Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 20 - Mencari Tahu


__ADS_3

...༻⑅༺...


Lova segera beranjak meninggalkan meja. Dia ingin menemui Jaden dan bicara. Dirinya berjalan melalui banyaknya orang. Sampai akhirnya Lova menemukan lelaki yang dicari-cari.


Jaden terlihat duduk sambil membiarkan dua wanita duduk di pangkuannya. Satu paha, satu wanita. Dan Jaden tampak menikmat hal tersebut. Sesekali pria itu akan mendapat sentuhan dari Jill dan Ariana secara bergantian.


Lova yang melihat, geleng-geleng kepala. Kelakuan Jaden terlampau berlebihan.


"Mungkin begitulah definisi kehidupan lelaki yang bebas," gumam Lova. Dia segera menghampiri Jaden.


"Tuan Jade! Aku ingin bicara!" ujar Lova.


Bukannya menjawab, Jaden malah tersenyum. Dia mempersilahkan Jill dan Ariana pergi. Lalu menyuruh Lova untuk menggantikan kedua wanita itu duduk di pangkuan.


Lova mendengus kasar. Dia tentu enggan duduk sedekat itu dengan Jaden. Tetapi dirinya sedang tidak ingin berdebat. Lova tahu, Jaden pasti marah jika dia nekat menolak. Alhasil Lova tidak punya pilihan selain menurut.


"Wow... Sepertinya hal yang kau bicarakan sangat penting. Sampai-sampai kau rela menjinak begini," komentar Jaden. Menatap Lova dengan tatapan nakal. Ia tidak bisa mengalihkan atensinya dari belahan dada Lova yang terlihat.


Merasa dilecehkan melalui tatapan, Lova cepat-cepat menutupi belahan dadanya dengan rambut.


"Kenapa ditutupi? Itu pemandangan yang sangat indah bagiku," ucap Jaden. Dia menyampirkan rambut Lova yang sempat menutupi area dada.


Lova tersenyum kecut. Meski berniat ingin menjadikan Jaden teman, namun Lova benar-benar tidak mau bersikap seperti wanita murahan. Terlebih di hadapan lelaki seperti Jaden.


"Aku ingin membicarakan sesuatu yang serius. Ini tentang--"


"Psst! Tunggu dulu." Jaden menjeda dengan meletakkan jari telunjuk ke depan bibir Lova. Dahi gadis itu sontak berkerut.


"Kalau kau ingin bicara serius, beri sedikit cumbuan untukku. Kalau perlu, perlakukan aku seperti kau memperlakukan pangeran saat di gudang," pinta Jaden sembari tersenyum lebar. Sebuah senyuman yang lebih pantas disebut sebagai kelicikan.


"Aku tidak punya waktu untuk itu, Tuan Jade. Aku sebenarnya sekarang punya jadwal melayani lelaki--" lagi-lagi perkataan Lova terpotong karena ulah Jaden. Lelaki itu memaksanya lebih dekat. Kemudian meliarkan bibirnya ke area dada Lova.


Perasaan bergidik ngeri dirasakan oleh Lova. Entah kenapa sentuhan Jaden sangat jauh berbeda dibanding Nathan. Terasa kasar dan tidak penuh kasih. Andai bisa didefinisikan, sentuhan Jaden mungkin bagaikan seekor singa yang kelaparan. Dimana dia akan menerkam dan mencabik sasarannya tanpa rasa kepedulian.

__ADS_1


Cengkeraman Jaden ke tangan Lova bahkan begitu kuat. Membuat gadis itu sampai harus meringis kesakitan.


"Tuan Jade! Aku mendengar ada orang yang sedang merencanakan pembunuhan Pangeran Nathan," ucap Lova dengan nada pelan.


Jaden langsung berhenti mencumbu. Dia nampaknya tertarik akan kabar yang diberikan Lova.


"Dari mana kau tahu?" tanya Jaden.


"Itulah yang ingin aku bicarakan sejak tadi. Aku ingin kau mencari tahu siapa dua lelaki yang tadi bicara mengenai pembunuhan Pangeran!" jawab Lova. Dia berdiri dan mengajak Jaden untuk mengikuti. Lova akan menunjukkan dua orang lelaki yang dirinya maksud.


Jaden tampak serius. Dia mengekori Lova. Hingga dapat menyaksikan dua lelaki yang ditunjukkan gadis tersebut.


"Itu! Yang bermata sipit dan rekannya yang agak gemuk. Apa kau mengenal mereka?" tukas Lova. Menatap Jaden dengan sudut matanya.


"Dia orang yang berbahaya, Lova. Untung saja kau memberitahukan ini kepadaku terlebih dahulu. Kalau kau nekat menghampirinya sendirian, maka jangan harap jantungmu bisa berdetak sampai sekarang," sahut Jaden. Membuat Lova menelan salivanya sendiri.


Lova berusaha menenangkan diri. Dia reflek memegangi lengan Jaden.


"Kumohon... Bisakah kau mencari tahu mengenai perencanaan pembunuhan Pangeran Nathan?" cetus Lova. Menatap penuh harap.


"Kembalilah bekerja! Mulai dari sini, biar aku yang urus!" titah Jaden sembari mengelap cairan yang belepotan di dagu.


Lova tertegun. Entah kenapa dia menyukai Jaden ketika bersedia membantunya. Tetapi perasaan itu pudar saat mengingat betapa kejamnya sosok Jaden.


Dengan langkah cepat, Lova kembali ke meja pertama kali dirinya duduk. Di sana ternyata sudah ada pelanggannya yang menunggu.


"Maaf, Mr. Edgar. Tadi aku punya urusan. Makanya aku harus pergi meninggalkan mejamu," kata Lova. Memaksakan dirinya tersenyum.


"Tidak apa. Aku memaafkanmu karena kau begitu cantik," sahut Edgar. Dia merupakan pengusaha muda yang menyewa jasa Lova malam itu.


"Mau minum?" tawar Lova. Dia mulai beraksi untuk membuat pelanggannya mabuk sampai tepar. Edgar yang tidak tahu, menikmati saja layanan Lova.


Lama-kelamaan Edgar mabuk berat. Dia terlihat sempoyongan dan sulit mengatur kesadaran.

__ADS_1


"Sepertinya kita harus ke kamar," usul Lova. Dia segera membopong Edgar ke kamar. Dengan niat agar rencananya tidak ketahuan Madam Jessy.


Tanpa sepengetahuan Lova, Nathan diam-diam menyaksikan dari kejauhan. Dia datang lebih cepat dari biasanya. Nathan cemburu melihat Lova terlihat dekat dengan lelaki lain. Apalagi Edgar tampak sesekali menciumi pipi dan bahu Lova.


Lova sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Sebab kondisinya sekarang sedang dalam keadaan membopong Edgar. Dia berjalan terseok-seok ke kanan dan kiri. Merasa berat terhadap beban dari badan Edgar.


Tanpa diduga, dua orang lelaki mengambil alih tugas Lova. Mereka tidak lain adalah pengawal Nathan. Keduanya segera membawa Edgar ke kamar.


"Pangeran! Kau datang lebih cepat?" Lova penasaran sekaligus antusias. Dia tidak tahu kenapa jantungnya langsung berdebar penuh gebu.


Nathan terlihat cemberut. Dua tangannya dimasukkan ke saku celana. Kemudian melangkah ke hadapan Lova.


"Aku melupakan satu hal dalam hubungan kita. Yaitu mengenai pekerjaanmu sebagai wanita penghibur," imbuh Nathan. Dalam keadaan semerawut wajah sangat serius. "Awalnya aku merasa baik-baik saja dengan segala sindiran Jaden mengenai dirimu. Tapi saat melihat sendiri dengan mata dan kepala. Aku benar-benar tidak bisa terima," sambungnya.


"Kau tidak perlu cemas. Aku tidak akan membiarkan lelaki lain menyentuhku selain dirimu," ucap Lova. Mencoba menenangkan Nathan.


"Itu tidak akan bisa! Aku yakin kau akan tetap disentuh meski hanya sedikit. Dan aku masih tidak bisa terima!" tegas Nathan.


Lova terkesiap. Entah kenapa dia menyukai sikap Nathan yang begitu.


"Aku akan secepatnya membawamu keluar dari sini!" Nathan bertekad.


"Tapi..." Lova urung berucap, ketika melihat Jaden berjalan mendekat. Nathan yang tadinya membelakangi, segera menoleh.


"Yang Mulia... Sepertinya mulai sekarang kau tidak bisa rutin lagi mengunjungi Lova. Hidupmu sedang terancam!" pungkas Jaden.


Nathan mengerutkan dahi. Dia butuh penjelasan lebih lanjut.


Paham dengan raut wajah yang ditunjukkan Nathan, Jaden segera memberitahu kabar yang didapatnya. Ia menyarankan Nathan agar tidak terlalu sering meninggalkan istana.


Bersamaan dengan itu, Lova berhasil melihat sebuah kartu tarot muncul pada pohon hias di belakang Jaden. Kali ini kartunya menggambarkan seseorang yang berdiri di tepi tebing sambil melamun. Dalam kartu tarot sendiri kartu itu disebut The Fool.


Tanpa pikir panjang, Lova segera mengambil kartu tarot. Dia melangkah melewati Jaden dan Nathan. Lova bahkan tidak sengaja mendorong kedua lelaki itu.

__ADS_1


"Dapat!" seru Lova sembari tersenyum simpul. Sedangkan dua lelaki di belakangnya terperangah tak percaya. Jujur saja, Nathan dan Jaden sempat terhuyung akibat dorongan Lova tadi.


__ADS_2