
...༻⑅༺...
Nathan melepas pelukan dari Lova. Lalu menatap wajah gadis itu lamat-lamat. Sungguh dia sangat merindukannya lebih dari apapun.
"Aku senang bisa melihatmu lagi," ungkap Nathan.
"Aku juga," sahut Lova. Dia dan Nathan saling berpegangan tangan. Terus bertukar tatapan lekat.
"Aku dengar kau melakukan perlawanan pada Titan. Apa itu benar?" tanya Nathan.
"Iya. Tapi aku tidak sendiri. Ada banyak orang yang membantu," jawab Lova.
"Kau wanita yang tangguh, Lova. Aku rasa kau lebih tangguh dariku," puji Nathan. Membuat senyuman lebar mengembang di wajah Lova.
"Kaulah yang membuatku tangguh, Pangeran. Aku tidak akan begitu jika bukan karenamu." Lova bersungguh-sungguh terhadap ucapannya.
Nathan tersenyum haru. Matanya tidak pernah lepas dari Lova. Hingga sebuah pertanyaan mengejutkan keluar dari mulut lelaki itu.
"Maukah kau menikah denganku?" tanya Nathan.
Deg!
Jantung Lova langsung berdegub kencang. Dia tidak menduga Nathan akan mengajaknya menikah secepat itu.
"Kau yakin ingin menikahi gadis--" belum sempat Lova selesai bicara, Nathan sudah lebih dulu menyumpal mulutnya dengan ciuman. Namun itu tidak berlangsung lama. Nathan perlahan melepas tautan bibirnya dari mulut Lova.
"Aku bahkan tidak pernah ragu sejak awal..." ucap Nathan.
Lova tersenyum. Dia memegangi wajah tampan Nathan. "Tentu saja aku mau menikah denganmu," katanya.
"Kalau begitu, kita akan mempersiapkannya setelah kau benar-benar sembuh," tanggap Nathan.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan posisi raja? Mengingat Titan sudah tidak lagi menjadi raja." Lova sengaja membuka topik pembicaraan mengenai raja. Dia ingin memastikan apakah Nathan masih enggan untuk menjadi raja.
"Entahlah. Sepertinya aku tidak punya pilihan. Aku berharap ada seseorang yang bisa menggantikanku. Orang yang pantas dan tentu saja bisa dipercaya." Nathan mendengus kasar.
"Bagaimana kalau Jade? Menurutku dia bisa mengambil alih posisi raja dengan baik," usul Lova.
Mata Nathan membulat. Dia tidak menyangka Lova akan mengusulkan Jaden.
"Kau mempercayai pria itu? Setelah apa yang dia lakukan kepadamu?" Nathan meragu.
Lova mengagguk tanpa ragu. "Awalnya aku juga meragukan Jade. Tapi setelah melihat pengorbanannya untuk kita, aku rasa dia bisa dipercaya," jelasnya.
"Maksudmu?" Nathan sama sekali tidak tahu perlawanan yang dilakukan Jaden terhadap Nathan. Lelaki tersebut bahkan nyaris mati hanya karena ingin menyelamatkan Axenia.
Love menceritakan semuanya. Termasuk runtuhnya bangunan Eden Night, serta banyaknya anak buah Jaden yang mati.
Fakta mengenai Jaden membuat Nathan berpikir. Jika Jaden berbuat begitu, lelaki itu memang pantas dijadikan raja. Terlebih Jaden juga sudah sering menjadi pemimpin untuk banyak orang.
Tak lama kemudian, orang yang dibicarakan muncul dari balik pintu. Jaden terlihat berjalan sambil membawa infus.
Pupil mata Jaden membesar ketika melihat Lova sudah siuman. Dia merasa senang. Meskipun begitu, Jaden menyembunyikan rasa senangnya sebisa mungkin.
"Apa aku boleh bergabung?" tanya Jaden.
"Masuklah!" sahut Nathan. Dia mempersilahkan Jaden duduk di salah satu kursi yang ada.
"Jade, aku dan Pangeran Nathan sedang berdiskusi mengenaimu," tukas Lova.
"Mengenai apa?" tanya Jaden sembari mendudukkan dirinya.
"Aku dan Lova sepakat untuk mengusulkanmu jadi raja Axenia," ujar Nathan. Dia duduk ke sebelah Jaden.
__ADS_1
"Apa?!" Jaden sontak terkejut. Walaupun begitu, dia sama sekali tidak memberi pernyataan menolak.
"Jika para anggota kerajaaan sepakat menjadikanmu raja, apa kau bersedia?" Nathan bertanya dengan serius.
"Aku merasa tidak pantas," ungkap Jaden.
"Tapi memimpin banyak orang adalah keahlianmu. Aku yakin kau bisa melakukannya dengan baik," ujar Lova yang merasa yakin.
Jaden menatap Lova. Gadis itu tampak menatapnya dengan penuh harap. Tatapan tersebut membuat Jaden tidak bisa menolak. Lagi pula setelah dipikir-pikir, Lova pasti akan menikah dengan Nathan. Jaden merasa harus melakukan banyak hal agar bisa melupakan Lova.
"Baiklah. Aku bersedia. Tapi bagaimana dengan rakyat Axenia? Aku ragu mereka akan menerimaku," ujar Jaden. Menatap Lova dan Nathan secara bergantian.
Lova menyahut, "Mengenai itu, serahkan semuanya kepada Pangeran Nathan. Jika Pangeran mempercayaimu, maka rakyat Axenia juga akan melakukannya."
Nathan mengangguk. Dia merasa apa yang dikatakan Lova benar.
...***...
Tiga hari berlalu. Lova sudah sepenuhnya pulih. Dia dibawa oleh Nathan ke istana. Nathan memberitahu para anggota kerajaan bahwa pernikahannya dan Lova akan diselenggarakan.
"Sebelumnya kami menikah secara diam-diam. Jadi sekarang kami ingin melakukannya dengan terang-terangan. Sekalian membahas tentang hal ini, aku juga ingin membicarakan perihal posisi raja," kata Nathan dengan nada lantang. Dia segera melakukan rapat dengan semua anggota kerajaan.
Di sana Nathan membicarakan mengenai rencananya yang ingin menjadikan Jaden raja. Jujur saja, usulannya tersebut tidak mengalami kendala yang sulit. Sebab para anggota kerajaan sudah tahu bagaimana perjuangan Jaden dalam melawan Titan.
Sementara calon suaminya sedang sibuk diskusi, Lova jalan-jalan di taman istana bersama Alana. Mereka mengobrol banyak hal. Termasuk keinginan Alana yang ingin pergi dari kehidupan kerajaan. Gadis itu menginginkan hal yang sama seperti Nathan.
"Aku ingin hidup bebas. Sejak kecil, aku selalu menyelinap pergi ke desa. Aku menyamar menjadi rakyat biasa. Dan itu terasa begitu menyenangkan," imbuh Alana. Bicara sambil memegangi setangkai bunga mawar putih.
"Pangeran Nathan juga bermimpi seperti itu. Setelah Jade resmi menjadi raja, kami akan tinggal di desa. Hidup tenang dan damai di sana," tanggap Lova. "Tapi kapan kau akan pergi?" tanya-nya penasaran.
"Setelah acara pernikahanmu dan Nathan. Aku tidak mungkin melewatkan acara penting kalian bukan?" Alana menyenggol Lova dengan sikunya.
__ADS_1
"Tentu saja. Aku akan kecewa jika kau tidak datang," balas Lova.