
Permainan kilat suami istri itu berakhir beberapa menit sebelum Laura kembali masuk kedalam kamar pasien.
Sedangkan tuan Dev sudah bersiap untuk melanjutkan perkerjaan kantor nya bersama asisten Clark yang katanya akan meninjau proyek di lapangan.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan hari ini ?" kata Lucy dengan semangat saat mengatakan jika sang suami mengijinkan Laura untuk besenang senang dengannya seharian ini.
"Suamiku Raymond akan pulang saat makan malam nanti, Hhmm apa yang harus kita lakukan untuk bersenang senang ya.." Laura sejenak berpikir lalu terlintas sebuah ide.
"Ah iya Lucy.. bagaimana jika kita menonton film komedi, katanya kalau kita banyak tertawa maka sistem kekebalan tubuh akan menguat, dan aku rasa saat ini kamu sangat butuh acara hiburan. " kata Laura bersemangat.
Lucy mengangguk antusias lalu menjawab,
"Yaa film komedi akan menghibur karena hidupku sendiri sudah menyedihkan seperti drama sinetron" ekspresi Lucy sedih yang dibuat buat, lalu tertawa lagi.
Seketika itu juga, Laura mulai memesan satu set mini home teather yang akan dipasang didalam kamar Lucy.
__ADS_1
Semua di setting mirip mini bioskop, kamar rawat Lucy berubah menjadi ruangan teather yang gelap minim pencahayaan, bahkan mereka juga menyiapkan berbagai cemilan sehat untuk teman nonton.
Baru saja film diputar terdengar seseorang mengetuk pintu lalu masuk, ternyata itu adalah Jeni, Lucy memeluk Jeni lalu memperkenalkan pada Laura, kemudian ketiganya duduk bertiga menikmati film yang diputar.
Apa Clark memintaku segera kerumah sakit untuk mengawasi nona Lucy dan temannya ini ? batin Jeni.
Awalnya Jeni selalu was was siaga jika saja tiba tiba kondisi nona Lucy drop atau temannya berniat melakukan hal jahat, tapi lama lama pikiran itu luntur juga karena Jeni juga larut dalam suasana kesenangan ala dua nona muda konglomerat.
Jangan tanya siapa yang bayar semua tagihan, Tentu saja kartu hitam sakti tuan Dev.
Sedangkan ditempat lain saat ini tuan Dev bersama asisten Clark, menemui seseorang yang sudah terkurung sejak beberapa jam yang lalu disebuah ruangan di gedung kosong .
"Berisik sekali, dasar penyihir tua sialan !" umpat asisten Clark dari luar pintu sel.
Tampak tuan Dev berdiri menatap tajam tanpa ekspresi dengan satu tangan masuk kedalam kantong dan satu tangan lain berkacak pinggang.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan saat menabur racun diatas makanan istriku hah ??" nada suara tuan Dev masih terdengar tenang meski ekspresinya tajam.
"Jadi si cupu itu selamat ya hahahaha... Padahal aku berharap dia mati di hari yang sama." ucap wanita itu.
"Apa kamu tidak memikirkan masa depan keluarga mu saat melakukan tindakan itu ? kamu tahu sendiri akibatnya jika berani mengusik tuan Dev. " tegas asisten Clark mengancam dengan banyak foto dan cuplikan video rekaman cctv berisi sebagian dosa yang dilakukan oleh si wanita penyihir.
Wanita itu tampak terkejut membungkam mulut saat melihat apa yang asisten perlihatkan dari tablet canggih di tangannya.
"Dari mana kamu mendapatkan semua itu !! apa kalian memata matai aku huh ?? brengsek !!" kembali wanita itu mengumpat kata kata kasar.
"Biarkan tuan Dev memikirkan hukuman apa yang tepat untuk penyihir seperti mu, kita lihat apa setelah ini kamu masih bisa mengumpat kencang seperti itu " asisten Clark tersenyum, senyum yang menyeramkan.
"Ck.. Dev tidak lebih dari menantu pelit yang tidak bisa diandalkan, dan si cupu itu semakin tidak berguna karena tidak mau membagi harta suaminya untuk keluarga yang sudah membesarkannya, cih " yaa wanita penyihir itu adalah bibi Elly.
Yang entah kenapa menjadi gelap mata setelah mendapatkan menantu tuan Stuard yang menurutnya lebih kaya, bibi Elly selalu membanding bandingkan antara kedua menantu.
__ADS_1
Tuan Stuard selalu menggelimpangkan hartanya untuk keluarga Margareth sang istri, berapapun nominal yang ibu mertua inginkan pasti diberikan meski itu tanpa sepengetahuan paman Robert.
Tapi berbeda dengan tuan Dev yang sejak menikahi Lucy sampai detik ini sama sekali tidak pernah memberi uang sepeserpun.