Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 7 - Jaden Baik Atau Jahat?


__ADS_3

...༻⑅༺...


Richard tersenyum mendengar tantangan yang diberikan Lova. Ia segera melonggarkan dasi serta kerah baju. Lalu duduk ke samping Lova.


Tanpa pikir panjang, Richard menenggak minuman beralkohol langsung dari botol. Bersamaan dengan itu, matanya terus jelalatan memperhatikan lekuk tubuh Lova yang terbilang sempurna.


Lova tersenyum sembari menyodorkan botol berisi alkohol kepada Richard. Dia yakin lelaki itu sebentar lagi akan tumbang.


"Kau tenang saja. Aku sanggup meminum tiga botol alkohol. Seratus pun sanggup asal aku bisa menghabiskan waktu yang bergairah bersamamu, cantik..." goda Richard seraya mencolek dagu Lova dengan lembut.


"Aku harap begitu," tanggap Lova yang tentu sedang berpura-pura. Sebenarnya ada sedikit keraguan dalam dirinya. Lova takut rencananya tidak berhasil.


'Apa ada sejenis obat tidur di sini?' batin Lova sembari mengedarkan pandangan. Tetapi dia tidak menemukan apapun.


Lova mencoba membuka laci lemari satu per satu. Nihil, dia tetap tidak bisa menemukan sesuatu.


Nafas dihela Lova cukup panjang. Ia perlahan menoleh ke arah Richard. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan lelaki tersebut sudah kehilangan kesadaran.


"Wah... Ternyata dia hanya pandai bicara," komentar Lova. Dia segera melepas pakaian Richard. Sampai hanya mengenakan celana pendek. Lova juga menggoreskan sedikit lipstik ke tubuh lelaki itu.


Atensi Lova tertuju pada cincin yang tersemat di jari manis Richard. Dari benda itu dia tahu kalau Richard sudah menikah.


"Hmmm... Harusnya kau bersyukur pada istrimu. Dia masih mau bertahan dengan keadaan perutmu yang buncit itu," gumam Lova. Bicara kepada orang yang sedang hilang kesadaran.


Waktu baru berlangsung satu jam. Dua jam lagi waktu Lova habis untuk menemani pelanggan pertama di malam tersebut.


"Aku harus menunggu," ucap Lova sambil merebahkan diri ke ranjang. Meletakkan satu tangan ke atas jidat.


Tak lama kemudian pintu diketuk oleh seseorang. Lova tahu kalau itu merupakan pertanda kalau waktunya telah selesai dengan Richard. Ia harus segera menemui pelanggan kedua.


Sebelum keluar, Lova sengaja membuat lipstik agak belepotan. Dia juga mengacak-ngacak rambut panjangnya. Semua itu Lova lakukan agar semua orang percaya kalau dirinya baru selesai bercinta.


Ceklek!

__ADS_1


Pintu dibuka oleh Lova. Madam Jessy menyambut penglihatan. Ia segera menengok ke dalam kamar. Madam Jessy sukses menemukan Richard sedang tidur dengan hanya mengenakan celana pendek.


"Apa yang kau lakukan pada Richard, Lova sayang? Sepertinya kau membuatnya kewalahan," ujar Madam Jessy.


Lova tersenyum sembari melambaikan tangan ke depan wajah. "Bukankah aku sudah sering begini?" tanggapnya santai. Berpura-pura kalau dirinya menikmati pekerjaan.


Madam Jessy mengerutkan dahi. Sebab Lova yang dia kenal hanyalah sosok penurut dan pemurung. Madam Jessy tidak pernah melihat Lova menikmati pekerjaannya seperti itu.


"Tidak juga. Lova yang kukenal sangat pendiam dan jarang tersenyum. Meskipun begitu dia tetap menjadi kesukaan banyak lelaki," jawab Madam Jessy.


Lova tersenyum kecut. Dia jadi malu sendiri. 'Aku merasa seperti orang yang tidak mengenali diri sendiri,' ucapnya dalam hati.


"Tapi lupakan Lova yang dulu. Harus kuakui aku menyukai Lova yang sekarang. Apalagi jika kau terus menuruti perintahku. Menjadi penurut bukan hal sulit bukan?" tukas Madam Jessy.


"Ya, itu memang tidak sulit." Lova terpaksa setuju. Sebab dia sudah bertekad untuk berlagak baik di hadapan Madam Jessy.


Malam itu Lova harus menemui pelanggan kedua dan ketiga. Dia memperlakukan keduanya seperti apa yang dirinya lakukan kepada Richard. Untuk sekarang semuanya berjalan mulus.


Satu hal yang pasti. Lova merasa sukses besar melindungi tubuhnya dari para lelaki hidung belang.


"Andai saat musim dingin nanti aku tetap memakai gaun begini, maka matilah aku," gerutu Lova.


Ketika berjalan dengan santai menuju kamar, sebuah tangan tiba-tiba membekap mulut Lova. Dia mencoba menyerang, namun orang di belakangnya tidak hanya satu orang. Mereka sigap mengikat dua tangan Lova dengan erat. Mata Lova juga sengaja ditutup dengan seutas kain hitam.


"Mmmmphh! Mmpph!" Lova mencoba berteriak tetapi tidak bisa. Sebab kini mulutnya juga ditutupi dengan kain.


Orang-orang yang membawa Lova tidak lain adalah Felly, Cheryl, Olive, Mila, dan Katy. Mereka merupakan wanita PSK yang selalu merasa iri kepada Lova.


"Olive! Apa semuanya sudah siap?" tanya Felly seraya mendorong kasar Lova ke lantai. Gadis itu jatuh terduduk. Mila lantas membuka kain yang menutup matanya.


Kini terpampang jelas orang-orang yang ada di sekitar Lova. Dia sama sekali tidak terkejut dengan mereka. Lova hanya penasaran mengenai rencana kejahatan Felly dan kawan-kawan.


"Tapi aku sudah melihat ada sedikit asap dari tekonya? Bukankah sudah mendidih?" tanya Cheryl seraya memperhatikan teko yang ada di atas kompor menyala.

__ADS_1


"Keluar asap bukan berarti mendidih sepenuhnya. Kita harus menunggu sampai tekonya berbunyi," jawab Olive. Dia dan yang lain segera melirik Lova. Gadis itu terus dipaksa duduk di lantai.


Mata Lova memicing ke arah teko yang ada di kompor. Kini dia dapat menduga rencana Felly dan kawan-kawan. Lova yakin mereka akan menggunakan air panas untuk menyakiti dirinya.


Lova diam sejenak. Di waktu yang tepat, dia mencoba melarikan diri. Namun tidak bisa karena Felly dan Mila langsung menginjak kedua kakinya.


"Sudah! Cepat siram saja air panas itu ke wajahnya! Aku sudah muak menunggu!" geram Felly.


Olive lantas mengangguk. Dia segera mengambil teko dengan beralaskan kain agar tidak kepanasan.


"Setelah ini tidak ada yang namanya primadona lagi!" imbuh Felly sambil berseringai. Hal serupa juga dilakukan Cheryl dan kawan-kawan. Terutama Olive. Orang yang bertugas menyiram air panas ke wajah Lova.


Ketika air panas hampir menetes ke wajah Lova, Jaden datang. Dia sukses memergoki niat jahat Felly dan yang lain.


"Apa yang kalian lakukan?!" timpal Jaden. Membuat Olive langsung meletakkan teko ke atas kompor. Dia urung menyiramnya ke wajah Lova. Karena semua orang di Eden Night tahu, betapa bengisnya sosok Jaden.


"Pergi kalian! Sekali lagi aku melihat hal begini, maka aku sendiri yang akan menyiram wajah kalian dengan air panas!" ancam Jaden. Matanya membuncah hebat. Menyebabkan Felly dan kawan-kawan ketakutan. Mereka segera berlarian meninggalkan dapur.


Jaden mendengus kasar. Dia melepaskan ikatan yang menjerat tangan serta kain pembekap mulut Lova.


"Terima kasih, Mr. J..." ungkap Lova dengan raut wajah mengerucut. Rasa marah dan sedih bercampur aduk dalam dirinya.


Jaden hanya diam. Ia menemani Lova pergi ke kamar. Saat itulah Lova merasa ada yang aneh dengan Jaden. Dia bingung apakah lelaki itu baik atau jahat?


"Kau itu sebenarnya orang baik atau jahat?" celetuk Lova. Memulai Pembicaraan.


Jaden terkekeh. "Apa kau sedang terbawa perasaan dengan yang kulakukan? Ayolah... Kau tahu aku pernah meniduri semua wanita PSK di sini. Termasuk kau!" sahutnya.


Mata Lova terbelalak. Ia reflek menutupi area dadanya. "A-aku dan kau?" ucapnya memastikan.


"Aku bahkan lupa sudah berapa kali kita melakukannya." Jaden menyenggol bahu Lova dengan pundak. Ia tersenyum nakal. Membuat Lova semakin ketakutan.


"Kau benar-benar maniak!" komentar Lova yang merasa jijik. Dia segera menjaga jarak dari Jaden.

__ADS_1


"Kalau kau ingin tahu aku memihak siapa, maka aku harus bilang bahwa uang adalah segalanya. Jadi aku baik kepadamu hanya karena uang. Aku dekat dengan Madam Jessy juga karena uang. Kau mengerti bukan?" pungkas Jaden. Memutar tubuhnya menghadap Lova. Lalu memojokkan gadis itu ke dinding.


Lova mengangguk dengan gugup. Dia tentu mengerti. Mengingat dirinya adalah sang primadona di Eden Night. Wanita PSK yang selalu berhasil menarik para lelaki hidung bilang. Karena itulah Jaden harus melindunginya.


__ADS_2