Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 18


__ADS_3

Tiga hari berlalu dengan begitu saja, Ara masih terlihat murung, ia seperti tidak memiliki tenaga untuk sekedar tersenyum. Ia bahkan hampir tidak pernah makan, ia hanya akan makan saat kepala pelayan yang sudah cukup berumur itu terus menerus membujuknya, sehingga membuat Ara risih dan terpaksa mengambil beberapa suap makanan dari piringnya, selebihnya Ara hanya akan duduk di balkon kamarnya menerawang jauh langit cakrawala, seakan mencari tempat di dunia ini yang bisa membuatnya merasa tenang dan damai. Namun pada kenyataannya tempat seperti itu tidaklah ada dalam kehidupan Ara.


Rasa sakit di sekujur tubuhnya mungkin sudah menghilang, tetapi hatinya masih begitu sakit, ia tidak benci melakukannya dengan Hansel yang ia sesali adalah kenapa Hansel harus melakukannya dengan sekasar itu, membuat Ara benar-benar merasa seperti sebuah mainan yang sama sekali tidak berharga.


Dalam tiga hari ini, semua pesan dan panggilan hanya berasal dari Gisel dan Johan. Mereka terus menerus menanyakan keadaan Ara, sepertinya mereka takut jika sampai Hansel akan membunuh Ara di sebuah hutan dan meninggalkan tubuh Ara di makan binatang buas.


Ara hanya bisa beralasan bahwa dirinya sedang sakit, toh itu juga tidak sepenuhnya kebohongan, bahkan rasa sakit di hatinya itu tidak kunjung berkurang.


Sang mentari mulai bersinar redup, berpamitan untuk menuju peraduannya, setelah dua hari berturut-turut diguyur hujan yang tiada henti. Dan kini giliran sang rembulan yang akan menyapa Ara yang masih saja enggan untuk berlalu dari tempatnya.


Udara dingin yang memaksa Ara untuk bangkit dari kursinya, mengusap lengannya dengan cepat untuk sedikit mengusir rasa dingin yang semakin menusuk.


Ara segera mengganti pakaiannya dengan piyama, bersiap untuk sekedar merebahkan tubuhnya, entah nantinya ia akan terlelap atau tidak, ia tidak tahu. Selepas kejadian itu, Ara sering mengalami mimpi buruk, sesaat setelah matanya terpejam, bayangan akan sikap kasar Hansel terus menghantuinya dan kerap membuatnya terjaga sepanjang malam.


***

__ADS_1


Sementara itu, Hansel yang baru pulang dari luar kota, dengan langkah panjang langsung berjalan menuju kamar Ara, mengabaikan para pelayan dan penjaga yang membungkuk hormat padanya. Tiga hari ini sudah seperti neraka bagi Hansel, tidak ada satu detikpun yang berlalu tanpa memikirkan istrinya yang cantik itu. Hansel ingin segera meminta maaf dan kembali memperbaiki hubungan diantara mereka, ia tidak tahu apakah Ara akan mau menerima permintaan maaf darinya, yang ia tahu ia tidak ingin selamanya perang dingin dengan istrinya. Terlebih jika sampai Ara akan membenci dirinya, Hansel bisa gila jika sampai hal itu terjadi.


Selama ini Hansel selalu mendapat laporan dari Bu Sari mengenai keadaan istrinya yang kian hari semakin murung. Hatinya merasa sakit hanya dengan membayangkannya saja. Tapi apalah daya, Hansel harus menghadiri pertemuan penting itu, saat ini ia masihlah wakil direktur di Anderson company, posisi tertinggi masih dipegang oleh Daddy nya mengingat usia Hansel yang terbilang masih sangat muda, sehingga Tuan Robert Anderson masih menahan posisi itu ditangannya, tapi Hansel adalah putra satu-satunya keluarga Anderson, dia memiliki sembilan puluh persen potensi untuk menduduki kursi seorang CEO di Anderson company, dan yang sepuluh persen adalah gangguan dari bibinya yang berusaha untuk menyingkirkan Hansel dari posisinya.


Hansel berulang kali menarik nafas dalam sebelum meletakkan tangannya di kenop pintu kamar Ara, kemungkinan besar istrinya itu sudah terlelap mengingat waktu yang menunjukkan lewat tengah malam. Hansel rela melakukan perjalanan di tengah malam karena rasa rindunya yang teramat besar kepada istrinya.


Perlahan Hansel membuka pintu kamar Ara. Seperti biasa Ara tidak pernah mematikan semua lampu, ia selalu tidur dengan lampu yang menyinari setiap sudut ruangan. Sudut bibir Hansel terangkat ketika netranya menangkap pemandangan istrinya yang sedang tertidur di balik selimut. Hansel mulai berjalan lebih dekat, mengamati wajah Ara yang tertidur pulas. Dengan sedikit keberanian Hansel mengecup kening Ara dengan lembut, menyadap aroma vanilli dari tubuh Ara.


Hansel berlama-lama memandangi garis wajah Ara, rasa lelah dan kantuknya menguap di udara saat ia bisa memandang wajah Ara yang selalu tersimpan erat dalam hatinya. Tiba-tiba saja alis Ara saling bertaut dahinya berkerut, tidur nyenyak itu mulai terusik. Meskipun mata Ara masih terpejam, namun dahi Ara mulai berkeringat, wajahnya dipenuhi dengan ketakutan, bibir mungil Ara bergerak-gerak seakan ingin mengatakan sesuatu. Membuat Hansel kebingungan menyaksikan kondisi istrinya saat ini.


Hansel dengan lembut mengelus pipi Ara, membisikkan kata-kata menenangkan didekat telinga Ara, " Shhht, tidak apa-apa, aku disini, jangan takut, tenanglah, semua akan baik-baik saja. Ara aku mencintaimu, hanya ada kamu," ucap Hansel seraya terus mengusap lembut pipi Ara.


Perlahan wajah Ara kembali tenang, kembali masuk kedalam tidurnya yang nyaman, namun sebelum Hansel pergi telinganya menangkap sedikit suara gumaman dari bibir sang istri, "Aku bukan mainan ,jangan buang aku," suara Ara terdengar lirih.


Tubuh Hansel seakan membeku mendengarnya, kini pikirannya kembali mengingat malam dimana dirinya dan Ara mengunjungi rumah Mommy nya, jika ia ingat-ingat kembali sikap Ara menjadi dingin kepada dirinya setelah mereka pulang dari sana. Kini berbagai spekulasi muncul dalam kepalanya.

__ADS_1


Apa ini semua saling berhubungan? Apa Mommy mengatakan hal buruk pada Ara? Atau Ara merasa cemburu dengan Vanessa? Atau ada hal lain yang mengganggu Ara?


Hansel berencana mencari tahu tentang apa penyebab perubahan sikap Ara pagi itu, yang pada akhirnya membuat situasi yang tidak terkontrol antara dirinya dan Ara. Setelah sekali lagi memberikan kecupan lembut di kening Ara, barulah Hansel berlalu meninggalkan kamar yang seharusnya mereka tempati bersama itu.


***


Keesokkan harinya, Ara masih malas untuk sekedar beranjak dari kasurnya yang empuk, meskipun sepertinya mentari pagi sudah mulai mengintip dari celah-celah jendela kaca yang kordennya sedikit tersibak. Ini adalah hari Minggu, dan dia sudah meminta izin kepada Johan, bahwa dia mungkin baru masuk hari Senin besok. Entah kenapa Johan sekarang menjadi jauh lebih baik dalam memperlakukan Ara, dulu Ara bahkan jarang sekali untuk bisa mengambil cuti barang sehari atau dua hari, tapi kini Ara sudah absen selama empat hari, namun Johan tetap mengizinkannya dan sama sekali tidak memarahi ataupun mengancam akan memotong gajinya seperti yang dulu sering dilakukannya di masa lalu, sepertinya Johan takut jika sampai Ara benar-benar mengundurkan diri dari perusahaannya.


Suara ketukan di pintu membuat Ara mau tidak mau untuk bangun dari rebahannya, Ara sebenarnya ingin membunuh waktu hanya dengan bergulingan diatas kasur saja hari ini, tapi sepertinya kondisi tidak memungkinkan hal itu.


Dengan langkah gontai Ara membuka pintu kamarnya, matanya membulat saat ia melihat seseorang berdiri dengan satu buket besar bunga menutupi wajahnya. Dan ketika bunga itu di turunkan, menampilkan wajah sempurna Hansel dibaliknya. Sejenak Ara tertegun kemudian secara refleks kaki Ara melangkah mundur menjauhi Hansel, ketakutan tercetak jelas di wajah Ara.


Hansel segera menahan Ara yang berusaha untuk menutup kembali pintu kamarnya, sehingga terjadilah saling mendorong untuk memperebutkan pintu tersebut. Sebenarnya akan mudah bagi Hansel untuk sekedar mendorong pintu itu hingga terbuka, namun dia memilih untuk mengalah, membiarkan Ara mendorong pintu itu hingga hampir tertutup , namun sebelum pintu itu tertutup sempurna Hansel dengan sengaja meletakkan telapak tangannya disana, membuat tangan yang sebelumnya sudah terluka oleh cermin itu terjepit oleh pintu, membuat Hansel berteriak kesakitan, "Argh, " teriaknya.


TBC 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2