
...༻⑅༺...
Lova perlahan melepas pelukan Nathan. Dua alisnya terangkat. "Benarkah?" tanya-nya memastikan.
Nathan mengangguk. Dia memegang pergelangan tangan Lova. Lalu membawa gadis itu keluar dari kamar.
Dua pengawal pangeran yang berjaga kaget. Keduanya heran kenapa Nathan keluar dari kamar.
"Ada apa, Yang Mulia? Apa anda perlu sesuatu?" tanya salah satu pengawal.
"Ya, aku ingin kalian berdua masuk ke ruang utama dan bersenang-senang!" jawab Nathan sambil mengacungkan jari telunjuk.
"Apa?! Tidak! Mengawalmu pergi kemana pun adalah kewajiban kami!" sahut pengawal dengan kumis tebal.
"Benar! Aku sependapat dengan Ronald!" pengawal yang satunya setuju.
"Ini perintah! Kenapa kalian berani menolak perintahku?!" timpal Nathan. Dua pengawalnya sontak memucatkan ekspresi wajah. Mereka tertunduk dan tidak bisa berkata-kata.
"Cepat pergilah! Lupakan aku untuk sejenak. Aku ingin kalian menikmati waktu kalian sesekali!" ujar Nathan melanjutkan.
Dua pengawal saling bertukar pandang terlebih dahulu. Lalu membungkuk hormat kepada Nathan. Mereka segera melakukan perintah lelaki tersebut.
Lova terkekeh. "Penampilan dua pengawalmu terlihat mengerikan. Tapi ternyata mereka lucu juga," komentarnya yang kemudian dibalas Nathan dengan senyuman.
"Ayo kita pergi! Sebelum ada orang yang melihat," ajak Nathan. Ia dan Lova melangkah bersama untuk mencari jalan keluar.
Saat hendak melewati lorong, Madam Jessy muncul dari arah depan. Lova dan Nathan sontak masuk ke sebuah gudang untuk bersembunyi.
Nathan meletakkan jari telunjuk ke depan bibir. Satu tangannya yang lain tidak berhenti menggenggam jari-jemari Lova.
Sementara Lova hanya bisa tertawa tanpa suara. Dia merasa sangat antusias. Mengingat dirinya akan pergi tanpa pengawalan dari Eden Night.
Dari luar, Lova dapat mendengar Madam Jessy bicara. Sepertinya wanita itu masih belum pergi. Mengharuskan Lova dan Nathan terpaksa diam di tempat.
Tanpa sepengetahuan Lova, Nathan menatap lekat. Lelaki itu melepas pegangan tangan dan beralih memegang pinggul Lova.
"Eh?" Lova tertegun. Dia membalas tatapan Nathan. Saat itulah Lova harus berhadapan sangat dekat dengan wajah tampan lelaki tersebut.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, bibir Nathan segera berpadu kasih dengan mulut Lova. Keduanya memulai ciuman secara lembut.
Sungguh, Lova merasakan ada sesuatu yang aneh menjalar ditubuhnya. Dia membalas ciuman Nathan dengan senang hati.
Sesekali Nathan dan Lova memiringkan kepala agar bisa berciuman dengan leluasa. Dua tangan Lova juga sudah mengalung ke leher Nathan. Gadis itu akhirnya terpojok ke dinding.
Perlahan Nathan mulai mencumbu ceruk leher Lova. Darah disekujur badan gadis itu langsung berdesir hebat. Lova hanya bisa mendongak sambil sedikit mengangakan mulut. Libido yang memuncak membuatnya menginginkan sentuhan lebih.
Nathan juga terdengar sudah kesulitan mengatur nafas. Dia dan Lova jadi lupa dengan rencana utama mereka.
Hembusan nafas Nathan memberikan hawa panas yang membuat Lova semakin berhasrat. Ia melampiaskannya dengan mencengkeram erat rambut serta kemeja Nathan.
Mengetahui Lova sudah mulai bergairah, Nathan melepas kemejanya. Lalu pakaian Lova. Terutama kain yang menutupi alat vital mereka masing-masing.
Lova menatap Nathan dengan mata sayu. Perlahan dia memejamkan mata. Penglihatan gelap segera menyelimuti.
Saat Lova membuka mata, Nathan sudah mengenakan pakaiannya kembali. Dahinya sontak berkerut.
"Aku pikir Madam Jessy sudah lama pergi. Kenakan pakaianmu! Kita tetap jadi pergi keluar bukan?" ujar Nathan sembari merapikan pakaian dan rambut.
"Pangeran? Apa kita tadi berdua melakukannya?" tanya Lova.
Kening Nathan mengernyit. "Ya! Kita melakukannya. Kau kenapa? Kau selalu bersikap begitu saat selesai melakukan hubungan intim. Seolah dirimu tidak mengingat apa yang sudah kita lakukan," tukasnya.
"Bukan begitu, Pangeran. Aku hanya bingung. Mungkin karena aku terlalu menikmati sentuhan yang kau berikan." Lova mengemukakan alasan seadanya. Untung saja Nathan tidak mempermasalahkan sikap anehnya. Mereka lantas keluar dari tempat persembunyian.
Ketika berjalan sambil berpegangan tangan, Lova terus menatap Nathan. Dia menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa Lova merasa ada sesuatu yang tidak selesai. Secara alami, dia menginginkan Nathan.
'Lova! Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau berharap bisa bercinta dengan Nathan? Harusnya kau senang kalau dunia ini melewatkan pengalaman intim begitu!' Lova menggerutu dalam hati. Namun dia tidak bisa menampik keinginan terdalamnya. Bahwasanya dia hanyalah manusia normal yang juga memiliki naf-su.
"Itu pintunya!" seru Nathan bersemangat. Dia dan Lova berlari melewati pintu belakang. Keduanya berhasil meninggalkan Eden Night dengan mulus.
Nathan menjadi orang yang keluar lebih dulu. Dia segera menyambut tangan Lova dan menuntun menuju mobil. Tetapi langkah mereka langsung terhenti saat melihat Jaden tiba-tiba muncul. Pria itu tersenyum dan menyandar ke mobil Nathan. Lalu menyalakan rokok dengan alat pemantik.
'Astaga... Dia lagi!' batin Lova mengeluh.
"Jade!" Nathan terkejut terhadap kemunculan Jaden. Ia sama sekali tidak menduga.
__ADS_1
Jaden terlihat santai. Dia memandangi Nathan dan Lova secara bergantian. Senyuman menghina mengembang di wajahnya. Kepulan asap rokok segera dikeluarkan Jaden dari mulut.
"Aku melihat dua pengawalmu di ruang utama, Yang Mulia. Keberadaan mereka di sana cukup menarik perhatian. Dua pengawalmu menggila di atas panggung bersama penari striptis," ungkap Jaden. Membuat Nathan langsung menghela nafas. Ia tahu kalau Jaden bukanlah orang yang mudah di hadapi.
"Jadi?" Nathan menuntut jawaban.
"Jadi aku tentu curiga. Kenapa dua pengawalmu meninggalkanmu begitu saja. Aku mencarimu ke kamar. Dan ternyata kau dan Lova sudah tidak ada. Saat itulah aku menyusuri tempat yang kemungkinan kalian lewati. Yaitu lorong menuju pintu belakang." Jaden menjeda perkataannya untuk menghisap rokok. Usai kepulan asap keluar dari mulut, dia melanjutkan, "kalian tahu apa yang kudengar saat aku melewati sebuah gudang? Aku mendengar des-ahan dua pasangan yang sedang dimabuk cinta."
"Akh! Akh! Akh! Kira-kira begitulah bunyinya." Jaden tertawa. Dia menirukan suara erangan Nathan dan Lova saat bercinta di gudang.
'Terserah dia mau bilang apa. Tapi aku sama sekali tidak mengalami apa yang diceritakannya.' Lova kembali berkomentar dalam hati. Dia mengatup bibirnya rapat. Siap untuk angkat suara.
"Kau mau apa?! Biarkan aku dan Pangeran pergi berduaan sekali saja!" cetus Lova. Dia sudah tidak tahan dengan sikap Jaden.
"Hahahaa!" Jaden tertawa dalam keadaan diselimuti kepulan asap rokok.
'Aaarggh... Menyebalkan sekali. Kenapa asap rokok itu tidak membuatnya tersedak dan mati saja?' geram Lova dalam hati.
"Mentang-mentang pelangganmu seorang pangeran, kau terdengar berani sekali! Majikanmu yang sebenarnya di sini adalah aku," balas Jaden. Mengarahkan jari telunjuk ke dada.
Lova mendengus kasar. Dia tidak menyahut lagi.
"Apa maumu, Jade? Aku akan membayar berapapun agar kau membiarkanku dan Lova pergi berduaan," ujar Nathan. Dia terpaksa melakukan penawaran. Nathan tentu tahu bahwa Jaden orang yang gila akan uang.
"Aku akan membiarkan kalian berdua pergi. Tapi aku akan ikut! Dan itu pun kau harus membayar dua kali lipat," ucap Jaden.
Nathan menggeleng. "Tidak! Aku tidak mau kau ikut!" tegasnya.
"Kalau begitu, Lova tidak bisa pergi!" Jaden mendekat. Kemudian sigap merebut Lova dari Nathan.
Nathan tidak membiarkan. Dia memegang erat tangan Lova. Kedua tangan gadis itu kini dipegang oleh dua lelaki yang berbeda. Nathan dan Jaden tampak bertukar tatapan sengit.
...____...
Catatan Author :
Jangan lupa like dan komen setiap bab ya guys. Kebetulan mulai hari ini akan up tiga bab perhari. Mohon dukungannya ya... 😘
__ADS_1