
Rintik hujan mulai mencium bumi, menyebarkan aroma basah dan suasana dingin menusuk kalbu. Wanita yang adalah istri sah dari seorang Hansel Nathanael Anderson, tangah termenung menerawang jauh menembus gelapnya malam, ditemani suara rintik hujan yang menenangkan. Ara, sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Ia teringat pertemuannya dengan sang ibu mertua yang baru saja terjadi.
Selepas kepergian Hansel, ia mendapati nyonya Margaret tengah menunggunya dan ingin berbicara secara pribadi, tentu saja Ara tidak berani untuk menolak permintaan ibu mertuanya itu. Ara bergegas meninggalkan rumah untuk menemui sang nyonya besar, di kediaman Anderson, begitu panggilan berisikan perintah itu berakhir.
Ara di sambut dingin oleh sang mertua, seperti biasa. Semenjak pernikahannya dengan Hansel, sikap nyonya Margaret berubah kepadanya, padahal dulu wanita yang menolak untuk tua itu begitu baik dan tidak pernah memandang rendah kepada Ara dan ibunya. Namun kini nyonya Margaret begitu tidak menyukai Ara, bahkan menganggap Ara adalah hama yang harus segera disingkirkan dari keluarga Anderson, terutama dari Hansel.
"Langsung saja Ara, kau tau jika pernikahan kalian tidak boleh diketahui oleh publik luas, dan sebentar lagi Anderson Grup akan mengadakan pesta peresmian hotel terbaru kami. Jadi kurasa kau tahu apa yang harus kau lakukan," ucap nyonya Margaret dengan penuh penekanan.
Kini Ara bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi pemeran utama wanita yang miskin dan lemah, yang sering terlihat di layar kaca.
Mungkin sebentar lagi, ia akan menyodorkan padaku koper penuh dengan uang, agar mau meninggalkan putra semata wayangnya itu, heh. Batin Ara tersenyum jijik.
"Jadi Nyonya ingin saya bagaimana?" jawab Ara sopan dan tenang.
"Aku hanya ingin rahasia tentang pernikahan mu tidak diketahui oleh publik, jadi alangkah baiknya jika kau bisa membiarkan Hansel membawa Vanessa sebagai pasangannya dalam pesta tersebut, kau bisa menolak jika Hansel mengajakmu," ucapnya tanpa basa-basi.
Tangan Ara tergenggam erat, ia begitu geram mendapati permintaan dari sang mertua, "Kenapa nyonya tidak bicara secara langsung kepada suami saya saja, itu akan lebih mudah," jawab Ara dengan berani.
Tampak nyonya Margaret menghela nafas panjang, "Dengar Ara! sampai kapanpun, kau tidak akan pernah bisa masuk dalam keluarga Anderson, jadi buang jauh-jauh angan-angan kosong yang ada dalam benakmu itu, karna hal tersebut tidak akan pernah terjadi."
"Saya,--"
__ADS_1
"Aku belum selesai bicara," sang mertua memotong ucapan apapun yang hendak keluar dari bibir Ara, "Kau harusnya sudah paham dimana posisimu Ara, jangan serakah, aku akan memberikan kompensasi yang sepadan saat kalian berdua bercerai, tapi jangan usik hidup Hansel, dia harus membawa nama besar keluarga Anderson, dia harus bersaing dengan pamannya yang dengan senang hati akan menggulingkan Hansel dari posisinya saat ini, begitu ia mengetahui perihal pernikahan kalian, mengingat keluargamu tidak bisa menjadi penyokong bagi Hansel." Nyonya Margaret berkata dengan telak.
"Aku tahu kau tidak mencintai putraku, jadi kuharap, kau bisa menjaga dirimu, jangan sampai kau terbuai oleh Hansel, karena akhir dari kisah kalian sudah digariskan tidak dapat bersama. Aku mengingatkanmu agar kau juga tidak terluka. Daddy Hansel memiliki penyakit jantung, jika sampai posisi Presdir Anderson grup diambil oleh paman keduanya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana terpukulnya suamiku," lanjutnya.
"Jadi, kau harus bisa meyakinkan Hansel untuk mengajak Vanessa sebagai pasangannya di depan publik untuk menguatkan posisinya, kau paham?" pungkas nyonya Margaret.
Ara memejamkan mata, menahan rasa menusuk yang tanpa ia sadari menerobos hati kecilnya, "Saya akan melakukan semampu saya, tapi keputusan terakhir ada di tangan putra anda Nyonya. Jika, Hansel menolak untuk pergi dengan Vanessa maka itu bukan salah saya. Kalau tidak ada hal lainnya saya permisi," pamit Ara menahan ujung matanya yang mulai memanas.
***
->Rumah Morgan.
Hansel yang kesal menolak untuk bercerita apapun tentang masalahnya, selama Vanessa masih berada disana, dan yang lebih menyebalkan, gadis yang berprofesi sebagai model itu dengan keras kepala menolak untuk pergi, membuat suasana hati Hansel yang buruk semakin parah.
Entah botol ke berapa yang telah mereka habiskan, yang jelas kini Hansel tidak lagi dapat berpikir jernih, pikirannya yang kacau semakin bertambah rumit. Ia mulai bicara ngelantur, bergumam tentang Ara dan rasa cintanya, serta kecemburuannya terhadap Johan dan masalah perusahan dan paman keduanya. Semua beban yang semula berusaha disembunyikan oleh Hansel justru satu persatu mulai ia ucapkan dalam kondisi mabuknya. Morgan yang berada dalam kondisi tidak jauh berbeda hanya bisa menanggapi ocehan Hansel dengan ocehan lainnya yang lebih ngelantur, hingga keduanya tidak bisa lagi bicara dan tertidur di sofa dimana mereka duduk.
Namun, sayangnya tidak dengan gadis licik yang kini tengah menarik sudut bibirnya dengan senyum penuh kemenangan. Vanessa sama sekali tidak mabuk, karena dia sudah menduga hal ini akan terjadi, jadi sedari tadi ia hanya berpura-pura menemani Hansel dan Morgan minum, menunggu saat keduanya mulai mabuk dan tumbang. Senyuman Vanessa semakin melebar, ia benar-benar mendapatkan jackpot malam ini. Dengan gamblang ia bisa mendengar masalah yang membayangi rumah tangga Ara dan Hansel, kini telah tersusun rencana licik untuk membuat hubungan antara Hansel dan Ara semakin mengeruh.
***
Ditempat lain, Ara masih setia memandangi gelap malam bertemankan rintik hujan, ia menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya berharap gumpalan yang menyesakkan dadanya dapat berkurang. Ia belum tahu apakah dia sudah jatuh cinta kepada suami kecilnya itu, hanya saja menyembunyikan identitas mereka sebagai sepasang suami istri membuat ia merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Ara membawa langkah kaki kembali kedalam kamar, mengamati jam dinding yang sudah menunjukkan lewat tengah malam.
'Kenapa Hansel belum pulang?' Pikir Ara heran.
Ia meraih benda pipih di atas nakas dan memeriksa notifikasi, berharap ada pesan atau panggilan dari sang suami, tapi sepertinya Dewi keberuntungan tidak berpihak padanya. Kembali ia menggeser layar ponselnya, mencari nomor Hansel, guna melakukan panggilan.
Tut....tut.....Tut.....
Tidak ada jawaban, kembali ia menghubungi Hansel. Sampai panggilan ketiga ia tersenyum kala panggilannya tersambung. Namun, seketika senyuman itu pudar ketika bukan suara sang suami yang menyambutnya di ujung panggilan. Dunia Ara runtuh.
"Halo? Mbak Ara ya? maaf mbak, sebenarnya aku nggak mau ikut campur urusan rumah tangga kalian, tapi sepertinya Kak Hansel tidak bisa berbicara dengan mu malam ini, dan mungkin dia juga tidak akan pulang, maaf," suara Vanessa terdengar manis di telinga.
"Dimana Hansel, berikan ponsel itu padanya! Aku ingin mendengarnya langsung dari suamiku!" perintah Ara, dengan suara yang sedikit bergetar.
"Baiklah, biar aku coba bangunkan sebentar. Kak Hansel benar-benar lelah setelah kegiatan yang baru saja kami lakukan. Jangan salahkan aku jika dia marah ya mbak Ara," ucap Vanessa dibuat-buat.
Ara menyiapkan hatinya, untuk mendengar apapun perkataan Hansel.
"Kak Hansel, bangun bentar! ini ada telpon dari mbak Ara," terdengar suara vanessa disertai suara gemerisik di seberang sana.
Ara menajamkan pendengarannya, berusaha menangkap suara apapun yang dapat ia dengar, "Dasar hama jangan menggangguku, enyahlah!" suara makian Hansel berhasil membuat hati Ara remuk menjadi butiran debu.
__ADS_1
*Apakah benar, jika pernikahan kita tidak ada harapan di masa depan?.
TBC 🥰🙏 terimakasih 🙏*