
Tatapan Ara dan Hansel bertemu membuat suasana diantara keduanya menjadi canggung.
Hansel mengusap tengkuknya untuk menghilangkan rasa malu yang menyeruak di hatinya,rasanya seperti ada genderang yang sedang ditabuh oleh seseorang disana. Tapi ia juga tidak memungkiri rasa bahagia tatkala ia bisa menyentuh tubuh Ara tanpa perlawanan.
Hansel berdeham, "Apa kau butuh bantuan?" menatap Ara yang masih memegang hairdryer ditangannya.
"Ah, tidak. Ini sudah hampir selesai," Ara kembali mengarahkan hairdryer ke rambutnya yang semula terabaikan karena mengagumi ketampanan Hansel
"Kalau begitu aku akan meminta Bu Sari membawakan mu makan malam, " Hansel berlalu pergi sesaat setelah ia selesai mengenakan pakaiannya.
Ara kembali terdiam di depan cermin, hari ini ia menyadari bahwa dirinya tidak sekuat yang dirinya bayangkan, beberapa kalimat dari Nyonya Diana sudah bisa menghancurkan pertahanan dirinya, ditambah dengan cibiran rekan-rekan karjanya telah membuat Ara benar-benar ketakutan dengan semua opini mereka. Rasa malu dan ketidakberdayaan untuk sekedar membela diri membuat hati Ara terasa sesak.
"Tidak apa-apa Ara,semuanya akan baik-baik saja," Ara mengatakan hal tersebut kepada dirinya sendiri, kepalan tangannya memukul dadanya yang terasa sesak.
Tok...Tok.... Tok... Ketukan dari luar membuat Ara tersadar, dan beranjak untuk membukakan pintu kamarnya, karena Hansel seperti halnya kemarin, akan tidur di ruang kerjanya, sampai Ara bersedia menerima Hansel, begitulah kesepakatan diantara mereka.
Ternyata ketukan itu berasal dari Bu Sari yang datang bersama dengan dua orang pelayan yang membawa dua nampan besar berisikan berbagai macam makanan. Ara mempersilahkan mereka untuk masuk, namun hanya mengambil piring yang berisikan potongan buah segar dan segelas susu hangat yang dibawakan oleh mereka,dan meminta Bu Sari untuk membawa sisanya, mengatakan untuk membagikan makanan tersebut kepada para pelayan, karena sayang apa bila harus dibuang.
"Apa Hansel sudah makan? " tanya Ara kepada Bu Sari sebelum kepala pelayan itu menutup pintu kamarnya.
"Tuan Hansel akan makan sebentar lagi, kami sudah menyiapkan makanan untuknya," jawab Bu Sari sopan.
__ADS_1
"Oh, baiklah, terimakasih," Ara merasa bersalah, seharusnya itu adalah tugasnya, memastikan suaminya untuk makan dengan baik, tapi dia masih belum bisa menerima Hansel begitu saja.
Ara membawa piring buah dan segelas susu hangat itu ke balkon dan mulai menyantap buah-buahan segar tersebut seraya duduk di kursi santai yang terletak di balkon yang begitu luas itu, merasakan manisnya potongan semangka dan stroberi juga beberapa buah yang lain terasa menyegarkan mulutnya, terakhir sebelum menyisihkan piring buahnya Ara menenggak habis cairan berwarna putih itu hingga tandas.
Ara menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap langit malam yang gelap tak berbintang, sepertinya awan hitam sisa hujan siang tadi masih belum hilang, kemungkinan sang langit akan menangis lagi.
Setelah cukup lama Ara menatap langit malam dan kerlip lampu di kejauhan, ia mulai beranjak dari tempatnya, dan berjalan kembali memasuki kamarnya, berusaha memejamkan mata dan melupakan semua yang terjadi hari ini.
Cukup lama Ara berbaring, berguling ke kanan dan kiri, membolak-balik kan tubuhnya, berusaha mencari posisi ternyaman agar matanya bisa terlelap, namun setiap kali Ara memejamkan mata bayangan orang-orang yang mencibirnya dan wajah mencemooh mereka terus muncul dalam kepalanya.
Ara mendesah kesal dan bangkit dari atas ranjang, menengok jam yang tergantung diam di dinding, hampir tengah malam. Kini kaki jenjangnya melangkah keluar dari kamar tersebut, dia terbiasa berjalan dirumah tanpa alas kaki, meskipun dulu ayahnya sering memintanya untuk menggunakan sandal khusus yang biasa digunakan saat si dalam rumah namun Ara sama sekali tidak terbiasa dengan hal tersebut, kaki Ara membawa tubuhnya berhenti di depan pintu yang berada tepat di sebelah kamarnya, ruang kerja Hansel.
Pandangan Ara berkeliling mengamati sekitar, beberapa lampu sudah dimatikan oleh pelayan, hanya menyisakan beberapa lampu kecil yang sedikit memberi penerangan di rumah yang teramat besar itu. Ara tidak pernah mematikan lampu tidurnya di malam hari, karena Ara merasa sesak setiap kali dia berada di kegelapan, Ara takut gelap.
Kemudian Ara memberanikan diri mengetuk pelan pintu tersebut ,tetap saja sepi, belum ada sahutan dari dalam. Jadi ia mencoba memutar kenop pintu kamar tersebut dan ternyata tidak terkunci, sehingga Ara memberanikan diri untuk masuk. Ruangan itu tampak gelap, membuat Ara enggan untuk melanjutkan langkahnya, ia sudah merasa sesak dengan ruangan tersebut.
Sesaat sebelum Ara berbalik untuk keluar, tubuhnya justru ditarik oleh seseorang, yang sontak membuat Ara berteriak saking terkejutnya. Tubuh Ara terdorong ke dinding oleh seseorang yang membekap mulutnya.
"Ssttt, apa kau ingin membangunkan seluruh pelayan di rumah ini?" suara maskulin Hansel membuat Ara berhenti berteriak dan memberontak.
Ara menyingkirkan tangan Hansel dari mulutnya, "Kau yang membuatku berteriak, kenapa kau mengejutkanku seperti tadi? Aku hampir jantungan tau," omel Ara kesal, "Nyalakan lampunya!" titahnya kemudian.
__ADS_1
"Kamu sendiri yang salah , mengendap-endap seperti maling saja," bantah Hansel tak mau kalah, namun tetap melepaskan tubuh Ara dan berjalan untuk menekan saklar lampu, Hansel tahu tentang ketakutan Ara pada kegelapan.
Sedari dulu Ara memang tidak suka dengan gelap, bahkan saat masih menjadi pengasuh hansel dulu, pernah ada kejadian dimana lampu di desa tempat mereka tinggal padam saat terjadi hujan badai, ketika itu Ara hanya menangis tanpa mengeluarkan suara, sambil memegang erat kaki ranjang di kamar Hansel kecil. Ketika itu Hansel yang notabene memiliki pemikiran yang cerdas menyuruh seorang pelayan lain untuk memborong lilin yang ada di warung terdekat, dan menyalakannya di setiap sudut kamar Hansel. Menenangkan Ara sepanjang malam, rasa suka dan ingin melindungi Ara semakin lama tumbuh semakin besar dalam jiwa Hansel kecil dan tidak pernah surut meskipun orang tuanya berusaha membawa dia menjauh dari Ara.
"Mbak Ara masih takut gelap ya?" tanya Hansel begitu cahaya lampu berpendar menerangi ruang kerja yang telah di sulap menjadi kamar tidur tersebut.
"Bukan takut, tapi nggak suka aja," kilah Ara.
Hansel mendengus mendengar sanggahan Ara, sudut bibirnya terangkat menampakan senyuman secerah mentari pagi, "Terus dulu siapa yang nangis sambil pegang kaki ranjang, sambil terus manggil ibunya?" sindir Hansel.
Sontak ucapan Hansel membuat Ara kembali mengingat kejadian di masa lampau tersebut, dan sukses membuat wajah Ara memerah menahan malu, "Itukan dulu bocah, sekarang sudah nggak!" elak Ara lagi.
"Ya, iya, percaya, mbak Ara paling berani," lagi-lagi lidah Hansel belum terbiasa untuk menghilangkan kata mbak didepan nama Ara, "Ada apa kamu mengendap-endap kemari? Apa kau mau menyerangku saat aku tidur?" goda Hansel.
"Menyerang kepalamu !" sungut Ara memanyunkan bibirnya.
"Lantas?"
"Aku nggak bisa tidur, belum terbiasa sama rumah ini," tutur Ara kemudian.
"Mau bobok bareng Hansel nggak?" seringaian Hansel melebar.
__ADS_1
TBC🥰🥰🥰
Terimakasih banyak atas dukungannya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen, rate dan tekan tanda ❤️nya, vote setiap hari Senin ya. Dukungan kalian sangat berarti untuk ku 🙏🙏