
...༻⑅༺...
Setelah Titan diamankan, Alana menyuruh pengawal untuk membawa Jaden dan Lova ke rumah sakit. Dia ingin secepatnya mengobati dua orang tersebut.
Kini Lova sedang mendapat perawatan. Hal serupa juga diterima Jaden. Lelaki itu sudah lebih baik setelah menerima infus dan memakan makanan.
Jaden menunggu kabar tentang Lova. Ia duduk di tepi ranjang sambil sesekali melihat ke arah pintu. Berharap Courtney datang dan memberikan kabar tentang Lova. Kebetulan Lova harus melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang ditubuhnya.
Pintu tiba-tiba terbuka. Kelopak mata Jaden melebar. Dia mengira orang yang datang adalah Courtney, tetapi pada kenyataannya tidak.
Jaden sangat kaget melihat siapa yang datang. Dia tidak lain adalah Nathan.
"Pangeran!" seru Jaden yang reflek berdiri. Tali infusnya bahkan tidak sengaja tertarik akibat pergerakannya. "Kau sudah sembuh," sambungnya. Merasa tidak percaya.
Nathan melangkah masuk. Dia berjalan ke hadapan Jaden.
"Dimana Lova? Aku dengar dia kena luka tembak." Raut wajah Nathan terlihat gelisah. Dia tentu mencemaskan Lova.
"Lova sedang di operasi. Kita tunggu saja hasilnya dan berharap yang terbaik!" ujar Jaden.
Nathan mendengus kasar. Dia hanya bisa berharap operasi Lova bisa berjalan lancar. Dirinya berjanji akan menikahi Lova, jika gadis itu telah sadar.
Di sisi lain, Lova sedang berada di ruang operasi. Dokter dan tenaga medis yang lain masih belum selesai melakukan pembedahan.
Lova terbangun. Dahinya mengerut dalam. Dia sangat terkejut ketika melihat orang-orang medis menggeromboli badannya. Parahnya Lova bisa melihat keadaan perutnya yang sedang dibedah. Darah serta organ-organ dalam perut dapat terlihat jelas.
__ADS_1
"Aaaarkkkhhh!!!" Lova berteriak keras. Dia bangkit dari ranjang dan berlari menjauh.
Lova semakin dibuat terkejut. Sebab saat sudah berada di jarak yang jauh, dia masih dapat melihat tubuhnya telentang di ranjang.
"Tunggu dulu. Apa yang terjadi kepadaku?" gumam Lova keheranan. Dia segera meraih benda yang ada di dekatnya. Lalu mencoba memegang benda tersebut.
Mata Lova membulat saat tangannya tidak bisa menyentuh benda apapun. Dia semakin ketakutan kepada dirinya sendiri.
"Apa aku sudah mati?! Ini tidak mungkin!" Lova memegangi rambutnya. Dia merasa dirundung perasaan khawatir yang memuncak.
"Santai saja. Keadaanmu sekarang, persis seperti keadaanmu di dunia nyata." Defney mendadak muncul. Entah sejak kapan dia berdiri di sebelah Lova.
"Nenek Defney! Apa yang terjadi kepadaku? Apa aku gagal?" Lova menuntut jawaban. Jujur saja, siapa yang tidak takut saat melihat dirinya terpisah dengan raga sendiri.
"Ini adalah hal istimewa dalam proses transmigrasi. Tidak semua orang bisa mengalaminya. Kau sangat hebat Lova. Karena di sinilah kau bisa menentukan alur cerita yang menurutmu tepat," jelas Defney.
"Biar aku persingkat. Apa yang kau alami sekarang bisa dibilang adalah kesempatan bagus. Kau bisa menentukan akhir cerita yang menurutmu bagus. Apapun yang kau inginkan akan terjadi setelah kau sadar nanti "
"Tunggu. Jadi aku bisa mengaturnya di sini? Apakah ceritanya sudah berakhir?"
"Bisa dibilang begitu. Kau baru saja melewati konflik akhir dengan gagah berani. Aku memang tidak salah memilihmu."
Lova membisu. Dia mencoba menenangkan diri terlebih dahulu. Lalu memikirkan alur yang dirinya inginkan.
"Aku ingin Pangeran Nathan pulih. Lalu menikahiku..." Lova tersenyum sambil menyatukan tangan ke depan wajah. Dia sudah berkhayal. "Aku ingin kami hidup bahagia di rumah sederhana. Dimana di sekelilingnya terdapat rerumputan dan padang bunga yang indah. Memiliki anak bersama. Lalu hidup bahagia dan damai..." sambungnya.
__ADS_1
"Jadi kau tidak ingin Pangeran Nathan menjadi raja selanjutnya?" Defney memastikan.
"Mungkin begitu. Karena Pangeran Nathan selalu merasa tidak nyaman dengan lingkungan istana. Lagi pula aku seorang wanita penghibur, menjadi istri seorang raja tentu sangat sulit bagiku." Lova mengungkapkan logikanya.
"Kau ada benarnya." Defney mengangguk dan meneruskan, "jadi menurutmu, siapa yang pantas jadi raja?"
"Jade! Kau bilang dia bisa dipercaya. Meski dia beberapa kali melakukan hal buruk kepadaku, tetapi keahliannya dalam memimpin tidak bisa diragukan. Aku yakin dia bisa menjadi raja yang diharapkan rakyat Axenia!" terang Lova dengan perasaan yakin.
"Biar aku tanya sekali lagi. Kau yakin ingin Jade yang menjadi raja? Kau pasti ingat, aku pernah bilang kalau orang yang menjadi rajanya adalah poin terpenting." Defney bertanya sekali lagi.
"Ya, aku ingat. Tapi aku juga ingat kalau kau pernah bilang Jade bisa dipercaya. Itu benar kan?" tanggap Lova.
"Tentu saja. Jade memang bisa dipercaya." Defney tidak membantah. "Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan membuatmu ragu lagi. Apa ada permintaan terakhir? Sebelum kau kembali ke tubuhmu yang sedang di operasi itu?"
"Ada..." Lova menggigit bibir bawah. Wajahnya tiba-tiba memerah bak tomat matang.
Defney memicingkan mata penuh selidik. "Sepertinya aku bisa menebak. Kau ingin adegan percintaanmu dan Nathan tidak terpotong kan?" ujarnya.
Mata Lova seketika membola. Namun dia tidak menampik sama sekali. Kepalanya justru mengangguk.
Defney tergelak lepas. Dia terus tertawa dan tidak mengatakan apapun. Saat itulah Lova merasa pandangannya mulai mengabur. Kemudian berubah menjadi gelap sepenuhnya.
Satu tarikan nafas panjang dilakukan Lova. Dia terbangun dan menemukan dirinya berada di kamar. Gadis itu langsung memeriksa keadaan tubuhnya. Ia melihat perutnya ada bekas luka jahit. Yang menandakan kalau proses operasi berjalan lancar.
"Lova!" panggil seseorang yang sejak tadi duduk di sofa. Dia adalah Nathan. Lelaki tersebut langsung menghampiri.
__ADS_1
"Pangeran!" Lova ikut merasa bahagia. Dia dan Nathan saling menghamburkan pelukan.