
...༻⑅༺...
Mata Lova memejam rapat. Ia merebahkan diri. Seakan pasrah dengan segala sentuhan. Perlahan penglihatannya menggelap. Lova seolah jatuh ke dalam lelap.
Ketika membuka mata, Lova menemukan tubuhnya telanjang bulat. Hanya ditutupi oleh selimut tebal berwarna putih. Sementara di sampingnya ada Nathan yang telentang miring menghadap Lova.
"Kau sudah bangun?" tanya Nathan.
Mata Lova membulat sempurna. Dia langsung menjaga jarak dengan Nathan. Sungguh, Lova lupa dengan apa yang sudah terjadi.
"Kau kenapa? Bukankah kau sangat bahagia dengan yang kita lakukan semalaman?" ujar Nathan. Wajahnya tampak berseri. Membuktikan bahwa memang ada sesuatu yang terjadi di antara dirinya dan Lova.
"Kita melakukan apa?" tanggap Lova. Tak mengerti.
"Kau lupa? Kita bahkan melakukannya sampai tiga ronde tadi malam," ungkap Nathan. Ia heran dengan sikap Lova. Seingatnya gadis itu tadi malam tidak dalam keadaan mabuk.
"Ti-tiga ronde? Maksudmu kita melakukan anu..." Lova menduga. Dari kata ronde yang disebutkan Nathan, dia pasti paham apa maksud lelaki tersebut.
"Ya, kita bercinta semalaman!" Nathan membenarkan. Dia masih menunjukkan mimik wajah heran.
"Be-bercinta?" Lova menggaruk bagian belakang kepalanya. Dia berusaha mengingat kejadian tadi malam. Namun dirinya tidak bisa mengingat apapun. Seakan dia tidak mengalami apa yang sudah di alami Nathan bersamanya. Hal terakhir yang di ingat Lova hanyalah kecupan yang diberikan Nathan pada pangkal pahanya.
"Kau tidak mempermainkanku bukan?" dahi Nathan berkerut dalam. Sepertinya dia kecewa melihat reaksi Lova.
"Tidak! Bukan begitu. Hanya saja segalanya terasa seperti mimpi bagiku." Lova segera meluruskan kesalahpahaman Nathan. "Tadi malam benar-benar sangat indah..." lanjutnya berpura-pura. Lova mengembangkan senyum. Lalu menggenggam jari-jemari Nathan dengan lembut.
"Syukurlah... Aku pikir kau mempermainkanku." Nathan mengembangkan senyum. Dia beringsut mendekati Lova. Lalu memeluk erat gadis itu.
Lova membulatkan mata. Tubuhnya merinding hebat. Bagaimana tidak? Keadaannya dan Nathan sekarang sedang sama-sama bugil.
"Kebetulan pagi ini aku tidak punya jadwal. Makanya aku bisa menginap satu malam di sini," ungkap Nathan. Ia mengecup puncak kepala Lova yang menyandar di pundaknya.
Entah kenapa Lova merasa sangat nyaman saat berada dalam dekapan Nathan. Dia perlahan mendongak dan menatap lelaki itu.
Tahu Lova menatap, Nathan tersenyum. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium bibir gadis tersebut.
Tetapi belum sempat berciuman, suara pengawal Nathan bergema di depan pintu. Dia memberitahukan kalau pangeran harus segera kembali ke istana.
__ADS_1
"Aku harus pergi sekarang. Sampai bertemu nanti malam," ujar Nathan. Dia meneruskan ciumannya walau begitu singkat.
Nathan beranjak dari ranjang. Lalu mengambil pakaian. Dia melangkah memasuki kamar mandi terlebih dahulu.
Wajah Lova memerah seketika. Dia dapat menyaksikan tubuh Nathan tanpa tertutupi benang sehelai pun.
Lova membuang muka. Meski tadi malam dia juga sempat menyaksikan pemandangan itu, namun tetap saja dirinya merasa malu.
Kepala Lova menggeleng cepat. Ia bergegas mengenakan pakaian.
Setelah selesai membersihkan diri, Nathan berpamitan dengan Lova. Dia menyuruh gadis itu menyimpan kalung pemberiannya sebaik mungkin. Sebab kata Nathan, kalung tersebut bukanlah perhiasan biasa.
...****************...
Kini Lova tengah berdiri di depan cermin. Ia memandangi kalung yang melingkar di leher. Gambaran mengenai Nathan yang tidak memakai baju kembali terbayang. Gadis itu juga mengingat bagaimana rasanya ciuman tadi malam.
Lova spontan menampar pipinya sendiri. Dia heran kenapa pikirannya tiba-tiba terlintas hal tidak-tidak.
"Kau kenapa tiba-tiba punya otak mesum! Sadarlah, Lova!" gumam Lova. Mencoba memperingatkan dirinya sendiri.
Bukannya berhenti, pikiran Lova tentang Nathan dan tadi malam semakin menjadi-jadi. Dia bahkan penasaran dengan apa yang dilupakan oleh ingatannya.
"Astaga... Ada apa denganku?" Lova frustasi dengan dirinya sendiri. Dia lantas berusaha memikirkan hal selain Nathan.
"Pikirkan hal lain, Lova. Pikirkan tentang keluarga dan rumah yang kau rindukan," gumam Lova. Mencoba mencuci otaknya sendiri.
Lova menghembuskan nafas dari mulut. Usahanya tadi berhasil membuat dia melupakan Nathan dan kejadian tadi malam. Setidaknya untuk sekarang.
Selepas membersihkan diri, Lova keluar dari kamar. Dia pergi ke ruang utama Eden Night karena merasa sangat lapar. Lova berniat mendatangi dapur yang berada tidak jauh dari meja bartender.
Tanpa diduga, atensi Lova harus tertuju kepada sosok tidak asing. Sosok itu tidak lain adalah Defney. Dia terlihat duduk santai sambil menikmati secangkir kopi. Penampilan Defney tetap sama seperti saat Lova bertemu dengannya pertama kali.
"Kau nenek yang bernama Defney kemarin di atap itu bukan?" tanya Lova yang sudah berdiri di hadapan Defney. Berupaya mengamati wajah wanita tua tersebut baik-baik.
"Hmmmh..." Defney hanya bergumam tidak jelas. Dia segera mendongak dan menatap Lova. "Benar, my dear. Ini aku. Kebetulan aku lewat dan merasa haus. Jadi aku mampir ke sini," jelasnya dengan senyuman yang tak memudar.
"Bagus! Ada banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu!" Lova menarik kursi yang ada di dekat Defney. Lalu mendudukinya.
__ADS_1
Lova sudah mengangakan mulut untuk memberi pertanyaan pertama, namun Defney mendadak berdiri. Wanita tua itu berucap, "Kemunculanku sekarang hanya memberitahu kalau kau tidak akan pernah bisa berhubungan intim di dunia ini. Bahkan saat kau merasa sangat menginginkannya. Itulah alasan kau tidak bisa mengingat kejadian tadi malam."
Lova termangu. "Ma-maksudmu?" tanya-nya. Menuntut jawaban.
"Karena dunia novel yang kau masuki bukanlah novel dewasa. Bahkan saat kau sedang berperan sebagai wanita PSK sekali pun," jawab Defney.
"Aku tidak peduli! Lagi pula, aku yakin kalau aku tidak akan pernah menginginkan hal seperti itu. Aku sebenarnya ingin menanyakan hal lain." Lova bicara tanpa menatap Defney. Dia berusaha mengingat apa yang ingin ditanyakannya. "Aku ingin..." saat hendak bertanya, Lova menatap ke arah Defney. Akan tetapi wanita tua tersebut sudah menghilang.
Lova berdiri dan mengedarkan pandangan ke segala arah. Berusaha mencari keberadaan Defney. Nihil, lagi-lagi nenek itu menghilang bagai ditelan bumi.
"Jadi dia muncul hanya ingin memberitahukan itu? Dia pikir aku peduli? Malah bagus jika aku tidak bisa mengingat hubungan intim yang kulakukan." Lova tak acuh. Dia mendadak terpikirkan satu hal. "Tunggu dulu. Tapi jika aku tidak bisa mengingat atau mengetahuinya, bukankah itu menandakan kalau aku masih perawan?" simpulnya sembari memiringkan kepala.
Perut yang lapar membuyarkan lamunan Lova. Dia segera ke dapur untuk mencari sesuatu untuk dimakan.
Sekian jam terlewat. Malam telah tiba. Sekarang Lova sudah berada di kamar khusus untuk menunggu Nathan. Dia sudah menanti satu jam yang lalu. Entah kenapa Lova merasa bersemangat untuk bertemu Nathan. Seolah ada perasaan yang menggebu dalam dirinya.
Pintu akhirnya terbuka. Sosok yang dinanti Lova sudah datang. Nathan segera memberikan pelukan untuk Lova.
Madam Jessy yang kebetulan belum pergi, bergegas menutup pintu kamar. Dia salah tingkah menyaksikan kemesraan Nathan dan Lova.
Saat itulah Nathan berbisik ke telinga Lova. "Hari ini aku punya rencana berbeda. Aku ingin kita pergi berduaan meninggalkan Eden Night," ujarnya. Membuat netra Lova membola seketika.
..._____...
...Bonus Visual...
..._____...
..._____...
..._____...
__ADS_1
Visualnya khusus buat pemeran inti saja ya. Tiga tokoh itu adalah pemeran inti di novel ini.
Kalau suka novelnya jangan lupa like dan komennya ya... 🤗