
...༻⑅༺...
Lova baru saja turun dari kereta. Ia segera melanjutkan perjalanan menuju desa Aster. Sebuah desa yang cukup jauh dari kerajaan Axenia. Walaupun begitu, tempat tersebut tetap masih menjadi bagian Axenia.
Sesampainya di desa, Lova bermalam di tempat penginapan terlebih dahulu. Barulah dia mencari rumah sederhana untuk ditinggali.
Desa Aster begitu asri. Banyak dihiasi padang rerumputan serta ladang gandum. Di sana juga terdapat kincir angin yang berguna sebagai tenaga pembangkit listrik.
Tetapi karena sedang musim dingin, segalanya jadi ditutupi oleh salju. Meskipun begitu, Lova cukup senang dengan kedamaian yang ada d desa Aster.
Lova sebenarnya ingin berkeliling desa. Namun karena lelah, dia memutuskan untuk beristirahat. Gadis itu tertidur dalam beberapa jam.
Puas beristirahat, Lova segera mandi. Lalu keluar untuk mengenal lingkungan yang akan ditinggalinya.
Lova berjalan sendirian menyusuri jalanan. Ia mengenakan mantel tebal dan topi kupluk yang menghangatkan badan. Lova mendatangi sebuah peternakan domba. Ia mengamati domba-domba yang ada dari luar kandang.
"Halo, Nona?" seseorang tiba-tiba menyapa dari arah belakang.
Lova sontak menoleh. Ia tersenyum untuk membalas sapaan wanita yang menegurnya.
"Apa kau orang baru? Aku tidak pernah melihatmu di sini sebelumnya?" tanya wanita itu.
"Iya, aku baru. Kenalkan namaku Lova," sahut Lova ramah.
"Senang berkenalan denganmu. Aku Marilyn. Pemilik peternakan ini." Marilyn menanggapi. Dia saling bersalaman dengan Lova.
"Benarkah? Kau sepertinya punya banyak binatang ternak," komentar Lova sembari mengamati keadaan sekitar.
"Lumayan. Apa kau perlu bantuan? Sepertinya kau mencari sesuatu di sini?" tanya Marilyn penasaran.
"Iya, aku ingin mencari tempat tinggal sekaligus pekerjaan. Aku ingin tinggal di sini sementara," jawab Lova.
__ADS_1
"Mungkin aku bisa membantu. Aku tahu ada rumah baru yang sedang disewakan. Tempatnya tidak jauh dari sini." Marilyn menunjuk rumah yang dia maksud. "Dan mengenai pekerjaan, mungkin kalau berminat kau bisa membantuku di sini. Putraku kebetulan baru saja pergi untuk melanjutkan studinya ke kota," sambungnya memberitahu.
"Terimakasih. Aku akan memeriksa rumah itu dahulu. Mengenai pekerjaan yang kau tawarkan, aku akan memikirkannya." Lova tersenyum lebar. Ia sangat senang dengan tawaran yang diberikan Marilyn.
Di sisi lain, Jaden sibuk mengamati peta milik Paul. Dia masih berada di toko barang antik untuk mencari Lova.
Pintu mendadak terbuka. Kedatangan Nathan membuat Paul gelagapan. Lelaki tua itu langsung membungkuk hormat.
"Yang Mulia... Sungguh kehormatan kau datang ke tempatku," ungkap Paul tulus.
"Tidak, Kakek. Kau tidak perlu repot-repot membungkuk kepadaku. Aku hanya ingin bicara dengan lelaki yang sekarang bersamamu." Nathan menunjuk ke arah Jaden. Kemudian berjalan mendekat. Dia mengajak Jaden untuk bicara di luar.
Kebetulan Nathan sudah tahu kabar menghilangnya Lova dari Madam Jessy. Makanya dia ingin bicara serius dengan Jaden.
"Aku sedang sibuk. Kau sebaiknya fokus dengan hari pengesahanmu besok!" ujar Jaden. Tanpa menatap ke arah Nathan.
"Jade! Ini tentang Lova! Kita harus bicara!" desak Nathan. Dia sangat ingin marah. Namun harus menjaga sikap karena sedang ditonton oleh Paul yang kebetulan sangat menyeganinya.
"Kita bicara di luar!" Nathan beranjak lebih dulu. Tetapi langkahnya harus terhenti tatkala menyaksikan sebuah kalung tidak asing. Kalung yang pernah diberikannya kepada Lova.
Nathan lantas menanyakan kalung itu kepada Paul. Kenapa bisa kalung tersebut bisa ada di toko barang antik?
"Gadis itu yang menjualnya kepadaku. Katanya dia terpaksa menjualnya karena membutuhkan uang untuk hidup sendiri," ucap Paul. Dahinya berkerut heran. Ia menatap Nathan dan Jaden secara bergantian. Dari sana Paul mengetahui satu hal. Gadis yang mendatanginya tadi malam adalah orang penting bagi Nathan.
"Tunggu, apakah Pangeran yang memberikan kalung ini kepada gadis cantik itu?" tanya Paul penasaran.
"Iya. Aku yang memberinya. Apa kau tahu kemana gadis itu pergi?" tanggap Nathan. Dia mengakui dengan gamblang. Pengakuannya tentu membuat Paul sedikit kaget. Mengingat Nathan digadang-gadang akan menikahi Puteri Alana.
"Maaf, Yang Mulia. Aku tidak tahu kemana dia pergi," sahut Paul dengan raut wajah kecewa.
"Ya, kalau dia tahu, aku juga tidak mungkin masih ada di sini," cetus Jaden sembari memutar bola mata malas. Ia mendekati Paul dan membeli peta yang dipegangnya.
__ADS_1
Sementara Nathan, dia membeli kalung yang dijual Lova. Lelaki itu rela membayar mahal untuk mendapatkan kalung itu kembali.
Jaden diam-diam meninggalkan Nathan. Dia bahkan sengaja bersembunyi agar tidak diketahui.
Benar saja, Nathan dan dua pengawalnya tampak kebingungan. Mereka terlihat berpencar ke segala arah.
Jaden yang sudah ahli melakukan pelarian, kabur begitu saja tanpa ketahuan. Dia berhenti di tempat sepi. Kemudian memperhatikan peta kerajaan Axenia untuk yang kesekian kali.
"Kalau jadi Lova, aku pasti akan mencari tempat yang jauh dari sini. Kemungkinan tempat yang ditujunya adalah pedesaan." Jaden mulai menduga-duga. Dia menghitung desa yang ada di wilayah Axenia.
"Aku akan memilih desa yang terjauh. Yaitu desa Aster. Ayo kita lihat, kau ada di sana atau tidak?" Jaden kembali bergumam. Saat itu dia memutuskan langsung pergi ke desa Aster. Naluri detektif yang dimilikinya memang sudah sekelas Sherlock Holmes.
Kembali pada Nathan yang masih bingung terhadap menghilangnya Lova. Bersamaan dengan itu, kabar buruk tentangnya mendadak tersebar di berita. Dari mulai internet sampai surat kabar. Di sana Nathan diberitakan memiliki hubungan dengan wanita PSK.
"Pangeran! Ada bukti foto kebersamaan anda dengan Lova. Ini saat anda mendatanginya kemarin malam," ujar salah satu pengawal Nathan. Memperlihatkan bukti foto yang ditemukannya.
Kening Nathan mengernyit. Dia tidak bisa membantah kalau dua orang difoto tersebut adalah dirinya dan Lova. Momen itu saat Nathan memakaikan mantel untuk Lova.
Nathan tampak tenang. Dia memang sudah siap menghadapi segala cercaan demi Lova. Nathan bahkan tidak peduli jika dirinya tidak jadi ditunjuk sebagai raja.
Sesampainya di istana, Nathan menemukan semua anggota penting kerajaan berkumpul. Dari mulai dewan menteri, bahkan keluarganya sendiri.
"Pengeran Nathan! Apa berita itu benar?!" timpal Harry. Ia merupakan pamannya Nathan.
"Berita itu benar. Aku bahkan mencintai perempuan itu," ungkap Nathan. Jawabannya membuat semua orang berseru kecewa. Mereka tidak menyangka seorang pangeran bisa jatuh cinta kepada wanita yang hina.
"Kalau berita yang tersebar membuat kalian batal menunjukku sebagai raja, maka aku tidak masalah. Karena aku tetap mencintai Lova apapun resikonya!" Nathan menegaskan. Dia langsung mendapatkan tatapan sinis dari keluarganya serta dewan menteri. Hanya dua orang yang berpihak pada Nathan. Yaitu dua pengawal setianya Ronald dan James.
"Apa kau kehilangan akal sehatmu?! Raja mana di dunia ini yang bersedia menjadikan pela-cur sebagai ratu?!" timpal Harry yang marah besar.
Rapat besar langsung dilakukan kala itu. Semuanya memerlukan waktu lama untuk menemukan keputusan terbaik. Sedangkan Nathan, dia memilih duduk diam bersama Titan dan Finn.
__ADS_1
"Aku kagum dengan keberanianmu, adikku. Cinta sejati memang harus diperjuangkan." Titan merangkul pundak Nathan. Dia bersikap akrab. Padahal berita yang tersebar karena ulah dirinya sendiri.