
Beberapa minggu berlalu..
Saat ini asisten Clark sedang menangani kasus korupsi pada anak perusahaan milik Devan Sanders.
Tindakan ini dilakukan saat sang pegawai yaitu tidak lain dan tidak bukan adalah Robert, berusaha kabur meninggalkan Amerika dengan uang hasil korupsi di perusahaan yang dia tangani dibawah kepemilikan Sanders corp.
Robert ditangkap saat berada di bandara dalam antrian saat hendak masuk ke dalam sebuah pesawat.
Uang hasil korupsi senilai ratusan juta dollar disebuah rekening menjadi bukti fatalnya kesalahan seorang Robert, dia ditahan dan tidak satupun pengacara bersedia menjadi tim nya.
Sidang kasus perkara korupsi anak perusahaan Sanders digelar tertutup, semua bukti memberatkan Robert hingga akhirnya hakim memberi putusan hukuman 30 tahun penjara.
Asisten Clark kemudian juga mengurus masalah lain yang berkaitan dengan perusahaan milik keluarga Sanders. Beberapa klien yang melakukan kecurangan selama perjanjian bisnis masih berjalan juga disingkirkan dengan tegas.
Asisten Clark benar benar membersihkan perusahaan tuan Dev dari para tikus kotor berdasi dan juga dari para investor yang curang.
Perusahaan Sanders berkembang menjadi perusahaan paling di takuti didunia bisnis.
Namun sayangnya..
Berada dipuncak kesuksesan tidak membuat sang pemilik perusahaan tersenyum bangga, saat ini tuan Dev lebih memfokuskan diri pada sang istri yang masih terbaring koma usai operasi darurat beberapa minggu yang lalu.
Beruntungnya tuan Dev memiliki asisten seperti Clark yang cekatan dan sangat setia mengabdikan dirinya pada perusahaan Sanders.
Saat ini perawatan Lucy dipindah ke rumah besar, tuan Dev dengan kewenangan yang dimiliki sebagai pemilik rumah sakit memindahkan seluruh peralatan medis kerumah besar.
Kamar utama pasangan suami istri tersebut berubah menjadi kamar perawatan pasien koma, nona Lucy Sanders..
Tidak sembarang bisa keluar masuk kamar utama, kecuali pelayan khusus yang di tugaskan untuk membersihkan ruangan serta mengganti sprei dua hari sekali.
Sejak sang istri dipindah berbaring diatas ranjang mereka, sekalipun tuan Dev tidak meninggalkan. Selalu menemani di dalam kamar, menggenggam tangan sang istri berharap ada keajaiban agar istrinya sadar dari koma.
Tuan Dev bahkan tidak memperhatikan penampilan nya, bulu kumis dan brewok serta rambut yang tumbuh semakin panjang, meski tidak mengurangi wibawa dan ketampanan namun cukup mewakili derita yang dia rasakan.
Sementara itu..
Dalam adegan gaib,
Lucy yang berada di alam bawah sadar, kini sedang berada disebuah tempat yang seperti lorong panjang berwarna putih.
Diujung lorong sana Lucy melihat sebuah sinar cahaya silau yang kemudian menampakkan sosok yang paling dia cintai seumur hidupnya,
Ayah.. ibu.. Lucy tersenyum berlari kearah mereka yang sangat dia rindukan, berlari seperti anak kecil dengan bulir tangis bahagia karena sebentar lagi akan memeluk kedua orang tuanya.
Sosok Ayah dan Ibu Lucy tersenyum merentangkan tangan, seolah mereka menyambut putri kesayangan satu satunya untuk pergi bersama.
__ADS_1
Tap.. tap.. tap.. tap..
Suara derap langkah kaki Lucy berlari mulai pelan saat hampir tiba diujung lorong sana, sebuah sinar menyilaukan datang dari arah lain,
Sinar yang perlahan berubah menjadi sosok yang paling membuat dirinya merasakan pahitnya biduk berumah tangga, sosok yang lebih banyak memberikan kepiluan hidup ketimbang bahagia, sosok yang seiring waktu usia pernikahan mulai menunjukkan sebuah rasa bersamaan dengan ego nya yang tinggi, sosok yang semakin lama tanpa terasa telah memenuhi ruang di hatinya, sosok yang membuat sesuatu dalam dirinya bergetar lembut seperti saat bersama ayah dan ibu dulu.
Suamiku... Langkah Lucy terhenti.
Saat ini Lucy berdiri diantara persimpangan, antara menerima rentangan tangan kedua orang tuanya atau uluran tangan sang suami..
Mereka sama sama menyunggingkan senyum kepada Lucy, hati Lucy mulai bimbang memilih mana yang akan dia raih.
Lucy terdiam... berpikir.. apa yang harus dia putuskan..
Lucy memilih untuk meraih uluran rentang tangan ayah dan ibu,
Bersamaan dengan tangan Lucy yang ingin meraih kedua orang tuanya.
"Pasien anfal !!!" saat ini tim dokter dan tenaga medis berada di dalam kamar utama,
Pasien koma mengalami anfal, pernafasan gagal dan detak jantung semakin melemah.
Tuan Dev berderai air mata memaksa melihat langsung tindakan yang akan mereka lakukan pada sang istri.
Pasien semakin lemah, dokter mencoba melakukan kejut jantung,
"Siapkan alat defribilator !!" dokter Irene memposisikan diri setengah duduk diatas tubuh Lucy, posisi yang harus tepat saat melakukan kejut jantung.
"Berikan tekanan tinggi " satu asisten dokter menyetel alat defribilator sesuai tekanan yang dibutuhkan lalu..
Jedug... sekali tubuh pasien tersentak saat menerima kejutan pertama.
Monitor masih menunjukkan garis lurus yang artinya jantung tidak bereaksi.
"Sekali lagi, siap !!" kembali dokter Irene menekan alat pada dada Lucy.
Jedug.. Kedua kali tubuh pasien kembali tersentak namun detak jantung masih tidak bereaksi.
"Tuan Dev... " ucap dokter Irene lirih.
Menatap lekat netra Devan sanders lalu mengatakan,
"Jika sekali ini gagal maka... nona Lucy tidak terselamatkan, maaf " dokter Irene menatap lekat memastikan jika Devan Sanders harus siap akan kemungkinan terburuk.
"Apa katamu !!! istriku pasti akan selamat !!! lakukan apa yang harus kalian lakukan !!!" teriak tuan Dev memerintahkan tim dokter agar fokus menyelamatkan sang istri yang anfal.
__ADS_1
"Sekali lagi !!" dokter Irene bersiap untuk kejutan terakhir.
Saat dokter melakukan kejut jantung ketiga kalinya..
Lucy meraih tangan kedua orang tuanya, lalu saat mereka hendak berjalan keluar dari lorong putih,
"Ayah.. ibu.. maaf.. Aku sangat mencintai kalian dan juga ingin bersama kalian tapi.. " Lucy menghentikan langkah menatap sendu ayah dan ibu.
Ayah dan ibu hanya menatap dan tersenyum, tidak sedikitpun mengucap sepatah kata.
"Ayah.. ibu.. aku akan selamanya menjadi putri kecil kesayangan kalian, tapi aku juga ingin menjadi orang tua seperti kalian, maka ijinkan aku yah.. bu.. untuk kembali meraih tangan suamiku diujung persimpangan sana, aku adalah istri yang baik seperti ibu bukan ? maka biarkan aku juga menjadi ibu yang baik untuk anak anakku nanti, i love you for the rest of my life... " Lucy melepaskan pelan tangan dari kedua orang tuanya yang masih tersenyum lalu perlahan menghilang.
Hanya satu lorong kini dihadapan Lucy, dimana sang suami masih setia menunggunya sambil berdiri mengulurkan tangan dengan senyum yang sangat tampan.
Lucy berjalan mengarah pada Devan Sanders, Keduanya saling melempar senyum hangat saat bergandengan tangan.
"Aku tahu kemana harus berpulang" ucap Lucy tersenyum manis pada sang suami.
Dan tiba tiba...
"Dok, pasien kembali sadar !!" kata seorang perawat usai dokter Irene melakukan kejut jantung terakhir.
"Baiklah kita berhasil !! Dev kita berhasil, istrimu merespon !!" ucap dokter Irene pada tuan Dev yang senyumnya terukir lega disela airmata yang membasahi pipinya.
Syukurlah Tuhan, terima kasih untuk kesempatan kedua ini.
Sejak awal tuan Dev yang tidak melepaskan tautan tangan dengan sang istri.
Kini duduk di tepi ranjang, mengukir senyum lega saat Lucy membuka mata..
Netra keduanya bertumpu haru, waktu seakan terjeda sesaat mengijinkan keduanya untuk saling mengeluarkan isi hati.
"Kamu selamat sayang.. aku tahu kamu pasti akan selamat.. " tuan Dev memeluk tubuh sang istri .
Diiringi isak tangis bahagia,
"Aku sudah tahu kemana aku harus pulang sayang, dihatimu... " lirih Lucy menjawab sang suami.
"Ya.. hatiku adalah rumahmu dan rumahku ada dihatimu, kita akan menua bersama, i love you istriku.. "
"I love you too tuan Dev, suamiku.. "
Sejak detik itu, tidak ada lagi sebutan menjadi istri boneka tuan Dev karena keduanya berjanji untuk kembali merajut jalinan rumah tangga yang lebih bahagia, saling memiliki satu sama lain.
...--------TAMAT--------...
__ADS_1