
...
"Silahkan Nyonya, anda bisa mengajukan pertanyaan apapun dan saya akan berusaha menjawabnya dengan jujur," ucap Ara tenang, mungkin dia tidak sekaya keluarga Anderson, tetapi ibunya telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang, ia tidak akan kalah dengan tatapan tajam Nyonya Margaret Anderson.
"Heh, Kau lebih berani dari yang kuduga," wanita itu mendengus.
"Saya tidak melakukan kesalahan Nyonya, jadi saya rasa saya tidak perlu merasa takut," jawaban yang tak kalah sengit keluar dari bibir Ara.
Tampak Nyonya Margaret menghela nafas, "Dengar ara, aku tahu kamu bukan wanita jahat, aku juga tidak pernah memiliki masalah denganmu dulu, bisa dibilang saat kamu masih menjadi pengasuh Hansel, kamu adalah orang ku yang cukup ku percaya, apalagi kamu sangat baik pada Hansel kala itu."
Nyonya Margaret tampak mengenang masa lalu, sementara Ara hanya bisa diam mendengarkan tanpa bisa menimpali ucapan nyonya Margaret.
"Tapi, kamu sendiri juga tahu. Jika Hansel adalah anak yang sangat keras kepala, dan egois. Sejak kecil semua yang diinginkannya selalu harus didapat, entah itu barang atau mainan,tapi Hansel adalah tipe yang mudah bosan, sebentar saja dia akan membuang dan meninggalkan mainan yang sudah tidak menarik lagi baginya," lanjut nyonya Margaret.
"Kau masih ingat? Saat Hansel bersikeras untuk mendapatkan mainan milik temannya kala itu, ia bahkan tak segan melukai temannya untuk mendapatkan apa yang ia mau. Akan tetapi baru memainkannya beberapa kali Hansel sudah bosan dan meninggalkannya tergeletak di sudut ruangan. Aku sebagai ibunya, tahu bagaimana sifat putraku, dan aku tidak mau jika hal itu terjadi padamu juga," imbuhnya.
"Maksud nyonya, Saya tidak lebih dari sekedar mainan yang akan segera dibuang oleh Hansel begitu dia merasa bosan?" Ara bertanya skeptis.
"Kau pikir tidak akan demikian?"
Ara tidak bisa menjawab pertanyaan dari nyonya Margaret, ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya, karena dalam hatinya Ara juga tidak yakin apakah Hansel benar-benar mencintainya seperti yang selalu diucapkan oleh bocah itu atau hanya sekedar sedang bermain-main dengannya. Membuat Ara hanya bisa menunduk diam.
"Dengarkan aku Ara! Apakah Hansel setelah malam kejadian waktu itu, sudah pernah melakukannya lagi padamu?" Nyonya Margaret merujuk pada malam pertunangan Ara dan Johan yang justru berakhir dengan ditemukannya Ara telah tidur bersama Hansel.
"Maaf," Ara mengernyit, sedikit risih saat seseorang mengulik kehidupan rumah tangganya lebih dalam.
__ADS_1
"Jawab saja Ara, pernah atau tidak?" tegasnya.
Ara menggeleng, membuat Nyonya Margaret menghela nafas lega.
"Ini," Nyonya Margaret menyerahkan sebuah tespack dan pil KB pada Ara dengan sedikit berbisik meminta Ara untuk segera menyimpannya.
"Apa maksud anda Nyonya?"
"Stttt, rahasiakan ini dari siapapun, termasuk Hansel. Kamu bisa melakukan tespack jika tamu bulanan mu tidak datang, untuk memastikan apakah kamu mengandung atau tidak. dan untuk pilnya kau bisa meminumnya untuk berjaga-jaga, karena Hansel mungkin saja akan memaksamu untuk melakukan hubungan suami istri."
"Tapi kenapa saya harus minum pil kontrasepsi nyonya? Hubungan kami sah baik secara agama maupun Dimata hukum, kenapa saya tidak boleh hamil anak Hansel?" Ara semakin bingung.
"Dengarkan ini baik-baik Sahara! Aku tidak tahu apa yang kau bayangkan tentang pernikahan ini, tapi demi kebaikan semua orang, aku ingin kau tetap menjaga jarak dari putraku, mungkin saat ini ia masih menganggap dirimusebagai mainan kesayangannya,tapi semua itu tidak akan bertahan selamanya. Jadi untuk kebaikanmu, akan lebih baik jika kau menjaga hatimu agar saat Hansel berpaling kau tidak akan terlalu sakit. Kami akan berusaha agar Hansel mau menceraikan mu secepatnya, jadi kau juga bisa menikah dengan pria yang benar-benar kau cintai dan mencintaimu," tutur nyonya Margaret pelan namun tegas dan penuh penekanan.
Cerai??
" Untuk sementara hanya itu yang ingin aku katakan padamu, Hansel adalah pewaris keluarga Anderson, jadi kau juga tahu jika dia butuh seorang pendamping yang bisa mendukung perusahaan dan bisnisnya. Dan menurutmu apakah Hansel harus kehilangan segalanya untuk mempertahankan mu. Aku tahu kau adalah wanita yang bijaksana Ara, jadi aku mohon jangan masuk dalam jerat Hansel lebih dalam lagi, atau kau akan terbelenggu selamanya." pungkas nyonya Margaret.
Ara kehabisan kata-kata, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, yang ia tahu saat ini ia merasakan nyeri di sudut hatinya.
Kemudian keduanya berjalan menuju teras, menyusul Hansel yang tampak sedang tertawa lepas bersama dengan Tuan Robert dan juga Vanessa,bahkan tampak sesekali Vanessa menepuk bahu Hansel akrab dan terlihat begitu manja pada Hansel.
"Kau lihat! Semoga kau tidak terlalu lama bermimpi Ara, aku takut jika kau tidak akan bisa terbangun lagi," sindir nyonya Margaret kemudian berlalu menghampiri suaminya.
"Ara? Apa kau lelah?" segera Hansel membawa Ara untuk duduk di sebelahnya, menggeser tempat yang semula di duduki oleh Vanessa.
__ADS_1
Ara hanya menggeleng dan memaksakan senyuman mengembang di bibirnya.
Hansel menyadari ada yang berbeda dengan istrinya segera berpamitan kepada keluarganya. Kini mereka tengah berada di kursi belakang mobil berwarna hitam tersebut dengan Roy sebagai sopir.
Pandangan mata Ara menerawang jauh menembus gelapnya malam di jalanan yang mereka lewati, netranya terus saja menatap keluar jendela, ia enggan untuk melihat Hansel yang duduk di sebelahnya, sementara isi kepalanya kini dipenuhi dengan ucapan-ucapan yang didengarnya dari mulut nyonya Margaret.
Kenapa semua orang menganggap ku tidak layak untuk siapapun, ibu aku merindukanmu, batin Ara menjerit terhadap ketidakadilan ini.
***
Keesokan paginya. Ara turun dari kamarnya dengan setelan kerja lengkap, Hansel yang melihatnya segera mencekal tangan Ara yang hendak menapak ke anak tangga pertama.
"Bukankah kau bilang kau sudah mengundurkan diri?" tanya Hansel tegas.
"pengunduran diriku ditangguhkan sampai bulan depan oleh Presdir kami," jawab Ara dingin tak berekspresi, segera melepaskan cekalan tangan Hansel dan melanjutkan langkahnya menuju meja makan untuk mengisi perut sebelum dirinya harus menghadapi pekerjaan yang menumpuk di kantornya nanti.
"Ara, aku serius," nada Hansel sudah naik satu oktaf, dia tidak suka jika Ara masih bekerja di perusahaan milik Johan. Segera ia menyusul Ara ke meja makan untuk menyelesaikan pembicaraan mereka.
Sepatu kerja berwarna hitam milik Hansel juga berderap ketika menuruni tangga, sama halnya seperti high heels milik Ara. Jas berwarna hitam itu melekat sempurna di tubuh Hansel. Hari ini ia akan pergi ke luar kota, untuk urusan bisnis. Sebelumnya ia sudah merasa tenang untuk meninggalkan Ara karena yang ia ketahui Ara akan berhenti bekerja, namun sekarang semua menjadi kacau.
"Ara berhenti! pembicaraan kita belum selesai. Kenapa kau tidak mengatakan hal ini dari semalam?" Hansel kembali menahan lengan Ara yang sudah hampir menduduki kursinya,bahkan Hansel sedikit menyentak tubuh Ara agar wanita itu mau menatapnya. Hansel tertegun, cekalan tangannya terlepas, ia bisa menatap mata Ara yang tanpa ekspresi, mata itu terkesan dingin tak berperasaan, berbeda jauh dari Ara yang selalu dicintainya.
"Oh, semalam aku lupa," acuh Ara, kembali mengambil tempat duduk dan mulai mengisi piringnya dengan makanan yang terlihat seperti sup ikan dan jamur dan bubur.
"Jika aku memintamu untuk tidak bekerja, apa kau akan menurutinya?" kata Hansel dengan pelan saat ia juga turut mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Heh," Ara mendengus sudut bibirnya terangkat dengan ekspresi mencemooh, "Apa kau belum puas bermain rumah-rumahan dengan ku?" ucap Ara sarkas.
TBC 🥰🥰🥰🙏