Menjadi Istri Boneka Tuan Dev

Menjadi Istri Boneka Tuan Dev
Bab 46 Akibat kekerasan diatas ranjang


__ADS_3

Hari selanjutnya, Lucy tidak keluar dari kamar bahkan saat tuan Dev sudah bersiap rapih hendak berangkat ke kantor, istrinya masih belum sadar.


Tuan Dev sama sekali tidak panik, dia menganggap Lucy hanya kelelahan karena meladeni hasratnya semalaman.


Saat tuan Dev keluar dari rumah besar, didalam mobil tuan Dev meminta Asisten Clark untuk menghubungi dokter keluarga.


"Panggil dokter keluarga untuk memeriksa Lucy, panggilkan saja Irene. "


Tuan Dev ingin yang memeriksa istrinya adalah dokter wanita.


"Nona Lucy sakit apa tuan ? bukankah kemarin nona masih baik baik saja. "


Pertanyaan asisten Clark tidak dijawab.


Sambil menurunkan kecepatan mengemudi asisten Clark menghubungi dokter Irene dan juga Jeni, asisten Clark mengirim pesan pada Jeni untuk mendampingi saat dokter Irene datang dan memeriksa nona Lucy.


Setelah melakukan itu, asisten Clark memasukkan ponselnya kedalam saku dan kembali menambah kecepatah mobil menuju perusahaan.


DI RUMAH BELAKANG


Jeni gegas menuju ke dalam rumah besar usai menerima pesan dari asisten Clark, Jeni sudah siap dengan pakaian kerjanya sejak tadi pagi dirinya menunggu nona Lucy tapi tak kunjung keluar dari rumah besar.


Jeni yang sempat khawatir segera naik ke lantai atas menuju kamar utama.


Tok.. tok.. tok..


"Nona Lucy.. anda di dalam ?" Jeni bertanya dari luar kamar setelah mengetuk beberapa kali.


"kenapa tidak menjawab, ada apa ini.. "


Bersamaan dengan Luis yang naik ke lantai atas bersama dokter Irene, Jeni memberi hormat lalu mengatakan jika nona Lucy tidak menjawab dari dalam.


"Saya tidak berani masuk tanpa ijin Luis, maaf.. "


"Dokter Irene sudah datang, sekarang ayo antar beliau masuk dan temani sampai selesai" Luis meminta Jeni harus selalu menemani nona Lucy selama diperiksa.


Selanjutnya Luis kembali turun ke lantai bawah, melanjutkan apa yang menjadi tugasnya sebagai kepala pelayan.

__ADS_1


ceklek.. pintu kamar terbuka,


Gelap, tirai jendela juga tidak disibakkan, dan..


Jeni agak bingung melihat beberapa dasi tuan Dev bercecer di lantai, Jeni mengira mungkin tadi pagi tuan Dev bingung mau pakai dasi yang mana.


Sedangkan dokter Irene segera menghampiri Lucy yang masih tampak tertidur di balik selimut.


Wajah pucat Lucy dan tidak mengenakan satu helai kainpun dibalik selimut.


"Astaga.. apa yang tuan Dev lakukan pada istrinya" gumam dokter Irene.


Karena di dalam kamar hanya berisi wanita, dokter Irene meminta Jeni mengunci pintu.


"Kunci pintunya tolong"


"Ke.. kenapa memang nya dok.. "


"Nona Lucy tidak mengenakan sehelai kainpun, kita tidak mau kena marah tuan Dev kan jika tiba tiba Luis atau pelayan lain masuk kan ?"


Jeni gegas mengunci pintu, lalu mendekati ranjang tempat dokter Irene memeriksa kondisi Lucy.


"Kenapa dengan nona Lucy.. astaga dia sangat pucat" batin Jeni.


Dokter Irene meminta Jeni menyiapkan air hangat di kamar mandi.


"Siapkan bak berisi air hangat dan handuk jangan lupa, kita harus membersihkan tubuh nona Lucy"


Setelah itu dokter Irene mulai memeriksa tekanan darah, denyut nadi, dan pemeriksaan basic lainnya sambil menunggu air hangaat siap.


"Air sudah siap dok, sekarang apa ?"


"Kita papah nona Lucy ke kamar mandi, kita akan bersihkan tubuhnya baru nanti aku infus "


Jeni mengangguk mengerti, lalu saat dokter Irene membuka selimut, Jeni terkejut melotot saat melihat sekujur tubuh nona Lucy penuh bekas lebam dan tanda merah.


"Apa ini ??? apa tuan Dev yang melakukan ini pada nona Lucy ??? astaga tuan Dev benar benar seperti monster, kejam sekali" Batin Jeni, sudut matanya sedikit berembun saat membantu membersihkan tubuh Lucy di kamar mandi.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi nona Lucy dok ? kenapa dia belum sadar ?"


"Dugaanku belum pasti, tapi.. yang pasti nona Lucy mengalami suatu siksaan oleh tuan Dev, aku yakin semalaman mereka tidak tidur, lihatlah.. "


Dokter Irene menunjukkan bagian bagian tubuh Lucy yang mengalami pemaksaan.


"Aktifitas ranjang yang dilakukan tuan Dev pada istrinya melewati batas wajar, anggap saja kekerasan diatas ranjang. Dari bekas lebam di tubuh kita bisa lihat jika Tuan Dev tetap memaksakan hasratnya meski nona Lucy sudah tidak sanggup, Kamu bayangkan saja ibarat baterai yang sudah lemah masih dipaksa dipakai main game sampai drop, "


Dokter Irene membersihkan setiap bagian tubuh dengan hati hati, Jeni juga melihat tangan dan kaki nona Lucy terdapat bekas ikatan.


"Dokter Irene.. Luka di pergelangan tangan dan kaki nona Lucy... ?"


"Ya.. itu bekas ikatan, pasti tuan Dev yang melakukan itu. "


"Kejam sekali.. " Jeni berucap lirih sambil membantu dokter Irene membawa kembali tubuh nona Lucy yang sudah berbalut handuk bersih keatas ranjang yang sudah diganti dengan sprei bersih.


"Sebaiknya jangan katakan hal ini pada siapapun, ingat jika sampai privasi tuan Dev terumbar nyawa kita taruhannya, jadi anggap saja kita tidak melihat apapun oke "


Jeni mengangguk mengerti, kemudian usai memakaikan pakaian bersih pada nona Lucy yang sudah sadar meski enggan membuka mata,


Dokter Irene memberikan suntikan cairan infus agar tubuh nona Lucy lebih cepat pulih.


Sebelumnya dokter Irene juga mengoles salep untuk bekas luka lebam ditubuh, sementara menunggu cairan infus habis, dokter Irene meminta Jeni membawakan makanan untuk nona Lucy.


Makanan tiba..


Jeni duduk ditepi ranjang berniat menyuapi nona Lucy tapi nonanya justru menggeleng. Nona Lucy hanya diam dengan pandangan mata yang kosong.


Dokter Irene undur diri setelah sekantong cairan infus habis dan memastikan kondisi Lucy membaik.


Jeni mengantar dokter Irene sampai pintu depan, setelah mobil dokter Irene melaju meninggalkan pelataran rumah besar Jeni kembali masuk ke dalam kamar menemani Lucy.


"Nona.. jika nona Lucy membutuhkan teman untuk bercerita, saya siap. Anggap saya adalah temanmu nona, jangan pendam sendiri apa yang nona rasakan berbagilah denganku.. " Jeni mengusap punggung tangan Lucy dengan lembut.


"Hemm.. " Lucy hanya bergumam merespon Jeni.


Selanjutnya, Jeni tidak sedetikpun meninggalkan nona Lucy, dengan setia menunggui mengajak bercerita meski nona mudanya tidak merespon dan memilih diam.

__ADS_1


__ADS_2