Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 44.


__ADS_3

Roda pesawat mendarat dengan selamat kala itu, wanita hamil yang kini tengah berjalan di samping pria tampan bertubuh tinggi itu tampak bahagia karena ia bisa kembali ke rumahnya sebentar lagi, juga rasa tak sabar untuk segera bertemu dengan suami kecilnya, Hansel.


"Aku akan mengantarmu ke rumah orang tuamu untuk sementara," ucap Jay yang kini tengah duduk di samping Ara, keduanya tengah berada di dalam mobil dan baru saja keluar dari bandara.


"Kenapa? Ibuku akan khawatir jika aku datang tidak bersama dengan Hansel, lebih baik kau mengantarkan ku pulang," pinta ara merujuk pada kediamannya bersama Hansel.


Jay menghela nafas lelah, ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan mengenai perubahan sikap Hansel kepada Ara, "Baiklah, jika itu yang kau inginkan," akhirnya Jay menuruti keinginan Ara, mungkin lebih baik jika mereka bertemu dan membicarakannya secara langsung.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, akhirnya mereka tiba di rumah yang begitu Ara rindukan, senyuman tidak pernah hilang dari wajah cantik yang kini tengah mengelus perutnya.


"Kita pulang nak, kita akan segera bertemu ayahmu."


Sekali lagi Jay tidak bisa menimpali Ara, ia takut Ara akan kecewa saat mengetahui kebenarannya.


"Apa kau ingin aku menemanimu sampai Hansel pulang kerja?" ucap Jay seraya menengok jam yang melingkar ditangannya, "Kurasa dia sebentar lagi pulang," imbuhnya, sejujurnya Jay tidak ingin meninggalkan Ara sendirian.


"Tidak usah Jay, kau pasti juga lelah. Pulang dan beristirahatlah! Terimakasih banyak atas semuanya, " ucap Ara tulus.


"Kau yakin?"


Ara mengangguk dan tersenyum, "Pulanglah, aku akan menghubungimu jika terjadi sesuatu," yakin Ara.


"Baiklah, hubungi aku kapanpun."


Dengan berat hati akhirnya Jay meninggalkan kediaman Hansel dan Ara.


Ara disambut oleh beberapa pelayan yang sudah tidak asing lagi, "Selamat datang kembali Nyonya."


"Terimakasih. Tolong bawakan koperku ke kamar!"


Suasana hati Ara semakin membaik setelah selesai membersihkan diri, kini tubuhnya terasa lebih segar, rasa lelah dari penerbangan yang cukup lama perlahan mulai menguap seiring rasa bahagianya akan segera bertemu Hansel.


Tidak lama kemudian terdengar suara mobil hansel yang memasuki pekarangan depan, dengan penuh semangat Ara berlari kecil guna menyambut kedatangan Hansel.


"Hansel?" seru Ara seraya menghambur ke pelukan suaminya, "Aku sangat merindukanmu."


"Oh kau sudah sampai," jawab Hansel datar, bahkan tangannya sama sekali tidak membalas pelukan Ara.


Karena merasa canggung Ara perlahan melepaskan pelukannya, senyum Ara memudar kala netranya menangkap tatapan Hansel yang begitu dingin, sangat berbeda dengan pandangan Hansel dulu yang selalu hangat padanya.


Ara menunduk sedih, ia berharap mendapatkan pelukan penuh kerinduan dari sang suami tapi nyatanya ia hanya bisa menunduk menahan air mata.


"Istirahatlah! Kau pasti lelah!" tukas Hansel dan berlalu pergi meninggalkan Ara yang masih mematung.


Ara mengikuti langkah Hansel hingga ke kamar mereka, terdengar gemericik air yang menandakan jika Hansel sedang berada di kamar mandi, Ara mengambil inisiatif untuk menyiapkan piyama Hansel, kemudian dengan sabar menunggu.


Tubuh indah Hansel menyembul dari balik pintu kamar mandi rambutnya yang masih basah membuat pria itu semakin tampan dan mempesona, rahangnya yang maskulin nampak begitu sempurna.


Segera Hansel mengambil sweater dari lemari dan memakainya, dengan sedikit tergesa ia mengeringkan rambut menggunakan handuk, bukannya mengenakan piyama yang disediakan oleh sang istri, Hansel justru memilih mengunakan pakaian santai.


"Kau mau kemana? " Tanya Ara yang menghentikan langkah Hansel.


"Aku masih ada urusan, tidak perlu menungguku, istirahatlah! "


"Tapi,... "

__ADS_1


Tanpa menunggu ara menyelesaikan kalimatnya, dengan tega hansel berlaku pergi, ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Dia merasa bahagia dan marah di saat yang bersamaan, dan hansel sangat buruk dalam mengendalikan emosinya jika sudah menyangkut Ara, mungkin ini sudah saatnya untuk berbagi kisahnya dengan seseorang yang bisa dia percayai.


Mobil berwarna putih milik hansel melesat membelah jalanan malam yang masih ramai. Tidak perlu waktu lama kini ia telah sampai di depan apartemen milik teman baiknya Morgan.


"Hansel? Sebuah kejutan besar, untuk apa kau kemari sementara istri tercintamu baru saja kembali, ku pikir kalian akan berbulan madu, " cerocos morgan yang selalu seperti kenalpot motor balap.


"Aku ingin meminta saranmu, ayo masuk dulu! " ucap Hansel tokemudian masuk tanpa perlu dipersilahkan.


Suara Hansel mendesis saat ia melihat jay yang tengah duduk santai di sana.


"Jay? Sedang apa kau disini?" wajah Hansel berubah masam.


"Seharusnya aku yang mengajukan pertanyaan tersebut," saut Jay tak kalah sengit.


Menyadari pandangan kedua sahabatnya yang dingin, Morgan memilih menengahi ketegangan antara keduanya, "Hei...hei...hei, ada apa dengan kalian berdua bro?"


"Bukan apa-apa Morgan, aku hanya sedikit muak dengan seseorang yang menelantarkan istrinya bersama pria lain tanpa alasan yang jelas," cibir Jay.


Hansel yang tersulut emosi mencengkeram kerah Jay dengan amarah, "Jaga ucapanmu!" ancam Hansel.


Jay hanya menyeringai, "Pengecut."


"Woo...woo...woo, tenang, santai bro !" Morgan mencegah pertarungan yang bisa pecah kapan saja.


Dengan kesal Hansel mendorong tubuh Jay menjauh, ia berusaha mengendalikan emosinya.


"Duduk dan bicarakan masalah kalian baik-baik! Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian berdua, tapi kuharap itu bukanlah hal serius," ujar Morgan.


"Aku kemari karena memerlukan saranmu, tapi aku tidak menyangka jika ada Dia disini," Hansel melirik Jay dengan sinis.


"Berhenti bersikap kekanakan Hansel, ini tidak seperti dirimu!" timpal Morgan serius.


"Bukan aku yang seharusnya menerima kata maaf darimu," Jay masih enggan menatap Hansel.


"Kau tidak mengerti Jay," Hansel menggeleng lelah.


"Apa yang harus aku mengerti? Apa menelantarkan Ara adalah sesuatu yang harus ku mengerti?"


"Sebentar Jay, mari kita dengarkan penjelasan Hansel terlebih dahulu. Kita berdua sama-sama mengetahui betapa besar Hansel mencintai Ara, tidak mungkin dia melakukan hal semacam ini tanpa alasan," Morgan berusaha menenangkan keadaan.


"Baiklah, jelaskan! Kuharap kau punya alasan untuk ini," ucap Jay.


Udara ruangan bernuansa putih itu tampak memanas akibat tatapan amarah dari Jay, pria tampan bertato itu masih belum terima dengan perlakuan sahabatnya kepada Ara belakangan ini.


"Sebenarnya aku merasa malu pada Ara?" mulai Hansel sedih.


"Kalau aku jadi dirimu aku pun akan malu pada diriku sendiri," lagi-lagi Jay mencibir.


"Stop Jay ! Biarkan dia menyelesaikan ceritanya," tegas Morgan kesal.


Jay hanya memalingkan wajahnya.


"Lanjutkan Hansel! Aku tidak akan memihak salah satu diantara kalian."


"Aku takut bayi dalam kandungan Ara bukanlah anakku," jujur Hansel.

__ADS_1


"Apa?" emosi Jay semakin meledak mendengar alasan yang diberikan oleh sahabatnya itu, "Kau tidak mempercayai istrimu sendiri? Lelaki macam apa kau ini?"


"Kau tidak akan mengerti," ulang Hansel.


"Ya, aku memang tidak mengerti lagi dengan jalan pikiranmu, kau mengabaikan istrimu yang sedang hamil di luar negeri bersama pria asing hanya karena kau tidak percaya jika bayi dalam kandungannya adalah anakmu?" Amarah Jay kini benar-benar meledak.


"Tenanglah Jay," Morgan berusaha menarik Jay yang sudah berdiri menjulang di hadapan Hansel yang tertunduk malu.


"Biar aku jelaskan padamu Hansel Nathanael Anderson, Ara sangat khawatir dan ketakutan dengan kehamilannya karena hal ini, ia takut kau tidak mau mengakui anak itu sebagai anakmu. Apa kau mengerti betapa takutnya Ara?" Jay menggeleng, giginya tertutup rapat menahan emosi.


"Jika kau mencintainya kau tidak akan pernah mempertanyakan hal semacam ini!" lanjutnya.


"Aku melihatnya Jay, aku melihat semuanya," teriak Hansel tak kalah emosi kini keduanya sudah saling berhadapan.


"Apa yang kau lihat? Apa?"


"Aku menerima video dari seseorang yang memperlihatkan bagaimana Ara ku ditiduri oleh pria lain, aku melihatnya dan mendengar suara Ara yang meminta tolong dan memanggil namaku, tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuknya, aku hanya bisa melihat Ara ku yang kesakitan, aku hanya...," suara Hansel menghilang berganti dengan air mata.


"Apa?" ujar Morgan dan Jay bersamaan.


Jay memang sudah tahu jika Ara mengalami hal semacam itu, tapi ia tidak tahu jika Hansel mendapatkan sebuah video yang berisi adegan panas istrinya dengan pria lain, Johan tepatnya.


"Ketika aku melihat video itu, hanya amarah yang ada dalam diriku, aku datang menghajar pria brengsek yang sudah berani menyentuh Ara ku hingga ia hampir tewas. Namun aku mengetahui jika dalang dibalik kejadian tersebut adalah keluargaku sendiri, dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk Ara."


"Keluargamu?" tanya Morgan.


"Daddy ku dan Vanessa dalang dari penculikan hari itu," lanjut Hansel.


Hening, Ketiganya diam tanpa ada satupun yang menjawab. Lama mereka hanya mematung.


"Aku memang sudah menduga jika keluargamu terlibat dalam penculikan Ara, tapi aku tidak menyangka jika Daddy mu yang memberikan perintah untuk melakukan hal sekeji itu kepada Ara," ucap Jay pelan.


"Kurasa itu rencana Vanessa, Daddy tidak akan bertindak sejauh itu, pak tua itu hanya akan menyembunyikan Ara untuk mengancam ku saja. Sementara Vanessa benar-benar ingin menghancurkan Ara," jelas Hansel geram.


"Tapi itu tidak lantas membuat tindakanmu mengabaikan Ara menjadi benar Hansel, biar bagaimanapun Ara korbannya disini,"tutur Morgan bijak.


"Kau benar, apapun yang terjadi Ara adalah korban, tidak seharusnya kau mengabaikannya," sambung Jay.


"Aku hanya merasa malu saat melihat Ara, aku merasa tidak berguna sebagai seorang suami, aku merasa tidak pantas," jelas Hansel.


"Hei, apa kau sudah gila? Dengan kau mengabaikan Ara kau justru semakin melukai nya," ucap Jay.


"Lantas aku harus bagaimana? Aku takut saat Bayi itu lahir dan ternyata aku bukanlah ayah biologisnya, hal itu akan membuat Ara pergi meninggalkanku," ujar Hansel dengan bodohnya.


"Kau bod*h Hansel, dengan huruf B yang sangat besar. Mana mungkin Ara akan meninggalkan mu karena hal semacam itu. Ara korbannya bod*h, dia tidak bisa melawan, dia terpaksa, kau mengerti?" Morgan ikut kesal dengan sikap temannya.


"Tapi aku tidak bisa membela Ara, aku tidak bisa menyakiti keluargaku, atau membunuh mereka yang terlibat, bahkan aku tidak bisa membawa pria brengs*k itu ke jalur hukum."


Morgan mengangguk mengerti karena keterlibatan keluarga Anderson membuat Hansel tidak bisa mengambil tindakan apapun untuk membela Ara.


"Tapi kau bisa membantu Ara untuk bahagia," ujar Jay serius, "Mungkin kau tidak bisa merubah hal yang telah terjadi, tapi kau bisa menutupinya dengan kenangan baru yang lebih indah, jangan hanya terpaku pada satu masalah, buatlah kenangan bahagia bersama mulai saat ini, itu tanggung jawabmu untuk menghapus semua luka dan air mata Ara. Dia wanita hebat tidak seharusnya kau menyia-nyiakan Ara," lanjutnya.


"Jay benar Hansel, lupakan yang telah terjadi! Biarkan waktu yang menutup semuanya dan tugasmu adalah memastikan kebahagian Ara, dan jangan pernah ungkit ayah dari bayi dalam kandungan Ara, jika Ara adalah ibunya maka kau adalah ayahnya, tidak perlu memikirkan hal lain." pungkas Morgan.


Hansel menghela nafas panjang, beban dipundaknya sedikit berkurang.

__ADS_1


To be continued 🤗.


Thanks 🥰.


__ADS_2