Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 8 - Pergi Bersama Pangeran


__ADS_3

...༻⑅༺...


Jaden menjauh dari Lova. Keduanya segera lanjut melangkah. Tepatnya menuju kamar Lova.


Terlintas sesuatu dalam benak Lova. Yaitu mengenai kartu tarot misterius yang dirinya temukan tempo hari. Dia hendak memastikan apakah Jaden akan memberikan reaksi yang sama seperti Nathan.


"Mr. J! Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," imbuh Lova sembari meraih kartu tarot yang terselip di dalam bra. Menyaksikan hal itu Jaden tersenyum miring. Lelaki mana yang tidak tertarik saat melihat perempuan memasukkan tangan ke dalam bagian tubuh pribadinya.


"Kau menyimpan apa di sana? Apa ada berlian?" sarkas Jaden.


"Apa-apaan. Tentu tidak. Hanya sebuah kartu. Coba lihat!" sahut Lova. Dia memperlihatkan kartu tarotnya kepada Jaden.


Sama seperti Nathan, Jaden juga tidak bisa melihat kartu tarot yang dipegang Lova. Lelaki itu bahkan menyipitkan mata untuk memperhatikan.


"Apa kau mau main-main denganku?!" cetus Jaden dengan dahi berkerut.


"Kau juga tidak melihatnya?" Lova memastikan. Kini dia semakin yakin kalau dirinyalah yang hanya bisa melihat kartu tarot tersebut. Tetapi untuk apa? Lova benar-benar tak mengerti. Andai bisa menyelinap keluar, dia pasti akan menemui seorang peramal yang ahli membaca kartu tarot.


Lova mendengus kasar. Lalu memperhatikan kartu tarot dengan raut wajah sendu.


"Memangnya kenapa? Apa yang sebenarnya ingin kau tunjukkan kepadaku? Apa kau mau bilang kalau buah dadamu membesar?" tukas Jaden yang masih belum beranjak. Nampaknya dia penasaran dengan maksud tindakan Lova.


"Ka-kau bilang apa? Buah dada?! Dasar cabul." Lova melajukan langkahnya. Kemudian berhenti di depan pintu. Sebelum masuk dia berucap, "Terimakasih sekali lagi untuk tadi. Tapi aku boleh balas dendam bukan?"


Jaden mengangkat bahunya. "Boleh. Asal jangan coba-coba saling menyakiti. Karena setiap wanita PSK di sini memiliki pelanggan tertentu. Kau mengerti maksudku bukan?" tanggapnya santai. Jaden barbalik dan menjauh meninggalkan Lova.


"Apa-apaan! Padahal sudah jelas wajahku tadi nyaris disiram dengan air panas. Awas saja Felly dan teman-temannya! Aku tidak akan tinggal diam," gerutu Lova sembari masuk ke kamar. Dia segera beristirahat.


Keesokan harinya Lova bangun lebih pagi dari biasa. Dia penasaran dengan apa yang orang-orang lakukan di Eden Night saat pagi.


Lova keluar mengenakan pakaian santai. Keadaan Eden Night tampak sepi dibanding malam hari.


Lova melangkah memasuki ruang utama. Di sana banyak para wanita PSK yang berkumpul. Termasuk Felly dan kawan-kawan. Membuat Lova harus urung untuk melakukan balas dendam. Andai dia nekat, mungkin dirinya malah kena keroyok.

__ADS_1


"Lihat siapa yang muncul. Kalau tadi malam tidak ada Tuan Jade, dia pasti akan diusir dari tempat ini karena berwajah jelek!" imbuh Katy sinis. Membuat mimik wajah Lova seketika berubah cemberut.


"Jangan bicara begitu. Tadi malam kita hanya bermain-main. Aku dan yang lain benar-benar meminta maaf atas apa yang terjadi," ucap Felly. Entah karena bersungguh-sungguh atau hanya bersandiwara.


Lova tak acuh. Atensinya justru terfokus pada tayangan yang ada di televisi. Dari tayangan tersebut, dia dapat menyaksikan Puteri Alana. Karakter utama dalam dunia novel yang sekarang Lova masuki.


"Ya ampun, harusnya aku menjadi Puteri Alana. Dan bukannya terjebak di tempat mengerikan ini," komentar Lova yang terdengar seperti keluhan.


"Puteri Alana sangat cantik. Dia juga baik. Kudengar ketiga Pangeran Axenia menyukainya."


"Iya. Itulah alasan kenapa Pangeran Nathan sering datang ke sini. Dia butuh pelampiasan terhadap sakit hatinya."


"Puteri Alana memang lebih cocok dengan Pangeran Titan."


Lova dapat mendengar bisikan orang-orang sekitar. Dari sana, dirinya yakin Nathan akan memiliki nasib sesuai alur cerita. Apabila Nathan terbunuh, maka Lova yang akan menjadi kambing hitamnya.


'Apa yang harus kulakukan? Bagaimana cara mengubah alur ceritanya? Apakah karakter figuran sepertiku bisa melakukannya?' batin Lova meragu.


"Hei Lova! Kau terlihat sedih. Aku harap kau tidak terbawa perasaan saat bercinta dengan Pangeran Nathan. Karena orang sekelas dia tidak akan pernah tertarik pada wanita kotor sepertimu!" tukas Cheryl yang disambut gelak tawa oleh teman-teman yang lain.


...****************...


Pertemuan kedua dengan Nathan akhirnya tiba. Sekarang Lova duduk saling berhadapan dengan Nathan. Lelaki itu tidak mabuk seperti sebelumnya. Ia justru tampak murung.


"Apa cintamu bertepuk sebelah tangan, Yang Mulia? Aku dengar kau jatuh cinta kepada Puteri Alana," celetuk Lova. Memulai pembicaraan.


Nathan terkekeh. "Siapa yang bilang begitu? Aku tidak pernah tertarik sedikit pun dengan Puteri Alana. Dia hanya seorang teman bagiku," ujarnya menjelaskan.


"Kalau begitu, apa yang membuatmu terlihat murung hari ini?" Lova menyelidik.


"Aku ingin sekali membicarakan masalahku kepadamu. Tapi sayang, masalah yang kumiliki adalah rahasia kerajaan Axenia."


Lova tergelak kecil. Dia berkata, "Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak punya satu pun teman di sini. Aku sendirian. Jika ada orang yang menceritakan rahasianya kepadaku, maka jelas aku akan menyimpannya dengan baik."

__ADS_1


"Kau tahu? Kau sangat berbeda dari biasanya, Lova. Kau biasanya tidak pernah peduli dengan apa yang kubicarakan. Kau selalu diam," balas Nathan. Mengangkat satu alisnya karena heran.


"Tolong lupakan aku yang dulu," tanggap Lova seraya tersenyum.


Nathan ikut tersenyum. Dia segera menenggak segelas bir. Lalu menaiki meja demi menyeberang ke tempat Lova duduk.


Dengan lembut Nathan memagut bibir Lova. Entah kenapa kali ini Lova tidak melakukan perlawanan. Dia sebenarnya punya rencana. Tetapi ciuman tak terduga Nathan membuatnya terbuai sejenak.


'Harum... Beginikah aroma badan seorang Pangeran?' gumam Lova dalam hati. Dia yang tadinya memejamkan mata, langsung membuka lebar. Lalu perlahan melepas tautan bibirnya dari Nathan. Ia memberi dorongan dengan pelan.


"Apa kau tahu, Yang Mulia? Sebenarnya bukan hanya sek-s yang bisa menjadi pelarianmu. Tetapi bicara dengan orang yang tepat juga. Mungkin itu lebih bagus dari pada menjalani hubungan hanya untuk sekedar memuaskan naf-su," cetus Lova. Dia melontarkan kalimat dari bagian rencananya.


"Maksudmu?" Nathan menuntut jawaban.


"Kau bisa ceritakan masalahmu kepadaku. Mungkin saja aku bisa membantu pikiranmu lebih tenang. Alkohol dan sek-s tidak selalu bisa membuatmu bahagia. Itu bahkan bisa dibilang pelarian dari masalah. Hal terbaik adalah menghadapi masalah dan menyelesaikannya," jelas Lova. Menampakkan raut wajah yang meyakinkan.


"Kau sepertinya benar. Tapi berjanjilah kau tidak akan mengkhiantiku," jawab Nathan sembari membelai rambut panjang Lova.


"Aku berjanji. Jika aku berkhianat, maka penggal saja kepalaku!" sahut Lova antusias. Menyebabkan Nathan tergelak sampai menampakkan gigi.


"Kau sangat lucu," komentar Nathan. "Baiklah kalau begitu. Aku akan ceritakan masalahku kepadamu, dan itu--"


"Tunggu! Sebaiknya jangan menceritakannya di sini! Aku tidak mempercayai tempat ini sepenuhnya. Bagaimana kalau kita bicara di luar dari Eden Night?" usul Lova. Sengaja memotong perkataan sang pangeran.


Nathan sempat terdiam sejenak. Dia memikirkan segala kemungkinan. Setelah dipikir-pikir, menurutnya Lova tidak mungkin berani macam-macam. Sebab posisi Nathan sebagai pangeran tentu di bawah penjagaan pengawal. Sementara Lova sendirian. Jadi tidak mungkin gadis itu melakukan hal buruk. Hingga akhirnya Nathan menyetujui usulan Lova.


Persetujuan Nathan membuat Lova senang bukan kepalang. Gadis tersebut berusaha keras menutupi ke-antusiasannya.


Sebelum mengajak Lova pergi, Nathan tentu harus meminta izin kepada Madam Jessy. Kebetulan juga saat itu Jaden juga ada bersama Madam Jessy.


"Yang Mulia ingin membawa Lova pergi dari Eden Night?" Madam Jessy membulatkan mata.


"Iya. Kau tenang saja, Madam. Kami hanya akan pergi sebentar. Dan aku pastikan akan kembali sesuai dengan jadwal," jawab Nathan.

__ADS_1


"Mohon maaf sebelumnya, Pangeran... Tapi para wanita di sini sangat dilarang pergi dari Eden Night bersama pelanggannya." Madam Jessy berusaha memberitahu baik-baik. Dia memang selalu begitu jika berhadapan dengan para pelanggan.


__ADS_2