
...༻⑅༺...
Sempat terpaku pada Lova, Jaden segera menyadarkan diri. Dia menggeleng kuat. Lalu kembali melangkah.
"Aku ingin pulang..." Lova masih belum berhenti merengek.
"Kau tenang saja. Sekarang aku membawamu pulang ke kamar," ujar Jaden. Dia tentu tidak tahu kata pulang yang dimaksud Lova.
Setibanya di kamar, Jaden segera merebahkan Lova ke ranjang. Dia mengambil kotak P3K dan mengobati luka di bahu gadis tersebut.
Lova tampak membisu. Ia masih memasang tatapan kosong sambil merembeskan air mata.
"Berhentilah menangis, cengeng!" cibir Jaden. Entah kenapa dia tidak suka melihat Lova terlihat lemah.
"Aku ingin pulang... Adakah sesuatu yang bisa kulakukan agar bisa pulang?" cetus Lova. Menatap Jaden dengan penuh harap.
Jaden mengernyitkan kening. "Kau mau pulang kemana?! Satu-satunya tempat tinggalmu itu di sini! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?!" tukasnya. Orang kejam seperti Jaden tentu tidak pandai menghadapi gadis yang emosional. Dia justru mengomel dan menambah kekalutan Lova.
"Lupakan! Aku ingin sendiri. Pergilah." Lova mengusir Jaden dengan nada datar. Ia bahkan enggan menatap pria tersebut.
"Biarkan aku mengobati lukamu terlebih dahulu. Aku tidak akan membiarkan kulitmu memiliki goresan luka yang membekas," ucap Jaden yang masih mengurus luka dibahu Lova.
"Aku bilang pergi!" hardik Lova. Dia menarik tangannya sekuat tenaga. Hingga terlepas dari pegangan Jaden.
"Kau--"
"PERGI!!!" Lova memekik nyaring. Matanya melotot tajam kepada Jaden. Anehnya lelaki itu langsung terdiam. Jaden berdiri dan segera beranjak meninggalkan Lova.
Kini Lova sendirian. Dia menangis lagi sembari memeluk kedua lututnya. Sungguh, Lova sangat ingin kembali ke dunia nyata.
Lova meratap cukup lama. Sampai dia terpikirkan nama Nathan dalam benak. Satu-satunya penentu alur ceritanya hanyalah lelaki tersebut. Lova merasa harus bergerak cepat. Tetapi bagaimana? Apa yang harus dirinya lakukan?
__ADS_1
Alhasil Lova kembali menangis. Dia bingung harus bagaimana. Semuanya terasa serba salah.
Akibat kelelahan, Lova akhirnya tertidur. Dia bangun saat pintu kamar mendadak terbuka. Lova reflek merubah posisi menjadi duduk.
Jaden datang dengan wajah serius. Ia kemudian memberikan kabar bahwa tadi malam Nathan hampir terbunuh. Insiden itu kebetulan terjadi saat Nathan dalam perjalanan pulang menuju istana.
Lova benar-benar cemas mendengarnya. Untung saja keadaan Nathan baik-baik saja. Dikabarkan dua pengawalnya mengalami luka serius karena berupaya keras dalam melindungi.
Perasaan gelisah menyelimuti Lova. Sebab kabar yang baru saja didengarnya sangat mengkhawatirkan. Jadi untuk sementara, Lova dan Nathan tidak bisa bertemu.
Hari demi hari terlewat. Semuanya terasa baik-baik saja. Akan tetapi Lova semakin bosan dengan aktifitas yang dijalaninya setiap hari. Dia bahkan sudah terbiasa menghadapi lelaki hidung belang.
Lova juga tidak kunjung menemukan kartu tarot lagi. Dia tentu merasakan ada hal yang aneh. Sekarang gadis itu berdiri di balkon. Memandangi pemandangan negeri Axenia yang masih terasa asing baginya.
Kalau bisa, Lova pasti akan melarikan diri dengan cara melompat dari balkon. Akan tetapi itu tidak bisa dia lakukan, karena jarak balkon dan tanah terlampau sangat jauh.
"Semakin kau mencoba melindungi diri, maka tambah panjang juga alur cerita yang kau jalani." Suara parau wanita tidak asing terdengar dari arah belakang. Lova lantas segera menengok.
"Nenek Defney?" pupil mata Lova membesar saat menyaksikan Defney. Ia langsung memeluk wanita tua itu.
Defney menggeleng. "Untuk sekarang kau memang berada di jalur aman. Tetapi jika kau terus mempertahankan keadaan ini, maka alur cerita yang seharusnya terjadi akan tertunda. Hal yang kau lakukan sekarang sebenarnya mengulur alur ceritanya, Lova!" ujarnya memberitahu.
"Maksudnya aku memperlambat alurnya?" Lova memastikan.
"Benar! Kematian yang harusnya mendatangimu juga belum tentu mampu kau hindari. Pokoknya kau harus menemukan alur itu agar bisa membuat ceritanya berjalan tanpa bertele-tele."
Lova terdiam mendengarkan penjelasan dari Defney. Dia berpikir cukup lama. Hingga akhirnya bisa menemukan cara untuk membuat alur cerita tidak tertunda. Yaitu dengan cara bertemu dengan Nathan.
Lova merasa bahwa berpisahnya dia dengan Nathan menimbulkan dampak buruk. Ternyata alur cerita memang tidak bisa dihindari. Tetapi harus dihadapi. Begitulah satu-satunya jalan untuk merubah alur cerita utama.
"Aku mengerti! Aku harus..." Lova tidak menyelesaikan kalimatnya, ketika menyadari Defney sudah menghilang.
__ADS_1
"Dia selalu begini. Aku harus terbiasa," keluh Lova seraya mendengus kasar. Dia bergegas menemui Jaden. Dirinya tentu membutuhkan bantuan lelaki itu untuk bertemu Nathan.
Lova mencari Jaden ke kamar. Langkahnya terhenti saat mengingat apa yang sudah dilakukan Jaden kepada Felly dan kawan-kawan. Kejadian tragis itu masih menghantui Lova. Dia bahkan dapat mengingat bagaimana bau darah yang menghambur ke wajahnya.
Sebenarnya karena insiden tersebut, Lova tidak bicara dengan Jaden cukup lama. Namun kini keadaan menuntutnya untuk bicara kepada pria itu.
Lova mengangkat satu tangan untuk mengetuk pintu. Tetapi urung karena pemilik kamarnya bersuara dari arah kanan.
"Aku di sini!" seru Jaden. Ia berjalan mendekat. "Kebetulan sekali aku juga sedang mencarimu. Ini mengenai Pangeran Nathan. Dia ingin bertemu denganmu," katanya.
"Benarkah? Kedatanganku untuk menemuimu juga karena ingin meminta bantuan agar bisa bertemu dengan Pangeran!" Lova merasa antusias. Sejujurnya dia sangat merindukan Nathan. Satu-satunya orang yang membuatnya nyaman di dunia novel hanyalah lelaki tersebut.
"Apa kau berharap aku akan menyebut kalian berjodoh? Itu tidak akan terjadi," imbuh Jaden sinis.
"Jangan terlalu banyak bicara, Tuan Jade. Kita tidak akan pernah sependapat dalam hal apapun," tanggap Lova sambil membuang muka.
"Bersiaplah malam ini! Kita akan pergi menyelinap memasuki istana," ujar Jaden. Menyebabkan mata Lova membulat sempurna. Gadis itu langsung setuju untuk pergi.
Sekian jam terlewat. Malam telah tiba. Lova dan Jaden sudah dalam perjalanan menuju istana.
"Apa kita hanya berdua?" tanya Lova.
"Ya. Lagi pula pengawal Pangeran akan membantu. Kita berdua akan menyamar menjadi pelayan istana," jawab Jaden. Ia memarkirkan mobil ke tempat yang tidak jauh dari istana. Dari sana Lova dan Jaden bertemu salah satu pengawal Nathan yang bernama Ronald.
"Aku sudah bawakan kalian pakaian pelayan! Sebaiknya kalian mengganti pakaiannya di sini," ujar Ronald dengan nada berbisik.
"Di sini?" Lova merasa cemas. Sebab dia melihat dirinya tengah berada di tempat terbuka. Bagaimana Lova bisa dengan nyaman berganti pakaian?
"Masuklah ke mobil! Kau bisa berganti di sana," saran Jaden.
Lova mengangguk. Dia langsung masuk ke mobil. Lalu melepas pakaian satu per satu.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Jaden tiba-tiba masuk ke mobil. Dengan wajah datar, dia segera ikut melepas pakaian. Parahnya dia juga memilih kursi belakang. Tempat yang sama dengan Lova.
"Aaarkkh! Tuan Jade! Kenapa kau juga masuk?!" protes Lova. Dia gelagapan menutupi badannya yang hanya tertutupi oleh bra dan celana dal-am.