkan saat ia mulai memeriksa keadaannya.


"Kau bodoh ya, kenapa sakit saja tidak tahu cara merawat diri," marah Ara, dan berlalu pergi, mencari Bu Sari untuk membawakan air hangat dan bubur untuk Hansel.


Dengan telaten Ara mengompres kening sang suami, berharap demamnya bisa sedikit turun. Beberapa saat kemudian Bu Sari datang dengan membawa bubur panas, Ara meminta untuk meletakannya di atas nakas .


"Apa perlu saya menelepon dokter keluarga Nyonya?" tanya Bu Sari.


"Tidak perlu Bu, biar saya yang merawat Hansel, sudah malam juga, besok saja, jika belum baikan baru kita panggilkan dokter," jawab Ara.


"Tapi nyonya, biasanya tuan Hansel akan langsung menghubungi dokter keluarga saat ia merasa kurang enak badan, apa tidak sebaiknya kita menghubungi dokter saja Nyonya, saya takut jika tuan Hansel kenapa-kenapa," jelas Bu Sari cemas.


"Tidak apa-apa Bu, biar saya saja yang merawatnya," ulang Ara, "Sebaiknya bu sari juga istirahat, ini sudah larut," titah Ara.


"Baiklah Nyonya, saya permisi."


Ara berusaha membangunkan Hansel, "Hansel, bangun makan dulu lalu minum obat," ujarnya seraya menepuk pelan pipi Hansel.


Perlahan bola sewarna lautan itu terbuka, dan dengan cepat Hansel bangun dan memeluk Ara dengan erat, membuat sang istri terkejut.


"Maafin Hansel, maafin Hansel, mbak Ara jangan tinggalin Hansel lagi, Hansel minta maaf," suara Hansel bergetar.


"Hansel," ara begitu terkejut dengan perilaku Hansel yang tiba-tiba memeluknya. Ucapan Hansel terdengar begitu familiar di telinga Ara, ini sama seperti di masa lalu, saat dengan paksa nyonya Anderson membawa Hansel pergi, bocah kecil itu juga menangis dalam pelukan Ara kala itu.


"Shhhh, tenang Hansel, aku disini," dengan lembut Ara menepuk punggung suaminya yang masih bergetar.

__ADS_1


TBC 🙏🙏.


__ADS_2