
...༻⑅༺...
Mendengar Lova merengek, Defney justru tergelak geli. Sampai menampakkan gigi-gigi depannya yang rapi.
"Apakah itu berarti kau tidak akan peduli dengan nasib Pangeran Nathan?" ujar Defney sembari melipat tangan di dada. Lalu mendekat satu langkah.
Lova terdiam seribu bahasa. Dia perlahan berhenti menangis. Dirinya segera mengusap air mata yang ada di wajah. Lova tentu mencemaskan Nathan.
"Bukankah Nathan akan selamat jika aku pergi? Lagi pula dia hanya karakter fiksi," ujar Lova dengan ekspresi sendu.
"Itu benar. Dia karakter fiksi. Tapi kau pasti tahu bagaimana nasib Nathan dalam cerita ini. Jika kau kembali sebelum semuanya terselesaikan, maka otomatis tidak ada yang berubah. Karaktermu dan Nathan akan mati seperti cerita awal. Perjuangan yang kau lakukan semenjak datang ke sini menjadi sia-sia." Defney menerangkan panjang lebar.
"Benarkah?"
"Sekarang, mana kartu yang sudah kau dapat?" Defney membuka lebar telapak tangannya. Dia meminta ketiga kartu tarot yang sudah didapatkan Lova.
Tanpa berpikir lama, Lova segera menyerahkan semua kartu tarot kepada Defney. Membiarkan wanita tua itu memegangnya.
Kini Lova dipersilahkan memilih salah satu tarot. Tiga kartu yang didapat Lova sendiri adalah The Hermit, The Moon, dan The King Of Pentacles.
Lova mengamati setiap kartu dengan seksama. Hingga kartu dengan gambar raja yang baru didapatkannya begitu menarik perhatian. Lova lantas memilih kartu tersebut. Kartu itu tidak lain adalah The King Of Pantacles.
"Kali ini aku tidak akan bertanya kepadamu untuk memastikan. Karena kartu yang kau pilih merupakan petunjuk besar terhadap akhir dari cerita ini," ucap Defney.
__ADS_1
Mata Lova membulat. Semangatnya perlahan muncul. Dia memasang telinga dengan baik-baik untuk mendengarkan.
"Kartu King Of Pantacles memberitahu kalau orang yang akan menjadi raja adalah poin penting cerita ini," ucap Defney dengan penuh keseriusan.
"Yang menjadi raja adalah hal terpenting?" Lova memastikan.
Defney mengangguk. "Penting untuk Axenia dan juga kau. Tetapi kau harus menimbang baik-baik siapa yang mampu dan pantas menjadi raja," jelasnya.
"Apakah Nathan adalah orang yang pantas menjadi raja? Tapi sayangnya dia tidak begitu berminat untuk mengambil posisi itu." Lova mengerutkan dahi samar. Sampai nama Jaden tiba-tiba terlintas dalam benaknya. "Bagaimana kalau Jade? Dia bisa dipercaya kan?" tanya-nya lagi.
"Dua lelaki itu bisa dipercaya. Aku pastikan itu! Mereka punya keahlian yang berbeda. Tetapi pilihannya ada di tanganmu, Lova. Apapun pilihanmu, kau harus menerima dampak besarnya pada kehidupan selanjutnya. Hanya itu petunjuk besar yang bisa kuberikan."
"Kehidupanku yang selanjutnya?" Lova tidak mengerti. Namun Defney hanya tersenyum. Kemudian beranjak pergi begitu saja. Dia bahkan tidak berbalik ketika Lova memanggil.
Lova mendengus kasar. Dia duduk ke lantai. Mengedarkan pandangan ke setiap sudut. Nihil, dirinya tidak mungkin bisa kabur dari penjara. Mengingat tidak ada celah serta banyaknya pengawal yang berjaga.
Titan puas dengan apa yang dilakukannya terhadap Lova. Sekarang dia bisa menyuruh Reeve untuk kembali menjaga Nathan. Memberikan suntikan kepada sang adik agar semakin tidak berdaya. Tindakan Lova nyaris saja mengacaukan rencananya.
"Finn!" panggil Titan kepada sang adik.
"Iya, Yang Mulia," sahut Finn sembari membungkuk hormat.
"Kirimkan semua pengawal untuk menghancurkan Eden Night. Dan carilah lelaki bernama Jade yang kemarin datang bersama Lova! Bawa dia ke hadapanku! Dalam keadaan hidup ataupun mati!" perintah Titan.
__ADS_1
"Baiklah!" Finn segera melaksanakan perintah Titan. Dia mengumpulkan pengawal-pengawal untuk mendatangi Eden Night.
Penyerangan tak terduga terjadi. Seluruh penjaga dan wanita PSK dipaksa meninggalkan Eden Night. Termasuk Madam Jessy sendiri. Kini wanita itu duduk bersimpuh di hadapan Finn.
"Apa yang terjadi, Yang Mulia? Kenapa anda menghancurkan tempat kami? Apa salah kami?" tanya Madam Jessy sembari berderai air mata.
Finn hanya diam dan fokus melihat bangunan Eden Night dihancurkan. Dia tidak peduli dengan wanita yang tengah menangis di bawah kakinya.
"Saya mohon, apapun kesalahannya... Berilah kami kesempatan... Ini adalah tempat tinggal sekaligus tempat kerja kami, Yang Mulia..." mohon Madam Jessy.
"Berisik! Menyingkirlah dari kakiku, ba*bi menjijikan!" hardik Finn seraya menjauhkan Madam Jessy dari kakinya. Dia langsung melangkah pergi.
Madam Jessy cemberut. Permohonannya tidak menghasilkan apapun. Padahal dia sudah rela membuang harga dirinya demi menyelamatkan Eden Night.
Perlahan Madam Jessy berdiri. Dia mengambil ponsel dan menghubungi Jaden. Madam Jessy memberitahukan apa yang telah terjadi. Tetapi belum sempat selesai bicara, Finn beserta para pengawal mendekat.
Finn mengarahkan ujung senapan ke leher Madam Jessy. Memancarkan tatapan tajam dan membunuh.
"Katakan! Dimana lelaki yang bernama Jade itu!" tanya Finn.
"Jade? Mau apa kau mencarinya?" Madam Jessy justru berbalik tanya. Tanpa sepengetahuan orang, panggilannya dengan Jaden masih aktif. Jadi Jaden dapat mendengar semuanya dari seberang telepon.
"Jade adalah orang berbahaya untuk anggota kerajaan Axenia! Dia dan komplotannya nekat menipu Raja Titan! Sekarang Raja Titan akan mencarinya dan memberikan hukuman setimpal!" begitulah penjelasan yang didengar Jaden. Matanya terbelalak tak percaya.
__ADS_1
Jaden yang sedang duduk, langsung berdiri. Kini dia sedang berada di rumah Bill. Seorang dokter terpercaya yang berteman dekat dengan Jaden.
"Kau kenapa?" tanya Bill. Kala menyaksikan wajah Jaden terlihat tegang.