
...༻⑅༺...
"Pangeran Nathan? Dia sedang tidak berdaya bukan? Bagaimana kita membawanya?" tanya Courtney yang merasa bingung.
"Yang terpenting kita harus membawa Pangeran Nathan pergi dari istana terlebih dahulu," sahut Lova bertekad. Courtney dan Leon lantas setuju. Begitu pun Alana. Mereka bergegas mendatangi kamar Nathan.
Sayangnya kamar Nathan tampak dijaga oleh tiga pengawal. Alana yang masih memegang posisi sebagai ratu, segera turun tangan untuk mengelabui tiga pengawal tersebut.
Alana tentu menggunakan cara yang pernah dipakainya seperti menghadapi pengawal di penjara. Setelah berhasil menyuruh semua pengawal pergi, Alana menyuruh Lova dan yang lain masuk.
Lova dan kawan-kawan harus melepas tali-tali medis yang tersambung dengan tubuh Nathan. Kecuali tali infus. Mereka bergegas pergi ketika Nathan sudah bisa dibawa.
Sebelum pergi, Lova tentu tidak lupa berganti pakaian. Memakai gaun saat pelarian tentu merupakan hal sulit. Lova mengenakan pakaian milik Nathan yang ada di lemari.
Lova menoleh ke arah Alana. Gadis itu terlihat berdiri di ambang pintu. Memastikan keadaan aman.
Leon menjadi orang yang bertugas menggendong Nathan. Sedangkan Lova mengiringi sambil memegangi infus yang tersambung dengan tangan Nathan.
Courtney sendiri bertugas berjalan di depan. Memastikan pelarian yang dilakukan berjalan dengan lancar.
"Lewat sini!" ujar Alana. Dia membimbing jalan untuk Lova dan kawan-kawan. Karena Alana sudah cukup lama tinggal di istana, gadis itu tahu banyak mengenai seluk-beluknya.
Lova, Courtney, dan Leon berhasil keluar melalui pintu samping. Di sana Lova merasa kaget ketika mengetahui kalau Alana tidak akan ikut.
"Aku akan menjadi anggota kerajaan Axenia yang bisa kau percaya. Jika kau sudah punya rencana bagus untuk menjatuhkan Raja Titan, maka beritahu saja aku. Di sini aku akan berusaha dengan caraku sendiri," jelas Alana.
__ADS_1
"Berhati-hatilah. Ternyata apa yang diceritakan novel tentangmu itu benar. Kau tidak hanya cantik, tetapi juga baik hati," sahut Lova. Dia mendapat tatapan heran dari semua orang. Terutama Alana.
"Maksudmu?" tanya Alana heran.
"Lupakan! Aku akan segera kembali. Kumohon pastikan Jade baik-baik saja," ujar Lova. Dia, Courtney, dan Leon segera pergi. Mereka berderap laju meninggalkan istana.
Satu-satunya tempat aman untuk berlindung adalah ruang bawah tanah milik Jaden. Mengingat bangunan Eden Night sudah sepenuhnya luluh lantah karena telah dihancurkan.
Lova bertemu dengan Madam Jessy dan beberapa wanita PSK di tempat rahasia Jaden. Mereka terpaksa tinggal di sana karena tidak memiliki tempat tinggal.
Lova sendiri tidak masalah. Karena hal penting baginya sekarang adalah membuat Nathan sembuh.
Kini Lova sudah berada di kamar. Dia telentang di samping Nathan yang masih tidak sadarkan diri.
Tak lama kemudian, terdengar pintu dibuka. Sosok Courtney muncul. Dia tidak sendiri. Ada Bill yang menemani. Courtney segera memberitahukan siapa Bill kepada Lova.
Madam Jessy dan beberapa orang yang penasaran, terlihat menonton dari pintu. Mereka penasaran dengan keadaan Nathan.
"Kondisinya semakin memburuk karena cairan berbahaya yang disuntikan oleh dokter suruhan Titan. Tapi aku pikir Pangeran Nathan masih punya harapan untuk bangun. Dia hanya perlu obat-obatan dan perawatan yang tepat. Pangeran Nathan tidak bisa bangun karena dia diberi obat yang salah secara rutin." Bill menjelaskan panjang lebar.
"Raja Titan benar-benar keterlaluan! Jade juga sedang terjebak bersamanya. Kita harus lakukan sesuatu agar kekuasaan Raja Titan bisa dihentikan!" seru Lova. Ia menggenggam erat satu tangannya hingga membentuk bogem. Lova memikirkan cara tentang bagaimana melakukan perlawanan kepada Titan.
"Tidak usah tergesak-gesak, Lova. Melawan orang seperti Raja Titan harus perlu rencana matang. Coba lihat Tuan Jade, orang cerdik sepertinya saja bisa kalah," ucap Courtney. Mengungkapkan pendapat.
Lova mengangguk. Dia sependapat dengan Courtney. Dirinya memang harus membuat rencana yang matang untuk melawan orang seperti Titan.
__ADS_1
...****************...
Lova sempat tertidur dalam beberapa jam. Dia kebetulan tidur tepat di samping Nathan. Gadis itu selalu memeriksa detak jantung Nathan.
"Kenapa aku merasa jantungmu berdebar lebih cepat sepertiku? Apa kau bisa merasakan kalau aku ada di sampingmu?" tanya Lova sembari mengembangkan senyum. Dia segera merubah posisi menjadi duduk. Lova tiba-tiba teringat tentang Jaden. Ia mencemaskan lelaki tersebut. Mengingat saat terakhir kali Jaden tampak sekarat.
Lova mendengus kasar. Dia meraih ponsel yang kebetulan baru diberikan Courtney untuknya. Lova berusaha mencari sesuatu yang dapat membantunya berpikir.
Usai menghabiskan waktu cukup lama, Lova akhirnya menemukan rencana bagus untuk melawan Titan. Saking bersemangatnya, gadis itu reflek berdiri. Dia segera menyuruh semua orang berkumpul. Termasuk Madam Jessy, para wanita PSK dan anak buah Jaden yang tersisa.
Sekarang Lova menjadi pusat perhatian semua orang. Dia berdiri di depan untuk memberitahu rencananya.
"Aku sudah memikirkan jalan untuk melawan Raja Titan. Percayalah, aku memerlukan waktu cukup lama untuk berpikir. Tapi aku merasa rencanaku ini adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan kita semua dan juga Axenia!" ucap Lova dengan nada lantang.
"Apa rencanamu, Lova sayang?" tanya Madam Jessy seraya melipat tangan di depan dada. Dia memancarkan tatapan penuh kekaguman terhadap Lova. Sepertinya apa yang telah terjadi sudah merubah sudut pandang Madam Jessy kepada Lova.
"Kalian ingat demo yang terjadi beberapa saat lalu? Aku ingin kita dan rakyat Axenia melakukannya lagi!" ujar Lova. "Tapi kali ini kita lakukan dalam skala lebih besar dan tentu saja dengan bantuan orang dalam dari istana!" sambungnya.
Semua orang yang ada di ruangan terlihat mengangguk-anggukkan kepala. Ada juga yang saling berbisik. Sebagian besar dari mereka setuju dengan rencana Lova. Meskipun begitu, ada segelintir yang enggan setuju.
Salah satunya adalah anak buah Jaden bernama Daniel. Dia segera angkat suara.
"Enak sekali kau bicara begitu. Kau pasti tahu pemberontakan seperti itu pasti akan banyak memakan nyawa manusia. Para pengawal Raja Titan memiliki senjata yang lebih kuat. Mereka juga berjumlah terlampau banyak!" terang Daniel. Dia berhasil mempengaruhi beberapa pemikiran temannya yang lain.
"Aku tahu. Tapi itulah yang ingin aku lakukan demi orang-orang tersayang. Untuk saudara serta cucu-cucu kita nanti. Kita tidak bisa membiarkan Kerajaan Axenia semakin sengsara. Raja Titan harus dilengserkan dari posisi raja secepat mungkin!" balas Lova. Melakukan pidato dengan percaya diri.
__ADS_1
Lova perlahan melangkah mundur. Dia memejamkan mata sejenak. Lalu kembali membukanya. Lova berkata, "Aku tidak masalah jika ada yang keberatan. Tapi aku akan mencoba melakukan rencanaku ini. Aku yakin, sebagian besar rakyat Axenia akan setuju denganku. Mengingat demo yang mereka lakukan tempo hari cukup berhasil membuat Raja Titan terancam."
"Lova benar! Tuan Jade memberitahuku kalau kecelakaan yang menimpa Pangeran Nathan berdasarkan rencana dari Titan. Dia melakukan itu agar rakyat Axenia berhenti demo. Benar saja, usaha yang dilakukannya berhasil membuat rakyat kehilangan harapan dan pasrah. Tapi setelah mendengar apa yang dikatakan Lova, aku tidak ingin diam saja dan menunggu. Kita harus melakukan sesuatu untuk Axenia!" Courtney berdiri ke sebelah Lova. Dia mendukung gadis itu sepenuhnya.