Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 35


__ADS_3

"CK, Diamlah! Aku punya kejutan untukmu," ucap Jay menyeringai.


"Kejutan? Apa maksud anda tuan? Saya tidak suka teka-teki, jadi katakan yang sebenarnya atau saya akan berhenti bersikap sopan kepada anda," ancam Ara kesal.


"Oh, silahkan. Aku sama sekali tidak peduli dengan kesopanan," acuh Jay.


Ara mengambil nafas panjang, "Baiklah, jika itu mau mu. Aku ingin mobil ini berhenti sekarang juga!" perintah Ara tegas.


"Lupakan soal menghentikan mobilnya, kau akan berterimakasih padaku nantinya."


"Persetan dengan terimakasih, aku lelah dan ingin segera beristirahat jadi hentikan semua omong kosong ini, aku hanya ingin kembali pulang!" ucap Ara penuh emosi.


"Berbicaralah semaumu, aku tidak keberatan mendengarnya."


"Berhenti sekarang atau aku akan berteriak!" Ancam Ara sekali lagi.


Jay hanya tersenyum malas menanggapi ancaman Ara.


Dengan cepat Ara menekan tombol untuk membuka jendela, kemudian mulai berteriak meminta tolong, "Tolong! siapapun tolong aku! aku diculik!" teriak Ara sekuat tenaga, benar saja beberapa orang di jalan mulai memperhatikan mobil mereka, bahkan ada beberapa mobil yang dengan sengaja menekan klakson memberi peringatan.


"Sialan," Dengan kesal Jay menarik tangan Ara dan menahannya, "Apa yang kau lakukan?" Jay membekap mulut Ara agar wanita itu berhenti berteriak.


"Agrhhh..." Dengan cepat Jay menarik tangannya saat Ara menggigitnya dengan sekuat tenaga, "Astaga wanita gila darimana kau ini sebenarnya?" gerutu Jay seraya melihat tangannya yang kini memiliki cap gigi Ara yang sempurna.


Jay kembali menutup jendela mobil.


"Dengar baik-baik suamimu yang meminta ku membawamu kepadanya, jadi kau tidak perlu berteriak, aku tidak tertarik menculik wanita berisik sepertimu, kau bukan tipeku," ujar Jay kemudian.


"Suamiku, apa maksudmu?" tanya Ara bingung.


"Tuan Hansel Nathanael Anderson yang terhormat yang telah memerintahkan saya untuk menjemput tuan putri, saat ini beliau sedang menunggu di suatu tempat," gurau Jay.


"Hansel? Kau mengenalnya?"


"Kami berteman, dan aku masih mempertanyakan keputusan ku untuk menjadi temannya, dia adalah orang paling egois dan menyebalkan di seluruh muka bumi," gerutu Jay kesal.


"Yah, kau benar untuk yang terakhir kita sepakat," ujar Ara menyetujui.


"Biar aku perjelas tentang ini, bagaimana caramu menjerat Hansel hingga begitu dalam, ia bahkan tidak pernah melirik gadis lain saat kami kuliah dulu, apa yang sudah kau lakukan padanya," mata berwarna keemasan itu menyipit penuh selidik.


"Aku tidak melakukan apapun padanya, dan kurasa semua itu karena ada kelainan di otaknya," timpal Ara.


"Hahaha... Kau benar tentang itu, jadi apa kau juga mencintainya?" tanya Jay serius.


Ara membisu tidak ingin memberi jawaban apapun untuk pertanyaan Jay kali ini.

__ADS_1


"Kita akan kemana?" Ara berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Ada sebuah villa di pinggir kota, aku diberi tugas untuk membawamu kesana, seharusnya dia bisa membawa mu sendiri setelah dari restoran tadi, dia juga ada di sana," oceh jay.


"Dia ada di restoran yang sama dengan kita sebelumnya?" Ara sedikit terkejut, kemudian ia teringat kembali percakapan wanita yang ia temui saat di toilet.


Pantas saja. Pikir Ara.


"Iya,dia sudah mengikutimu seharian, bagiamana kau tidak menyadarinya," cibir Jay.


"Sudahlah, kalian sama saja," kesal Ara.


Beberapa saat kemudian mereka memasuki pekarangan sebuah Villa yang indah, letaknya tidak terlalu jauh dari Laut, pesisir pasir putih nampak indah sejauh mata memandang, juga pepohonan yang rindang tumbuh mengelilingi villa bernuansa putih di hadapan Ara.


Senyuman Hansel menyambut kedatangan mereka, segera ia memeluk tubuh Ara bahkan sebelum kedua kaki mungil Ara benar-benar menyentuh tanah.


"Aku merindukanmu," satu ciuman mendarat dibibir Ara.


"Ehem, masih ada penonton disini," protes Jay.


Hansel melepaskan pangutannya di bibir Ara, dengan kesal berbalik menghadap Jay, "Oh, terimakasih sudah mengantar istriku, sekarang kau bisa pergi," usir Hansel.


"Bocah sialan, aku sudah berbaik hati membantumu, kau malah mengusirku begitu saja, dasar menyebalkan," gerutu Jay, "Apa kau tahu dia, istrimu ini menciumku sangat kuat bahkan bekasnya belum hilang dan kau sudah mau mengusirku??" Teriak Jay.


"Menciummu?" teriak Hansel tidak percaya, "Kenapa istriku menciummu?" Hansel semakin tidak terima.


"Kenapa kau menggigitnya??" giliran Ara yang mendapatkan pelototan mata dari Hansel, "Kau hanya boleh menggigitku," serunya kesal.


"Siapa suruh pake acara culik-culikan segala, kan Ara panik," kilah Ara.


"Bisakah aku mendapatkan minuman? Aku kehausan disini," protes Jay.


"Minum sana air laut," timpal Hansel.


Ketiganya memasuki villa untuk berbincang sejenak seraya menyegarkan mulut mereka dengan minuman.


"Sepertinya akan turun hujan," ujar Ara melihat langit kelabu dari kaca jendela.


"Hmmm, Sepertinya begitu," jawab Jay menyesap Tah yang di suguhkan.


"Jadi lebih baik kau segera pulang, sebelum hujan turun," perintah Hansel untuk yang kesekian kalinya.


"Astaga, oke, oke, aku pulang, kau selalu saja hanya memikirkan kesenanganmu sendiri," gerutu Jay meninggalkan dua pasangan bodoh yang sedang kasmaran tersebut.


"Terimakasih tuan Jay," ucap Ara dengan tulus yang di jawab dengan lambaian tangan oleh Jay.

__ADS_1


Akhirnya kini Ara dan Hansel hanya berdua saja di ruangan itu, Hansel dengan bersemangat mulai menyusupkan wajahnya di leher Ara, "Aku senang kita bisa berdua saja pada akhirnya," ucap Hansel lirih.


"Berdua?" Ara melirik Para bodyguard yang berada di luar.


"Abaikan mereka, cukup fokus adaku sayang," Hansel kembali ******* bibir Cherry milik Ara, "Lembut dan sangat manis, aku tidak akan pernah puas mencicipinya," suara rendah Hansel menggetarkan hati Ara.


"Tunggu Hansel!" protes Ara berusaha menjauhkan tubuh sang suami yang mulai menghimpitnya.


"Aku sudah tidak bisa menunggu sayang."


"Tunggu sebentar, jelaskan padaku dulu!" perintah Ara.


"Jelaskan Apa?"


"Bagaimana kau bisa berada disini? Apa kau benar-benar mengikuti ku?" tanya Ara dengan mata memicing.


"Tentu saja, bagaimana aku bisa membiarkan istriku pergi bersama mantan tunangannya sendirian," jawab Hansel tanpa rasa bersalah.


"Jadi ini alasan kenapa kau mengizinkanku pergi dengan mudah? Karena kau sudah punya rencana untuk mengikuti ku?"


"Yah, tidak status persen benar, pagi ini sebelum bertemu dengan Jay di restoran aku juga ada pekerjaan yang harus aku lakukan di sekitar sini jadi ini seperti menyelam sambil minum air," jawab Hansel jujur.


"Benarkah? Apa tuan Robert tau kau lari dari pekerjaan mu untuk berkencan denganku?" goda Ara.


"Aku sedang berkencan dengan istriku sendiri , untuk apa pak tua itu harus tahu," kilah Hansel.


"Dasar nakal, pak tua yang kau maksud itu yang sudah membesarkanmu," Ara mengelus rambut suami kecilnya.


"Tidak, Mbak Ara yang membesarkan ku, dari dulu cuma mbak Ara saja, bahkan sekarang INI juga membesar karena mbak Ara." Hansel membawa tangan Ara tepat ke arah asetnya yang sudah menegang.


"Dasar bocah mesum," dengan cepat Ara menarik tangannya kembali.


"Tapi Mbak Ara ku sayang suka kan?" goda Hansel.


Detik berikutnya Hansel sudah membopong tubuh Ara dalam dekapannya menuju kamar mereka di lantai dua.


"Tunggu dulu Hansel, biarkan aku mandi dulu," protes Ara.


"Nanti saja sekalian Hansel mandiin."


"Tapi,..."


Ucapan Ara terputus saat Hansel mulai menyerangnya dengan brutal, Hansel sama sekali tidak memberikan Ara waktu untuk memprotesnya, ia tahu betul bagaimana cara mengalihkan dunia Ara agar selalu hanya terpusat padanya.


To be continued 🤗

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2