Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 19


__ADS_3

"Astaga...," pekik Ara terkejut.


Segera Ara membuka pintu yang menjepit tangan Hansel, secara reflek memegang tangan Hansel yang terlihat memerah.


"Apa kau gila, jarimu bisa saja putus," kesal Ara.


Yang dimarahi hanya nyengir kuda saja, Ara menarik Hansel untuk masuk kamarnya, mencari kotak obat, setelah mendapatkan salep yang dicarinya dengan segera Ara mulai mengoleskannya di tangan Hansel yang masih tampak beberapa luka akibat pecahan kaca beberapa hari yang lalu.


"Masih sakit?" tanya Ara, sesekali ia meniup luka Hansel.


Hansel masih saja tersenyum, menggeleng sedikit untuk menjawab pertanyaan Ara.


"Ya sudah, hati-hati lain kali!" tukas Ara.


"Ara maaf?" ucap Hansel tulus, menggenggam tangan Ara yang sudah hampir beranjak dari tempat duduknya.


"Untuk apa?" acuh Ara.


"Maaf, aku sudah mengingkari janjiku untuk tidak menyakiti mu. Saat itu aku benar-benar kehilangan akal sehatku, aku--" ucap Hansel menggantung.


"Kau apa?" tanya Ara


"Aku tidak akan mengatakan jika aku menyesalinya, karena pada kenyataannya aku memang menginginkanmu lebih dari yang bisa aku katakan. Jadi aku hanya berharap kau tidak membenciku," kata Hansel jujur.


" Untuk apa aku membencimu? Bukankah kau memang suamiku ? Lalu apa salahnya? Kau datang, kau dapat apa yang kau inginkan dan --" Ara tidak sanggup melanjutkan ucapannya ,tatapan sendu membayangi wajahnya, tercetak jelas raut kesedihan di sana.


"Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakitimu Ara, Aku benar-benar minta maaf," Hansel menggenggam tangan Ara semakin erat.


"Aku tidak tahu apakah aku akan membencimu atau memaafkan mu, tetapi untuk saat ini aku masih belum bisa menerima semuanya. Meskipun ini bukan kali pertama, walaupun kau adalah suamiku sendiri, tapi aku belum bisa untuk sekedar memastikan perasaanku sendiri," kini bulir bening berusaha ia tahan luruh sudah.


"Ini semua memang salahku, aku minta maaf ya, kamu jangan nangis lagi! Kita ikuti alurnya saja, yang sudah terjadi juga tidak bisa dirubah," Hansel berusaha menenangkan Ara yang masih terisak.


Ara menyeka air matanya, "Sudahlah, aku nggak mau bahas ini lagi, aku mau mandi. Silahkan keluar!" Ara menarik tangannya dari genggaman Hansel, membawa tubuhnya menghilang di balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi Ara hanya terdiam mematung, berusaha mengenyahkan pemikiran tentang semua yang dikatakan oleh Nyonya Margaret. Kata perpisahan dan perceraian menyerang Ara bergantian. Membuatnya merasa hampir gila.


Setelah selesai dengan rutinitas mandinya, Ara berniat keluar untuk sekedar menyegarkan pikirannya, keluar dari rumah yang sudah seperti penjara baginya. Ia ingin untuk sekedar menghirup udara di luar sana.


Mereka saling berhadapan di meja makan, menyantap makanan mereka masing-masing. Tidak seorangpun dari mereka yang mau memulai percakapan, hanya ada dentingan sendok dan garpu.


"Apa kau mau keluar?" tanya Hansel pada akhirnya, melirik tas selempang disebelah Ara.


"Hmm," jawab Ara sedikit mengangguk.


"Apa kau mau aku temani?" tawarnya .


"Tidak perlu," jawab Ara ketus.


"Ara boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Hansel.


"Apa?"


"Memang sikapku sebelumnya seperti apa? Aku tetaplah aku, entah itu kemarin, hari ini, ataupun besok. Jika menurutmu ada yang berubah dari diriku, mungkin itu karena kau sudah mulai bosan denganku," ucap Ara santai, memasukkan makanan kedalam mulutnya.


"Ara?" ucapnya lembut.


"Sudahlah. Aku lelah berdebat denganmu!" tukas Ara, berlalu meninggalkan meja makan.


Hansel menghela nafas, berusaha mengendalikan sifat posesifnya yang selalu ingin berada di samping Ara, ia mengambil ponselnya, mendekatkan benda pipih itu ke telinga, "Ikuti dia! Laporkan semuanya padaku!" perintah Hansel kepada seseorang di ujung panggilan.


***


Ara dengan pikiran kalut mengendarai mobilnya menuju sebuah perpustakaan besar yang terletak di dekat alun-alun kota, dulu ia sering menghabiskan waktu luangnya di sini, sekedar membaca sesuatu untuk mengalihkan dunianya.


Rasanya membunuh waktu bertemankan beberapa buku tidaklah buruk, terbukti dari betapa cepatnya waktu berlalu ketika ia melakukan sesuatu yang disukainya. Ara sedikit merenggangkan tubuhnya dan menengok jam yang melingkar di tangannya, sudah hampir waktu makan siang, pantas saja ia merasakan cacing-cacing di dalam perutnya sudah mulai berparade. Dengan cepat Ara mengembalikan buku ke rak-rak yang berjejer rapi, kemudian tersenyum sopan kepada penjaga perpustakaan saat ia hendak keluar.


Baru beberapa langkah ia keluar dari pintu perpustakaan, Ara dikejutkan oleh suara seseorang yang sangat dihafalnya.

__ADS_1


"Ara...!" Seru Johan yang mempercepat langkahnya untuk menghampiri Ara.


Ara menoleh dan berusaha memberikan senyuman kepada Johan, " Mas Johan? Sedang apa disini?" tanya Ara basa-basi.


"Ini," jawabnya mengangkat dua kantong besar berwarna merah berisikan nasi kotak, "Mau ikut bagiin nggak?" tanya Johan dengan senyum hangat.


Ara terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk setuju, " Baiklah."


Johan memiliki kebiasaan membagikan nasi kotak kepada anak-anak yang biasanya mengamen di sekitaran alun-alun kota, terkadang ia juga membagikan kepada tukang becak dan pedagang asongan di sana, sebelumnya Ara sering sekali menemani Johan melakukan hal ini, tapi dengan hubungan mereka yang sekarang, Ara merasa sedikit canggung.


Mereka berjalan beriringan dengan membawa kantong berisikan nasi kotak, begitu mereka datang para anak-anak yang sudah biasa mendapatkan jatah langsung mengerubungi mereka, Ara tersenyum senang melihat anak-anak yang bahagia dengan apa yang diberikannya, menyaksikan para anak-anak dengan kondisi seperti itu, menampar kembali Ara pada kenyataan bahwa ia memiliki nasib yang lebih baik dibandingkan mereka, lantas kenapa Ara tidak bersyukur dengan semua yang Tuhan berikan, Ara menyeka ujung matanya yang berair.


"Kau baik-baik saja?" tanya Johan khawatir.


"Iya sekarang aku baik-baik saja, terimakasih Mas Johan udah ajak Ara kesini," ucap Ara tulus.


"Aku juga senang jika kau senang," senyum Johan mengembang, " Apa kau sudah makan ?" tanyanya kemudian.


Setelahnya bersama mereka mendatangi sebuah kafe yang tak jauh dari sana. Ara yang semula menolak ajakan Johan untuk mentraktirnya makan, pada akhirnya menuruti keinginan mantan tunangannya itu. Namun, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka setajam elang.


***


Disisi lain, Hansel masih berkutat dengan beberapa dokumen penting di kamarnya, walaupun ini hari libur, tetapi Hansel lebih memilih menghabiskan waktu dengan bekerja dari pada terus menerus memikirkan istrinya yang bisa membuat dirinya hilang kendali lagi. Terakhir, orang suruhannya melaporkan jika Ara berada di perpustakaan sepanjang pagi, membuat Hansel sedikit bernafas lega karena Ara berada di tempat yang aman untuk saat ini.


PING.


Bunyi pesan masuk di ponsel Hansel, segera ia melihat isi pesan tersebut. Mata Hansel mendelik tatkala ia melihat foto Istrinya sedang bersama dengan Johan, umpatan kekesalan keluar beruntun dari mulutnya, berbagai nama binatang disebut saking kesal dirinya.


Segera Hansel menyambar jaket yang tergantung di dekat meja kerja, dengan cepat ia menuruni tangga dan menaiki motor besarnya membelah jalanan. Jangan tanya ia mau kemana, yang jelas seseorang akan membayar karena telah membuat seorang Hansel Nathanael Anderson kesal.


TBC 🥰🥰


Hai readers, author minta maaf karena tidak pernah up, awalnya author nggak mau lanjutin cerita Sahara dan Hansel ini, tapi kok dipikir-pikir lagi sayang gitu. Jadi, insyaallah author usahakan bakalan nulis cerita ini sampai tamat, Mohon dukungannya ya. terimakasih 🙏 ❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2