Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 26 - Niat Utama Pangeran Titan


__ADS_3

...༻⑅༺...


"Apa maksudmu?" Lova berpura-pura tidak mengerti.


"Ayolah. Kenapa kau bersikap seolah seperti tidak mengenal adikku? Aku tahu dia sering datang ke sini untuk menemuimu," ujar Titan. Ia berjalan mendekat. Lalu merebut botol bir yang dipegang oleh Lova. Lelaki itu segera menuangnya ke dalam gelas.


"Dari mana kau tahu?" sahut Lova.


"Orang sepertiku tentu akan sangat mudah mencari tahu apapun. Terutama di wilayah kerajaan Axenia."


"Apa maumu?" Lova mulai waspada. Dia menunjukkan mimik wajah serius.


"Mauku?" Titan tersenyum sejenak dan meneruskan, "Aku hanya ingin kau dan Nathan terus menjalin hubungan. Kebetulan aku mendengar kabar kalau Nathan akan segera menikahi Puteri Alana. Apa kau sudah dengar?" pungkasnya. Dia segera duduk ke tepi ranjang. Sambil memegangi gelas berisi bir.


Lova tertegun. Dia tentu kaget dengan kabar yang dibawakan Titan. Entah kenapa ada perasaan yang mengganjal dihatinya. Lova tentu tidak rela Nathan bersama gadis lain.


"Kenapa kau diam? Dari wajahmu aku bisa melihat bahwa kau merasa cemas," komentar Titan seraya menggoyangkan gelas berulangkali membentuk sebuah curva.


"Entahlah. Aku tidak ingin membahasnya. Lagi pula aku sadar diri dengan keadaanku. Aku yakin Puteri Alana pasti akan lebih baik bersama Nathan." Lova berpura-pura baik-baik saja. Padahal lubuk hatinya terasa berat berucap begitu.


"Omong kosong. Aku tahu kau mencintai Nathan. Begitu pun Nathan sendiri. Kalian tidak bisa membuang perasaan tulus itu hanya karena status kan? Aku sarankan agar sebaiknya kau bicara kepada Nathan. Apakah dia bersedia memperjuangkan cintamu atau tidak?" Titan berbicara panjang lebar. Kedatangannya menemui Lova sepertinya hanya dengan tujuan untuk bicara.


Lova masih berdiri dalam keadaan dua tangan yang menyilang di dada. Dirinya menyaksikan Titan telentang ke ranjang. Lelaki itu memejamkan mata.


Satu hal yang Lova tahu. Titan pasti mempunyai alasan kuat untuk menyuruhnya tetap menjalin hubungan dengan Nathan. Lova lantas memikirkan segala kemungkinan.


'Tunggu! Raja Renald baru saja meninggal. Bukankah itu artinya dia harus menyerahkan tahtanya kepada salah satu dari tiga putranya? Apa kedatangan Titan ke sini berkaitan dengan hal itu?' benak Lova menduga.

__ADS_1


"Kedatanganmu ke sini sepertinya bukan untuk menerima layananku. Kau hanya ingin mengajakku bicara tentang Nathan," cetus Lova sembari menatap penuh selidik.


"Bagus kalau kau mengerti. Aku tidak akan membiarkan tubuhku tersentuh wanita kotor sepertimu," balas Titan.


Lova mengepalkan tinju di kedua tangan. Titan memang anggota kerajaan yang terhormat. Namun dia tidak seharusnya melantunkan kata hinaan. Bahkan kepada seorang pela-cur sekalipun.


"Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan, aku sarankan Yang Mulia pulang saja. Aku akan memikirkan saran yang kau berikan kepadaku," ucap Lova. Membuat Titan segera merubah posisi menjadi duduk. Lelaki tersebut mengembangkan senyum.


Sebelum pergi, Titan menyempatkan diri untuk meminum segelas bir terlebih dahulu. Selanjutnya, barulah dia beranjak meninggalkan kamar. Sikap Titan sangat berbeda dengan Nathan. Terkesan sombong dan angkuh.


"Kalau raja Axenia adalah dia, aku yakin kerajaan Axenia pasti hancur," gumam Lova sinis.


Selepas Titan pergi, Jaden masuk ke kamar. Dia menanyai Lova mengenai tujuan kedatangan Titan. Lova lantas memberitahukan semuanya. Termasuk saran Titan yang menyuruhnya untuk memperjuangkan cinta bersama Nathan.


"Aku yakin Pangeran Nathan terpilih sebagai raja berikutnya," imbuh Jaden menerka. "Itulah alasan dia datang menemuimu. Karena tahu kau adalah wanita PSK, dia sengaja mendorongmu agar terus mengganggu Pangeran Nathan. Dengan begitu, nama baik Pangeran Nathan akan tercemar. Rakyat pasti akan menentang posisinya sebagai raja," sambungnya. Menerangkan panjang lebar.


"Kenapa begitu? Padahal aku bukanlah perempuan yang seperti semua orang kira," keluh Lova yang merasa kalut.


"Kau mungkin beranggapan begitu. Tapi maaf, Lova. Pela-cur merupakan posisi yang hina dimata semua orang. Meski kau berhasil menikah dengan Nathan, aku yakin hinaan pasti akan tetap menghantuimu," kata Jaden serius.


Lova menundukkan kepala. Matanya tampak sudah berpendar akan cairan bening. Namun jujur saja, Lova tidak mau kerajaan Axenia dipimpin oleh orang yang salah. Lagi pula dirinya yakin Nathan akan menjadi raja yang baik untuk Axenia.


"Kau tahu? Salah satu syarat untuk menjadi raja di Axenia adalah menikahi seorang Puteri. Jika benar Pangeran Nathan yang terpilih jadi raja, maka otomatis dialah yang akan menikahi Puteri Alana." Jaden berjalan ke hadapan Lova. Perlahan dia mengangkat dagu gadis itu. Hingga Lova berhenti menunduk dan menatapnya.


"Madam Jessy benar. Kau harusnya tahu diri," cetus Jaden yang justru membuat hati Lova bertambah sakit.


"Kau tahu aku, Lova. Aku orang yang kejam baik dari segi bicara atau tindakan. Tapi aku tahu hal terbaik untukmu. Aku akan membantumu menjauh dari Pangeran Nathan," sambung Jaden.

__ADS_1


Dua tetes air mata jatuh ke pipi Lova. Ia segera mengusap cairan bening itu. "Bisakah kau membawaku pergi dari sini? Dengan begitu aku tidak akan pernah bertemu Pangeran Nathan lagi," ungkapnya penuh harap.


Jaden terpaku menatap Lova yang berusaha berhenti menangis. Gadis itu lagi-lagi berhasil menggoyahkan sanubarinya.


"Baiklah. Aku akan memikirkannya," ujar Jaden. Dia segera mengusap wajah Lova yang ternoda dengan air mata.


"Sudahlah! Aku benci melihatmu cengeng begini!" omel Jaden.


"Kau tidak pantas bicara begitu pada orang yang patah hati," balas Lova. Dia akhirnya berhenti menangis. Saat itulah Jaden menangkup wajahnya. Menatap dalam manik hazel Lova.


"Kau kenapa menatapku be--" Belum sempat Lova selesai bicara, Jaden mendadak menyambar bibirnya begitu saja. Memberi pagutan sampai mengeluarkan suara kecupan yang memecah kesunyian.


Lova mengerutkan dahi. Dia berusaha menghentikan Jaden. Akan tetapi lelaki itu mengekang dan terus melum-at bibir Lova.


Entah kenapa Lova merasa sentuhan Jaden sekarang berbeda. Lebih lembut dan penuh kasih. Persis seperti yang seringkali dilakukan Nathan kepadanya.


Karena Jaden tidak kunjung berhenti, secara alami Lova membalas ciumannya. Dua tangan gadis itu juga berpegang erat ke pinggul Jaden.


Lova mendengar Jaden mulai kesulitan mengatur nafas. Dia tahu lelaki tersebut mulai bergairah.


Merasa semakin terancam, Lova sigap menginjak kuat salah satu Jaden. Usahanya berhasil membuat Jaden berhenti mencium dan reflek memekik kesakitan. Terlebih Lova menginjak kakinya dengan sepatu hak tinggi.


"Apa-apaan itu, Tuan Jade! Kenapa kau tiba-tiba menciumku?! Kau pikir hatiku akan membaik karena itu?" tukas Lova sembari beranjak dari hadapan Jaden. Meninggalkan lelaki itu sendirian.


Jaden tidak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa menelan saliva berkali-kali karena hasratnya tidak bisa terwujud.


"Sial! Injakannya terasa sakit sekali," keluh Jaden seraya duduk ke tepi ranjang. Dia membuka sepatunya. Memastikan kakinya baik-baik saja.

__ADS_1


Jaden melihat kakinya mengalami sedikit lebam. Tetapi dia tak peduli. Dia terduduk dengan wajah lesu serta tatapan kosong. Jaden tidak tahu kenapa ada sesuatu yang janggal dihatinya. Apalagi saat mengingat Lova sudah berkali-kali menolak dirinya.


__ADS_2