Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 36


__ADS_3

Senja mungkin kelabu, angin pantai yang berhembus mungkin terlalu dingin bagi sebagian orang, tapi tidak bagi kedua insan yang tengah memadu kasih di tengah ranjang mewah itu, keduanya tampak bercucur keringat, entah sudah berapa lama mereka saling memuaskan satu sama lain, yang jelas kini Ara sudah tidak sanggup lagi mengimbangi suaminya.


"Aku lelah Hansel," berusaha menghentikan Hansel yang masih mencoba mencium lehernya.


"Sekali lagi sayang," rengek Hansel.


"Tidak, aku lelah dan lapar. Apa kau tega melihatku kelaparan," pinta Ara mengiba.


Hansel menghela nafas panjang, "Baiklah, mari kita makan malam dulu, aku tidak ingin kau sampai sakit," ungkapnya.


Segera setelah mereka membersihkan diri keduanya menuju dapur di lantai bawah.


"Kau mau mencoba masakanku?" tawar Hansel.


"Tidak terimakasih, aku masih ingin hidup," tolak Ara mengetahui dengan pasti bagaimana rasa masakan Hansel yang merupakan resep dari sebuah kehancuran.


"Kau yang rugi," Hansel mengerucutkan bibirnya kesal.


Ara tergelak melihat wajah imut Hansel.


Terlihat Ara mulai mencari bahan makanan yang tersedia di kulkas dan ternyata memang tidak terlalu banyak bahan makanan di sana, hanya ada selada, tomat dan telur, sementara di bagian atas ada daging dan sosis.


Hansel memang tidak meminta pengurus villa untuk menyambut mereka, sayur dan daging yang tidak banyak jumlahnya itu mungkin sisa dari para pelayan dan bodyguard. Ia meminta para pelayan hanya datang untuk membersihkan saja pagi ini, karena ia juga tidak bisa terlalu lama disini.


"Hanya ada ini," ucap Ara.


"Sudahlah lebih baik kita makan diluar saja!" usul Hansel.


"Tapi sekarang sedang hujan," menunjuk jendela yang menampilkan derasnya cucuran air hujan.


"Pesan saja!" putus Hansel, segera mengambil telepon dan menekan layanan pesan antar, "Kau mau apa?" tanya Hansel yang masih menunggu sambungan telepon.


"Apa saja."


Pada akhirnya mereka memutuskan untuk memesan pizza dan beberapa botol cola, tak lupa mereka membaginya dengan para pelayan dan penjaga.

__ADS_1


Hujan turun dengan lebatnya,diiringi suara Guntur dan petir yang membelah langit malam. Hansel merapatkan selimut di kaki Ara.


"Kau tidak ingin pindah ke kamar?" tanya Hansel mengamati wajah Ara yang nampak serius menatap layar TV.


Ara sedang serius melihat tayangan Drakor episode terbaru.


"Sebentar lagi," jawab Ara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.


Mereka menikmati beberapa potong pizza terakhir di ruang tengah, sofa yang hangat serta dekapan Hansel membuat dunia Ara terasa sempurna.


Dengan lembut Hansel membelai rambut Ara yang dengan manja bersandar padanya, Ia sangat bahagia menikmati setiap detik waktunya bersama sang pujaan hati.


"Aku ingin menghentikan waktu,' ucap Hansel tiba-tiba, membuat Ara menatapnya heran.


"Apa? Kenapa?"


"Yah, aku ingin mengentikan waktu. Agar aku bisa mendekapmu seperti saat ini untuk selamanya," Hansel berkata dengan suara lirih.


"Hei, ada apa? Apa ada masalah?" tanya Ara cemas, dengan lembut Ara menyentuh wajah Hansel, "Kau bisa menceritakannya padaku jika kau tidak keberatan," ucapnya kemudian.


Namun, Ara masih bisa melihat sudut mata Hansel yang berair, suami kecilnya kini sedang menahan air matanya.


"Aku bukan wanita bodoh Hansel, selama kau tidak bangkrut aku akan tetap berada di sisimu, apa aku bisa mendapatkan suami lain yang setampan dan sekaya dirimu," gurau Ara, berusaha membuat Hansel tertawa.


Hansel mendekap tubuh Ara dalam pelukan, "Aku tahu kau bukan wanita seperti itu Ara, tapi aku senang kau mengatakannya, jika suatu saat nanti aku berada di posisi yang sulit dan dapat membahayakan mu untuk tetap berada di sisiku, aku minta padamu agar saat itu terjadi kau harus meninggalkanku," ucapan yang tak pernah Ara duga keluar dari bibir sang suami.


Sekuat tenaga Ara harus menahan air matanya, ia sangat yakin jika pria yang kini memeluknya erat tidak sedang bergurau, dan setiap perkataannya membuat Ara takut. Ia takut jika suatu saat nanti jurang pemisah diantara mereka berhasil memisahkan mereka atau bahkan mungkin menyeret mereka terjatuh hingga ke dasar tanpa bisa keluar lagi.


Malam berhujan kala itu menjadi saksi jika dalam hati Ara, nama Hansel telah terukir di dalamnya tanpa ia sadari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kau yakin tidak mau kembali bersamaku?" tanya Hansel untuk yang ke sekian kalinya.


Ara masih sibuk merias wajahnya dengan riasan tipis yang menambah kesan anggun di wajah ayunya, "Hmmm, akan merepotkan jika sampai ada paparazi yang mengambil gambar kita berdua di bandara. Aku tidak mau berurusan dengan para penggemar Vanesha yang pastinya akan menghujatku luar dalam," jelas Ara santai.

__ADS_1


"Huhhh, ini menyebalkan. Kenapa aku bahkan tidak bisa berjalan di samping istriku sendiri," teriak Hansel frustasi.


"Tidak apa-apa Hansel, kita tetap satu penerbangan bukan?"


"Iya, ambilah kursi first class agar aku bisa melihat mu dengan jelas," bujuk Hansel.


"Mana bisa sayang, yang ada semua orang akan menatap curiga padaku, tidak apa-apa, kita akan bersama lagi begitu sampai di rumah," Ara berusaha menenangkan suaminya yang seperti bocah merajuk karena tidak ingin berpisah dengan ibunya.


"Ini semua karena Pak tua itu, aku masih ingin berlibur disini bersamamu," rengeknya lagi.


"Sudah-sudah, sebaiknya kita berangkat ke bandara sekarang, atau kita akan tertinggal penerbangan kita."


Keduanya berangkat secara terpisah, Ara tidak ingin ada rumor yang beredar mengenai mereka diluar sana, sudah cukup baginya dihujat oleh rekan-rekannya di perusahaan akibat skandal pertunangannya dengan Johan yang batal, ia tidak membutuhkan lebih banyak hujatan.


Semua berjalan lancar sesuai rencana. Mereka sampai di kediaman Hansel dengan selamat, Bu sari dan para pelayan menyambut kedatangan keduanya.


"Masuklah dulu, aku akan menghubungi atasanku untuk meminta izin," ujar Ara mengambil ponsel dalam tas dan mencari kontak Johan.


"Kapan kau akan berhenti dari perusahaan itu? Aku sudah tidak tahan melihat kau begitu dekat dengan mantan tunanganmu yang menyebalkan dan sok ganteng itu," cerocos Hansel kesal, membuat Bu Sari ingin tertawa melihat kekonyolan sikap Hansel yang seperti anak-anak.


"Iya-iya, aku akan segera berhenti, proyek Galeri seni milik Tuan Jay adalah tugas terakhirku disana, jangan rewel,Masuklah dan beristirahat," pinta Ara lembut.


"Tidak, aku ingin mendengar pembicaraan kalian," ucap Hansel menempelkan telinganya di ponsel Ara, dengan mesra memeluk tubuh Ara dari belakang, menyandarkan kepalanya pada bahu Ara, dengan tenang mendengarkan percakapan yang kini tengah dimulai oleh Ara.


Piip...pipp... "Halo? Ara? Astaga, Kau membuatku ketakutan setengah mati, bagaimana bisa kau tidak memberiku kabar dari kemarin, sekarang kau ada di mana? Apa kau baik-baik saja?" Suara Johan terdengar dengan jelas jejak kecemasan disana, membuat Hansel mengeratkan pelukannya semakin kuat.


"Aku baik-baik saja Mas, aku baru sampai di rumah, karena kemarin aku ada urusan mendadak, jadi bisakah hari ini aku tidak masuk bekerja? Aku sangat lelah," pinta Ara.


"Baiklah, istirahatlah yang cukup, jangan lupa makan dan minum vitamin juga, jangan sampai kau sakit," Johan memberi nasehat.


Hansel yang memiliki kesabaran setipis tisu mengambil ponsel Ara, "Semua itu adalah tugasku, jadi kau tidak perlu repot-repot menasehati istri orang lain, urus saja urusanmu sendiri!" Hansel mengakhiri panggilan tersebut dan mengembalikan ponsel Ara tanpa rasa bersalah.


"Sudah puas? Sekarang masuk!" perintah Ara tegas. Dengan patuh Hansel berjalan memasuki rumah.


To be continued 🤗

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2