Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 32.


__ADS_3

Rintik hujan mulai terjatuh dari langit malam, membuat udara semakin dingin bersamaan dengan semilir angin malam, rintik kecil itu kian lama jatuh semakin deras, membuat jalanan basah olehnya.


Sebuah mobil berwarna putih melesat membelah jalanan yang berair. Didalamnya dua manusia hanya terdiam tanpa ada sepatah katapun, si pria fokus mengemudi, meskipun sesekali sudut matanya menangkap bayangan wanita yang tengah menatap rintik hujan dari balik kaca mobil.


"Bagaimana hubunganmu dengan Hansel?" mulai Johan memecah keheningan.


Ara menoleh sekilas sebelum kembali fokus memandang jalanan, "Baik," jawabnya singkat.


"Maaf bukannya aku lancang, tapi apa kau tidak kecewa padanya karena telah menipumu?" lanjut Johan.


"Tentu saja aku kecewa Mas, tapi semua sudah terlanjur, lantas aku harus bagaimana?" ujar Ara pelan.


Johan menghela nafas, "Kau tahu Ara, hatiku sakit saat mengetahui kebenarannya, dan aku sangat menyesali kebodohanku karena tidak mempercayaimu," kesal Johan.


"Apalagi melihat bagaimana keluarga Hansel memperlakukanmu dengan sangat tidak adil, itu semua semakin menyiksaku Ara, ingin rasanya aku memutar waktu dan mengubah segalanya, agar kita bisa tetap bersama," lanjut Johan dengan rasa kecewa yang tak dapat ia tutupi.


Ara hanya terdiam tanpa bisa menimpali ucapan mantan kekasihnya itu, dalam hati kecilnya Ara juga merasakan hal yang sama, ia juga berharap semuanya bisa diulang dan kembali seperti sedia kala.


"Ara?" panggil Johan lembut, "Jawab pertanyaanku dengan jujur, aku mohon !"


Ara mengangguk.


"Apa kau masih mencintaiku?" tanyanya.


Bohong jika Ara mengatakan tidak, karena nama Johan memang masih ada di dalam hati Ara, meskipun keberadaannya samakin lama semakin berkurang semenjak kehadiran Hansel di hati Ara.


Sekali lagi Ara hanya mengangguk tanpa bersuara, membuat Johan bernafas lega, setidaknya Ara masih mencintainya.


"Jika memungkinkan maulah kau kembali bersamaku?" tanya Johan lagi.


Ara mengambil nafas panjang, "Aku tidak tahu Mas, aku masih mencintaimu, tapi aku juga tidak mungkin meninggalkan suamiku, biar bagaimanapun keadaannya sekarang Hansel adalah suamiku."


"Tapi tidak ada yang mengakui hubungan kalian, bahkan keluarganya juga tidak memandangmu, Hansel sendiri juga sepertinya tidak keberatan untuk menyembunyikan hubungan kalian, lantas kau ini dianggap apa olehnya?" sanggah Johan dengan tidak senang.


Ara terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya dan pada kenyataanya Ara tidak yakin apakah perasaan Hansel adalah cinta yang tulus atau hanya sekedar obsesi kanak-kanaknya.


Mobil mereka berhenti di depan rumah dengan pagar tinggi disekelilingnya. memaksa keduanya untuk menyudahi percakapan.


Ara mencoba untuk membuka pintu mobil setelah mengucapkan terimakasih. Namun, dengan tiba-tiba Johan kembali menarik tangan Ara dengan cukup kuat, membuat tubuh Ara tersentak hingga kini hanya berjarak beberapa centi dari Johan.


"Apa yang kau lakukan Mas?"


"Tunggu aku Ara aku akan membawamu pergi dari semua kekacauan ini," bisik Johan lembut seraya membiarkan kening mereka saling beradu.


Dengan cepat Ara mundur, merasa tidak nyaman dengan kedekatan yang terjadi antara mereka.


Ara memberikan tatapan yang sulit diartikan, sedikit menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan perubahan sikap Johan, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk beranjak pergi tanpa mengatakan satu patah katapun lagi.

__ADS_1


****


Di tempat lain, Hansel sedang berdebat dengan sang ibu karena beliau terus mendesak Hansel agar mau mengantarkan Vanesha pulang.


"Tidak," tolak hansel untuk kesekian kalinya.


"Ayolah Hansel sayang, kasian Vanesha jika harus diantar sopir, apa kata paparazi nanti," bujuk maminya.


"Sudahlah Mom jangan merepotkan kak Hansel, aku akan pulang dengan sopir. Mbak Ara pasti sudah menunggu Kak Hansel untuk pulang," ucap Vanesha menghentikan Nyonya Margaret.


"Mommy dengar? Dia saja tidak masalah pulang dengan sopir, untuk apa Mommy yang repot," cerocos Hansel seraya berlalu pergi menuju mobilnya.


Sedetik setelah Hansel menjatuhkan bobot tubuhnya di jok mobil, pintu disampingnya terbuka dan menampakkan tubuh ramping Vanesha yang tanpa dosa langsung mengambil kursi disebelahnya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Hansel dengan kesal.


"Mencari tumpahan," ucap Vanesha ringan serta membenahi rambutnya.


"Turun!" tegas Hansel.


"Tidak," jawab Vanesha keras kepala.


"Turun sekarang atau aku akan menyeretmu keluar!" ancam Hansel.


"Ayolah Kak Hansel, lagian rumah kita searah, semakin lama kakak berdebat dengan ku, maka mbak Ara juga semakin lama sendirian di rumah, atau mungkin dia masih bersama Kak Johan," pancing Vanesha menampakkan sikap aslinya.


"Aaaa.... Pelan-pelan Kak! Kau membuatku takut," teriak Vanesha yang kaget karena mobil tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi.


"Jangan memancing emosi ku Hama menyebalkan, Ara hanya milikku dan selamanya tetap milikku," tegas Hansel penuh penekanan.


Perjalanan keduanya berlangsung tanpa ada suara dan gangguan, dengan cepat kini mereka telah sampai di apartemen milik Vanesha yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman Hansel.


"Turun!" perintah Hansel tegas.


Tanpa menunggu lama Hansel langsung melajukan mobilnya begitu pintu tertutup.


Selang beberapa saat Hansel masih berusaha menenangkan emosi ketika ia telah sampai di kediamannya, ia tidak ingin membuat Ara takut dengan dirinya yang mudah sekali meledak.


Kedatangan Hansel disambut oleh beberapa pelayan dan tentu saja Bu Sari sebagai kepala pelayan selalu siaga menyambut kedatangan sang Tuan muda.


"Dimana istriku?" tanya Hansel seraya berjalan memasuki rumah.


"Nyonya sedang berada di taman belakang Tuan. Sepulang dari pesta Nyonya langsung menuju taman belakang," jelas Bu sari sopan.


"Taman belakang?" Hansel mengernyit.


Dengan langkah tegap Hansel melewati ruang demi ruang untuk menuju taman belakang menemui istri terkasihnya.

__ADS_1


Punggung indah Ara menangkap pandangan netra Hansel, entah seberapa sering Hansel melihat lekuk tubuh sang istri namun tetap membuat tubuh Hansel bergetar dengan hati yang berdegup kencang, Ara selalu bisa membuat Hansel jatuh cinta padanya lagi dan lagi. Hansel sudah tak sabar menunggu cinta yang ia semai akan berbunga suatu saat nanti.


"Kalian pergilah!" perintah Hansel kepada para pelayan, yang di jawab dengan anggukan oleh Bu sari yang membungkuk sopan dan berlalu pergi.


Senyum mengembang dibibir Hansel, dengan perlahan ia mendekati sosok yang begitu ia puja.


*


Ara menatap langit malam yang gelap, udara dingin yang lembab membuat Ara sedikit meremang, ia menggosok lengan telanjangnya dengan tangan, berusaha mengusir hawa dingin, rumput dan bunga di sekitarnya tampak basah setelah terguyur air hujan yang kini hanya meninggalkan beberapa genangan air di sana sini, sementara beberapa kilat masih tampak di kejauhan membelah langit malam, terlihat indah seperti kembang api.


Sepasang tangan menyusup melalui pinggang Ara, membuyarkan lamunannya.


"Sayang," bisik Hansel menenggelamkan wajahnya dalam ceruk leher Ara, menghirup aroma manis dari tubuh sang istri.


"Astaga, Hansel kau mengejutkanku," Seru Ara.


Hansel memutar tubuh sang istri, mengamati wajah cantik Ara dari dekat, membuat Ara tersipu.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hansel.


"Tidak ada, aku hanya ingin menikmati udara malam saja," kilah Ara berusaha menyembunyikan pikirannya dari sang suami.


"Apa ada sesuatu yang membuatmu cemas?" tanya Hansel khawatir.


"Tidak ada Hansel, aku hanya ingin saja, tidak ada apa-apa," jelas Ara.


"Sungguh?"


"Iya sayang," jawab Ara dengan tersenyum, menangkupkan tangannya di wajah suami kecilnya.


"Baiklah jika tidak ada apa-apa. Ayo masuk ke kamar, apa kau tidak kedinginan disini, lihatlah wajahmu sampai memerah karena kedinginan," kini giliran Hansel yang menangkupkan tangannya di wajah Ara.


"Aku tidak kedinginan," sanggah Ara.


"Kau kedinginan sayang, dan sekarang tugasku untuk menghangatkan mu," goda Hansel, dan tanpa aba-aba mulai mengangkat tubuh Ara menuju kamar mereka.


Ara mulai terbiasa dengan perilaku Hansel yang begitu manis, bukannya melawan kini Ara justru bergelayut manja di leher Hansel.


"Entah apa yang akan terjadi diantara kita esok hari, tapi untuk malam ini biarkan aku menikmati kebahagiaan berada dalam pelukan hangatmu sekali lagi."


*


*


*


To be continued 🤗

__ADS_1


__ADS_2