Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 23


__ADS_3

Sinar mentari pagi menyusup celah dedaunan, menguapkan embun di rerumputan, cerah cahayanya membawa kebahagiaan kepada tunas yang menghijau serta burung-burung yang berkicau untuk menjemput rezeki dari sang pencipta. Seperti halnya seorang pria yang semalam melalui malam terindah dalam hidupnya, senyuman indah dengan lesung pipi terukir indah sepanjang pagi.


Hansel dengan semangat menuju Anderson Company, hari ini semua berjalan dengan begitu sempurna. Rapat pagi berjalan dengan lancar, beberapa kontrak kerjasama yang sedang ia kerjakan sudah mencapai kesepakatan dan yang membuat Hansel lebih bahagia adalah daddy-nya sedang berada di luar negeri, jadi dia terbebas dari segala omelan dan perintah pak tua itu.


Sesekali Hansel yang sedang duduk di balik meja bertuliskan wakil direktur tersebut mengecek ponselnya dengan berkala, berharap akan terselip pesan dari sang istri. Namun, sepertinya kali ini ia harus menelan pil pahit kekecewaan karena yang ia harapkan tidak terjadi , hanya ada satu pesan masuk dari mata-mata yang ia minta untuk mengawasi sang istri, dan seketika umpatan kekesalan beruntun keluar dari mulutnya ketika ia mendapati laporan bahwa kini Ara dan Johan tengah makan siang bersama di sebuah restoran. Namun, Hansel berusaha menahan gejolak emosi dalam hatinya dan berharap akan ada penjelasan dari Ara tentang hal ini, akan tetapi hingga menjelang sore tidak ada satu pesan pun dari sang pujaan hati.


***


Disisi lain, Ara disambut dengan pelukan hangat oleh sahabat karibnya Gisel, begitu dirinya sampai di perusahaan. Sahabatnya itu terus menceritakan hal-hal menghebohkan yang terjadi selama Ara tidak bekerja belakangan ini, meskipun sebagian besar hanya berisi gosip yang. tidak penting, tapi Ara tetap mendengarkan cerita Gisel dengan antusias.


"...dan ini yang terakhir, pak Johan sudah memilih penggantimu, namanya Laras. Menurut pendapatku, dia sedikit centil dan keganjenan banget," ucap Gisel sedikit kesal.


"Memang kenapa?” tanya Ara penasaran.


"Kau akan mengetahuinya saat kau melihatnya," jawaban yang tidak jelas diberikan oleh Gisel sebelum akhirnya mereka berpisah karena mereka memang bekerja di ruangan yang berbeda.


Dengan semangat Ara memasuki ruangannya, dan seketika langkah kakinya terhenti begitu ia membuka pintu tersebut. Seorang wanita cantik dan menggoda dengan pakaian yang menurut Ara terlalu sempit untuk ukuran tubuhnya yang bisa dibilang terlalu besar pada bagian-bagian tertentu, membuat Ara mengernyit heran.


'Apa ini sekretaris yang akan menggantikan posisi ku?' batin Ara, masih diam mematung.


"Kamu Sahara ya? Salam kenal aku Laras, sekretaris baru pak Johan," ucap wanita itu dengan bangga.


Ara berdeham untuk menghilangkan kecanggungannya, " Ah, iya . Senang bertemu denganmu, mari bekerja keras," ucap Ara kikuk.


Ia tidak mengerti bagaimana Johan menyeleksi sekretarisnya, sebelum ini Johan tidak pernah menyukai wanita dengan tampilan seperti Laras. Biasanya Johan akan lebih menyukai wanita yang berpenampilan sederhana. Seperti Ara.


"Dari semalam pak Johan tidak pulang, dan dia berpesan agar begitu kau datang, untuk segera menyiapkan pakaian baru untuknya," kata Laras dengan senyuman yang dipaksakan, sepertinya dia ingin dirinya yang menyiapkan pakaian baru untuk Johan, bukan Ara.


"Oh, baiklah. Aku akan segera menyiapkannya," ucap Ara dan berlalu pergi.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, kini Ara sudah mengetuk pintu ruangan Johan dengan satu paper bag di tangannya.


"Masuk" suara berat Johan terdengar dari dalam ruangan.


Dengan sopan Ara memasuki ruangan mantan tunangannya itu, "Permisi pak, ini pakaian Anda," ucap Ara ketika dirinya sudah sampai dihadapan Johan.


"Ya, terimakasih Ara, letakkan saja di sana!" perintah Johan menunjuk meja tak jauh dari Ara, " Bagaimana kabarmu Ara?" tanya Johan begitu Ara selesai meletakkan paper bag itu diatas meja.


"Kabar saya baik-baik saja pak," jawab Ara dengan sopan, ia berusaha untuk membuat garis antara dia dan Johan. Ara tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi mengenai kedekatannya dengan Johan. Terlebih lagi dia sekarang sedang berusaha memperbaiki hubungan dengan Hansel, ia tidak mau terlibat dengan Johan dan keluarganya lebih jauh, mengingat betapa bencinya Ny, Diana kepada Ara.


"Kau tidak masuk kerja empat hari, tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Kau tau itu semua membuatku sangat khawatir. Sebenarnya kau pergi kemana?" suara berat Johan mengalun indah.


"Aku hanya merasa sedikit tidak sehat, dan mengenai izin, aku benar-benar minta maaf," jelas Ara sesamar mungkin.


"Begitukah? baiklah, aku senang kau baik-baik saja. Kau sudah bertemu dengan Laras?" tanya Johan.


"Iya Pak, jika tidak ada lagi yang Anda butuhkan, saya akan kembali ke meja saya. Permisi," ucap Ara menundukkan sedikit kepala dengan hormat.


"Tapi itu tidak sesuai dengan peraturan perusahaan!" sanggah Ara.


"Memang kenapa? Ini perusahaan milikku, peraturannya terserah padaku mulai sekarang," jawab Johan tenang.


Tangan Ara mengepal erat, sebelumnya Johan selalu adalah orang yang sangat disiplin, saat ini pria yang ada di hadapannya tersebut terlihat sangat berbeda dari Johan yang dikenal Ara, "Saya mengerti," ucap Ara kemudian berlalu dari ruangan Johan.


Dengan berat hati Ara menemani Johan untuk makan siang di sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor mereka, dan seperti yang telah Ara duga, hampir setiap karyawan akan berbisik atau menatapnya dengan tatapan merendahkan. Mereka selalu menghakimi Ara, mengatakan jika dirinya masih tidak mau melepaskan Johan meskipun sudah membuat Presdir kesayangan para karyawan itu sakit hati, mengatakan bahwa Ara tidak tahu malu, dan hal-hal buruk semacam itu kini menjadi julukan Ara di kantor. Ingin rasanya ia tidak kembali lagi ke perusahaan.


'Tenang Ara, sabar saja, hanya satu bulan, kau bisa melaluinya.'


"Silahkan," ucapan seorang pelayan membuyarkan lamunan Ara.

__ADS_1


Ara tersenyum, "Terimakasih," ucapnya kepada pelayan tersebut dengan ramah.


"Ku tahu Ara, kau sama sekali tidak berubah," kata Johan yang mengamati kebaikan Ara.


"Aku akan selalu menjadi diriku. Bukankah semua orang demikian? Aku berharap jika mas Johan juga tidak akan berubah," ucap Ara tulus, ia sangat mengagumi sosok Johan, tapi kini sepertinya mantan tunangannya itu sedikit demi sedikit mulai terasa asing bagi Ara.


"Tidak ada yang pasti di dunia ini Ara, terkadang kita perlu perubahan untuk memperbaiki sesuatu agar menjadi lebih baik, dan mendapatkan apa yang kita inginkan."


Ara tidak menimpali ucapan Johan, ia hanya fokus kepada makanan di hadapannya, ia tidak ingin setuju dengan ucapan Johan, tapi ia juga tidak menampik kebenaran akan hal tersebut.


"Ini." Johan meletakkan sebuah memory card dihadapan Ara, begitu Ara menyelesaikan santap siang.


"Apa ini?" dengan penasaran Ara mengambil benda kecil berwarna hitam di atas meja.


"Lihatlah, begitu kau siap. Kau akan tahu bagaimana sifat sesungguhnya dari Hansel." Johan berkata penuh keyakinan.


"Apa maksudmu?" Ara kembali meletakkan memory card itu di atas meja, "Dengar Mas Johan, aku tahu hubungan diantara kita tidak berakhir dengan baik, tapi apakah harus seperti ini? Tidak bisakah kita menjadi teman dan saling menghargai, aku sangat-sangat menghormati dan mengagumimu, jadi jangan melakukan tindakan yang akan membuat rasa itu hilang dari pandangan mataku," ucap Ara serius.


"Aku tidak mau sekedar menjadi temanmu,aku ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku," dengan keras kepala Johan tetap mempertahankan pendiriannya.


Ara menghela nafas panjang, " Bukankah kau yang memilih untuk meninggalkanku saat itu? Bukankah kau sendiri yang tidak mempercayai setiap ucapan dan penjelasan dariku kala itu? Lantas kenapa sekarang Mas Johan mengungkitnya?" kini Ara mulai sedikit kehilangan ketenangannya.


Johan menggenggam tangan Ara yang gemetar, "Maafkan aku, itu adalah kesalahan terburuk dalam hidupku. Jadi terima ini dan lihatlah dengan mata kepalamu sendiri, bagaimana semua ini bisa menjadi sangat kacau karena ulah Hansel. Setelahnya kau bisa putuskan sendiri," lanjutnya.


Ara menggenggam memory card itu dengan kuat, apa sebenarnya yang ada di dalamnya, kenapa Johan ingin sekali ia melihatnya? Apa hubungannya dengan Hansel dan masa lalu mereka?


Hingga jam kerja usai, Ara masih belum yakin untuk melihat apapun isi dari memory card tersebut. Ara kembali ke kediamannya dengan pikiran kalut. Bahkan ia tidak menyadari tatapan dingin seseorang saat dirinya mulai memasuki rumah yang kini sudah menjadi miliknya.


"Ara..."

__ADS_1


TBC 🥰🥰🥰


Hai readers, terimakasih atas dukungannya. Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komentar kalian dibawah. Terimakasih 🥰🙏


__ADS_2