Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 33 - Jebakan Jaden


__ADS_3

...༻⑅༺...


"Maaf, Lova. Aku tidak ingin hari ini gagal lagi," ucap Jaden sembari melepaskan baju atasan.


"Kau! Kenapa kau tega membohongi..." Lova tidak meneruskan perkataan, saat merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Dia merasa sangat kepanasan. Keringat perlahan bercucuran dari pelipisnya. Apalagi ketika melihat Jaden yang sudah bertelanjang dada.


"Karena cara memaksa tidak mampu kulakukan, maka aku melakukan cara ini..." ungkap Jaden. Tanpa sepengetahuan Lova, dia memasukkan obat perangsang ke minuman. Sialnya, gadis itu sudah meminum minuman tersebut sampai tandas.


Mata Lova bergetar. Dia menelan salivanya sendiri. Memperhatikan badan atletis Jaden yang entah kenapa kini sangat menggairahkan.


"Sial! Apa yang kau lakukan kepadaku?!" timpal Lova. Ia berusaha menahan diri. Melangkah mundur untuk menjaga jarak dari Jaden. Akan tetapi lelaki itu justru terus mendekat.


"Aku bilang, aku sudah tidak punya pilihan lain. Kau mau menahannya sampai gila, atau melampiaskannya kepadaku?" tukas Jaden. Dia memang tidak pernah berubah. Sulit dipercaya dan tetap menjadi orang yang kejam.


"Sial!" Lova memejamkan matanya rapat-rapat. Membuang muka dari Jaden. Terlebih dia sudah terpojok ke dinding. Dia melampiaskan gairahnya hanya dengan mere-mas kuat-kuat baju sendiri.


"Lova... Kau yakin tidak menginginkanku?" desis Jaden. Dia sudah berdiri di hadapan Lova. Sangat dekat hingga Lova bisa merasakan hembusan nafas lelaki tersebut.


Demi memancing Lova, Jaden meniup pelan leher gadis tersebut. Hanya dengan tiupan itu, darah disekujur badan Lova berdesir hebat. Semuanya tentu karena efek obat perangsang yang diberikan Jaden.


"Aku membencimu, Jade!" pekik Lova. Masih dalam keadaan menutup mata. Namun wajahnya berputar menghadap Jaden.


"Aku tahu. Tapi izinkan aku memilikimu malam ini!" Jaden menarik Lova mendekat. Sampai gadis tersebut masuk ke dalam pelukan. Tanpa pikir panjang, Jaden mengulum dalam bibir Lova dengan penuh gairah.


Lova yang merasakan, tidak kuasa menolak. Libido yang sudah membuncah karena efek obat, sudah tak tertahan. Alhasil dia membalas ciuman Jaden.


Ciuman panas terjadi. Jaden mulai meliar dan sigap melepas seluruh pakaian Lova. Lalu mendorong gadis tersebut ke ranjang.


Penglihatan Lova menggelap ketika Jaden menanggalkan celana. Seperti biasa, adegan hubungan intim di dunia novel tidak bisa dialami Lova.


Saat Lova membuka mata, dia menyaksikan Jaden duduk menyandar di sebelahnya. Lelaki itu sibuk menyesap rokok. Dalam keadaan masih tanpa busana.

__ADS_1


Lova langsung merubah posisi menjadi duduk. Matanya melotot tajam ke arah Jaden. Dia merutuki lelaki itu lewat tatapan serta dari dalam hati.


"Kau benar-benar bajingan, Jade! Jangan harap aku akan memanggilmu dengan sebutan tuan lagi!" geram Lova. Wajahnya memerah padam karena marah. Dia bergegas mengenakan pakaian kembali.


Jaden menarik sudut bibirnya ke atas. Dia mengamati Lova dengan mata sayu. Dari ekspresinya, jelas Jaden sudah puas bercinta dengan Lova. Meski dirinya harus menggunakan cara curang sekalipun.


"Tadi sangat luar biasa, Lova. Akhirnya aku bisa mendengar suara desa-hanmu lagi," kata Jaden. Kemudian mengeluarkan asap dari mulut.


Lova mengepalkan tinju di kedua tangan. Dia baru selesai mengenakan pakaian. Meski merasa beruntung karena tidak bisa mengalami pengalaman intim, namun Lova tentu marah terhadap kelakuan Jaden.


Dengan langkah cepat Lova menghampiri Jaden. Ia mendaratkan tamparan keras ke wajah lelaki tersebut.


Plak!


Tamparan Lova berhasil membuat pipi Jaden memerah. Tetapi lelaki itu hanya tersenyum sambil memegangi pipinya.


"Ya, aku memang pantas mendapatkannya..." ujar Jaden. Senyumannya melebar sampai menampakkan gigi.


"Pangeran Nathan... Hanya dia satu-satunya yang bisa kupercaya? Dia bahkan tidak memperdulikan statusku. Tapi kenapa aku malah pergi jauh darinya?" gumam Lova sembari berpikir. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh.


Pikiran Lova mengulang segala kejadian yang telah terjadi. Terutama mengenai keterlibatan Jaden untuk pergi jauh dari Nathan. Gambaran jelas mengenai Jaden yang bicara serius dengan Madam Jessy juga membuat Lova curiga.


"Tunggu, kalau tahu Pangeran Titan memiliki niat jahat. Kenapa dia membiarkannya untuk bertemu denganku? Kenapa Jaden membiarkan Pangeran Titan bertemu denganku?" sebuah kesimpulan muncul dalam benak Lova. Dia merasa sangat syok. Entah kenapa Lova berfirasat kalau Jaden bekerjasama dengan Pangeran Titan.


'Jika itu benar-benar dilakukan Jade. Maka aku tidak akan pernah memaafkannya!' batin Lova.


Usai membersihkan diri, Lova keluar dari kamar mandi. Dia berusaha membuka pintu yang ternyata masih dikunci.


"Bisakah kau buka pintunya?" pungkas Lova. Pada Jaden yang masih duduk santai sambil merokok.


"Kau mau kemana?" tanya Jaden.

__ADS_1


"Aku akan pergi dari sini! Aku tidak mau lagi berurusan denganmu!" sahut Lova.


"Maka pergilah kalau begitu," tanggap Jaden santai. Dia mematikan rokok. Lalu segera mengenakan celana.


"Kalau begitu, cepat bukakan pintunya!" desak Lova.


Jaden memutar bola mata jengah. Ia segera membukakan pintu.


Tanpa pikir panjang, Lova langsung pergi. Dia beranjak menuju pintu keluar. Namun dari arah depan ada Courtney dan dua buah anak Jaden yang berdiri memegang senapan.


Langkah Lova sontak terhenti. Dia bingung dengan apa yang dilakukan Courtney yang terlihat sengaja berjaga di depan pintu keluar.


"Kalian sedang apa? Apakah ada penyusup yang masuk?" tanya Lova.


"Tidak ada. Kami hanya berusaha mencegah tikus yang ingin keluar dari sini," jawab Courtney.


"Tikus?" Lova mengerutkan dahi. Dia tidak langsung mengerti. Padahal tikus yang dimaksud Courtney adalah Lova sendiri.


"Lucu sekali. Apa kalian akan menembak tikus itu kalau keluar?" Lova malah terkekeh.


"Iya. Kami akan menembaknya kalau dia nekat melewati pintu," sahut Courtney.


"Oke. Semoga kalian berhasil." Lova melangkah maju. Mencoba berjalan ke arah pintu. Namun Courtney dan dua rekannya langsung menghalangi.


"Ayolah, Courtney! Jangan bercanda. Jade sudah bertindak keterlaluan kepadaku. Sebaiknya kau juga ikut aku pergi," ucap Lova sembari mencari celah untuk lewat.


Tanpa diduga, Courtney justru menodongkan ujung senapan ke dada Lova.


"Kaulah tikusnya, Lova! Kami melakukan ini atas perintah Tuan Jade. Kau tidak akan bisa pergi dari sini tanpa izin darinya," tegas Courtney. Semakin menekan ujung senapan ke dada Lova. Gadis itu tidak punya pilihan lain selain melangkah mundur.


"A-apa?!" Lova semakin dibuat kaget. Dia menatap pintu dengan tatapan nanar. Lova sangat ingin keluar dan menemui Nathan. Tetapi keadaan sedang tidak mendukung. Mengingat Lova tidak ahli melawan orang yang memegang senjata api.

__ADS_1


Akhirnya Lova terpaksa berbalik arah. Dia kembali menemui Jaden. Namun lelaki itu sedang mandi. Lova lantas menunggu sembari duduk dalam keadaan tangan menyilang di dada.


__ADS_2