
...༻⑅༺...
Jaden menatap penuh selidik pada Lova yang sudah beranjak. Dia tentu merasa ada yang ganjil. Mengingat Lova tadi menanyakan namanya. Padahal mereka nyaris bertemu setiap hari.
"Kepalanya pasti terbentur dengan keras. Jelas kau selalu memanggilku Tuan Jade. Bagaimana kau lupa akan hal itu? Kita bahkan sudah bercinta beberapa kali," gumam Jaden. "Aneh... Sangat aneh... Kau bahkan tidak terlihat seperti berpura-pura," tambahnya.
Jaden berakhir mengangkat bahunya tak acuh. Dia mencoba mengabaikan semua sikap aneh Lova. Yang terpenting gadis itu tidak membuat ulah lagi.
Di waktu yang sama, Lova baru saja masuk ke kamar. Sebelum tidur, dia tidak lupa mengobati luka dan memar di badan. Lova benar-benar menderita dengan hal tersebut.
Selesai membersihkan diri, Lova segera tidur. Namun itu tidak berlangsung lama. Sebab suara ketukan di pintu harus membuatnya membuka mata.
"Ya ampun... Aku bahkan tidak sempat tidur selama satu jam," keluh Lova. Dia mengabaikan ketukan di pintu. Memilih kembali tidur.
"Lova! Cepat buka pintunya! Aku membawakan obat untukmu!" Orang yang ada di depan pintu tidak lain adalah Cheryl. Dia menggedor pintu tanpa henti.
"Enyahlah siapapun itu!" sahut Lova dari dalam kamar. Dia sama sekali tak peduli.
Cheryl menggertakkan gigi sambil menghentak salah satu kaki. Dia tentu kesal. Sudah disuruh membawakan obat kepada orang yang paling dibenci, parahnya Cheryl juga harus menerima penolakan kasar.
"Awas kau, Lova!" geram Cheryl. Dia terpaksa pergi menemui Madam Jessy. Cheryl memberitahukan mengenai reaksi yang diberikan Lova tadi.
Kebetulan Madam Jessy sedang duduk bersama Jaden. Keduanya mendiskusikan perihal sikap aneh Lova.
"Baru saja kita membicarakannya. Dia membuat ulah lagi," komentar Madam Jessy. Berdecak kesal.
"Biarkan saja. Lova sepertinya butuh waktu untuk istirahat. Dia sudah semalaman melayani Pangeran. Kau bisa membangunkannya saat beberapa jam ke depan," cetus Jaden sembari memeriksa jam yang ada di pergelangan tangan.
"Terserah. Yang jelas Lova malam ini harus melayani tiga lelaki secara bergantian. Dia harus mempersiapkan diri untuk mereka," tanggap Madam Jessy.
"Itu gila! Tiga lelaki? Bukankah itu berlebihan? Kenapa salah satunya tidak diberikan saja kepadaku. Lova pasti akan kewalahan. Mungkin dia akan sakit gara-gara harus berhubungan intim dengan banyak lelaki," sahut Cheryl yang belum pergi. Dia heran kenapa selalu saja Lova yang terpilih. Padahal dirinya merasa sudah berdandan semaksimal mungkin.
__ADS_1
"Aku sependapat dengan Cheryl. Tiga lelaki dalam satu hari memang agak berlebihan," ucap Jaden yang baru saja menyesap kopinya.
"Tidak apa sekali-kali. Tiga lelaki itu kebetulan hanya punya waktu malam ini. Dan mereka sama-sama menginginkan Lova," jawab Madam Jessy.
"Jika terjadi sesuatu pada Lova, maka hilang sudah primadona andalan kita," balas Jaden seraya bangkit dari tempat duduk. Ia mengenakan mantel dan topi, kemudian beranjak.
"Kau tenang saja. Tidak ada yang akan terjadi pada Lova." Madam Jessy menarik sudut bibirnya ke atas. Ia tak peduli terhadap kesulitan yang akan di hadapi oleh Lova.
...***...
Lima jam terlewat. Namun Lova masih tidur dengan nyaman di ranjang.
Pintu perlahan terbuka, sosok Madam Jessy muncul dengan menggunakan kunci cadangan. Dia berkacak pinggang sambil menatap Lova yang asyik tertidur.
"Lova sayang... Ayo bangun. Banyak yang harus kau persiapkan untuk malam ini," ujar Madam Jessy.
"Hmmm... Aku masih ingin tidur..." entah mengigau atau apa, Lova bergumam sembari memejamkan mata.
Lova kaget menyaksikan Madam Jessy sudah ada di hadapan. Ia reflek beringsut mundur. Terlebih Madam Jessy sedang tidak sendiri. Ada tiga lelaki berbadan kekar yang datang bersamanya. Para pengawal yang pernah Lova pukuli kemarin.
"Kalian mau apa? Kali ini aku tidak akan dibunuh kan?" tanya Lova. Dua alisnya terangkat bersamaan.
"Tenang saja. Kedatanganku justru untuk memberikan bantuan agar kau bisa tampil lebih cantik. Dua pelayanku sedang dalam perjalanan ke sini. Mereka akan membawakan makanan, pakaian, dan perlatan make up," ucap Madam Jessy. Dia yang sejak tadi duduk di tepi kasur segera berdiri. Madam Jessy menyuruh Lova untuk segera mandi.
Lova terpaksa menurut. Lagi pula dia sudah bertekad untuk bersikap baik saat di hadapan Madam Jessy.
Benar saja, ketika Lova terus menurut, dirinya malah sangat dimanjakan. Dari mulai diberi makan, pijatan hingga make up.
Meskipun begitu, Lova merasa curiga. Dia tentu bertanya-tanga kenapa dirinya dirias sedemikian rupa. Lova yakin semuanya pasti berhubungan dengan lelaki yang akan dia layani.
"Apa Pangeran Nathan akan datang lagi malam ini?" tanya Lova menebak.
__ADS_1
"Bukan Pangeran. Tetapi lelaki lain. Dan pastinya dia akan memberi kita uang yang banyak," jawab Madam Jessy. Dia menyerahkan setelan pakaian kepada Lova.
Lova mendengus kasar. Bagaimana tidak? Ia disuruh memakai gaun yang lebih minim dari sebelumnya. Roknya bahkan sangat pendek.
"Bukankah bawahannya terlalu pendek. Kalau aku duduk, celana dala-mku pasti kelihatan," komentar Lova.
"Memang itu tujuannya, sayang..." Madam Jessy menepuk pelan pipi Lova dua kali. Tatapannya seolah memaksa Lova agar mau mengenakan gaun.
Lova sempat terdiam. Namun lagi-lagi dia tidak punya pilihan selain mengenakan gaun tersebut. Mulutnya hanya bisa menganga saat menyaksikan dirinya sendiri di cermin.
"Wow, kau sangat seksi dan cantik. Para lelaki itu pasti akan suka," ucap Madam Jessy.
"Tunggu! Para lelaki? Itu berarti ada lebih satu orang?" Lova memastikan.
"Iya, ada tiga orang yang harus kau layani. Lakukanlah yang terbaik. Oke?" Madam Jessy bicara sambil tersenyum. Seakan apa yang diucapkannya bukanlah hal besar.
"Tapi--"
"Pengawal! Bawa Lova ke kamar khusus! Jangan biarkan dia keluar sampai pelanggan kita datang!" titah Madam Jessy. Sengaja memotong pembicaraan Lova.
Lova lantas dibawa ke kamar khusus. Di sana dia disuruh menunggu sendirian. Di meja terlihat ada banyak sekali botol berisi alkohol dan makanan.
'Aku tidak akan membiarkan satu pun lelaki menyentuhku. Aku harus membuat rencana tanpa melakukan kekerasan,' batin Lova sembari berjalan bolak-balik. Dia berpikir keras. Sampai atensinya tertuju ke arah botol berisi alkohol. Seringai terukir di wajah Lova. Sebuah ide cemerlang muncul dalam benak.
Usai menunggu beberapa lama, Lova diberitahu kalau pelanggan pertama sudah datang. Gadis itu segera bersiap.
Lova sengaja memasang gaya duduk yang seksi. Menyilangkan kedua kaki dan memperlihatkan kulit putih bersihnya yang mulus.
Tak lama kemudian, sosok lelaki muncul dari balik pintu. Namanya adalah Richard. Lelaki pertama yang harus dilayani Lova. Seorang pengusaha yang sebenarnya sudah memiliki istri dan anak.
"Wow, tidak salah aku memilihmu, sayang... Kau terlihat luar biasa," puji Richard sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Aku tahu. Tapi sebelum menyentuhku, aku ingin memberimu tantangan," imbuh Lova seraya duduk tegak. "Minumlah tiga botol alkohol ini sampai tandas!" tantangnya percaya diri.