
Suasana Rumah sakit yang harusnya tenang menjadi gaduh akibat Hansel yang kehilangan kesabarannya dan menghajar Johan habis-habisan. Dani dan Gisel berusaha melerai keduanya.
"Tenanglah Tuan Hansel, ini di rumah sakit," Gisel membantu Dani menahan Hansel yang masih belum puas memukuli Johan yang kini sudah terkapar di lantai.
"Bawa dia pergi, dan jangan pernah membiarkan ba*ing4n ini mendekati istriku," tegas Hansel, membenahi setelan jasnya yang berantakan.
Dengan sigap Dani menyerat tubuh Johan keluar dari rumah sakit, memberi pesan kepada para security RS agar tidak mengizinkan Johan kembali kesana.
Perasaan Hansel kacau balau, ia sangat khawatir dengan kondisi Ara, pasalnya sudah cukup lama dokter belum juga keluar dari ruang UGD dimana Ara berada.
Pintu kamar UGD pun terbuka, Hansel mengajukan pertanyaan kepada dokter yang baru saja keluar.
"Syukurlah tuan Hansel, Nyonya Ara dan kandungannya baik-baik saja. Nyonya Ara mengalami kontraksi karena terkejut dan panik, memang sempat ada gejala keguguran tapi syukurlah kandungannya sangat kuat sehingga masih bisa bertahan. Nyonya Ara saat ini masih dalam pengaruh obat penenang, tolong lebih hati-hati lagi, jangan membuatnya panik. Kami akan memindahkannya ke ruang VIP agar lebih nyaman." jelas Dokter kepada Hansel.
"Baik terimakasih Dok," ucap Hansel.
"Saya akan pamit Tuan karena anda sudah ada di sini, tolong jaga Ara dengan baik, saya permisi," Gisel yang tidak ingin mengganggu Ara langsung berpamitan setelah Ara dipindahkan ke ruang VIP, mendengar kondisi Ara yang telah membaik dari sang dokter kini Gisel menjadi lebih tenang.
Hansel hanya mengangguk.
"Tambahkan keamanan di sekitar ruang rawat Ara, jangan sampai hal semacam ini terjadi lagi!" Perintah tegas dari Hansel dan langsung dilaksanakan oleh Dani.
Hansel mengambil nafas panjang berulang kali sebelum akhirnya memberanikan diri memasuki ruangan Ara. Selang infus tampak tertancap di pergelangan tangan Ara, wajah ayu itu kini tampak pucat, Hansel merasa bersalah karena tidak menjaga Ara dengan baik.
"Hai sayang , aku pulang. Memang seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian," ia berkata seraya menggenggam jemari Ara yang masih lemas.
Berulang kali Hansel mengecup punggung tangan Ara, sesekali mengelus perut Ara, "Terimakasih baby, anak Daddy memang kuat," ia mengecup perut Ara.
Hansel enggan melepaskan genggaman tangannya, meskipun beberapa kali ada perawat yang masuk ke ruangan Ara, ia tidak peduli, Hansel merasa lebih tenang saat ia bisa menyentuh Ara.
Setelah beberapa saat yang seperti selamanya, kelopak mata Ara perlahan mulai terbuka.
"Sayang? Bagaimana perasaan mu?" Hansel bertanya dengan lembut.
Ara hanya tersenyum lemah.
"Aku akan memanggil dokter," segera Hansel menekan tombol untuk memanggil dokter.
Setelah pemeriksaan selesai, Hansel benar-benar meyakinkan jika Ara-nya baik-baik saja.
"Kau dengar sayang kau butuh istirahat total!" ucap Hansel seraya memberikan minuman kepada Ara.
__ADS_1
Sekali lagi Ara hanya tersenyum.
Dokter mengatakan jika Ara perlu di rawat selama tiga hari.
Berulang kali Ara meyakinkan Hansel untuk kembali ke kantor dan menyelesaikan pekerjaan nya, tapi sang suami sama sekali tidak menggubris. Hansel lebih senang jika semua pekerjaan ia bawa ke RS, dia mengerjakan pekerjaannya saat Ara tertidur, dan mengobrol dengan Ara saat istrinya terjaga.
"Kau siapa? Kenapa bukan dokter yang biasanya memeriksa yang datang?" ujar Hansel menghentikan seorang dokter yang hendak menyuntikkan sesuatu ke dalam cairan infus Ara.
"Maaf tuan, Dr, Ricard sedang tidak di tempat saat ini, jadi saya yang menggantikannya hari ini," Jawab si dokter dengan gugup karena tatapan tajam Hansel.
"Panggil dokter yang biasanya saja, aku tidak ingin istriku kenapa-kenapa!"tegas Hansel.
"Sudahlah Hansel, dia hanya menjalankan tugasnya, jangan mempersulit orang. Lagi pula hari ini aku sudah boleh pulang bukan," Ara mencoba membujuk suaminya yang selalu mencurigai semua orang.
"Lanjutkan Dokter! Maaf!" Ara meminta dokter itu untuk melakukan apapun yang hendak ia lakukan sebelumnya.
"Baik," Dokter tersebut kembali melakukan tugasnya,setelahnya ia langsung berpamitan.
Dengan raut bahagia Ara kembali ke rumah, Hansel membawa beberapa perawat untuk ikut pulang ke mansion miliknya untuk berjaga-jaga.
#Keesokan harinya.
"Jangan melakukan apapun! Tetaplah berada di atas ranjang sampai aku kembali dari kantor! Kau mengerti?"perintah tegas Hansel untuk istri bandelnya.
"Aku serius Ara, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi, rasanya seperti aku akan mati saat itu," Hansel mengecup kening Ara.
"Iya, aku minta maaf karena membuatmu dalam kesulitan. Pergilah, aku akan baik-baik saja!" yakin Ara.
Hansel pun dengan berat hati meninggalkan Ara di rumah, meminta Dani untuk memperketat penjagaan, dan membawa seorang dokter untuk memantau kesehatan Ara.
"Pastikan tidak ada kesalahan lagi, atau aku benar-benar akan mengakhiri hidupmu!" titah Hansel sebelum berlalu pergi.
Cuaca cerah pagi ini membuat Ara tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk berbaring seharian, ia mengambil kanvas dan cat dari dalam lacinya, karena ia sudah berjanji tidak akan meninggalkan ranjang sehingga ia memutuskan untuk membuat lukisan dari atas ranjangnya.
Ara banyak belajar dari Jay, mengenai tehnik menggambar, meskipun belum sempurna seperti Jay tapi Ara tahu dasar-dasarnya.
"Apa yang harus ku gambar hari ini?" Ara tampak mengetuk-ngetuk pensil di tangannya.
Saking asiknya menggambar Ara sampai tak menyadari jika waktu berlalu cepat, seorang pelayan dan perawat datang untuk membawakan makanan Ara dan memeriksa kondisinya.
"Wah, Nyonya Ara ternyata pandai melukis, itu terlihat seperti sebuah foto," puji pelayan yang tanpa sengaja melihat lukisan Ara.
__ADS_1
"Benarkah? Menurutmu ini sudah cukup bagus?" senyuman mengembang di bibir Ara.
"Sangat bagus Nyonya, saya yakin Tuan Hansel akan sengat senang."
Ara tersenyum semakin lebar, pasalnya ia tengah menggambar potret dirinya dan Hansel dengan bayi mungil dalam gendongan mereka.
"Mommy yakin kau akan selucu ini sayang," ucap Ara mengelus perutnya, "Oh, kau menyukainya juga?" imbuh Ara saat merasakan tendangan kecil dalam perutnya.
Panggilan dari Jay mengalihkan perhatian Ara dari kanvasnya.
"Hai Jay?"
"Ara? Aku dengar kau baru keluar dari Rumah sakit, bagaimana keadaanmu?" suara Jay terdengar khawatir.
"Iya, aku baru pulang kemarin. Aku mengalami kontraksi dan hampir keguguran, tapi untungnya semua sudah baik-baik saja sekarang," jelas Ara.
"Syukurlah."
Keduanya mengobrol beberapa saat, menanyakan beberapa hal dan obrolan santai seperti biasa yang mereka lakukan sebelum akhirnya mengakhiri panggilan mereka.
Jay adalah salah satu orang yang sangat Ara percaya, begitu pula sebaliknya. Jay yang menaruh hati pada Ara tetap bersedia menjaga Ara dengan tulus meskipun hanya sebatas teman.
...****************...
"Bagaimana hasilnya?" tanya wanita cantik itu dengan senyuman, di usianya yang masih muda wanita itu telah tumbuh menjadi seperti ular yang berbisa.
"Semua beres Nona. Saya sudah berhasil memasukkan virus yang anda perintahkan ke dalam tubuh Ara tanpa di curigai. Kita hanya perlu menunggu efeknya bekerja," jelas pria dengan setelan jas putih di hadapannya.
"Apa kau yakin jika wanita itu akan mati dengan virus itu?"
"Sembilan puluh sembilan persen yakin Nona, virus ini sangat ganas, dan belum ada vaksin untuk menyembuhkannya, bukan hanya nyawa nyonya Ara saja yang akan menghilang, tapi bayi dalam kandungannya pun tidak akan selamat," pria itu berkata dengan sombongnya.
"Bagus, ini bayaranmu," menyerahkan kartu ATM kepada pria dihadapannya.
"Terimakasih Nona, saya permisi."
Vanessa tersenyum licik, gurat kesombongan terukir jelas dari wajahnya.
"Kita lihat Ara sejauh apa kau akan menderita, jika aku harus hancur maka akan aku pastikan kau ikut hancur dalam serpihan ku," tangan Vanessa terangkat menyesap wine dari gelasnya dengan anggun seraya menatap gelapnya malam di kejauhan.
Tidak ada lagi rasa takut dalam pandangannya, ia hanya ingin Ara dan Hansel hancur bersama, seperti saat mereka menghancurkan seluruh hidupnya.
__ADS_1
To be continued 🤗
Thanks 💜💜🥰🙏