
...༻⑅༺...
Jaden menghentikan mobil di depan sebuah toko perancang baju. Sebelum pergi ke istana, dia berniat ingin merubah penampilan Lova terlebih dahulu.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Lova.
"Ikuti saja rencanaku jika kau ingin bertemu dengan Pangeran Nathan. Ayo!" Jaden keluar dari mobil lebih dulu.
Lova bergegas mengikuti. Dia mencoba memaksa Jaden untuk memberi kejelasan. Sebab dirinya tidak mau tertipu lagi oleh Jaden.
"Jelaskan kepadaku, Jade! Aku sekarang sulit untuk percaya lagi kepadamu!" seru Lova sembari menyamakan langkah di sisi Jaden.
"Aku ingin kau merubah penampilanmu. Aku akan memberitahu anggota kerajaan kalau kau dan Pangeran Nathan sudah menikah," terang Jaden dengan langkah cepat. Dia dan Lova baru saja memasuki toko.
"Penampilan? Menikah? Apa kau gila? Bukankah itu terlalu beresiko?" Lova tentu heran mendengar rencana Jaden.
"Beresiko mana dibanding aku membawamu ke istana tanpa adanya status hubungan dengan Pangeran Nathan? Apakah perlu aku menyebut kalau, 'Hei! Ini dia wanita PSK yang menjalin hubungan dengan Pangeran Nathan. Dia ingin tinggal di istana untuk menjaga kekasihnya yang sedang sakit.' Begitu? Kau ingin aku menyebut alasan itu?" sahut Jaden panjang lebar. Nada bicaranya terdengar seperti mengomel.
Lova terdiam seribu bahasa. Dia memang tidak bisa membantah pernyataan Jaden. Jika dirinya nekat pergi ke istana tanpa memiliki status jelas dengan Nathan, maka kemungkinan Lova akan langsung dikirim ke penjara.
Kini Lova memutuskan untuk melihat-lihat gaun yang ada di toko. Dia mencoba memilih gaun yang sesuai dengan seleranya. Akan tetapi Jaden datang bersama seorang pelayan toko. Pelayan tersebut merekomendasikan gaun yang cocok untuk Lova.
"Cobalah, Lova. Aku tidak ingin mengulur waktu terlalu banyak," ujar Jaden.
Lova mendengus kasar. Dia mengambil gaun yang diberikan kepadanya. Kemudian segera mengenakan gaun tersebut.
Jaden menunggu Lova berganti pakaian. Dia duduk tenang sambil menggedik-gedikkan salah satu kaki.
Selang sekian menit, Lova akhirnya keluar. Ia terlihat telah mengenakan gaun.
Jaden terpaku menatap Lova. Gadis itu benar-benar seperti seorang puteri saat mengenakan gaun. Yang kurang hanyalah mahkota. Jaden yakin penampilan Lova akan sempurna jika ada tiara yang menghiasi puncak kepala gadis tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana? Bukankah aku terlihat aneh? Gaun ini sangat tebal dan berat. Aku akan kesulitan berlari," keluh Lova dengan nada pelan. Matanya melirik ke arah pemilik toko. Berharap ucapannya tidak didengar oleh orang itu.
"Gaunnya cocok denganmu. Kita pilih ini saja. Dan satu hal lagi." Jaden melangkah mendekati sebuah jubah berwarna biru. Dia mengambil jubah itu dan memakaikannya untuk Lova.
"Aku pikir kau akan membutuhkan ini," ucap Jaden. Ia menatap lekat Lova. Jaden tidak bisa menahan diri untuk mengabaikan kecantikan gadis tersebut.
"Ya, kau benar. Ini masih musim dingin. Tapi aku tidak akan mengucapkan terima kasih. Jangan harap," tukas Lova.
Jaden hanya terkekeh. Dia justru menyukai sikap Lova yang begitu. Lebih percaya diri dan ceria.
Usai membeli gaun, Lova juga membenahi rambut panjangnya agar lebih rapi. Dia perlu waktu setengah jam untuk melewati proses tersebut.
Setelah itu, Lova dan Jaden kembali ke mobil. Mereka langsung menuju istana.
Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk tiba ke tempat tujuan. Jaden menghentikan mobil tidak jauh dari istana. Dia membuka bagasi mobil terlebih dahulu.
Lova mengerutkan dahi. Dia yang penasaran, segera mengekori Jaden. Gadis itu takut kalau Jaden akan berbuat yang tidak-tidak lagi. Namun pada kenyataannya, Jaden hanya berniat mengambil sesuatu dari bagasi.
Mata Lova membulat ketika menyaksikan isi bagasi mobil Jaden. Terdapat dua koper misterius. Salah satunya dibuka oleh Jaden. Isinya itulah yang membuat Lova kaget. Bagaimana tidak? Isi koper tersebut dipenuhi oleh perhiasan. Dari mulai emas, berlian, mutiara, dan lain-lain.
"Kemarin kebetulan aku mengambil banyak barang berharga dari istana. Salah satunya adalah sebuah tiara." Jaden terlihat mengais-ngais perhiasan dari dalam koper. Hingga menemukan sebuah mahkota sangat indah. Mahkota tersebut dihiasi dengan berlian berwarna kebiruan.
"Mahkota? Apa aku perlu memakainya?" Lova memastikan. Mengingat dia bukanlah seorang putri.
"Ya. Ini juga bisa dijadikan bukti kalau Pangeran Nathan sudah menikahimu. Katakan kalau Pangeran sendiri yang memberikannya kepadamu." Jaden memakaikan mahkota untuk Lova. Dia lagi-lagi jatuh ke dalam pesona gadis itu.
"Jujur saja, aku sangat ingin menciummu sekarang," ungkap Jaden gamblang.
Lova sontak menjaga jarak. Dia tidak lupa menutup bibirnya dengan dua tangan. "Itu tidak akan terjadi! Aku masih marah dengan apa yang kau lakukan beberapa waktu lalu!" hardiknya.
"Aku tahu! Kau tenang saja. Aku sekarang sudah menyerah untuk terus memaksamu," tanggap Jaden. Dia harus menunggu dua bawahannya yang akan membantu. Yaitu Courtney dan Leon. Dua bawahan Jaden itu akan ditugaskan untuk menjadi pengawal Lova bersama dengan Jaden.
__ADS_1
Setelah semua orang berkumpul, Jaden dan Lova hanya perlu menunggu kedatangan Tom. Satu-satunya pengawal setia Nathan yang masih hidup.
Tak lama kemudian Tom datang. Pusat perhatiannya langsung tertuju ke arah Lova yang memiliki penampilan berbeda dari sebelumnya.
"Tom!" Lova menghampiri Tom. "Aku turut sedih dengan apa yang menimpa Ronald. Aku yakin kematiannya tidak sia-sia," tuturnya seraya menunjukkan raut wajah penuh empati.
"Terima kasih. Aku senang kau menyebut namanya. Sebab banyak yang tidak peduli dengan kematian orang seperti kami," tanggap Tom. Tersenyum tipis. "Kau terlihat sangat cantik, Nona Lova. Aku harap Pangeran Nathan bisa bangun dan melihatmu dalam keadaan seperti ini," sambungnya.
"Apa reuninya sudah selesai? Kita punya banyak masalah yang harus diselesaikan," sergah Jaden. Dia mendekat ke hadapan Tom. Lalu memberitahukan rencananya.
Tom mendengarkan baik-baik. Dia akan setuju bekerjasama jika rencananya berkaitan untuk menyelamatkan nyawa Nathan.
"Ayo! Kita temui orang-orang istana." Tom masuk ke mobil lebih dulu. Di iringi oleh Lova dan yang lain.
Dua mobil segera memasuki wilayah istana. Jaden sengaja memamerkan kedatangan Lova kepada semua orang. Terutama kepada para anggota kerajaan.
Benar saja, anggota kerajaan langsung bermunculan saat Lova keluar dari mobil. Gadis itu mencoba bersikap setenang mungkin.
"Jade, aku gugup sekali..." bisik Lova ke telinga Jade. Dia memainkan jari-jemarinya tanpa alasan.
"Tenanglah. Aku yakin kita pasti berhasil," kata Jaden. Dia dan Lova berhenti di depan singgasana raja. Di sana ada Titan yang melotot tajam ke arah Lova dan Jaden.
"Apa-apaan ini?!" tukas Titan tak percaya. Apalagi ketika melihat Lova berpakaian layaknya seorang puteri kerajaan.
"Perkenalkan, dia adalah Arlova. Istri sah Pangeran Nathan. Kedatangannya ke sini adalah untuk berbakti menjaga suaminya yang sedang sakit," jelas Jaden.
Titan langsung berdiri. Dia dan anggota kerajaan lain berseru kaget.
"Apa?! I-istri kau bilang?!" Titan masih belum bisa mencerna apa yang ada di hadapannya.
..._____...
__ADS_1
Visual Lova saat memakai gaun dan mahkota :