Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 48 - Penobatan Raja & Hari Pernikahan


__ADS_3

...༻⑅༺...


Atas kesepakatan seluruh anggota kerajaan serta izin dari Pangeran Nathan, Jaden diangkat menjadi raja Axenia. Acara penobatannya akan dilangsungkan bersamaan dengan hari pernikahan Nathan dan Lova.


Kabar mengenai Jaden akan menjadi raja, terdengar sampai kepada Titan. Dia dan Finn tengah berada di penjara bawah tanah. Keduanya pasrah menerima hukuman akibat perbuatan sendiri.


"Harusnya aku tidak pernah bekerja sama denganmu!" pekik Finn. Dia menghuni penjara yang ada di sebelah Titan.


Namun Titan hanya diam. Tidak menanggapi segala perkataan sang adik. Wajahnya tampak frustasi. Dia terlihat kotor dan menumbuhkan banyak jambang.


"Arrrghhh!!! Aku tidak tahan tinggal di sini! Ini sangat menjijikan!" keluh Finn lagi. Tinggal di penjara yang kotor dan bau, tentu bukan hal mudah untuk dirinya dan Titan.


Di sisi lain, Lova tengah berada di sebuah ruangan. Dia mengenakan gaun pengantin putih yang indah. Tampilan gadis itu tampak cantik jelita.


Dari balik pintu, muncullah Jaden. Dia terpana menyaksikan Lova.


"Kau sangat cantik. Aku yakin malam ini Nathan akan menerkammu habis-habisan," cetus Jaden sembari berjalan menghampiri.


Lova mendecakkan lidah. Dia berbalik untuk menatap Jaden. "Itu kau! Nathan tidak akan seganas itu kepadaku," balasnya sembari mencondongkan wajah ke hadapan Jaden.

__ADS_1


"Aku harap kau dan Pangeran Nathan bisa bahagia," ungkap Jaden tulus. Mengucapkan hal seperti itu tentu bukan hal mudah baginya.


"Kau juga. Semoga dengan menjadi raja, kau bisa lebih baik. Kumohon jangan memperlakukan wanita semena-mena lagi." Lova memegangi pundak Jaden. Saling bertukar pandang dengan lelaki itu sejenak.


Tak lama kemudian, Alana datang. Lova sudah bisa dipersilahkan untuk mendatangi altar.


Semua rakyat Axenia datang ke istana demi menyaksikan momen bahagia Nathan dan Lova. Selain itu, mereka juga penasaran terhadap raja baru yang ditunjuk oleh Nathan. Kebetulan banyak rakyat Axenia yang tidak mengenal Jaden.


Acara pernikahan Nathan dan Lova berlangsung khidmat. Keduanya menyapa seluruh rakyat Axenia di balkon. Saat itulah semua orang melemparkan ribuan kelopak bunga ke udara. Sambutan bahagia nan riuh membuat Lova dan Nathan mengembangkan senyuman simpul.


Tepuk tangan juga terdengar menggema. Lova merasa terenyuh melihat apa yang ada di depan mata. Dia tidak pernah merasa bahagia dan senyaman sekarang.


"Istriku," panggil Nathan. Membuat Lova seketika menoleh.


Jaden yang melihat turut bahagia. Meski dia tidak bisa memiliki Lova, tetapi yang namanya merelakan tidak sesakit itu. Sebab Jaden puas bisa menyaksikan kegembiraan di semburat wajah Lova. Gadis pertama yang telah membuatnya jatuh cinta.


Usai acara pernikahan, barulah penobatan raja dilakukan. Jaden menerima mahkota raja dari Nathan. Setelah mahkota bertengger di puncak kepalanya, maka resmilah sudah Jaden menjadi raja.


Ketika acara penting selesai, perpisahanlah yang tersisa. Sekarang semua orang sedang melepas kepergian Alana. Gadis itu katanya ingin berkeliling melihat dunia. Alana akan pulang saat waktunya tiba.

__ADS_1


"Berhati-hatilah, Puteri..." ujar Lova ketika saling berpelukan dengan Alana.


"Tolong, berhentilah memanggilku Puteri," sahur Alana seraya tersenyum singkat.


"Kau benar, Al. Lova juga selalu memanggilku dengan sebutan Pangeran." Nathan ikut angkat suara.


Lova terkekeh malu sambil memegangi tengkuk. "Maaf, aku belum terbiasa," ucapnya.


Alana menggeleng maklum. Ia segera beranjak dengan mobil. Ditemani oleh seorang pengawal yang ditugaskan menemaninya.


"Sekarang saatnya kita yang pergi," kata Nathan sembari menggenggam tangan Lova. Keduanya segera berpamitan dengan semua orang. Terutama Jaden.


"Jadilah raja yang bisa diandalkan, Jade. Jangan kecewakan aku dan Nathan," ujar Lova. Memberi wejangan.


Jaden memutar bola mata jengah. Sikap sinisnya yang dulu perlahan kembali.


"Aku tahu tugas yang harus dilakukan. Kau tidak perlu cemas," sahut Jaden dengan nada datar.


"Aku akan membunuhmu kalau kau membuat Axenia sengsara!" Nathan mengarahkan jari telunjuk ke wajah Jaden.

__ADS_1


"Ya." Jaden menjawab singkat. "Sebaiknya kalian cepat-cepat pergi. Kita bertiga sepertinya ditakdirkan tidak bisa akur," desaknya.


Lova dan Nathan bertukar pandang. Keduanya segera pergi. Mereka akan menaiki kereta menuju sebuah desa bernama Ulson.


__ADS_2