
...༻⑅༺...
Di malam yang indah dan berhiaskan cahaya bulan purnama, Lova dan Nathan melakukan sesi makan malam romantis di balkon. Mereka banyak membicarakan banyak hal.
Dari kejauhan, seorang wanita tua mengamati. Dia tidak lain adalah Defney. Senyuman mengembang di wajahnya. Atensi Defney tertuju ke arah Lova.
"Sayang, aku akan ambilkan sesuatu untukmu. Tunggu sebentar," ujar Nathan. Dia segera beranjak dari balkon. Meninggalkan Lova sendirian sejenak.
Saat itulah Defney datang ke hadapan Lova. Kemunculan Defney sekarang adalah sesuatu yang tidak pernah Lova duga sebelumnya.
"Bagaimana malam pertamamu? Kau tidak melewatkannya bukan?" tanya Defney.
"Tentu saja. Itu sangat indah," jawab Lova sembari menyatukan tangan ke depan dada.
"Apa kau tidak ingin kembali ke dunia nyata?" Defney kembali bertanya.
"Ke-kembali?" Lova justru berbalik tanya. Jujur saja, saking merasa bahagianya. Dia sampai tidak terpikir lagi untuk pulang.
Defney tersenyum melihat ada keraguan di wajah Lova. Dia berkata, "Aku tidak sedang menyuruhmu memilih sekarang. Aku ingin kau nikmati semua kebahagiaan yang kau terima. Karena aku yakin kau sudah tidak terpikir lagi untuk pulang."
"Andai aku ingin pulang, apakah kau akan mengabulkannya?" tanya Lova.
Defney tergelak. "Tentu saja tidak. Bukankah aku sudah bilang kepadamu kalau kau akan kembali saat tidak terpikir ingin pulang," jawabnya.
"Benarkah?" Lova membulatkan mata. Entah kenapa dia malah merasa khawatir.
"Kau bahkan melupakannya," tanggap Defney. Dia memperhatikan Lova yang mendadak melamun. Kemudian pergi tanpa berpamitan seperti biasa.
"Apa aku..." Lova urung bertanya saat melihat Defney tidak ada.
"Sampai akhir dia selalu saja bersikap begini," keluh Lova.
Selang sekian menit, Nathan muncul. Dia terlihat berpakaian sangat rapi dengan jas yang dilengkapi tuxedo hitam.
"Ada apa ini?" tanya Lova yang berusaha menahan tawa.
Nathan tidak hirau dengan respon Lova. Ia berjalan ke hadapan gadis itu dan mengajaknya untuk berdansa.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melakukannya," ucap Lova sembari menggeleng. Akan tetapi Nathan memaksanya bangkit dari kursi.
"Kau tinggal ikuti saja langkahku," kata Nathan. Dia dan Lova segera berdansa di balkon. Saling tersenyum cerah di bawah rembulan yang berpendarkan cahaya kebiruan malam.
Dalam sekejap, Lova melupakan kekhawatirannya. Dia juga lupa mengenai dunia nyata tempat dirinya berasal.
Nathan dan Lova menghabiskan waktu sampai pagi. Sekarang mereka duduk di belakang rumah dengan berbalutkan selimut yang sama. Menatap matahari yang terbit di antara ribuan bunga.
Bersamaan dengan itu, Lova merasakan mual di perutnya. Hingga dia merasa ingin muntah.
Nathan merasa cemas. Dia jadi bersalah karena sudah membuat Lova tidak tidur semalaman. Nathan lantas memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Lova.
"Selamat, Yang Mulia. Istrimu sedang hamil. Gejala yang diterimanya pagi ini hanya gejala kehamilan," jelas Dokter. Kabar yang dibawanya membuat Nathan dan Lova merasa bahagia. Dua pasutri itu saling berpelukan.
Satu tahun berlalu. Kehidupan Lova semakin membahagiakan dengan ditemani seorang bayi lelaki bernama Ervan.
Sekarang Lova baru saja selesai menyusui Ervan. Anaknya yang tampan itu diletakkan ke ranjang bayi. Saat itulah Nathan memeluk Lova dari belakang. Perbuatan lelaki tersebut membuat Lova tersenyum.
Nathan segera menggendong Lova dan membawanya ke ranjang. Mereka bermesraan dalam beberapa saat. Orang yang pertama tertidur adalah Nathan. Sedangkan Lova masih berusaha untuk membuat dirinya terlelap.
"Aku harap kita bisa begini selamanya. Kalau bisa aku ingin tambah anak lagi," ujar Lova seraya terkekeh sendiri. Dia memejamkan mata dan perlahan tertidur. Wajah tampan Nathan menghilang dalam penglihatan Lova yang menggelap.
Cahaya terang menghantam mata. Lova langsung membuka mata. Dahinya berkerut ketika menemukan dirinya berada di ruang bernuansa putih. Dimana di sekelilingnya terdapat peralatan medis. Tangan Lova bahkan tengah terhubung dengan tali infus.
Parahnya, Lova sama sekali tidak melihat keberadaan Nathan. Perasaannya dirundung rasa cemas yang membuncah.
"Lova! Kau sudah sadar! Oh my godness... Aku sangat mencemaskanmu." Seorang wanita mendekat. Dia adalah Claudia. Ibu kandung Lova.
"Mom?" Lova bingung. Sekarang dia bisa menyimpulkan kalau dirinya sudah kembali pulang ke dunia nyata. Tetapi tunggu, apa semuanya terjadi begitu saja? Tanpa ada aba-aba sedikit pun?
Lova mendapatkan pelukan hangat dari Claudia. Dia juga segera mendapat pelukan lain dari ayahnya yang bernama Brandon. Dilanjutkan keluarga dekat Lova yang lain.
"Kami sangat senang melihatmu siuman," ujar Claudia sambil terisak haru.
"Kau sudah koma selama tiga bulan, Lova!" ucap Brandon yang langsung mendapat anggukan semua orang.
"Tiga bulan?" Lova masih belum bisa mencerna sepenuhnya. Sebab semuanya terjadi sangat tiba-tiba. Dia bahkan bingung apakah harus sedih atau bahagia. Mengingat Nathan sudah tidak bersamanya lagi.
__ADS_1
"Ah benar. Apa kau ingat lelaki yang akan dijodohkan denganmu?" ujar Claudia.
Memang saat terakhir kali berada di dunia nyata, Lova dalam perjalanan untuk bertemu lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Saat itulah dia mengalami kecelakaan dan tidak sengaja terlempar ke dunia novel. Lova bahkan tidak sempat mengetahui nama lelaki yang dijodohkan dengannya.
"Ya?" Lova menatap penuh tanya.
"Dia merasa bersalah karena di hari harusnya kalian bertemu, kau justru mengalami kecelakaan. Lelaki itu menjengukmu setiap hari di sini. Tunggu sebentar, aku akan panggilkan dia." Claudia beranjak untuk memanggilkan orang yang dia maksud.
Tak lama kemudian, Claudia datang bersama seseorang yang tidak asing. Lelaki yang langsung membuat pupil mata Lova membesar. Dia tidak lain adalah Nathan. Dari mulai perawakan, wajah, dan rambut, jelas dia adalah Nathan. Lelaki tersebut mengenakan setelan jas hitam yang senada dengan dasinya.
"Nathan!" seru Lova. Dia menghamburkan pelukan kepada Nathan. Lova merasa lega bisa bertemu Nathan di dunia nyata. Semua seperti mukjizat bagi Lova.
Berbeda dengan Nathan, dia tampak tidak nyaman dengan pelukan Lova. Orang di sekitar bahkan terheran menyaksikan aksi Lova.
"Lova..." panggil Claudia. Hingga mengharuskan Lova melepas pelukan dari Nathan.
"Kenapa?" tanya Lova.
"Bukan dia orangnya. Lelaki ini hanya bodyguard," kata Brandon memberitahu.
"Apa? Bodyguard?" Lova keheranan.
"Nah itu dia. Namanya Jaden. Tapi sering dipanggil Jade," ucap Claudia sembari mengarahkan Lova menghadap pintu. Di sana terlihat lelaki yang baru saja masuk.
Mata Lova membulat sempurna. Bagaimana tidak? Lelaki yang akan dijodohkan dengannya adalah Jaden!
Lova sekarang sadar makna siapa yang jadi raja adalah poin terpenting. Andai Lova tahu, dirinya mungkin akan membuat Nathan yang menjadi raja.
"Sial!" umpat Lova.
...TAMAT...
Catatan Author :
Aku ucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca yang baca sampai akhir. Maaf kalau ada kesalahan dari segi cerita dan penulisan. Gimana guys? Apa kalian puas sama akhirnya? Butuh season 2? Kalau mau season 2 harus menunggu novel ini tembus view 300k. Hehehe...
Pokoknya aku ucapkan terima kasih sekali lagi.😘
__ADS_1
Sebagai pengganti novel ini, aku membuat novel baru dengan tema fantasi romantis juga. Judulnya Hantu Senja. Yang tertarik silahkan cek profilku. Sampai ketemu di sana...