Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 44 - Eksekusi Mati Untuk Jaden


__ADS_3

...༻⑅༺...


Daniel terdiam seribu bahasa. Terutama saat melihat ada banyak orang yang mendukung Lova. Ia lantas beranjak meninggalkan ruangan.


Sementara itu, Lova dan yang lain bersiap untuk menemui rakyat Axenia. Mengajak semua orang untuk turun ke jalan dan melakukan aksi demo di depan istana.


Seluruh orang berpencar ke segala penjuru Axenia. Termasuk Lova sendiri. Secara diam-diam, rencana disebarkan dari mulut ke mulut.


Lova sendiri mendatangi toko barang bekas yang pernah didatanginya dulu. Sebab pemilik toko tersebut adalah satu-satunya rakyat Axenia yang dia kenal.


Lonceng berbunyi ketika Lova memasuki toko. Dia tersenyum dan menyapa Paul. Lalu memberitahukan mengenai rencananya. Lova juga tidak lupa mengatakan mengenai keadaan Nathan sekarang.


"Jadi selama ini Pangeran Nathan sakit keras karena obat yang diberikan Raja Titan?" Paul kaget mendengar fakta yang diberitahu Lova.


"Iya. Tapi tenang saja, Pangeran Nathan sedang dirawat oleh dokter terpercaya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menurunkan tahta Raja Titan. Kau bersedia membantuku kan?" ujar Lova.


"Tentu saja. Aku akan melakukan apapun untuk kerajaan Axenia. Bahkan kalau perlu, aku rela menyerahkan nyawaku." Paul memegangi dadanya. Walau sudah tua, semangatnya untuk bertarung begitu berapi-api.


Lova melangkah cepat kembali ke tempat rahasia bawah tanah. Dia berjalan sambil memikirkan cara untuk membuat anggota kerajaan ikut melakukan perlawanan. Tetapi bagaimana caranya? Otak Lova terasa buntu ketika mengalami keadaan genting seperti sekarang.


Sebelum ikut melakukan demo, Lova menjenguk Nathan sebentar. Untuk yang kesekian kalinya dia memandangi lelaki tersebut. Berharap dapat melihat Nathan terbangun lebih cepat.


Kelopak mata Lova melebar tatkala terpikirkan sesuatu. Dia yakin, kondisi yang menimpa Nathan dapat menjadi bukti kuat untuk ditunjukkan kepada para anggota kerajaan. Dengan begitu, mereka akan ikut melakukan perlawanan terhadap Titan.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Lova segera menemui Bill. Dia ingin bukti mengenai efek obat yang selama ini diberikan Reeve terhadap Nathan.


"Kau bisa membuat bukti cetaknya bukan? Mengenai penurunan kesehatan Nathan?" Lova menatap penuh harap.


"Itu akan sulit. Terlebih Pangeran Nathan baru saja mendapat perawatan yang tepat. Butuh waktu berhari-hari untuk mengetahui perbedaan kondisinya yang dulu dan sekarang," jelas Bill.


Lova mengangguk mengerti. Ia mendengus kasar dan beranjak untuk kembali menghampiri Nathan.


"Aku akan pergi sekarang, Pangeran... Apapun yang terjadi kepadaku, kau harus sehat dan menjalani hidupmu lagi," ucap Lova. Dia mencium bibir Nathan dengan perasaan tulus. Lalu pergi ke istana bersama Courtney.


Di jalanan, satu per satu orang mulai terlihat. Jumlah mereka semakin bertambah seiring waktu ke waktu. Mereka segera berdiri mengerumuni gerbang istana. Keributan yang terjadi berhasil terdengar ke telinga Titan. Lelaki itu tidak menduga demo akan kembali dilakukan rakyat Axenia.


Sekarang Titan berada di balkon istana. Di sana dia menyaksikan sendiri perlawanan rakyatnya.


Tak lama kemudian, muncul seringai di wajah Titan. Dia terpikirkan sesuatu untuk membuat seluruh rakyatnya takut.


"Finn! Bawa Jade beserta komplotannya yang tersisa! Dan jangan lupa siapkan tali gantung di dekat gerbang istana! Kita akan memberi tontonan luar biasa untuk semua rakyat kita!" titah Titan. Dia tergelak puas. Yakin kalau rencananya akan berhasil. Titan berniat akan mengeksekusi Jaden di hadapan semua orang.


Jaden yang tubuhnya masih lemah akibat pukulan Titan, diseret ke dekat gerbang istana. Dua tangannya dalam posisi di ikat di balik punggung. Ada sekitar lima pengawal yang menjaga Jaden. Jadi kemungkinan lelaki itu untuk kabur sangatlah kecil.


Di sisi lain, Lova dan Courtney sedang menyusup ke istana. Alana membukakan pintu untuk mereka masuk.


"Lova! Teman lelakimu itu akan dihukum mati! Sekarang Titan akan mengeksekusinya di depan semua orang!" ujar Alana.

__ADS_1


"Kau membicarakan Jade bukan?" Lova memastikan. Ia langsung mendapat anggukan kepala dari Alana.


Lova menenggak salivanya sendiri. Kini dia harus kembali memutar otak untuk mencari solusi.


"Begini saja. Courtney? Bisakah kau mengulur waktu untuk Jade? Aku dan Puteri Alana akan secepatnya menyusul ke sana. Kami akan berusaha membuat para anggota kerajaan untuk membantu kita!" kata Lova.


"Tidak bisa, Lova. Semua anggota kerajaan juga akan berkumpul untuk melihat Jade dihukum mati!" ujar Alana dengan perasaan panik yang membuncah.


"Kalau begitu, aku tidak punya pilihan lain!" Lova berlari melalui pintu begitu saja.


"Maksudmu? Kau--" Alana urung bertanya karena Lova terlanjur pergi. Dia dan Courtney bergegas menyusul.


Di depan gerbang sendiri, semua orang telah berkumpul. Keadaan rakyat Axenia yang bergerombol tampak seperti semut karena saking banyaknya.


Sedangkan di dalam gerbang, ada Titan beserta para anggota kerajaan yang lain. Semua orang terdiam tatkala menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Titan.


"Lihat! Inilah hukuman yang akan kalian dapatkan jika berani melawanku! Dia orang yang menyuruh kalian untuk melawanku bukan?!" ucap Titan dengan suara lantang. Senyuman miring terukir diwajahnya.


"Pengawal! Ayo bawa orang hina itu ke depan tali ekseskusi!" perintah Titan yang langsung dilaksanakan oleh dua pengawalnya.


Dari kejauhan, Lova berlari kian mendekat. Dia bisa melihat pria itu sudah dibawa ke depan tali eksekusi. Kepala Jaden sengaja tidak ditutupi agar cara matinya dapat terlihat menakutkan. Hal tersebut jelas berdasarkan perintah Titan.


"Hentikan!" pekik Lova. Seluruh pasang mata langsung tertuju kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2