
Aku semakin merasa tak pantas untuk berada di sampingmu, takdir dengan kejamnya mempermainkan perasaanku, mereka yang berseteru tapi kenapa cinta kami yang harus terpisah, harapan tinggi yang ku gatungkan kini telah musnah, bisakah kau tetap menggenggam tanganku ini saat diriku sendiri sudah tidak mampu untuk melanjutkan lagi langkah kakiku.
*
*
*
Malam kelabu menjadi saksi hancurnya Ara hingga berkeping.
Johan dengan brutal terus menghimpitnya, secara rakus meraup bibir Ara tanpa memperdulikan air mata Ara yang bercucuran.
Sekuat tenaga Ara memberontak, dengan berani menggigit bibir pria yang pernah menempati tempat terindah di hatinya itu, membuat Johan mau tidak mau melepaskan pangutannya.
"****," umpat Johan kesal, bangun dari ranjang dengan murka.
Ara mengambil kesempatan ini untuk bangun dari posisinya, berusaha berlari menuju pintu, tapi usahanya sia-sia, pintu itu terkunci. Dengan putus asa Ara terus berteriak dan memukuli pintu tersebut, ia sangat putus asa dan ketakutan.
"Kenapa kau menolak ku Ara?" ucap Johan dengan senyum mencemooh, "Bukankah Hansel juga melakukan hal yang sama sepertiku? Lantas sekarang kenapa kau menolak ku? Heh, apa kau sedang bersandiwara? Apa kau juga melakukannya seperti ini dengan Hansel saat pertama kali?" Johan menyeka darah dari luka di bibirnya.
Hansel? Satu nama yang di dengar Ara membuat hati Ara semakin hancur, bagaimana jika Hansel salah paham dengannya.
"Apa kau lebih memilih menyerahkan tubuhmu untuknya dari pada aku yang sudah bersamamu bertahun-tahun?" teriak Johan murka, ketenangan dan kewarasan sudah hilang dari pikiran pria yang kini justru meminum minuman beralkohol yang sebelumnya ia tinggalkan di dekat sofa.
Setelah menenggak habis hingga tetes terakhir ia kini berjalan dengan perlahan menuju nakas, membuka lacinya dan mengambil sesuatu disana. Johan nampak sibuk menuangkan air dan butir obat kedalamnya. Setelahnya kini ia berjalan menghampiri Ara yang terduduk lemas di depan pintu.
"Mari kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan sejak dulu!" ucap Johan menyeringai.
"Tidak, aku mohon Mas! Jangan seperti ini ! Mas Johan tidak boleh seperti ini!" ucap Ara mulai berdiri berusaha menghindar dari Johan.
"Kau benar, ini aku, Mas johanmu yang akan selalu mencintaimu Ara," mata Johan sudah dipenuhi dengan hasrat tanpa akal sehat.
Johan menghimpit tubuh mungil Ara di dinding, meneguk air berisi minuman dengan obat ditangannya dan memaksa Ara untuk meminumnya dari mulut Johan.
Ara tersedak dan berusaha memuntahkannya. Namun Johan terus memaksanya hingga air itu terus masuk ke mulut Ara mau tidak mau.
Setelah memaksa Ara meminum obat yang dia berikan Johan sedikit memberi ruang di antara mereka.
__ADS_1
" Sebentar lagi kau akan memohon padaku sayang," seringaian Johan semakin lebar.
Johan mengambil dasi yang sebelumnya ia kenakan, menghampiri Ara dan mengikat kedua tangan Ara dengan dasi tersebut.
"Ayo kita lihat seberapa liar dirimu Ara."
Ara dengan putus asa berjalan menuju tas miliknya yang tergeletak tak jauh dari Johan. Ia berusaha mengambil ponselnya, tapi dengan kondisi tangan yang terikat di belakang tubuhnya itu terasa sangat sulit.
Sementara Johan hanya mengamati setiap gerakan Ara. Perlahan Johan berjalan mendekat, hingga berjongkok di hadapan Ara yang masih berusaha mengambil ponselnya.
"Kau ingin menghubungi suami kecilmu itu? Biar ku bantu!" ucap Johan.
Johan mengambil ponsel Ara dan mencari nomor Hansel, setelah menemukannya kini ia mulai menyeringai.
"Bagaimana jika video call saja? Dengan begitu suami kecilmu itu bisa melihatmu dengan lebih jelas."
Ara sudah tidak bisa menimpali ucapan Johan, kini bibirnya terasa kelu, seluruh tubuhnya mulai memanas, sementara bagian bawah tubuhnya mulai berdenyut nyeri, yang keluar dari bibirnya hanya rintihan. Sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap sadar, kini ia bahkan menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah agar kesadarannya tidak hilang begitu saja, tangannya yang terikat sekuat tenaga mencubit kakinya.
"Ssttt.... Jangan menyakiti dirimu sendiri Araku sayang, lihat aku sudah menghubungi suamimu, sekarang kau bisa mengungkapkan bagaimana kondisimu padanya secara langsung."
Benar saja, Johan melakukan video call kepada Hansel dengan ponsel Ara.
Senyum Hansel menghilang kala layar ponselnya menampakkan pemandangan istrinya yang terduduk di lantai dengan penampilan begitu berantakan, kancing kemeja Ara tampak terburai menampakkan kedua aset milik Ara, sementara rambut Ara yang acak-acakan, dengan bibir yang berdarah akibat gigitan Ara.
"Sayang Apa yang terjadi?" suara cemas Hansel memenuhi telinga Ara.
"Kau dimana? Apa yang terjadi padamu? Katakan sesuatu ! Ara ?" Hansel benar-benar panik.
Johan meletakkan ponsel itu di hadapan Ara menampakkan wajah Ara yang dipenuhi keringat karena menahan hasrat, efek dari obat perangsang yang diberikan oleh Johan bekerja dengan cepat. Kini mulai terdengar lenguhan dan ******* dari bibir Ara.
Johan mengambil satu gelas sampanye kemudian menghampiri Ara, berdiri di belakang Ara dan menumpahkan cairan bening itu kearah tubuh bagian depan wanita yang kini mulai menggeliat tak nyaman.
"Siapa kau? Berani sekali kau menyentuh istriku! Lapaskan Ara sekarang atau kau tidak akan hidup cukup lama untuk menyesalinya," ancam Hansel berteriak frustasi.
Wajah Johan memang tidak tertangkap kamera ponsel Ara, ia sengaja melakukan ini agar Hansel menderita, agar Hansel merasakan apa yang dulu Johan rasakan saat ia hanya bisa diam saat wanita yang dicintainya di ambil darinya secara paksa.
Kelopak mata Ara terbuka, pandangannya kini tertuju pada Hansel yang menatapnya dengan amarah dan air mata, ia tahu jika Hansel frustasi karena suaminya itu berada sangat jauh darinya.
__ADS_1
"Hansel," ucap Ara lirih, "Tolong aku!"
Ucapan singkat dari Ara meruntuhkan kesombongan dari seorang Hansel Nathanael Anderson, kini pria malang itu hanya bisa berteriak frustasi.
"Aku mohon kepadamu, bebaskan istriku! Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, jangan sakiti Ara-ku" pinta Hansel memohon dengan putus asa.
Johan mengakhiri panggilan tersebut dan tersenyum puas melihat bagaimana ia sudah berhasil menghancurkan kesombongan Hansel.
"Nah sekarang sayang, aku akan memuaskan mu," Johan menyeringai mendekati tubuh Ara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hansel semakin frustasi kala panggilan itu berakhir, dia mengacak rambutnya kesal.
Beberapa kali ia menarik nafas panjang untuk menenangkan emosinya, ia harus berpikir cepat untuk menyelamatkan Ara, ia tidak boleh gegabah dan ceroboh.
Hansel mengambil ponsel yang sebelumny ia lempar, melakukan panggilan dengan Jay.
"Ada Apa lagi? Apa Ara masih belum menghubungimu?" jawab Jay malas.
"Ara diculik, tolong bantu aku untuk menemukannya!" jelas Hansel singkat.
"Apa? Diculik?" Jay terkejut, "Aku mengerti, Aku akan mengerahkan orangku untuk menemukan istrimu, tenang saja!"
"Terimakasih."
Setelah panggilan dengan Jay berakhir, kini Hansel menghubungi Morgan sahabat karibnya, ia meminta Morgan untuk membantunya mencari keberadaan Ara.
Segera setelahnya ia mengambil beberapa barang penting untuk segera kembali, ia harus segera pulang dan menemukan Ara, dengan tergesa Hansel menuruni tangga, langkahnya terhenti saat beberapa orang bodyguard sang Daddy menghentikannya di pintu utama.
"Menyingkir dari jalanku!" titah Hansel.
Sekitar sepuluh bodyguard tampak tak bergeming menghadang Hansel.
"Kau mau kemana?" suara berat Tuan Robert menghentikan Hansel yang hampir melayangkan pukulannya.
To be continued 🤗.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...