
*Terkadang kejujuran harus tertutup oleh kebohongan, hanya rasa takut yang sebenarnya tidaklah diperlukan.*
...****************...
"Pastikan semua berjalan dengan baik, aku ingin semua pemegang saham hadir dalam rapat Minggu depan," perintah Hansel kepada sekertaris nya.
"Baik pak. Dari informasi yang saya dapatkan, paman anda sudah bergabung dengan beberapa pemegang saham untuk merebut posisi presdir, dan sepertinya sangat sulit untuk kita memenangkan voting kali ini, terlebih tuan ALan(ayah vanesha) saat ini tidak lagi mendukung anda," jelas pria bertubuh gempal yang telah menjadi sekretaris Hansel cukup lama.
"Lakukan saja rencana kita, aku yakin kita masih memiliki kesempatan," ucap hansel datar.
"Baik saya mengerti pak," jawab Alex, sekretaris itu kini berlalu meninggalkan ruangan hansel.
Minggu depan adalah rapat penting bagi kelangsungan Anderson company, memang posisi presdir saat ini masih di duduki oleh ayah hansel, yaitu tuan Robert. Namun, karena kesehatannya yang menurun, akhirnya membuat tuan Robert memutuskan untuk mundur dari posisinya.
Anderson company, terdiri dari berbagai cabang yang cukup besar bahkan banyak anak perusahaan yang tersebar hingga ke luar negeri, sehingga posisi presdir tidak bisa hanya di tentukan oleh tuan Robert seorang, melainkan mereka harus menentukannya menggunakan voting dari para pemegang saham. Hal inilah yang selalu ditakutkan oleh tuan Robert, ia khawatir jika sampai hansel tidak bisa mengambil alih dan menduduki posisi presdir untuk kedepannya.
Saham yang dimiliki keluarga anderson memang paling besar jika dibandingkan yang lainnya, namun jika seluruh pemegang saham setuju untuk menggulingkan Hansel maka tuan Robert juga tidak bisa melakukan apapun, dan Ronald yang merupakan adik tiri tuan Robert memiliki potensi yang cukup tinggi untuk merebut posisi presdir.
Hansel menghela nafas panjang, Ia sangat lelah akhir-akhir ini, bukan hanya ia belum bisa melihat Ara secara langsug setelah insiden pernikahannya yang batal dengan Vanesha, tapi masalah perusahaan juga datang bertubi-tubi menerjangnya. Untungnya saat ini Ara aman bersama dengan Jay, salah satu hal yang membuat Hansel bertahan dengan semua ini adalah agar dirinya bisa segera mencapai posisi puncak sehingga ia bisa memiliki kekuasaan yang lebih besar untuk melindungi wanita yang sangat ia cintai, Ara.
Setiap hari Hansel selalu meluangkan waktu untuk menghubungi Ara, sekedar untuk memastikan kondisi ara dan sedikit mengobati rasa rindunya, sudah tiga bulan lebih mereka tidak bertemu secara langsung, sejak penculikan Ara hari itu, Hansel menghitung hari yang dimana sehari terasa begitu lama bagi Hansel. Namun hansel harus tetap bersabar, ia harus cepat menyelesaikan masalah perusahaannya agar sesegera mungkin ia bisa bertemu dengan Ara.
*
*
*
Sementara itu Ara mulai mengalami mual di pagi hari, Ara sudah memastikan kehamilannya, tapi ia belum memberitahukan hal tersebut kepada siapapun, termasuk Hansel. Semakin sulit bagi Ara untuk menyembunyikan kehamilannya dari jay, terlebih ia sering mual ketika mencium aroma tertentu.
"Apa dia muntah lagi? "
Terdengar suara Jay yang camas, segera menyusul Ara yang sedang memuntahkan sarapannya, lagi.
"Kali ini kau harus ke rumah sakit Ara! Aku serius! " ucap jay seraya memijat dan menepuk halus punggung Ara.
"Aku baik-baik saja Jay, " jawab ara begitu ia selesai membasuh mulutnya.
"Hansel memintaku untuk menjagamu Ara, dan kau tidak terlihat baik-baik saja," kata Jay tegas.
__ADS_1
Ara hanya terdiam, karena kini kepalanya terasa pusing, suara Jay hanya terdengar samar di telinga Ara, sementara pandangannya mulai kabur, dan seketika gelap, Ara jatuh pingsan.
"Astaga Ara," dengan sigap Jay menangkap tubuh Ara yang hampir menyentuh lantai, "Segera bawa dokter kemari!" perintahnya kepada para pelayan.
Hubungan Jay dan Ara kini menjadi semakin akrab, Jay yang merupakan seorang pelukis lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama kanvas dan kuasnya, sering kali Ara menemani jay saat melukis membuat keduanya kini tidak canggung lagi satu sama lain.
"Bagaimana kondisinya Dok?" tanya Jay cemas.
Dokter berparas cantik itupun tersenyum, "Tidak ada yang serius Tuan Jay, sepertinya ini bawaan bayi dalam kandungan istri anda, di awal kehamilan lumrah seorang ibu mengalami mual. Saya akan memberikan istri anda vitamin untuk kesehatannya," jelas sang dokter.
Sontak mata Jay membulat sempurna, ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, "Dia hamil?" Jay berteriak seraya tangannya yang menunjuk ara yang mulai menarik selimut hingga menutupi setengah wajahnya.
"Anda tidak mengetahuinya? ini sepertinya sudah memasuki bulan ketiga Tuan."
"Ara kau gila ya? Bagaimana kau tidak mengatakan hal ini pada ku atau pada Hansel?" Jay masih tidak mempercayai berita besar yang baru saja di terimanya.
"Tenanglah Tuan Jay, Istri anda bisa ketakutan, dan itu tidak baik bagi kesehatan ibu dan calon anak anda, " tutur si dokter yang masih mengira jika Ara adalah istri Jay.
Jay mengusap kasar wajahnya, "Baiklah, terimakasih dokter, tolong katakan apa yang harus saya lakukan? "
Sang dokter berpamitan setelah memberi pengarahan kepada Jay dan Ara tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama masa kehamilan, serta meminta Jay agar membawa Ara untuk memeriksakan kandungannya secara berkala.
"Bagaimana aku harus menjelaskannya, aku sendiri tidak mengerti harus memulainya dari mana," jawab Ara lesu.
"Sejak kapan kau mengetahui tentang kehamilanmu?"
"Sejak sebelum kau membawaku kemari, " jawab Ara jujur.
Sudut mulut jay terangkat, " Sudah selama itu ternyata. Apa kau masih belum bisa mempercayaiku?" ada rasa kecewa yang bercampur dalam ucapan jay, "Bagaimana dengan Hansel? Bagaimana kau bisa menyembunyikan hal ini dari ayah atas bayi dalam kandunganmu," Jay menggeleng tidak mengerti dengan jalan pikiran Ara.
"Bukan begitu, hanya saja aku takut dan tidak yakin mengenai siapa ayah dari bayi ini," Ara tertunduk enggan menatap wajah Jay yang kini duduk di hadapannya.
"Apa maksudmu? "
Ara mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan, "Saat aku diculik, Johan melakukannya padaku, dia memaksaku meminum obat yang membuatku tidak bisa menolaknya. Dua minggu setelahnya aku menyadari jika aku hamil, aku takut jika anak ini bukan milik hansel tapi milik,..." penjelasan Ara terputus karena kini ia mulai menangis.
Jay begitu terkejut mendengar penjelasan Ara, ia tidak menyangka jika Johan akan tega melakukan hal yang begitu mengerikan seperti itu kepada Ara.
"Tenanglah ini bukan salahmu," dengan lembut Jay membawa Ara dalam pelukannya berusaha menenangkan Ara.
__ADS_1
"Tidak peduli siapa ayah dari bayi ini, yang pasti dia tidak berdosa, kau tidak boleh membenci kehadirannya ataupun membenci dirimu sendiri. Aku yakin Hansel akan mengerti," ucap Jay lembut.
" Bagaimana jika Hansel kecewa dan membenciku?" tanya Ara yang masih terisak, ia meluapkan ketakutannya yang selama ini ia pendam.
"Tidak mungkin Ara, Hansel terlalu bodoh sehingga ia pasti akan tetap mencintaimu sekalipun kau membuangnya ke tong sampah," goda Jay berusaha menghibur Ara.
"Aku serius Jay, " kesal Ara.
"Bagaimana dengan usia kehamilanmu? Kita bisa memperkirakannya dengan tanggal penculikan yang kau alami kala itu? " usul Jay.
"Hal itu tidak pasti Jay, kita tidak bisa mengambil kesimpulan hanya dari usia kehamilannya saja, dan usia kehamilanku dengan hari itu sangat dekat, aku takut Jay, " keluh Ara lagi.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan Ara, semua akan baik-baik saja, Hansel akan mengerti," pungkas Jay, dengan lembut mengusap jejak basah air mata Ara.
Dering ponsel menatik perhatian keduanya, ternyata Hansel yang melakukan panggilan.
"Sayang? Aku merindukanmu, sangat merindukanmu," suara manja Hansel terdengar manja dan lelah dari seberang panggilan.
"Iya, aku tahu."
Jay memberi isyarat bahwa dia akan keluar, dan berlalu meninggalkan kamar Ara.
"Bagaimana kabarmu hari ini sayang? Berapa kali kau merindukanku?" ucap Hansel.
"Hansel?" mulai Ara.
"Hmmm, ada apa sayang? katakanlah!"
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan,"
"Apa? Aku mendengarkannya dengan seksama sekarang, katakan padaku apa yang kau inginkan!"
"Hansel, aku hamil," ucap Ara pada akhirnya.
"Apa?"
To be continued 🤗
Happy reading n thanks 🥰
__ADS_1