Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 20


__ADS_3

Suasana kafe yang semula tenang dan damai, berubah menjadi begitu gaduh dan kacau, tatkala Hansel dengan penuh emosi mendatangi meja dimana Johan dan Ara tengah menikmati santap siang. Satu bogem mentah mendarat di wajah tampan Johan, membuat pria itu tersungkur dari kursinya. Sementara Ara menjerit histeris saking terkejutnya.


"Mas Johan!" seru Ara, "Apa yang kau lakukan?" teriak Ara pada suaminya yang masih emosi.


Tanpa menjawab, tangan besar Hansel menarik Ara untuk keluar dari kafe, ia tidak mau mempermalukan Ara di depan umum. Langkah Hansel yang panjang membuat Ara harus berlari untuk mengimbanginya.


Johan yang hendak menyusul keduanya dihentikan oleh seorang pelayan, biar bagaimanapun harus ada seseorang yang membuat harga untuk kekacauan yang sudah ditimbulkan oleh Tuan Hansel Nathanael Anderson, dan kambing hitamnya adalah dirinya, ingin sekali ia membalas pukulan yang masih terasa panas di wajahnya.


Lain waktu, lain tempat. Awas kau Hansel, akan aku pastikan, agar kau kehilangan Ara sama seperti diriku. Ancam Johan menatap nanar kepergian sepasang suami-istri itu.


***


"Hansel, lepaskan ! semua orang melihat kita," ucap Ara berusaha melepaskan cengkraman tangan Hansel pada lengannya, namun sia-sia, tenaga Hansel jauh lebih kuat jika dibandingkan dirinya.


Sesampainya di depan motor besarnya, Hansel segera meletakkan helm di kepala Ara, dan memintanya untuk naik.


"Tidak mau, aku kesini naik mobil Hansel," jawab Ara melepaskan kembali helm yang baru dipasangkan oleh suaminya.


"Naik atau aku akan menggendong mu sampai rumah," ancam Hansel.


"Heh, jangan konyol," cibir Ara.


Tanpa di duga Hansel sudah mengangkat tubuh Ara di bahunya dengan mudah, " Kau pikir aku tidak mampu, akan ku buktikan padamu sekarang," imbuhnya.


Ara berteriak, mukanya memerah seperti tomat yang terlalu matang, " Turunkan Hansel, jangan bercanda! Aku malu," ucapnya melihat banyak orang yang menyaksikan mereka.


"Kalau begitu, pilih naik motor atau naik mobilmu?" Hansel masih enggan menurunkan tubuh sang istri.


"Ok...ok..., aku ikut denganmu. Sekarang turunkan aku !" bisik Ara.


Sepatu Ara kembali menapak tanah, Hansel benar-benar pandai memaksa orang untuk menurutinya, dengan kesal Ara memakai helm yang disodorkan Hansel, dan mendudukkan tubuhnya di jok motor tersebut.


"Pegangan!" titah Hansel sebelum ia melajukan motor besarnya dijalankan kota yang padat.


Ara yang semula hanya berpegangan pada bemper belakang, kini beralih melingkarkan lengannya pada pinggang Hansel, dengan kuat ia berpegangan karena kecepatan Hansel yang diatas rata-rata.


"Pelan-pelan Hansel ! Aku takut," teriakan Ara terbawa angin.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di pekarangan depan rumah mereka, dengan secepat kilat Ara turun dari benda berbahaya itu begitu motor berhenti, jantungnya berpacu dengan rasa takut. kendaraan ini bisa membuat wanita malang seperti Ara begitu ketakutan.


Aku lebih baik berjalan kaki daripada harus menaiki benda ini lagi, nyawaku rasanya berkurang setengahnya. batin Ara sambil mengelus dada.


"Kita perlu bicara," ucap Hansel kembali menarik tangan Ara memasuki rumah, tampak beberapa pelayan yang menunduk memberi hormat.


"Iya aku tahu, tapi jangan main tarik begini dong, kan sakit Hansel," seru Ara berusaha memberontak.


Cengkraman di tangan Ara sedikit mengendur. Namun, tidak juga dilepaskan, Hansel masih menarik tubuh Ara untuk mengikutinya, sementara Ara hanya bisa pasrah dengan perlakuan Hansel, membiarkan tubuhnya mengekor di belakang sang suami.


"Kenapa kau bisa bersama dengan Johan?" tanya Hansel begitu mereka sampai di kamar.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya," jawab Ara singkat.


"Lantas kenapa kau mau makan bareng dengan pria lain, sementara suamimu sendirian di rumah, tidakkah kau merasa bersalah membiarkanku kelaparan?" ucap Hansel sedikit di lebih-lebihkan.


"Aku--" Ara tergagap, ia tidak tahu harus menanggapi ucapan Hansel bagaimana, "Aku..., sudahlah mana mungkin kau kelaparan, sementara ada puluhan pelayan di rumah ini, jangan mendramatisir," elak Ara tidak mau kalah.


"Tapi aku ini suamimu bukan suami mereka," protes Hansel.


"Yasudah, nikahi saja mereka, dengan begitu kau akan punya lebih banyak istri untuk melayanimu," ucap Ara asal.


"Tunggu sebentar," mata Ara memicing, "Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sana tadi? Apa kau masih memata-matai ku? Bukankah aku sudah bilang aku tidak suka di awasi seperti ini?" teriak Ara marah.


Hansel hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia ketahuan lagi. Keadaan berbalik, giliran Ara yang menyudutkannya.


"Aku--,"


"Kau apa?" potong Ara kesal.


"Yang salah itu kamu kenapa sekarang malah aku yang kena omel," balas Hansel sengit, berkilah.


"Wah jadi benar kau masih memata-matai ku, bocah nakal," kata Ara kesal, sambil memukul-mukul lengan sang suami dengan geram.


"Aduh sakit Ara, berhenti, aduh, mbak Ara hentikan," pinta Hansel berusaha menghindar dari pukulan tangan kecil istrinya.


Ara dengan kesal terus mengejar Hansel dan memukuli tangan dan punggung suaminya yang berusaha menghindar, "Rasain, awas ya kalau masih berani memata-matai ku lagi," ancam Ara.

__ADS_1


Hansel mencekal tangan Ara, menahan pukulan dari sang istri, "Sudah selesai belum?" ucapnya menyeringai, " Sekarang giliran ku," tatapan mata Hansel berubah, menatap tubuh Ara penuh arti.


"Kamu mau apa?" tanya Ara, mengambil langkah mundur menjauhi tubuh Hansel, " Jangan macam-macam!" peringatan tegas dari Ara.


Namun Hansel justru berjalan semakin mendekat dengan langkah pasti, dan sejurus kemudian tawa Ara meledak tatkala tangan Hansel menggelitik pinggangnya terus menerus, "Gimana?" tanya Hansel.


"Berhenti, cukup Hansel, geli," teriakan Ara di sela tawanya yang menggema di kamar mereka.


Setelah cukup lama mereka saling membalas satu sama lain, tubuh keduanya roboh di atas ranjang karena kelelahan.


"Aku capek." Ara mengambil nafas panjang, netranya menatap langit-langit kamar. Sementara Hansel yang berada di sebelahnya tersenyum bahagia, karena tanpa Ara sadari, mereka sudah menghabiskan sepanjang sore bersama, meskipun sebagian besar berisi perdebatan dan omong kosong, tetapi Hansel benar-benar bahagia.


"Mandi sana! Nanti aku ajak makan malam di luar yang enak," titah Hansel.


"Kemana?" dahi Ara mengernyit.


"Surprise dong, sudah sana mandi! bau," Hansel mendorong tubuh Ara pelan, hingga turun dari ranjang.


"Eh, ngomong-ngomong gimana mobilku?"


" Tenang saja, Pasti ada yang ngurusin kok," jawab Hansel acuh.


"Beneran? Aku baru lunasin cicilannya bulan lalu lho, gawat kalau sampai hilang atau di derek Satpol-PP," cemas Ara.


"Iya-iya, Roy sudah mengambilnya, sekarang pasti sudah ada di garasi," jelas Hansel malas.


"Yakin? Aku cek dulu deh," ucap Ara yang berniat keluar dari kamar.


"Ara ! Beneran, mandi sekarang atau aku mandiin," ancam Hansel.


Langkah Ara membeku seketika, tangan yang sudah terulur memegang kenop pintu terjatuh kembali, Ara yakin ucapan Hansel bukan hanya sekedar gurauan. Suaminya itu selalu melakukan apa yang dikatakannya, membuat nyali Ara menciut, bukan karena takut dengan apa yang akan Hansel lakukan kepada dirinya. Namun, Ara lebih takut terhadap responnya yang selalu menikmati sentuhan Hansel, ia takut dengan hasratnya sendiri.


"Tidak...!" seru Ara sambil berlari hingga tubuhnya menghilang di balik pintu kamar mandi diikuti tawa Hansel.


Dia lucu sekali, membuatku ingin selalu menggodanya, haaahhh, mbak Ara, aku benar-benar tergila-gila padamu.


TBC 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Hai readers, terimakasih atas dukungannya, kalau sudah baca sampai sini jangan lupa di like dan kasih komentar kalian dibawah ya, supaya author bisa ngucapin terimakasih secara langsung.


Mampir juga ke karya lain author receh ini ya, tap profil aku untuk lihat . Love you all 🥰🙏


__ADS_2