
...༻⑅༺...
Setelah mengambil kartu tarot, Lova memutar tubuhnya menghadap Jaden dan Nathan. Ia menemukan dua lelaki itu menatapnya heran. Dengan cepat Lova memudarkan senyuman.
"Kau kenapa? Apa ada sesuatu yang kau ambil?" tanya Nathan seraya menilik pohon hias yang tadi didekati Lova.
"Tidak. Bukan apa-apa." Lova menggeleng.
"Lupakan, Pangeran! Sikap Lova memang agak aneh belakangan ini," komentar Jaden. Ia mengajak Nathan meninggalkan Lova.
"Eh! Aku ikut!" Lova bergegas mengejar. Sebelum itu, dia tidak lupa untuk menyimpan kartu tarot yang ditemukannya. Seperti biasa, karena tidak punya saku, Lova menyimpan kartu tersebut ke dalam bra.
Saat Lova melangkah mengikuti Nathan, Jaden menoleh ke arahnya. Lalu menyuruh Lova pergi ke kamar.
"Ini tidak adil! Aku ingin tahu--"
"Aku akan ceritakan nanti! Sekarang aku hanya bermaksud menyuruh Pangeran pulang," ujar Jaden dengan kening yang mengernyit dalam.
"Pulang? Aku tidak ingin pulang!" tolak Nathan. Dia menghindari Jaden. Kemudian menghampiri Lova.
"Tapi, di sini ada banyak orang berbahaya, Yang Mulia. Kau tidak tahu siapa orang yang tiba-tiba menyerangmu. Mungkin saja aku atau Lova," imbuh Jaden.
"Hei! Jangan menuduhku! Aku tidak akan pernah membiarkan tanganku ini menyakiti Pangeran!" bantah Lova menegaskan. Membuat senyuman senang terukir diwajah Nathan.
"Aku hanya membicarakan kemungkinan yang akan terjadi. Aku sarankan Pangeran untuk kembali ke istana." Jaden terlihat serius dengan ucapannya.
Lova yang mendengar terdiam. Ia sebenarnya sependapat dengan Jaden. Eden Night memang tempat berbahaya untuk Nathan sekarang. Alhasil Lova juga menyarankan Nathan kembali ke istana.
"Kau kenapa juga mengusirku? Tidak mau menghabiskan waktu denganku?" tanggap Nathan.
"Bukan begitu. Aku hanya mencemaskanmu, Yang Mulia. Aku tidak mau kau celaka karena aku," ungkap Lova. "Lagi pula akulah yang mendengar pembicaraan rencana pembunuhan terhadapmu. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa. Kumohon jagalah dirimu," sambungnya tulus.
Mendengar ucapan Lova, Nathan akhirnya setuju. Dia dan dua pengawalnya segera kembali ke istana.
"Sampai bertemu lagi. Aku nanti akan kirimkan seseorang untuk membantumu keluar dari sini." Sebelum pergi, Nathan menyempatkan diri berbisik ke telinga Lova. Tanpa sepengetahuannya, Jaden mendengar bisikan tersebut. Lelaki itu otomatis berseringai.
Selepas saling berpelukan, Nathan dan Lova berpisah. Kini Nathan berjalan sejajar dengan Jaden.
"Kabari aku jika kau sangat ingin bertemu Lova. Aku pasti akan menemukan cara untuk membuat kalian bertemu. Oke?" tutur Jaden. Penawarannya itu tentu memiliki niat terselubung. Apalagi kalau bukan uang.
__ADS_1
"Aku yakin kau menginginkan bayaran yang sangat tinggi," terka Nathan.
Jaden terkekeh. Ia tidak bisa membantah tebakan Nathan yang benar seratus persen.
"Sebagai manusia, kita haru bisa memanfaatkan peluang bukan?" ucap Jaden percaya diri. Nathan yang mendengar, hanya bisa memutar bola mata jengah.
...****************...
Karena Nathan pulang lebih cepat dari biasanya, Lova tidak mempunyai lelaki untuk dilayani lagi. Ia lantas memilih tidur saja.
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk. Lova reflek membuka mata. Dia melihat waktu masih menunjukkan jam satu malam.
"Siapa? Apa itu Madam Jessy?" tanya Lova dengan nada yang cukup lantang. Namun tidak ada siapapun yang menjawab. Hanya ada suara pintu yang terus diketuk.
Lova mencoba mengabaikan. Tetapi suara ketukan pintu tidak bisa membuatnya tidur. Lova terpaksa bangun sambil memasang mimik wajah merengut. Dia nampaknya ingin memarahi orang yang ada di depan pintu.
Ketika pintu terbuka, Lova langsung diserang dengan kepalan tinju seseorang. Dalam sekejap gadis itu tumbang ke lantai. Meskipun begitu, Lova masih sadar. Dia dapat menyaksikan Jill tersenyum. Lalu membawanya ke gudang.
Lova yang masih merasakan sakit, di ikat ke kursi. Keadaan hidungnya mengeluarkan darah cukup banyak.
"Fel, aku sudah membawanya ke gudang. Kalian bisa masuk lewat pintu belakang. Ariana akan membukakan pintu untuk kalian," ujar Jill. Berbicara dengan ponselnya.
"Kau akan tahu sebentar lagi," sahut Jill sembari menyilangkan tangan ke depan dada.
Benar dugaan Lova, orang yang bicara ditelepon dengan Jill adalah Felly. Wanita itu datang. Dia tidak sendiri. Felly datang bersama Cheryl dan Katy.
"Aku kali ini pasti akan membunuhmu, Lova!" Felly mengeluarkan pisau lipat dari saku celana. Dia segera menggoreskannya ke bahu Lova.
"Aaarkkhh!!" Lova memekik kesakitan. Namun Felly dan kawan-kawan justru tertawa kesenangan.
"Sakit ya? Mau yang lebih sakit?" ucap Felly sambil memegang kuat dagu Lova.
"Enyahlah! Cuh!" hardik Lova. Dia meludah ke wajah Felly. Membuat amarah wanita itu sontak memuncak.
Sejujurnya Lova sedang sangat ketakutan. Bagaimana tidak? Felly dan kawan-kawan tampak sangat berbeda. Sikap dan tatapan mereka seperti orang yang kesetanan.
"Sialan! Berani sekali kau meludah ke wajahku!" geram Felly. Dia mengusap kasar wajahnya yang terkena ludahan.
"Bersiaplah untuk pergi ke neraka!!!" Felly marah besar. Dia mengangkat pisau. Bersiap memberikan hujaman bertubi-tubi ke badan Lova. Tetapi belum sempat terjadi, pintu mendadak terbuka.
__ADS_1
Jaden muncul sambil memegang pistol. Felly dan kawan-kawan sontak terkejut. Mereka reflek menoleh ke arah Jaden.
"Peek a boo!" Jaden mengembangkan senyuman joker. Tanpa pikir panjang, dia langsung menarik pelatuk pistol.
Dor!
Dor!
Dor!
Tidak tanggung-tanggung. Jaden menembak Felly, Katy, dan Cheryl tepat di kepala. Ketiganya langsung jatuh terhempas ke lantai.
"Aaaarkkhhh!!!" Jill dan Ariana berteriak bersamaan. Terlebih darah Felly dan kawan-kawan menciprat ke wajah mereka. Begitu pun Lova. Gadis itu hanya terpelongo karena tiba-tiba melihat ada tiga mayat di depan mata.
"Jill, Ariana! Begitulah jadinya jika sudah diberi kesempatan tapi ternyata berulah lagi," ucap Jaden seraya meniup ujung pistol yang terlihat mengeluarkan asap.
"Ma-ma-maafkan ka-kami, Tuan Jade..." ungkap Jill yang gemetar ketakutan. Sedangkan Ariana hanya merengek seraya menundukkan kepala.
"Tak apa. Pergilah kembali ke kamar!" perintah Jaden.
Jill dan Ariana lantas beranjak. Keduanya lari secepat mungkin karena merasa sangat takut.
Sementara itu, Lova perlahan mendongak menatap Jaden yang mendekat. Tatapannya menggetir.
"Kau... Kenapa membunuh mereka?" tukas Lova lirih.
"Aku sudah memberi mereka kesempatan. Tapi mereka masih saja berusaha mengganggumu!" sahut Jaden sembari melepas tali yang mengikat Lova.
"Kau gila..." cibir Lova dengan tatapan kosong.
"Kau akan terus diganggu jika aku tidak membunuh mereka. Aku tidak akan membiarkan primadonaku terus terluka begini!" Jaden mengusap darah di hidung Lova dengan tangan. Ia segera menggendong gadis itu dengan ala bridal. Membawanya pergi meninggalkan gudang.
Lova merasa syok. Ia bertambah takut ketika menyaksikan kematian Felly, Cheryl, dan Katy.
Tanpa sadar Lova mengalungkan tangannya dengan erat ke leher Jaden. Dia menangis tersedu-sedu. Tidak ada yang di inginkan Lova sekarang selain kembali ke rumah dan bertemu keluarga tercinta.
"Aku ingin pulang... Hiks... Antarkan aku pulang..." lirih Lova. Di sela-sela tangisnya.
Jaden lantas berhenti. Dia terpaku menatap Lova. Entah kenapa dirinya merasa tidak enak saat menyaksikan Lova berlinang akan air mata. Jaden merasa aneh ketika menyaksikan gadis itu menangis.
__ADS_1