
...༻⑅༺...
Lova menenggak salivanya sendiri. Ia sedikit beringsut mundur.
"Kau kenapa terlihat gugup sekali?" tanya Jaden dengan kening yang mengernyit.
"A-apa? Gugup? Tidak! Aku hanya kaget melihatmu. Aku tidak menyangka pelanggan spesial yang disebut Madam Jessy ternyata adalah kau," jelas Lova yang sedikit tergagap.
"Hmm... Madam Jessy sudah memberitahuku mengenai apa yang dilakukan Felly dan teman-temannya pada kepalamu." Jaden duduk ke sebelah Lova. Ia menuang bir ke dalam gelas.
Saat itu pula Lova tersenyum. Ia berharap Jaden bisa mabuk berat seperti pelanggan-pelanggan lainnya. Lova berniat akan memperlakukan Jaden seperti pelanggan yang lain. Setidaknya dia berani mencoba.
"Ya, mereka dihukum karena itu. Dan tadi Felly baru saja meminta maaf kepadaku," ujar Lova. Dia melihat gelas Jaden sudah kosong. Lova lantas menuangkan alkohol ke dalam sana.
Belum sempat menuang, Jaden sigap menjauhkan gelas. Dia jelas menolak untuk lanjut minum.
"Sudah cukup! Malam ini aku ada urusan penting. Akan berantakan jika aku terlalu banyak minum," kata Jaden.
"Minumlah beberapa gelas lagi." Lova memaksa. Dia juga mengukir senyuman simpul agar mampu meluluhkan Jaden.
"Tidak, sayang... Terima kasih," tanggap Jaden sembari memegangi dagu Lova. Dia terpaku menatap gadis itu.
Dengan cepat Lova menjaga jarak. Dia membuang muka agar Jaden tidak menyambar bibirnya seperti yang Nathan lakukan.
"Kau tahu? Aku hanya satu kali pernah meniduri semua wanita di sini. Kecuali kau. Satu kali melakukannya bersamamu tidak cukup. Kau membuatku merasa candu. Mungkin karena wajah cantikmu itu," imbuh Jaden. Dia menggeser dirinya lebih dekat dengan Lova. Membaui rambut panjang Lova yang harum.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan." Lova berusaha keras mengalihkan pandangan dari Jaden. Dia juga terus menutupi pangkal paha serta belahan dadanya yang terlihat.
"Benturan yang diberikan Felly dan kawan-kawan pasti sangat keras. Sampai kau jadi lupa begitu. Kau selalu senang dengan malam yang kita habiskan bersama. Kau bilang aku adalah yang terbaik setelah Pangeran Nathan." Jaden kian mendekat. Dia menempelkan wajahnya ke rambut Lova. Tangan nakal Jaden mulai menyentuh tubuh gadis itu.
Lova merasa bergidik. Dia yang merasa bukan seorang pela-cur tentu tidak bersedia melakukannya. Lova sekarang benar-benar bingung harus bagaimana.
"Aku mau ke toilet!" Lova berdiri dan beranjak meninggalkan Jaden.
__ADS_1
Dahi Jaden sontak berkerut. Meskipun begitu, dia tersenyum menyaksikan tingkah Lova. Baginya gadis tersebut sangat menggemaskan.
"Ya sudah. Setelah ke toilet, sebaiknya kita langsung bercinta. Aku akan lebih dulu melepas pakaian!" seru Jaden seraya melepas pakaian satu per satu. Sampai hanya menyisakan celana pendek. Jaden sekarang dalam keadaan bertelanjang dada. Badan atletis yang dihiasi luka goresan serta tato itu terpampang jelas. Ia duduk di tepi ranjang untuk menunggu Lova.
Sementara di kamar mandi, Lova tengah gigit jari. Dia memikirkan cara agar bisa lepas dari jerat gairah Jaden.
"Ini gila! Kenapa aku tidak kepikiran sesuatu. Otakku tiba-tiba buntu. Bagaimana ini?" gumam Lova yang merasa frustasi. Raut wajahnya menunjukkan kecemasan yang mendalam.
Setelah lama berpikir, terbersitlah sesuatu dalam benak Lova. Dia akan berpura-pura mengaku sedang datang bulan. Dengan begitu, Jaden pasti tidak akan mau menyentuhnya.
Lova lantas keluar dari kamar mandi. Dia menampakkan ekspresi masam. Lova berucap, "Tuan Jade, aku baru saja datang bulan. Aku rasa kita tidak bisa melakukannya sekarang."
"Tuan Jade? Akhirnya kau ingat namaku." Jaden malah terfokus dengan panggilan Lova terhadapnya. Walaupun begitu, dia tidak lupa menanggapi pernyataan Lova terkait siklus menstruasi.
Jaden berdiri. Menatap selidik Lova. Ia berjalan menghampiri.
"Benarkah? Kalau begitu buktikan kepadaku!" ujar Jaden. Membuat mata Lova sontak terbelalak. Dia tentu tidak akan menyangka kalau Jaden akan memberikan respon begitu.
"Kau tidak serius kan? Kau ingin melihat darah menstruasiku?!" timpal Lova memastikan.
"Iya. Lagi pula aku hanya ingin tahu apakah kau berbohong atau tidak. Kau tidak tahu kalau aku sudah sering menemui wanita yang berbohong dengan alasan sepertimu. Kau tidak bisa membohongi orang berpengalaman sepertiku, Lova..." Jaden kian mendekat. Dia menyampirkan rambut panjang Lova ke belakang. "Jadi sebaiknya kau akui saja, kau benar-benar datang bulan atau tidak. Pilihannya ada padamu. Aku tidak masalah melihat darah yang membekas di celanamu," sambungnya.
Lova menciut. Ternyata Jaden merupakan lawan yang terlampau sulit. Dia merasa lelaki itu lebih pantas dijadikan sekutu. Sebab seberapa keras Lova memutar otak untuk melawan, Jaden selalu mampu menghadapi dengan baik.
'Mungkin yang terbaik adalah mengatakan yang sebenarnya. Mungkin dia bisa mengerti. Aku yakin Tuan Jade tidak sejahat itu,' batin Lova. Dia akhirnya tidak punya pilihan selain mengaku. Lova mengatakan kalau dirinya berbohong perihal datang bulan tadi.
Jaden tertawa lepas mendengarnya. Dia tentu merasa menang. Segelas bir habis ditelan olehnya. Akan tetapi Jaden masih tampak segar. Sepertinya dia tipe orang yang kuat dengan alkohol.
"Kau kenapa, Lova? Apa ada alasan kuat mengenai kebohonganmu itu?" Jaden berhenti tertawa. Menatap Lova penuh tanya.
"Aku hanya sedang tidak mau. Aku tidak bisa melakukannya." Lova mundur satu langkah. Melindungi diri dengan cara memeluk tubuhnya sendiri.
"Kau tenang saja. Aku akan melakukannya dengan pelan." Jaden bersikeras. Dia memegangi pundak Lova.
__ADS_1
"Tuan Jade. Aku tidak bisa," tolak Lova halus.
Dahi Jaden berkerut dalam. Sepertinya kesabaran pria tersebut sudah habis. Tanpa pikir panjang, dia menarik paksa Lova. Lalu mendorongnya ke ranjang.
Lova yang tak menduga dengan serangan Jaden, sontak terjatuh ke atas ranjang. Dia mencoba bangkit. Namun Jaden sigap menodongkan pistol ke arahnya.
"Aku tidak tahu benturan kepala seperti apa hingga bisa membuatmu ahli bela diri. Tapi karena itulah aku selalu membawa pistol saat bersamamu. Menurutlah! Dengan begitu timah panas tidak akan bersarang dikepalamu," ancam Jaden. Menyebabkan Lova mematung di tempat. Gadis itu ketakutan.
"Ka-kau kenapa sangat berubah..." ungkap Lova terbata-bata.
"Aku tidak berubah. Memang beginilah aku. Orang sepertiku adalah tipe ambisius. Apapun yang kuinginkan harus didapatkan secepat mungkin. Termasuk bercinta denganmu." Jaden memaksa Lova telentang. Pistol masih ditodongkannya ke kepala gadis itu.
Perlahan Jaden memposisikan diri berada di atas badan Lova. Ia mengungkung, lalu memegangi wajah gadis tersebut. Ketika hendak memberikan ciuman liarnya, pintu mendadak diketuk. Suara Madam Jessy terdengar memanggil.
"Jade! Pangeran Nathan datang! Dia ingin bertemu dengan Lova!" seru Madam Jessy.
"Aaargghh!!" Jaden menggeram kesal. Dia terpaksa menunda kegiatan intimnya dengan Lova. Karena bagi Jaden, pelanggan selalu yang utama. Apalagi jika pelanggan tersebut adalah Nathan.
Jaden bergegas mengenakan pakaian. Saat itulah Lova tersenyum penuh kemenangan.
'Syukurlah... Nathan seperti pangeran di cerita dongeng saja. Dia muncul di waktu yang sangat tepat,' batin Lova sembari mengelus dada.
"Ini belum berakhir! Aku pastikan kita akan melanjutkannya, Lova!" ucap Jaden seraya mengarahkan jari telunjuk ke arah Lova. Kemudian beranjak keluar.
Kini Lova dapat mendengus lega. Namun saat hendak keluar dari kamar, dia menyaksikan ada percikan cahaya dari meja.
Lova berhenti melangkah dan melihat sebuah kartu tarot baru muncul. Dengan gambar yang berbeda dari sebelumnya. Kartu tarot tersebut bergambar seorang ratu yang duduk di singgasana. Kartu tarot itu sering disebut dengan sebutan The Empress.
"Ini sudah kartu kedua. Dan aku bahkan belum tahu apa makna kartu pertama!" keluh Lova. Mimik wajah kecewanya kembali.
"Lova! Cepat! Pangeran Nathan sudah menunggu!" panggil Madam Jessy.
Lova langsung menyembunyikan kartu tarot ke dalam bra. Menggabungkan kartu kedua dengan yang pertama. "Ah... Setelah ini aku harus memakai baju yang ada kantongnya," gumamnya sembari membenarkan bentuk bra yang dikenakan. Selanjutnya, Lova buru-buru menemui Nathan.
__ADS_1